Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Lagi-lagi Masalah


__ADS_3

“Hah, Vina, kau dapat semua pakaian ini dari mana?” tanya Ibunya Vina. 


Sudah satu satu hari berlalu semenjak dia pulang ke rumah setelah di antar oleh Delvin. 


Oleh karena itu, karena Vina yang asli sudah pulang ke rumah, sosok dari perempuan yang menggantikan Vina selama Vina ada di paris, kini sudah pergi meninggalkan rumah tersebut. 


Hanya saja, berkat itu juga, Vina pun harus menghadapi banyak pertanyaan yang di tanyakan oleh sang Ibunda, karena dia tercengang melihat Vina justru pulang dengan membawa tas yang berisi gaun-gaun cantik dan bagus. 


“Ini, pemberian dari kakaknya Delvin, orang yang kemarin mengantarku pulang. Kebetulan aku bertemu kakaknya Delvin di mall ketika aku  jalan-jalan sama Delvin, dan dia malah membelikanku pakaian, serta memberikan aku pakaian yang dia mliki karena tidak muat lagi.


Karena terlihat masih bagus, ya aku ambil saja,” sebuah kebohongan yang sedikit kurang diterima oleh Ibunya. 


“Tapi apa tidak masalah? Pakaiannya kelihatan mahal-mahal tuh,”


JLEB …


“Hahahha, orang kaya mah belinya mahal-mahal. Lagian dia menawariku pakaiannya, ketimbang dia buang, apa boleh buat, aku ya terima saja.”


“Padahal mending beli baju yang baru saja, kau terus saja menerima pakaian bekas orang lain terus, padahal kau kan punya uang sendiri,” kata Ibunya Vina. 


Vina pun mengakui apa yang di takan oleh Ibunya itu memang ada benarnya. 


Tapi yang namanya kesempatan, dia tidak akan pernah membuang kesempatan begitu saja, dan lagi pula dia hanya berbohong saja, jadi dia tidak akan mempermasalahkan soal komentar dari Ibunya, karena yang penting dia memiliki pakaian bagus yang bisa dia gunakan untuk kesehariannya. 


‘Dan untungnya tanganku masih bisa aku gerakkan sedikit demi sedikit. Tapi aku harus merahasiakan kalau tanganku ini sempat patah, dan sekarang sudah dalam proses pemulihan.’ karena dia tidak mau membuat kedua orang tuanya khawatir, maka dari itu dia pun merahasiakan semua cerita dari kisah asli miliknya dari kedua orang tuanya. “Tapi ini kan masih kelihatan bagus-bagus. Bahkan bisa aku permak agar bisa aku rubah jadi rok saja, atau appaun sih. Tapi intinya sayang kan, kalau bahan sebagus ini di buang?”


Vina terus menekankan agar pakaiannya itu tidak di permasalahkan lagi oleh Ibunya yang terus mengkhawatirkannya. 


“Ya sudah, terserahmu saja,” menyerah, berdebat terus dengan anaknya, dia pun memilih untuk pergi dari kamarnya Vina. 


“Oh ya ma, apa ada orang yang bertamu untukku?”


“Tidak ada, bahkan semua pesananmu minggu kemarin baru kemarin pagi di ambil, jadi kau sudah tidak melakukan apapun lagi,”


‘Untung Ibu memberitahu rinciannya, dan aku sendiri juga sudah tahu kondisi dari posisiku saat ini sudah tidak ada pekerjaan apapun lagi. 


Karena pesanan sebelumnya sudah dikerjakan oleh anak buahnya Delvin, sekarang aku jadi bebas.’ Vina senang, mengetahui kalau dia bisa kembali kerumah dan beradaptasi dengan lingkungan lamanya berkat semua informasi serta kerja keras yang di lakukan oleh anak buahnya Delvin. 


“Makan siang dulu, baru lanjut beres-beres,” perintah sang Ibunda kepada Vina. 


Vina pun bergegas memasukkan kembali pakaiannya yang sempat sembarang dia ambil ke dalam koper dan menutup pintunya.


