Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
99 : Pertengkaran


__ADS_3

Mendengar hal tersebut, Vina jadi terdiam. 


‘Pergi? Aku harus pergi sekarang? Dari negara ini? Aku harus pergi dengan apa dan bagaimana caraku untuk pulang?’ tiba-tiba saja punya pikiran demikian, Vina jadinya sangat marah kepada dirinya sendiri. 


Dia sejujurnya sudah ingin sekali bisa pulang, bisa bicara dengan orang lain yang punya bahasa sama. Tapi yang ada, sekarang ini dirinya sebenarnya justru sedang terjebak di dalam lingkaran masalah yang kian menyelimutinya. 


Dan hal tersebut membuat pikirannya pun jadi semakin kacau. “Tidak, kaulah yang seharusnya pergi dari sini! Vano kan pergi dari sini, kau lah yang seharusnya pergi,” jawab Vina. Pada akhirnya dia pun punya jawaban demikian yang membuat Veronica jadi semakin marah juga kepada Vina, karena di anggap sebagai perempuan yang tidak tahu diri. 


“Oh, jadi sekarang kau mengusirku?! Begitu ya?! Kalau begitu mari sini, siapa yang bisa mengusir siapa!” dan akibat dari Veronica yang punya kemarahan yang tinggi untuk Vina, dia pun langsung menarik tangannya Vina dengan kuat dan menyeretnya keluar. 


“Tidak mau! Aku di suruh untuk tinggal di sini, jadi apa masalahmu sekarang itu, kau seharusnya bicara dengannya!” Vina kembali membalas ucapannya Veronica, lalu begitu tangan kanannya sedang di tarik oleh Veronica, maka tangan kirinya pun dia gunakan untuk mencengkram erat daun pintunya. 


“Berani sekali ya ,kau melawanku! Aku masukkan kau ke penjara sekarang juga, baru tahu rasa! Dan sesuai dengan permintaanmu itu, kau akan aku masukkan ke dalam penjara yang berisi penjahat kelas kakap. Jika kau tersiksa di sana, kau perlahan pasti akan mati!” 


‘S-siksa?!’ hanya dengan mendengar kata siksa saja, Vina otomatis langsung ketakutan. Dia sangat membenci kata itu, karena berkat itu juga, dirinya pun sempat hidup dalam penuh penyiksaan yang di lakukan oleh anak buah Arthur. 


Karena hal itu pula, Vina pun emosinya langsung naik drastis. “Tidak mau! Aku tidak mau disiksa! Tidak!” racau Vina, emosinya yang tidak stabil itu pun membuat Vina akhirnya langsung jongkok. “Kau saja yang di siksa!” 


“Hah?! Apa yang terjadi kep-”


Belum apa-apa, tiba-tiba saja Vina dan Veronica, langsung ambruk dan terbaring ke lantai. 


“Dua perempuan yang sangat berisik.” ketus Delvin. Dia pun terpaksa menggunakan caranya sendiri untuk membuat kedua perempuan tersebut diam dan tidak membuat keributan lagi. 


TING….


Sangat pas, begitu Delvin baru saja membuat Vina dan Veronica kena obat bius, sang Tuan muda pun kembali dengan wajah paniknya. 


“Delvin, apa yang terjadi kepada mereka berdua?” tanya Vano sambil melangkahkan kakinya dengan langkah panjang dan lebar, menghampiri Vina. 


“Seperti yang anda pikirkan, gara-gara handphone anda, mereka berdua pada akhirnya bertemu. Jadi rencana anda pun tetap saja jadi gagal total seperti itu. Dan saya terpakasa membungkam mereka berdua dengan peluru bius.” Delvin menjelaskan tragedi dari dua orang tersebut jadi tergeletak seperti itu. 


“V-vina, pipinya-” Vano terkejut, melihat pipinya Vina yang memerah itu. 

__ADS_1


“Tamparan, tapi Nona Vina sendiri juga berhasil menampar balik Nona Veronica dua kali lipat, jadi anda tidak perlu khawatir.” semua penjelasan dari Delvin pun langsung membuat Vanao paham. 


