
"Lalu kita mau pergi kemana?" tanya Vina, dia pun terus berjalan mengikuti Vano.
Tidak seperti bayangannya, kalau Paris itu kota yang indah, sebenarnya bangunan yang terdiri dari abad pertengahan yang masih berdiri dengan kokoh itu, cukuplah bagus, tapi sayangnya setiap dia lewat, dia terus menemukan gelandangan yang tertidur di tepi jalan.
"K-kenapa kita harus masuk ke gang?" Vina jadinya semakin ragu untuk berjalan, karena Vano mau membawanya entah pergi kemana.
"Aku tidak bisa melihatmu jalan terus, jadi untuk mempersingkat waktu pergi ke mobil yang aku sewa, kita lewat sini." jawab Vano sembari membalas sebuah pesan yang di kirimkan oleh Delvin kepadanya.
'Kenapa tempatnya jadi serem begini ya? Dan aroma kencingnya, sial- kenapa seperti ini? Aku pikir paris kota yang bersih, tapi ini apa? Aku-' baru sampai pertengahan, Vina langsung mual sendiri. "Huekk~ Huekk~"
Padahal di saat itu, dia sudah memakai masker. Tapi sayangnya dia bahkan masih saja bisa merasakan aroma pesing yang begitu kuat.
"Vin!" Vano yang khawatir dengan Vina yang tiba-tiba saja mual, langsung menghentikan langkahnya dan menepuk punggungnya Vina, yang mana akhirnya semua makanan yang sempat Vina makan tadi pagi, dia keluarkan lagi.
"Hueekk~ Huekk~ Huek~" semua isi perut dari makanan yang di makannya, keluar, dan membuat Vina jadi merasa jijik sendiri dengan muntahannya sendiri itu. "K-kenapa di sini pesing sekali?"
Vano yang baru menyadari dengan aroma pesing yang menyeruak dan cukup menyengat indera penciumannya, seketika membuat matanya jadi terbelalak kaget.
'Kenapa aku tidak sadar kalau di sini pesing? Seolah aku sudah terbiasa dengan aroma jijik seperti ini?!' panik Elvano, dia akhirnya jadi merasa bersalah, karena membawa Vina melewati tempat kumuh yang bahkan di gang kecil yang sebenarnya bisa di lewati satu mobil itu, benar-benar punya aroma yang cukup pesing.
Ya, walaupun paris terkenal dengan keindahan kota nya, tapi bukan berarti itu adalah wajah asli dari paris. Karena setiap daerah, pasti punya sisi gelapnya sendiri.
Dan salah satunya adalah Elvano sendiri. Dia sebenarnya adalah seorang Bos Mafia. Tapi karena dia kehilangan semua ingatan yang berhubungan dengan pekerjaannya, dia pun hanya bisa bergerak sesuai dengan informasi yang dia dapatkan dari Delvin, sehingga secara tidak langsung, meskipun ingatannya menghilang, bukan berarti kebiasaan dari tubuhnya itu akan menghilang dengan mudahnya.
"Hueekk~"
"V-vin, maaf, aku baru sadar kalau tempat ini aromanya sangat menyengat untukmu. Ayo, kalau lelah, aku gendong," kata Elvano, dia pun menawarkan dirinya kepada Vina agar mau di gendong.
"Tidak usah, aku bisa jalan, yang penting bisa keluar dari sini dengan cepat," jawab Vina, dia pun menyeka bibirnya itu dengan kerah bajunya.
Melihat hal tersebut, Elvano secara tidak sengaja jadinya melihat perutnya Vina, gara-gara bajunya yang sedikit terangkat untuk menyeka bibirnya yang pastinya tidak nyaman, karena baru saja muntah.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Apakah itu kebiasaanmu?" senyuman simpul itu pun menyadarkan Vina sendiri, sehingga Vina yang memang punya kebiasaan menyeka bibirnya dengan kerah bajunya, buru-buru melepaskannya.
"Tidak, ini refleks, karena aku tidak punya saputangan," Vina pun menyangkal ucapannya Vano.
"Apa itu sangkalanmu?" ledek Vano, lalu tanpa izin apapun, Elvano pun menggendong tubuhnya Vina di belakangnya.
"Vano, tidak usah, aku bisa jalan sendiri." jawab Vina, dia terus memberontak ingin di turunkan. Tapi rupanya Vano sama sekali tidak menghiraukan permintaannya.
"Kakimu itu pendek, kalau mau jalan cepat, manfaatkalah kedua kakiku ini," sahut Vano, membuat Vina jadi tersipu malu, gara-gara Vano yang selalu saja menggombal.
__ADS_1
"Tapi- tapi aku tidak enak, kau itu kan juga terluka? Pasti dadamu belum sembuh." kata Vina, dia mencoba menjaga jarak dadanya dari pada menempel ke punggungnya Vano.
Vano yang merasakan Vina yang benar-benar menjaga jarak dengan punggungnya, dengan sengaja, Vano langsung menyentak tubuh Vina kepadanya.
"Kyaa!"
"Kau berisik juga ya,"
'K-kau, ini- ini-" Vina jadi gugup, bahkan ucapannya jadi terbata-bata, sebab dia baru pertama kalinya di gendong di di belakang tubuh milik seorang laki-laki. 'Ya ampun, punggungnya kekar sekali? Ini bukan mimpi kan? Tapi-tapi ini kan, dadaku jadi nempel, aku-'
Saking syok nya Vina, Vina pun tidak jadi berbicara, karena pikirannya benar-benar jadi kacau, gara-gara dirinya yang di gendong.
