
Bantuan dari Delvin, akhirnya berhasil membuat rasa risau yang di miliki oleh Vina menghilang, selepas Delvin sukses menghapus semua postingan foto dan video yang sudah terunggah di medsos.
"K-kau hebat! Aku jadi iri, kau bisa sehebat itu menggunakan PC. Bagaimana kau belajar untuk meretas seperti itu? Berapa lama kau belajarnya? Otodidak atau punya guru sendiri? Biasanya di film-film, mereka rata-rata belajar sendiri. Aku baru pertama kali melihatnya, dan itu membuatmu cukup keren," pujian bertubi-tubi dari Vina di berikan kepada Delvin.
Delvin yang mendengar pujian dari Vina yang begitu menggebu itu, hanya sedikit tercengang.
Respond ari orang biasa memang selalu melebihi dari teman-teman kerjanya, itulah yang Delvin rasakan ketika dia bisa mendengar pujian serta pertanyaan yang luar biasa panjang.
"Aku belajar dari Vano, itu saja. Kalau waktu, kira-kira setengah tahun, aku baru bisa mahir melakukannya," jawabnya, dia pun terus melakukan pencarian secara menyeluruh, agar tidak ada yang dilewati sedikitpun.
"Woaahh~" Vina jadi semakin mengekspresikan kekagumannya terhadap Delvin yang menurutnya cukup pintar, tidak, itu bahkan lebih pintar, karena dalam waktu yang singkat itu, Delvin berhasil menguasai dunia komputer. "Aku tidak bisa memujimu lagi, karena kau terlampau keren dan, pintar. Berarti Vano juga sepintar itu dong,"
Delvin melirik ke arah lain seraya menjawab : "Tentu saja, dia yang mengajariku, artinya dia lebih pintar dariku," setelah selesai, Delvin pun menutup PC miliknya.
Vina pun terus memperhatikannya, cukup menyenangkan bisa merasakan sensasi menegangkan dari pria di sebelahnya itu, karena mau bagaimanapun itu cukuplah menakjubkan, bisa berbincang dengan orang asing tanpa perlu membuat Vina pusing berpikir, karena mereka berdua, Delvin dan Vano, bisa memakai bahasa indonesia dengan benar, walaupun tetap mempunyai aksen bahasa inggris yang masih kental.
Tapi itu cukup menyenangkan bagi Vina sendiri.
"Kalau begitu, apa aku boleh bertanya? Kalian berdua sebenarnya berasal dari mana?" tanya Vina dengan wajah polosnya. Saking penasaran, tapi juga terkendala akan dirinya yang kagum dengan sosok Delvin ini, air liurnya pun hampi jatuh dari sudut mulutnya. Maka dari itu, Vina pun buru-buru menyeka sudut bibirnya itu.
"Kami dari paris,"
"Wahh~" matanya Vina seketika jadi berbinar, karena tidak menyangka saja kalau rupanya kedua orang itu adalah orang yang berasal dari paris? Maksudnya perancis itu?
Ya, apa lagi kalau bukan tempat favorit yang memiliki menara Eiffel.
'Enak juga ya jadi orang kaya. Mereka bisa pergi keluar negeri sesuka hati mereka. Aku jadi senang, karena bisa punya teman bicara yang ternyata dari luar negeri.' pikir Vina. Namun, dia memiliki satu masalah, yaitu mereka berdua aan segera pulang.
Betapa menyesakkannya itu, ketika harus tahu bahwa baik itu Vano yang sudah dia temukan dan dia rawat itu harus pulang ke negaranya, Vina tidak bisa berbuat apa pun.
_________
__ADS_1
Pagi itu, bagi Vina itu adalah pagi yang terasa seperti biasa.
"Nyam...nyam..nyam..." dia bisa tidur dengan nyenyak karena pikirannya sudah mulai kembali santai, dan akibatnya sampai jam enam pagi saja, dia masih tertidur cukup nyenyak, hingga tidak menyadari ada dua orang yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya.
Dan kedua orang itu adalah Vano juga Delvin. Mereka berdua sudah berpakaian cukup rapi, karena mereka berdua akan pulang ke negeri mereka.
Namun, satu masalahnya adalah, ketika mereka berdua ingin berpamitan, Vina justru masih tertidur di tempat tidurnya.
"Huft~ Huft~ Huft~" dengkuran halus masih keluar dari mulutnya.
Dua hal yang membuat mata mereka ternodai, selain gaya dari Vina saat tidur, satu hal lagi yaitu penampilan Vina saat ini.