Meskipun dia tidak begitu suka, karena rupanya rencananya untuk membuat kedua perempuan ini tidak bertemu jadi gagal, tapi karena sudah cukup terlanjur, jadi apa boleh buat?


“Apakah aku akan terus merasa bersalah seperti ini? Dia terus saja kena masalah gara-gara aku. Sudah mencoba untuk mencegahnya, tapi tetap saja ada banyak halangannya. Delvin, kira-kira ada tiket pesawat untuk membawanya pulang hari ini minggu depan tidak?”


“Apa anda lupa? Anda itu punya-” melihat adanya Veronica yang punya kemungkinan masih bisa mendengar percakapannya, Delvin pun memilih untuk diam dan berbisik di telinganya sang Tuan muda.


“Kalau seperti itu, sebaiknya aku pantau dulu Vina sampai siap kapan dia ingin pulang,” setelah membuat keputusan dari apa yang baru saja di katakan oleh Delvin kepadanya, Vano pun langsung membawa tubuh Vina masuk ke dalam apartemennya, sedangkan Veronica, dia tinggal untuk di urus oleh Delvin. 


Sayang sekali, jika bukan karena handphone yang tertinggal, Elvano tidak mungkin akan mendapati Vina dalam kondisi yang seperti ini.


'Padahal belum sampai sepuluh menit. Tapi saat aku kembali kau sudah seperti ini saja." gumam Elvano, membawa tubuh Vina masuk kembali ke dalam apartemennya.


Memang, sangat di sayangkan kalau kepergiannya yang baru beberapa puluh menit, harus terhalang oleh insiden yang ada di luar konteks nya Vano.


Tapi mau bagaimana lagi? Vano yang merasa memiliki banyak hutang budi kepada perempuan yang ada di gendongannya itu, hanya bisa pasrah saja dan berusaha agar ke depannya dirinya bisa lebih berhati-hati lagi.


Tidak dapat di pungkiri kalau Vina sebenarnya sudah menarik semua perhatiannya. Namun, mau bagaimanapun juga, dia harus mencoba untuk bersabar, dan mendekatinya secara perlahan.


'Hah, ternyata aku ini memang sudah cukup gila, bisa-bisanya menanam rasa perempuan ini di dalam hatiku. Apakah jika aku sudah punya ingatanku yang asli, hatiku akan berubah juga?' banyak sekali pikiran yang bisa Vano simpulkan untuk menilai perasaannya baik itu ketika hilang ingatan seperti ini ataupun saat dia nantinya mendapati ingatannya lagi.


Namun, begitu dia membawanya masuk ke dalam kamar yang ada di lantai satu, Vano langsung membelalakkan matanya, begitu melihat banyaknya baju Lingerie yang berada di atas tempat tidur, sampai Vano sendiri harus menyingkirkan beberapa baju Lingerie itu dengan salah satu kakinya.


'Sebenarnya kenapa semua baju yang keluar dari lemari itu malah Lingerie?! Sebenarnya Delvin ini membelikan pakaian seperti itu untuk tujuan apa?' masih tercengang dengan semua pakaian seksi itu tergeletak di atas tempat tidur, begitu Vano sudah meletakkan Vina di atas tempat tidur, dia pun langsung memungut semua pakaian Lingerie itu.


Dari berbagai warna, seperti hitam, merah, ungu, biru, putih, bahkan warna pink, dengan berbagai model dan ukuran yang tidak terlalu berbeda jauh, Vano pun jadinya benar-benar memperhatikan pakaian itu dengan cukup seksama.


"Delvin, bagaimana kau bisa membeli Lingerie seperti ini? Kau rupanya benar-benar punya banyak pengalaman ya?" sungut Vano, merasa kurang nyaman melihat pakaian dengan bahan minum itu. "Walaupun ini bagus, tidak mungkin akan di pakai oleh Vina yang punya kriteria pakaiannya sendiri yang lebih suka tertutup. Kira-kira dia jadi punya pikiran apa ya soal aku?


