Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
92 : Kesehatan Mental


__ADS_3

Tuan muda Apakah anda akan terus bermalas-malasan seperti itu pekerjaannya sudah sudah kembali menggunung loh.


bagaimana tidak bermalas-malasan? Vina masih saja Diam dia tidak bicara kepadaku bahkan menelepon saja tidak Padahal aku kan sudah memberikan dia handphone baru.


delvin terdiam alasan dari hari demi hari melihat sang tuan muda tidak bekerja dengan semangat adalah karena beliau tidak bisa bertemu dengan Nona Vina


maka dari itu saya kan sudah pernah bilang Anda harus menjaga cara bicara Anda lihatkan anda sekarang dicuekin sama Nona Vina bahkan Anda sampai kena timbilan tuh.


Vano tidak bisa menyangkal kata-katanya delvin.


dia pun jadinya hanya diam merenung dan melihatmonitor CCTV dari kejauhan


sedangkan soal timbilan yang pernah dikutuk dari Vina itu benar-benar terjadi kepadanya dan akibatnya salah satu matanya pun ada benjolan kecil yang cukup mengganggunya dan itu berada di mata kanan dan untuk menutupinya dia pun menggunakan penutup mata sehingga dia sudah seperti seorang bajak laut


ngomong-ngomong si Jeff ini sebenarnya lagi ngapain di dalam sana


mendengar nama Jef sebagai salah satu anak buahnya delvin pun menghampiri sang tuan muda untuk melihat ke arah komputer.


di layar komputer itu pun terbagi ada 12 bagian dari CCTV yang diletakkan secara berbeda dan diantaranya mereka berdua melihat Jeff dan Vina terlihat sedang bicara berdua di dalam kamar inap milik Vina.


"Mereka berdua kelihatannya lebih dekat daripada yang aku pikirkan Sepertinya dia itu sainganku?" Vano malah berpikiran demikian.


_____


Padahal di satu sisi yang sebenarnya jawab sedang mencoba untuk menenangkan Fina danono malah berpikiran demikian Padahal di satu sisi yang sebenarnya jawab sedang mencoba untuk menenangkan Nona Vina dan mencoba agar memaafkan sang tuan muda.


Memangnya saya tidak boleh berada di sini ya


bukan seperti itu juga hanya saja kita berdua juga tidak begitu dekat tapi melihatmu tiba-tiba datang ke sini aku merasa aneh saja Jawab Vina. Dia memberikan beberapa permen karamel miliknya untuk Jef.


Apa kau orang yang suka sendirian seperti ini?


"Kenapa kau tanya begitu?" tanya balik vina.


aku hanya ingin tahu saja kalau aku tidak mau bercerita juga tidak apa-apa kita bisa memilih topik yang lain mungkin seperti makanan hobi atau apapun yang kamu suka itu juga bisa menjadi topik yang seru agar kalau tidak terlihat murung seperti itu


Murung memangnya aku terlihat murung ya


Kenapa tanya balik Lihatlah kalau saja aku bercermin kok itu terlihat seperti orang yang tidak mempunyai jiwa


terserah kamu deh aku memang punya wajah seperti ini jadi mau bagaimana lagi jawab Vina dia cuek dengan perkataan yang terlontar dari mulutnya Jef ini, lalu kembali menonton kartun kesukaannya.


hanya bilang begitu saja aku terlihat sudah cuek menyerah seperti itu.


terserah terserah Terserah aku mau bilang apa aku tidak peduli aku memang punya ekspresi wajah yang seperti ini Raja Vina dia pun jadinya kembali emosi sampai Vina menumpukkan kedua Tangannya di atas lutut dan menyembunyikan itu dari hadapan Jef.


Jav yang terkejut dengan reaksi itu jadi ikutan diam dan merasa bersalah diet padahal tidak bermaksud untuk membuat Vina sedih seperti itu.

__ADS_1


aku mohon Maafkan Aku aku jadi salah bicara. Padahal aku bermaksud untuk menghiburmu agar kau tidak sendirian di sini, banyak orang yang terus memperhatikanmu karena kau terlihat sangat kesepian, makanya aku berani masuk ke sini dan bicara denganmu Itu saja maksud dari tujuanku.