Kebetulan dia saat ini sedang lapar, jadi sangat pas untuk mengisi perutnya yang keroncongan itu. 


Meskipun makanan yang ada di atas meja hanya tempe goreng, sambal, ikan asin, tumis kangkung, serta kacang goreng yang di taburi garam, dan tidak lupa ada jengkol serta sosis goreng, semua itu adalah nikmat makanan yang tidak bisa di bandingkan dengan makanan manapun. 


Walaupun makanannya sederhana, dan sangat bertolak belakang dengan makanan yang selama ini dia makan saat di rumahnya Elvano, dia tetap mensyukuri semua hidangan sederhana itu. 


Sebab mau bagaimanapun, makanan itu akan menjadi berkah tersendiri yang tidak bisa di bandingkan, bahkan restoran sekalipun. 


“Jika kau idak suka, kau bisa cari makan sendiri,” ucap ibunya Vina. 


Vina pun menggelengkan kepalanya. “Ada yang enak, kenapa menolak?”


“Oh ya, kemarin ada yang kasih kamu undangan. Undangannya ada di meja depan,”


‘Dari siapa? Hah~ Sebentar, aku benar-benar sangat iri, mereka sudah punya calon untuk di nikahi, sedangkan aku, aku tidak tahu kapan.’ pikir Vina, dia tiba-tiba saja terbebani dengan nasib percintaannya. 


Padahal ada satu orang yang sudah memberikan perasaan kepadanya. 


Tapi hanya karena perbedaan status diantara mereka berdua, Vina sungguh, dia justru memilih untuk menolak jodohnya itu. 


‘Oh Vina, pasti bukan dia. Meskipun aku menerima pengakuan cintanya Vano, tidak mungkin hubunganku akan naik ke pelaminan. 

__ADS_1


Makannya, aku takut, dan memilih untuk menolak pernyataan cintanya itu, ketimbang aku sakit hati sendiri.’ jujur saja, Vina sadar kalau dia cukup egois. 


Demi tidak menyakiti dirinya sendiri, dia rela untuk membuat hati orang lain jadi sakit. 


‘Ah! Sudahlah, aku akan makan dulu, lebih baik kan mengenyangkan perutku lebih dulu ketimbang memikirkan perasaan terus.’ kata hatinya, lalu dia pun pergi untuk makan siang bersama dengan Ibunya. 


___________


DOR…


DOR…


DOR …


Tembakan demi tembakan, menciptakan kebisingan di tengah keheningan di pinggir kota paris yang berdekatan dengan pemukiman kumuh. 


“A-ampuni saya, tolong ampuni saya Tuan,” pria ini memohon kepada pria yang ada di depannya itu sampai berlutut. 


Gara-gara salah satu kakinya ditembak, dia pun merasakan rasa sakit yang tidak terbayangkan dan memilih untuk memohon ampun dan tidak akan kabur lagi dari tangan pria yang kini sedang duduk di atas bak sampah yang tertutup sambil di layani oleh anak buahnya yang baru saja memberikannya sebuah rokok. 


“Sini Tuan,” menyulutkan pemantik, dan akhirnya ujung rokok yang di sudah di gigit diantara bibirnya sang Tuan muda, akhirnya menyala. 


“Phuhh~ Ampuni? Setelah membuat beberapa anak buahku mati, kau baru menyadari kesalahanmu?” suaranya cukup rendah, untuk menciptakan kesan yang begitu tegang dan mengintimidasi. 


Tapi, baru juga di mulai proses untuk menghukum buruannya, dia tiba-tiba saja terbatuk. 


“Uhuk… uhuk… uhuk…, kenapa rasanya pahit?” tanyanya kepada salah satu anak buahnya. 


“Namanya juga rokok, memangnya ada rokok yang rasanya manis?” balasnya. 


Tidak begitu suka dengan rasa dan asap yang begitu memenuhi paru-parunya, dia pun memberikan puntung rokoknya kepada anak buahnya. 


“Nah, kau yang habiskan, aku tidak cocok untuk merokok, sama saja aku memangkas masa hidupku,” timpal pria ini. 


