Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Maaf


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar. Dalam kamar yang tampak redup itu, seorang wanita sedang berdiri mematung dengan kejadian barusan.


Ya, Vina sekarang ini tengah berdiri hampir menuju di ambang pintu dengan tangan sudah hendak meraih pintu yang hampir terbuka itu, sebab Vina hendak mendorongnya tertutup.


'H-hampir saja, hampir saja dia mau masuk ke dalam kamar. Padahal aku sedang mengganti pakaianku.' pikir Vina, dia sudah merasa lega, karena Elvano tidak jadi masuk, akan tetapi dia jadi tidak enak karena baru saja berteriak menghentikan Elvano, sampai piring yang entah apapun yang di bawa oleh pria itu jadi terjatuh semua, karena saking terkejutnya.


Dengan penampilan separuh telanjang, Vina langsung bersembunyi di balik pintu, lalu tidak lama setelah itu Elvano pergi dari sana dengan pintu yang tidak lupa untuk di tutup kembali.


'Aku harus cepat, dia bukan orang yang akan satu atau dua kali melakukan hal sembrono dengan sengaja seperti itu.' kata Vina dalam benak hatinya.


Oleh karena itu, Vina pun dengan buru-buru berpakaian lagi, sekalipun dia hanya memakai piyama dengan desain kimono, karena itulah satu-satunya pakaian yang bisa dia pakai sendiri tanpa bantuan orang lain.


Setelah selesai berpakaian, Vina tidak pergi keluar, karena tidak ada gunanya juga dia keluar dari kamar, sebab situasi di luar sudah di urus oleh semua pelayan yang ada, dan Vina sendiri tidak tahu harus apa jika harus pergi keluar dari kamar.


'Kenapa Elvano mau menemuiku? Apa dia mau membahas masalah yang tadi siang?' pikir Vina.


_______________


Flashback On.


Setelah berhasil di marahi habis-habisan oleh Elvano untuk pertama kalinya, Vina akhirnya bisa bernafas lega setelah dia di bawa pergi dengan bantuan dari Delvin, yang mau menggendongnya sampai ke dalam kamar.


"Vina, aku tahu kalau semua yang di katakan oleh Tuan muda memang terdengar seperti memarahimu, tapi itu juga karena kesalahanmu sendiri. Dia bukan orang yang ingin di berikan sujud sebagai bentuk memohon kepadanya, dia tidak suka itu kecuali beberapa hal yang membuat orang lain pantas untuk bersujud di depannya.


Aku bukannya menyuruhmu untuk memaafkan kekasaran dari ucapannya Tuan muda, tapi cuman mengingatkan saja.


Tidak lama lagi Tuan muda pasti akan minta maaf kepadamu, terserah apa keputusanmu atas kata-katanya tadi, yang penting jawab apa adanya, dan yang penting lagi, setidaknya jika Tuan ingin menemuimu, berikanlah kesempatan untuk bicara." setelah bicara seperti itu, Delvin pun meletakkan tubuh Vinda di atas tempat tidur, lalu menatapnya dengan begitu intens.


Vina yang merasa risih dengan tatapannya Delvin, hanya mengangguk paham.


Dia masih syok, dan tidak berani untuk bicara banyak, sehingga Vina memilih untuk mengangguk paham saja.


"Kalau begitu aku keluar dulu. Kau punya banyak waktu untuk istirahat, tapi jangan sampai telat makan, itu hal yang utama, sekalipun kau sedang muak karena baru saja di marahi," seperti ucapan yang begitu menyindir, Delvin pun meletakkan handphone nya Vina di atas tempat tidur juga dan pergi meninggalkan Vina sendirian di dalam kamar.


KLEK...


Barulah, setelah Delvin pergi dari sana, Vina pun langsung meringkuk masuk kedalam selimut dan langsung menyambung tangisannya yang sempat berhenti.


'Aku terlalu ceroboh, aku sangat ceroboh, kenapa aku bisa-bisanya seperti orang yang sangat putus asa, sampai aku sujud padanya.


Aku tahu aku salah, dan aku sekarang menangis karena diriku sendiri yang benar-benar tidak berguna.