Vina yang tadinya diam dan menyembunyikan wajahnya di atas tumpukan kedua tangannya itu akhirnya mau melihat ke arahnya lagi meskipun diam itu sudah menjadi satu kemajuan yang cukup bagus


setidaknya jangan membahas soal diriku lagi yang lain saja aku tidak mau mendengar permasalahan apa yang menyangkut dengan diriku ungkap Vina


Jeff pun memberikan anggukan Jeff pun memberikan anggukan dia akan mencoba memperhatikan untuk tidak mengulangi apa yang tidak disukai oleh Vina.


"Terima kasih karena kau sudah mau mengerti." Vina pun memberikan senyuman lemah miliknya kepada Jef meskipun senyumannya baginya tidaklah semanis wanita lainnya tapi dia cukup percaya diri setidaknya untuk memperlihatkan kalau dirinya memberikan sebuah kepercayaan kepadanya.


___________


ZRASHH….


ZRASHH……


JDERR….


Awan kelabu yang awalnya menyelimuti sebagian besar kota metropolitan, pada akhirnya menjadi sebuah hujan badai yang cukup mengerikan. 


Banyaknya petir yang menyambar, membawa orang di landa ketakutan. 


Hujan bukan berarti hanya di berikan jutaaan kubik air, tapi juga bola es yang cukup berbahaya untuk sebagian besar orang di luar sana. 


JDERR…..


“Akkhh…!” saat itu, Vina seperti biasa, karena dirinya tidak bertukar bicara dengan Vano selama ini, dia pun jadinya tetap sendirian di dalam rumah sakit tersebut. 


JDERR….


Malam itu benar-benar jadi waktu yang paling mengerikan, karena Vina berada di dalam kamarnya sendirian saja, serta menerima berbagai serangan kejutan yang diakibatkan oleh petir yang terus saja menyambar tidak pernah ada kata berhenti. 


“Maa..aku takut.”


JDERR..!


Kelihatan yang lebih besar lagi pun datang, dan rupanya petir itu menyambar salah satu pohon di belakang gedung rumah sakit, makannya suaranya saat itu jadi jauh lebih keras.


JDERR..!


dan begitu ada petir selanjutnya, dengan didampingi oleh jutaan bola es yang terjun bebas menghantam apapun yang dilaluinya, akhirnya membuat membuat kaca jendela yang ada di kamarnya itu langsung pecah. 


PRANGG….


Angin yang begitu besar, langsung berhembus kencang menerjang masuk ke dalam kamar dan segera membasahi tubuh Vina yang baru saja hendak turun dari tempat tidurnya. 


‘A-aku aku takut! Huwahh! Aku tidak mau di sini! Aku mau pulang saja!’ Vina yang sudah ketakutan setengah mati itu, tentu saja segera pergi dari kamarnya dan berlari terbirit-birit. 

__ADS_1


“Nona!” teriakan dari Jef bahkan tidak terdengar. Jef dengan berusaha keras mencoba berlari menyusuri koridor rumah sakit yang begitu gelap, tapi masih bisa di bantu dengan listrik darurat, maka penerangan di dalam gedung tersebut pun tetap terjaga. 


“Non! Jangan pergi!” teriak Jef sekali lagi. 


Akan tetapi Vina yang sudah tidak kuat dengan kesendiriannya di dalam kamarnya, serta akibat dari insiden yang cukup mengerikan itu, Vina pun akhirnya pergi masuk ke area pintu darurat, karena hanya di sanalah tidak ada jendela apapun, dan membuatnya aman untuk bisa bersembunyi dari kekacauan yang ada di luar sana. 


“Hah…hah…hah…, di sini lebih aman, iya. Di sini jauh lebih aman ketimbang di dalam kamar itu.” ucap Vina dengan wajah penat dan kaki yang terasa lemas, karena kedua kakinya itu sebenarnya sudah gemetar saking takutnya dengan kejadian tadi. 


DRAP…DRAP…DRAP….


BRAK….


“Nona Vina!” teriak Jef sekali lagi, dia berusaha untuk menemukan keberadaan dari perempuan yang harus dia jaga itu. 


Dan akhirnya bisa melihat sosok dari Nona Vina ada di bawah sana, Jef pun segera menuruni anak tangga dengan lebih cepat daripada Vina tadi. 


