Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Stimulan Rasa Khawatirnya Vina


__ADS_3

"Ini apa? Kenapa tiba-tiba aku dapat amplop? Atau ini adalah berisi surat pemecatan serta tagihan juga denda?" laki-laki dengan sebelah sebelah mata kanannya memiliki bekas sayatan dari senjata, bertanya dengan wajah melamun begitu dia tiba-tiba saja mendapatkan satu amplop berwarna coklat yang cukup tebal.


"Itu hadiah dari Tuan, tidak ada spesifikasi alasan yang di jelaskan dari Tuan, tapi beliau menitipkan ini untuk diberikan kepadamu. Selain itu, masa skors kamu juga di kurangi satu bulan. Jadi lebih baik jangan banyak tanya dan terima itu saja," jelas salah satu anak buahnya Delvin.


"Tapi Tuan, ini ka-"


Sedangkan orang yang diutus untuk memberikan uang itu kepada rekan kerjanya langsung menyela, "Jika kau tidak mau, kau bisa membuangnya, itu pesan yang aku dapatkan dari Tuan muda. Jaga dirimu baik-baik sampai lima bulan ke depan,"


Setelah itu, dia pun pergi dari sana dan meninggalkan orang tersebut.


"Kak? Siapa orang tadi? Apakah itu teman kakak?" tanya anak laki-laki ini. Tepat setelah tamu yang tidak dia kenal pergi, anak ini keluar dari kamarnya dan bertanya kepada sang Kakak yang masih memasang wajah penasaran.


"Iya, dia teman kakak," jawabnya dengan singkat, lalu begitu dia membuka amplop tersebut, ternyata amplop itu benar-benar berisi uang yang jumlahnya tidak sedikit.


Sang adik yang penasaran, seketika langsung kagum dengan jumlah uang yang begitu banyak. "Whoah! Kak, itu uang! Kakak gajian?" tanyanya dengan wajah bahagia.


Berpura-pura tersenyum, dia menganggukkan kepalanya. "Iya, apa kau mau pergi keluar jalan-jalan?" tanyanya, sambil mengusap kepala adiknya dengan kehangatan.


"Iya, aku ingin makan di restoran," jawabnya. "Lalu pergi ke mall, beli tas baru dan sepatu baru," imbuhnya dengan sangat antusias.


"Kalau begitu sore nanti kita pergi ke restoran. Jadi sebelum itu kau selesaikan PR kamu dulu, baru pergi,"


Sang adik pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Aku akan pergi mengerjakan PR, jadi kakak tunggu aku dulu ya?" ungkapnya, lalu segera berlari menuju kamarnya.


Setelah kepergian dari adiknya, pria ini pun terus memandangi uang yang dia terima itu. 'Padahal aku di skors karena aku peluruku meleset dan melukai Nona Vina, kenapa sekarang tiba-tiba saja Tuan memberikan aku keringanan? Di tambah aku malah mendapatkan uang sebanyak ini.'


Semakin di pikirkan, dia pun benar-benar semakin bingung.


Padahal tujuan utamanya adalah dia harus menembak Abel, tapi karena satu peristiwa yang tidak terduga, hal tersebut membuat Vina malah kena imbasnya, oleh karena itu dirinya sekarang cuti karena skors, sebagai hukuman karena kelalaiannya.

__ADS_1


Namun, apa yang sekarang dia dapatkan, dia malah diberikan uang yang cukup banyak.


'Apakah ini suap?' detik hatinya.


____________


"Kenapa telingaku tiba-tiba jadi gatal?" gumam Elvano. 'Apa ada orang yang baru saja membicarakanku dari belakang?' pikirnya.


"Kau kenapa?" tanya Vina, dia melihat tampang Elvano yang terlihat sedang berpikir keras.


"Tidak apa-apa, aku hanya kepikiran sesuatu saja."


Vina hanya diam memperhatikan apa yang sedang di lakukan oleh Elvano ini terhadap laptop yang sedang di gunakan itu. "Kalau kau tidak bekerja, apakah tidak masalah? Maksudku, kau katanya keluar dari pekerjaanmu, sedangkan kau kan di tuntut untuk hidup mandiri?"


"Ini? Aku sedang bekerja," senyum Elvano sambil menunjuk laptop berwarna hitam yang sedang dia gunakan itu. "Seperti kau waktu itu, kau bisa mendapatkan uang meskipun hanya duduk saja, aku juga bisa begitu kok, jadi meskipun aku sudah keluar dari pekerjaan pertamaku itu, aku masih bisa melakukan hal yang bisa membuat aku mendapatkan penghasilan,"


Semua yang di jelaskan oleh Elvano pun dapat di terima dengan baik oleh Vina, karena dia sendiri juga melakukan hal yang sama.


"Apakah aku boleh hanya duduk diam seperti ini saja?" gumam Vina. Tiba-tiba saja dia merasa tidak enak, sebab dirinya saat ini sama sekali tidak melakukan apapun, sedangkan orang-orang yang ada di sana memiliki pekerjaannya masing-masing.


Elvano yang sedang mengetik itu, sempat melirik ke arah Vina yang terlihat lesu.