Setelah bicara berdua dengan anak buahnya, pria ini pun turun dari atas tempat sampah dengan cara melompat, dan barulah dia berjalan menghampiri buronan yang sudah merugikan dirinya, karena sudah membuat beberapa anak buahnya mati di tangan orang yang sedang berlutut di tanah itu. 


“Tuan muda, apa yang akan anda lakukan kepada orang ini? Apakah harus membunuhnya juga, sebagai balasan karena sudah membunuh rekan-rekan kita?” tanyanya kepada Bos nya itu. 


“Membuatnya mati dalam waktu singkat, sama sekali tidak setara dengan apa yang sudah dia lakukannya selama ini kepada anak buahku. 


Biarkan dia menderita, obati dan siksa dia lagi lagi. Hah, lakukan itu seterusnya sampai punya pikiran untuk mati,” kata pria bersurai hitam ini. 


Iris matanya yang berwarna hitam, tampak kontras dengan sinar bulan purnama yang ada di langit kota metropolitan. 


Kemunculannya dari balik kegelapan, sontak membuat pria muda awal 27 tahunan itu langsung membelalakkan matanya, begitu dia melihat pria yang dia kenal. 


“K-kau? Bukannya kau keka-”


“Oh, ayolah, kelihatannya kau kenal wajah ini ya?” tanya Elvano.


Dia membungkukkan tubuhnya ke arah lawan bicaranya yang terduduk di tanah, lalu menunjuk wajahnya sendiri dengan senyuman miringnya. 


“Kau pasti sudah pernah melihat wajah ini saat pesta reuni yang di adakan sebulan lalu kan?


Apa kau masih menganggap aku ini kekasi dari wanita bernama Veronica itu?


Hah, kau salah bocah,” ungkapnya dengan senyuman bangganya. 


Menjadi seorang mafia bukan berarti dia menitik beratkan untuk melakukan semua pekerjaan kotor dan ilegal di bawah kendalinya. 


Dia bisa saja bekerja sama dengan kepolisian dan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan di negara yang penuh dengan kejahatan. 


Dan kali ini, ia memiliki misi untuk memberantas narkoba, dan salah satu dari orang yang dia tangkap, justru adalah teman kuliah dari Veronica sendiri. 

__ADS_1


Elvano tertawa meilhat wajah takut dari anak yang ada di depan kakinya itu. 


Baginya itu adalah sebuah hiburan yang tidak bisa di bandingkan denga nyang lain. 


Tapi karena dalam prosesnya, dia ternyata membuat beberapa anak buahnya mati karena di tembak oleh anak ini, maka Vano pun tidak akan membiarkan hidup dari bocah di depannya itu tenang.


“Tidak menyangka ya? Karena kita justru bertemu lagi di situasi kita yang sangat tidak menyenangkan?” tanyanya, padahal itu adalah pertanyaan yang mengartikan sebagai sebuah sindira. 


‘Bagaimana bisa? Dia kan anak polos yang bahkan hanya memakai wajahnya untuk menjadi gigolonya Veronica, tapi sekarang? Apa mereka benar-benar memanggilnya Tuan muda, apa jangan-jangan selama ini pria ini sudah menipu Veronica?’ sebuah kenyataan pahit yang tidak bisa di ganggu gugat lagi, membuat pria ini sungguh menyesal dengan perbuatannya. 


Tepatnya, dia menyesal karena dia masuk terjerumus hanya karena ingin menjadi seorang yang kaya, dengan cara menjual narkoba. 


Tapi berkat itu juga, sekarang dia justru di tangkap oleh pria yang dia anggap sebagai anak polos yang hanya butuh uang dengan tampang wajahnya saja. 


Tidak terduga, dan cukup mencengangkan, karena dia harus menerima nasib seperti ini. 