“Aku takut, di sini gelap, aku sendirian. Aroma busuknya, tidak…aku ingin pulang saja, aku tidak mau di sini.” pikrian dari Vina pun kacau, dia hanya ingin satu yang paling pasti, yaitu bisa pulang ke rumah, yaitu kampung halamannya. “Aku sudah sembuh, aku seharusnya sudah tidak ada di sini lagi. 


Tapi kenapa aku terus saja di sini? Sebenarnya ada apa? Atau Vano dengan sengaja membiarkan aku disini agar aku tidak bisa pulang ke rumahku ya? Mentang-mentang di sini ke negara indonesia itu jauh, aku jadi seperti ini. 


Ahh! Aku jadi seperti orang yang bodoh, kenapa aku begitu percaya dengan orang-orang yang ada di sini? pelayanan mereka, sikap mereka semua yang baik kepadaku adalah digunakan agar aku terbuai dan membuatku terus berada di sini kan? Itulah yang di maksud dari keberadaan aku yang terus saja ada di sini, dan mereka terus melihatku sepanjang waktu, tanpa membuatku seperti orang yang bebas. 


Mereka semua diam-diam sedang mengawasiku, menyamar jadi seseorang yang terlihat biasa, padahal mereka satu kompolatan agar aku tidak bisa pergi dari sini. 


Hiks..Hiks…aku ingin pulang, aku ingin pulang. Maa…” 


Semakin di dengar, Jef pun jadi semakin sakit hati, rupanya yang di pikirkan oleh Nona Vina selama ini adalah seperti itu. 


Namun dikarenakan dia tidak boleh lalai dalam berjaga, dia segera turun untuk menghalau Nona Vina yang mentalnya tiba-tiba jadi kacau balau seperti itu, membuat keseimbangannya tidak bagus. 


Maka dari itu, sebelum kedua kakinya Vina itu oleng dan membuat Vina terjatuuh, Jef langsung melingkarkan salah satu tangannya di depan perutnya Vina. 


“Aku tidak mau disini, tolong, bantu aku pergi dari sini, Aku ingin pulang. Dan aku tidak ingin di awasi seperti ini, apalagi olehmu. Kau pasti salah satu dari komplotan yang menculikku kan?” kata Vina, dia terus saja bicara melantur?


Tidak, sebenarnya apa yang dia pikirkan itu merujuk pada soal ingatannya yang begitu mirip dengannya waktu di saat dia di culik. 


Maka dari itu, meskipun dia sudah bebas, dia beranggapan kalau anak buah dari Arthur terus mengawasinya dengan lebih dekat, dengan cara menyamar seperti Jef ini. 


‘Jadi dia sudah tahu, kalau aku bukanlah pasien yang sebenarnya?’ pikir Jef. “Nona, ayo kembali, kita pergi ke kamar yang lebih aman.” kata Jef, dia mencoba untuk membujuk Vina untuk pergi bersama dengannya. 


Tapi, begitu sudut matanya melihat kalau sepasang kakinya sang Nona vina itu gemetar lemas, karena insiden di dalam kamarnya, Jef pun memilih untuk membawa Nona Vina ke dalam gendongannya, dengan gaya bridal. 


“Kau pasti akan membawaku ke tempat penyekapan lagi kan? Aku sudah lelah, lebih baik aku di pulangkan saja, tapi jika memang tidak, mending aku di bunuh saja, agar aku tidak terus merasa bersalah karena aku meninggalkan kedua orang tuaku seperti ini, dan supaya aku bisa leluasa untuk melakukan apa yang aku sukai tanpa ada yang bisa menghalangiku. 


Dan setidaknya, biar aku tidak merepotkan kalian lagi. 


Hanya mengandalkanku sebagai sandera, apa gunanya?” Vina yang terus mengoceh dengan prasangka negatifnya terus, membuat Jef tidak bisa berbuat apapun, selain memberikan tanggung jawab atas kondisi ini kepada si ahli, yaitu dokter Jason. 

__ADS_1


“Jef, kau menemukannya di mana?” tanya dokter Jason. 


“Di tangga darurat.” jawabnya singkat. “Tapi dia terus bicara, dia sepertinya punya trauma berat saat penculikannya sebelum ini. Jadi dia terus mengira kita semua adalah orang yang satu kompolot dengan anak buah dari Tuan muda pertama.” imbuhnya lagi. 


__ADS_2