"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat lesu,"


"Bukannya setiap hari aku memang selalu punya wajah lesu? Aku hanya duduk diam seperti ini, sedangkan kau bekerja. Tapi, apakah aku masih bisa menggunakan tanganku ini dengan baik?" jawab Vina sambil memperlihatkan tangan kanannya itu.


Alhasil Elvano pun menghentikan pekerjaannya demi menemani satu wanita yang saat ini terlihat sedih karena mengkhawatirkan soal tangannya.


"Jika kau banyak istirahat, kau akan segera sembuh. Memang, menyembuhkan tangan yang kena peluru akan memerlukan waktu yang cukup lama, tapi jika kau bersabar, pasti akan sembuh seperti sedia kala," Elvano hanya bicara apa adanya, tentu saja Vina yang mendengarnya saja tampak tidak puas, dan hanya diam dengan raut wajah muram.


'Apa yang harus aku katakan lagi? Masalah soal kakakku sudah selesai, dia tampak mulai menyesuaikan diri dalam pekerjaannya, tapi apa yang aku hadapi sekarang bukanlah semudah yang terlihat, dia sangat sensitif, aku jadi bingung. Atau aku bawa dia jalan-jalan?' Elvano tiba-tiba saja bangkit, lalu memakai jaketnya dan menawari Vina untuk pergi. "Ayo-"

__ADS_1


Vina mendongakkan kepalanya ke atas, terlihat Elvano yang tampak sangat mengharapkannya untuk segera mengikutinya.


"Ayo kemana?" tanyanya.


"Kau pasti bosan kan, karena di dalam rumah terus, lebih baik kita pergi jalan-jalan,"


"Jalan-jalan bagaimana? Sampai beberapa hari lalu saja, aku hampir di bunuh dengan peluru itu, dan sekarang kau mengajakku jalan-jalan?" Vina langsung menggelengkan kepalanya, dia menolak untuk menerima ajakan dari Elvano. "Tidak mau, walaupun kau memaksa, mending aku disini saja. Sesuai yang kau sarankan, aku akan istirahat saja di kamar dan kau bisa kerjakan pekerjaanmu," ungkap Vina, dia langsung menolak pergi dengan Elvano dan memilih untuk pergi dari sana.


"Vin, soal itu aku jamin tidak ada lagi yang akan mengincarmu. Apa kau tidak ingat, saat terakhir kali sebelum kau pingsan hari itu? Kau mengatakan agar aku bergantian posisi dengan kakakku, dan aku sudah melakukan apa yang kau sarankan itu, jadi tidak perlu khawatir,"


'Apa? Dia benar-benar mengiyakan saranku? Yang benar saja. Jika seperti itu, bukannya akan lebih berbahaya lagi karena kakaknya pasti sudah jelas tidak akan tinggal diam, jika hanya bergantian posisi kekuasaan.


Kakaknya pasti akan menggunakan segala cara untuk menyingkirkan Elvano lebih dari kemarin-kemarin, karena bisa mengumpulkan banyak kekuatan.


Aku baru sadar ini, apakah dia tahu apa yang dia lakukan karena menuruti perkataanku?


Tunggu, kenapa dia sebegitu percaya dan mengiyakan saranku?' Vina yang tidak mau memendam pikirannya itu, bertanya dengan jelas kepada Elvano.


"Tapi Elvano, kenapa kau mengiyakan saranku semudah itu? Aku pikir itu tidak baik, selain itu-" Vina terdiam sejenak, lalu setelah Vina menghela nafas, Vina pun berkata lagi, "Bisa saja kakakkmu malah mengambil kesempatan itu untuk mengumpulkan lebih banyak kekuatan untuk menyingkirkanmu, atau bahkan aku lagi."


"Aku mempercayaimu karena itu kau," Vano malah mengatakan hal yang ambigu.


"Karena itu aku apa? Sebaiknya jangan pernah menuruti saran aku, jika berkaitan dengan keluargamu, aku tidak mau hal ini malah membuatmu dalam kerugian, lebih dari pada yang seharusnya,"


Penjelasan dari Vina memang cukup di pahami oleh Elvano, namun karena sudah terlanjur, jadi apa boleh buat?


Hanya saja, mendengar Vina bisa bicara panjang lebar begitu demi diri Vano, dia pun jadi tersenyum simpul dan berkata, "Ternyata kau sangat khawatir kepadaku ya?"


"Ya, aku sangat khawatir, memangnya kenapa? Mau bagaimanapun aku tidak ingin melihatmu kalah dengan kakakku itu." jawab Vina dengan terus terang, hingga perkataannya tadi, sukses membuat Elvano terkesiap.


'Dia- walaupun sudah banyak yang dia alami, tapi mendengar dia tetap mengkhawatirkan aku, dan tetap mendukung aku untuk bisa menang dari kakakku, tiba-tiba aku jadi seperti baru saja mendapatkan energi baru, Vina.' pikir Elvano, tiba-tiba dia pun jadi seperti baru saja mendapatkan suntikan stimulan yang cukup membuat dalam diri Elvano jadi lebih bersemangat lagi dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2