“Sepertinya kau baru sadar ya siapa aku? Tapi sayangnya, karena kita sama sekali tidak punya waktu untuk sailng bertukar kata, lebih baik kau pergi dengan bawahanku ini, merekalah yang akan memproses penghukumanmu,” ucap Elvano dengan tatapannya yang begitu datar. “Bawa dia ke ruang abwah tanah, interogasi dia sampai mau membuka mulutnya lagi. 


Aku ingin minggu ini kita selesaikan masalah narkoba ini,”


“Baik, Tuan. Akan kami laksanakan sekarang juga,” lima orang anak buahnya Elvano pun membungkuk hormat kepada Elvano dan segera membawa buruannya pergi dari sana. 


“Tunggu, aku akan katakan tapi bebaskan aku!” teriaknya sambil menahan sakit di salah satu kakinya akibat peluru yang bersarang di sana. 


“Tidak ada kata bebas di kamusku, kecuali satu orang sih. Tapi aku sama sekali tidak akan membiarkanmu bebas, bahkan jika kau sudah berpisah dengan tubuh fisikmu, aku akan tetap membuatmu menderita,” ancam Elvano. 


Sebenarnya itu hanyalah sebuah kebohongan belaka, agar lawannya jadi takut kepadanya. 


“Saya mohon! Dengarkan ak-mphh!”


“Hei, mulutmu berisik, diam!” kata pria ini kepada si tersangka setelah berhasil membungkam mulutnya. 


Setelah kepergian mereka, sekarang hanya tinggal Elvano dan satu orang lagi yang berdiri di belakangnya, yaitu Delvin. 


“Tuan, apa yang akan anda lakukan sekarang?” tanya Delvin. 


Elvano sejenak diam. Matanya kemudian terkulai melirik ke arah Delvin yang tiba-tiba muncul dari tempat Elvano muncul tadi dengan penuh makna. 


Lalu tidak lama setelah itu, langit yang tadinya begitu bersih, tiba-tiba didatangi oleh gumpalan awan kelabu. 


Awan itu akan menurunkan hujan, sudah di tebak dengan begitu jelas, tapi Elvano sendiri tampak tidak punya niatan untuk segera pergi dari sana dengan cepat. 


“Entahlah, aku hanya ingin semua ini segera selesai. Kakakku sekarang ada di mana?”


“Maaf, sudah setengah hari pencarian, tapi saya belum menemukan keberadaannya,” jawab Delvin. 


‘Masih saja ada pengkhianat di dalam kelompokku. Sampai aku kena bius total, aku jadi sempat kehilangan cincin lambang kelurga Travers. 


Pasti ini perbuatannya Arthur, aku yakin itu.’ punya masalahnya sendiri, dengan seperti itu, pikirannya pun jadi sempat terbagi dengan dua masalah besarnya. 


Yang pertama, dia kehilangan cincin lambang keluarga miliknya, dan yang kedua dia masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan dari Veronica. 


“Apakah kita harus meminta ban-”


“Tidak, hanya kita berdua yang tahu, jadi tidak boleh masalah ini bocor,” perintah Elvano, dia tidak mau informasi rahasianya justru bocor dan membuatnya dalam masalah yang lebih buruk lagi. 


Ya, jika Elvano ketahuan sudah kehilangan cincinnya, ada banyak kemungkinan orang-orang akan menyingkirkannya, sebab ada banyak orang yang memusuhi Trvares, sebagai keluarga yang bertindak sebagai kaki tangan dari orang-orang pejabat tinggi. 


“Saya akan berusaha lagi, jadi mohon berikan saya waktu lagi,” pinta Delvin. 


“Meskipun aku tahu, kalau masalah hanya di kerjakan sendiri tidak akan membuahkan hasil yang begitu cepat, tapi aku mohon bantuanmu,” Elvano pun secara tidak sungkan memohon kepada Delvin. 


Delvin sendiri langsung mengangguk paham, dan dia akhirnya sama-sama mengerti, untuk memperkuat suatu posisi, akan ada lebih banyak terjangan angin yang menganggu prosesnya. 

__ADS_1


Maka dari itu, Delvin cukup enggan jika harus meninggalkan tuan muda nya di saat-saat krisis seperti ini. 


__ADS_2