Gara-gara Delvin yang memasukkan semua Lingerie ini ke dalam lemari, Vina pasti jadinya berpikir yang bukan-bukan soal aku."


Terus berbicara sendiri seraya merapikan semua pakaian itu ke dalam lemari lagi, tiba-tiba saja Vano pun punya satu ketertarikan pada satu Lingerie berwarna hitam itu.

__ADS_1


Dengan model bagian punggung yang bisa mengekspose semua bagian belakang tubuh itu, ukuran yang cukup pendek, dan menggunakan bahan yang lumayan menerawang, untuk bagian dadanya, Vano sepintas sempat menelan salivanya sendiri.


GLUK...


Sudut matanya melirik ke samping kanan sedikit ke belakang.


'Kalau dia pakai ini, apa jadinya ya?' pikir Vano. Secara tidak di duga, dia mulai berimajinasi, kalau Vina memakai Lingerie itu. 'Hah~ Kenapa pikiranku tiba-tiba jadi semesum ini?'


Karena di dukung dengan salah satu tangannya yang pernah menyentuh salah satu buah dadanya Vina, akhirnya Vano pun secara perlahan mulai tidak bisa mengontrol pikirannya untuk berhenti berimajinasi.


'Haduh, Vina. Kenapa otakku jadi seperti ini? Aku sudah mulai terkontaminasi gara-gara Lingerie ini.' pikirnya, karena secara mendadak otaknya mampu membayangkan tubuh Vina yang hanya berbalut Lingerie tersebut. '"Stop Vano, stop. Kenapa kau tiba-tiba jadi punya pikiran sekotor itu? Aku tidak mungkin mendapatkan hal semacam itu dari Vina, lebih baik aku buang ini sekarang juga dan menyuruh Delvin lagi untuk membeli pakaian yang aku rekomendasikan.


Itu lebih penting ketimbang aku harus berkhayal yang tidak-tidak seperti ini."


Selesai bicara sendiri, Vano pun akhirnya memutuskan untuk kembali mengeluarkan Lingerie yang ada di dalam lemari itu dan membawanya keluar dari kamarnya Vina.


BRAK....


"Aku puji kalau dia memang bisa memilih yang bagus-bagus seperti ini. Tapi jika aku membiarkan Lingerie ini di sini terus, bisa-bisa aku tidak bisa mengendalikan diriku pada Vina." begitulah Vano, dia pun melepaskan gantungan dari pakaian itu, melipatnya dan lebih dulu memasukkannya ke dalam kantong plastik yang kebetulan ada kantong plastik sampah.


Tapi, begitu Vano sudah benar-benar ingin membuang itu keluar dari apartemennya, Vano pun jadinya menimbang-nimbang lagi.


'Apa aku harus membuangnya? Tapi ini pilihan yang sangat bagus-bagus. Sialan, dia kalau milih pakaian pasti memang tidak ada tandingannya. Aku jadi tiba-tiba saja jadi tidak tega membuangnya.


Tapi jika aku tidak membuangnya, aku juga yang kepikiran. Bagaimana ini?' Vano mulai frustasi, antara di buang atau di simpan?


Sampai lima menit berlalu, Vano pun mulai kesal sendiri.


"Hahh! Tidak, aku tidak boleh membuangnya. Lebih baik aku masukkan ke dalam lemari yang ada di dalam gudang. Itu lebih baik." dan Vano pun pada akhirnya tidak bisa membuangnya karena hatinya berubah untuk terlalu sayang, jika membuangnya. 'Atau, aku berikan saja kepada Vina saat dia pulang ke kampung?


Dia kan tidak pernah memakai pakaian seperti ini saat tidur, lebih baik begitu saja. Nanti aku dan dia juga suatu saat nanti akan berpisah, jadi aku tidak akan membuangnya.'


Sudah punya keputusan yang tepat, dia pun menyimpannya ke dalam gudang.

__ADS_1


__ADS_2