DRRTT...
DRRTT....
Sama-sama mendengar handphone nya Vano berbunyi, Vano pun berkata : "Vin, apa kau bisa ambilkan handphoneku? Di dalam saku mantelku,"
Vina dengan polosnya, dia pun langsung merogoh jaket yang Vano kenakan, dan saat itulah, sentuhan yang terjadi antara tangannya Vina yang hangat dengan dadanya Vano, membuat Vano tiba-tiba saja jadi merasakan jantungnya semakin berdetak cukup cepat.
"Sebelah mana? Kanan atau kiri?" tanya Vina, dia pun merogoh antara saku kanan dan kiri, karena Vina tahunya kalau Vano meletakkan handphone nya di saku dam dari jaketnya.
"Kanan, dan itu di samping kanan pinggangku, bukan di dadaku-"
"Tidak apa, bahkan jika kau kurang puas, kau bisa melakukannya lagi setelah kita kembali ke rumah sakit," jawab Vano dengan begitu entengnya.
"Tidak, aku tidak mau di anggap sebagai perempuan mesum-" bisik Vina, dia meletakkan layar handphone nya di bawah pant*atnya, untuk membuat jari sidik jari Vano, terdeteksi layar handphone itu sendiri.
Sebab orang yang tadi sempat menghubungi nomornya Elvano, sudah berhenti menelepon, jadi harus di hubungi balik.
"Tapi bahkan kau sendiri sudah cukup mesum-"
DEG..
"M-maaf- aku melakukan kesalahan," lirih Vina, merasa bersalah kepada Vano. "T-tapi ini, apa kau ingin aku menghubunginya balik?" tanya Vina, sambil memperlihatkan nomor milik seseorang yang baru saja menghubunginya tadi kepada Vano.
'Oh, ada apa ini? Kenapa dia tiba-tiba saja menghubungiku?' batin Vano, bahwa orang yang baru saja menghubunginya itu sebenarnya adalah bayangannya. "Hubungi dia balik," pinta Vano.
Vina pun mengiyakannya, dan menghubungi orang tersebut, lalu menempatkan handphone Vano ke samping telinganya Vano.
"Kenapa kau menghubungiku? Apa terjadi sesuatu?" tanya Vano kepada salah satu anak buahnya yang ada di ujung telepon.
Sambil bicara, dia pun sambil berjalan pergi membawa Vina di gendongannya.
__ADS_1
-"Tuan, kita ada masalah,"-
"Soal?" tanya Vano sekali lagi. Saat ini dia semakin penasaran dengan apa yang ingin di katakan oleh anak buahnya tersebut.
Tapi- menyadari kalau Vina bisa mendengar ucapannya, Vano pun langsung angkat bicara lagi.
"Tunggu sebentar, nanti kita bicara lagi," katanya.
'Yah, padahal aku kan penasaran mereka berdua mau membahas apa. Tapi sepertinya aku tidak boleh tahu oleh dia. Yah, ini salahku juga sih, kenapa aku mau saja menguping pembicaraan Vano.' batin Vina.
-"A-ap-"-
"Matikan saja Vin, dia bicara tidak jelas, aku akan bicara lagi nanti, jadi kita harus pergi dari sini sekarang," ucap Vano, benar-benar mengalihkan topik pembicaraannya dengan semudah itu.
"Ok, akan aku matikan-" jawab Vina, dia pun secara tidak sungkan, langsung memutus panggilan itu.
Dan di saat yang sama juga, mereka berdua pun keluar dari gang, dan melihat ada mobil berwarna hitam sudah terparkir di tepi jalan.
"Tuan, ini kuncinya-" kata Delvin, dia menyamar jadi orang lain lagi, dengan penampilannya yang seperti seorang orang tua, dia pun memberikan kunci mobil kepada Vano.
Elvano lebih dulu menempatkan Vina untuk masuk kedalam mobil, tapi ekspresi Vina sendiri malah terlihat sedang melamun, karena terfokus menatap wajah Delvin yang tidak begitu asing.
BRAK....
Sampai Vano masuk kedalam mobil juga, Vina pun masih memperhatikan Delvin.
"Kenapa kau terus menatapnya? Apa kau suka dengannya?" tanya Vano.
"Tidak- bukan itu, tapi sepertinya aku merasa familiar dengan wajahnya itu. Kenapa kau seperti pernah melihatnya di suatu tempat ya?" ucap Vina, dia yang kehilangan ingatan soal sebelum Vano bertemu dengan Delvin untuk menjemputnya pulang, sampai kasus penculikan dirinya sendiri, hal tersebut akhirnya membuat Vano yakin, kalau Vina memang tidak ingat siapa Delvin.
"Memangnya dia seperti siapa?"
"Hmm, mungkin seperti yang ada di rumah sakit?"
CKITT...
Baru saja menginjak pedal gas, Vano yang di buat terkejut itu, sontak saja, langsung menginjak rem sedalam mungkin.
"K-kau kenapa? Kenapa tiba-tiba berhenti?" panik Vina, dia jadi tersentak kaget, karena tubuhnya jadi sempat terdorong ke depan, gara-gara kecerobohannya Vano dalam menyetir.
"Ucapanmu tadi-"
"Ucapan yang mana?"
__ADS_1
"Kau, tadi, jawabanmu tadi itu, kenapa kau berpikir kalau orang yang menyewakan mobil kepadaku adalah orang yang pernah kau temui di rumah sakit?!" tanya Vano dengan tegas, karena dia sendiri penasaran kenapa Vina bisa punya pendapat seperti itu.