"Apakah pada dasarnya perempuan memang tidurnya seperti ini?" gumam Vano, dia mengernyitkan matanya, karena rok panjang yang di pakai oleh Vina saat ini pun, hanya karena gara-gara gaya tidurnya itu, ujung dari rok berwarna biru itu pun sudah tersingkap cukup tinggai sampai ke atas paha.
Menampilkan kesan seksi, sampai Vano terdiam sendiri saat melihat apa yang ada di balik rok tersebut.
"Vina! Bangun! Vano dan Delvin mau berangkat!" sampai suara dari teriakan sang mama, berhasil membuat Vina seketika itu membuka matanya lebar-lebar.
Tapi, begitu dia mau menjejakkan kakinya ke lantai, saat itu pula dia langsung terkejut, ketika di hadapannya ada Vano yang sudah berdiri di depannya persis.
BRUKH...!
Alhasil, Vina pun jadi terhuyung ke belakang, dan hampir jatuh ke tempat tidur lagi, sebelum tangan Vano lebih dulu berhasil menangkap pinggang dari tubuh Vina.
"Ya ampun, apa kau tidak bisa turun dengan pelan-pelan?"
"A-apa?! Aku pikir tidak ada kau di dalam kamarku! L-lepaskan," tutur Vina, dia pun dengan buru-buru segera menepis tangan Vano yang sempat melingkar di belakang pinggangnya itu.
Dengan tatapan lembut, Vano benar-benar tidak bisa melepaskannya, selain langsung memberikan Vina pelukan hangatnya.
"Kami sudah mau berangkat," kata Vano, memberitahu Vina kalau sudah tidak ada waktu lagi untuk menunggu Vina pergi mandi ataupun merapikan diri. "Tidak ada waktu untukmu mandi atau ganti baju, jadi aku hanya datang ke kamarmu karena ingin pamit saja,"
__ADS_1
"..." Vina lantas terdiam. Semua waktu serasa terlalu berlalu begitu cepat. Padahal sampai sepuluh hari yang lalu, pria yang sedang memeluknya ini baru saja dia temukan dalam kondisi luka yang cukup parah.
Namun hari ini? Baik Vano maupun temannya, mereka berdua akan pergi untuk pulang ke negera mereka.
Sedih jelas, karena dalam beberapa waktu lagi, dirinya akan kembali ke rutinitas miliknya yang biasa itu.
Tapi memangnya dirinya punya hak untuk apa? Kan tidak punya hak atau hubungan apapun untuk mencegah mereka berdua pulang dengan cepat, karena keluarganya Vano jelas sedang mencarinya.
"Kalau begitu hati-hati di jalan ya," jawab Vina. Vina sebenarnya tidak rela, tapi itu tidak ada gunanya juga, selain mengatakan kalimat perpisahan kepada orang ini.
'Vina-' panggil Vano dalam hati.
Sejujurnya Vano sendiri awalnya tidak percaya kalau dirinya ternyata punya urusan yang lebih mendesak. Namun mengingat semua yang di ceritakan oleh Delvin kepadanya dia sendiri memliki pekerjaan berat, rasa ragu itu seketika saja menghilang dari hatinya, selain harus membereskan urusannya, meskipun ingatan miliknya masih terkubur karena kecelakaan yang dia dapatkan itu.
"Hmm. Tapi apa kau tidak memiliki kalimat yang ingin di ucapkan kepadaku selain salam perpisahanmu itu?" harap Vano kepada Vina.
"Memangnya apa yang bisa aku katakan kepadamu? Apa kau berharap aku mengatakan untuk jangan pergi dari sini?" balas Vina, dia masih berada di dalam pelukannya Vano.
Vina yakin, kalau setelah salam perpisahan ini selesai, perlahan rasa rindu itu akan tertumpuk dengan baik, di dalam benak hatinya.
Vano yang mendengar jawaban tersebut, sesaat terdiam, dan begitu pula Vina, dia pun langsung diam membisu.
"Itu boleh juga." kata Vano singkat, sambil mengusap belakang kepalanya Vina dengan lembut.
'Aku tidak ingin kau pergi,' batin Vina, seraya merasakan usapan lembut di ujung kepalanya dan juga belakang punggungnya.
"Tapi kau tahu sendiri, aku akan tetap menjawab, aku tidak bisa tinggal di sini terus," kata Vano, menjelaskan.
"Aku tahu, yang penting hati-hati di jalan, dan tetap waspada pada orang yang kau anggap musuh." ucap Vina sekali lagi, sampai dia yang merasa sayang dengan laki-laki ini, langsung dia peluk lebih erat.
Sedangkan Vano dan Delvin pun langsung terkejut dengan perkataan dari Vina yang cukup mencengangkan.
__ADS_1