Tapi, bagaimana dengan nasib kedua orang tuaku? Aku malah di bawa pergi, gara-gara aku tidak bisa bicara dengannya.' Vina pun menangis sesenggukan sendirian di dalam kamar, sampai dia akhirnya lelah dan tidur, setelah nangis lama.


_____________


Flashback Off.


"Jadi apakah itu yang di maksud oleh Delvin? Elvano ingin menemuiku karena ingin minta maaf?


Padahal bukan dia yang seharusnya minta maaf, seharusnya itu aku! Akulah yang seharusnya minta maaf kepadanya, karena aku mempermalukan diriku sendiri di depannya dengan cara seperti itu." gerutu Vina.


Karena dia teringat kembali dengan apa yang terjadi siang tadi, sambil menggerutu pelan, Vina pun kembali di buat menangis kembali dalam diamnya di dalam kamar besar sendirian.


"Apa aku harus menemuinya lebih dulu? Tapi aku malu, aku malu bertemu dengan para pelayan dan anak buahnya yang pasti ada di luar sana.


Aku malu menghadapi mereka semua, karena aku adalah orang yang benar-benar menyedihkan dan mempermalukan diriku sendiri seperti itu." ucap Vina pada dirinya sendiri.


Dia pun duduk di lantai sambil bersandar di dinding, dan terus merenungi perbuatannya sendiri yang tidak patut untuk dia ingat, karena benar-benar jadi insiden yang sangat memalukan sepanjang hidupnya.


Tapi, lima menit kemudian, tiba-tiba saja ketukan pintu kembali terdengar.


Tok... Tok... Tok...


"'Vina," suara khas dengan nuansa serak dan berat itu kembali menyambut masa renungan nya Vina.


Vina kembali menegakkan kepalanya, lalu berdiri dari tempat dia duduk.


"Ya?" Vina menyahutnya dengan pelan, dia jadi malu, sekaligus tidak berani untuk bertatap muka dengan pria yang siang tadi berekspresi garang seperti mau membunuhnya.


"Apa kau tadi baik-baik saja?" tanya Elvano, dia bertanya dengan rasa khawatir.

__ADS_1


"Iya, aku baik-baik saja," jawab Vina.


"Apa kita bisa bicara sebentar? Lalu ini sudah jam makan malam, aku sudah membawakan makan malam yang baru untukmu," imbuh Elvano.


Setelah dia mengganti bajunya dan menyeka tubuhnya dengan handuk basah, dia pun kembali membawakan makan malam untuk Vina, karena Vina sama sekali belum keluar sejak siang tadi, dan serang sudah jam setengah tujuh malam.


"Iya, masuk saja," Vina pun kembali menyahutnya, tapi dia tetap bersikukuh di dalam kamar tanpa ada niatan untuk membuka pintu kamar.


Biarkan Elvano masuk dengan sendirinya.


KLEK...


Elvano pun benar-benar masuk dengan membawa makan malam untuknya, atau lebih tepatnya untuk mereka berdua?


"Kenapa kau berdiri di belakang pintu?" tanya Elvano, setelah menyadari Vina yang ternyata berdiri di belakang pintu, seolah sedang bersembunyi.


Tapi Vina diam, dia masih cukup takut untuk berhadapan dengan pria ini, karena di balik bicaranya yang bisa menggoda semua makhluk yang ada, sosoknya bisa berubah menjadi menyeramkan.


"Tidak perlu di jawab jika tidak ingin menjawab," kata Elvano, dia tidak begitu mempermasalahkan soal alasan kenapa Vina berada di belakang pintu. 'Dia pasti masih takut denganku. Bahkan untuk menatap mataku saja, dia benar-benar terlihat sangat enggan.


Sudahlah, pertama-tama aku sekarang akhirnya bisa masuk ke dalam kamarnya .


Itu adalah awalan yang cukup bagus, setelah ini membujuknya untuk makan malam, barulah aku akan bicara serius soal permintaan maaf aku kepadanya.'


Rencana yang sudah tersusun dengan sempurna, Elvano sama sekali tidak akan membiarkan hal buruk apapun terjadi. Prioritas utama malam ini adalah bisa bicara berdua dengan Vina.


"Ini makanlah dulu, kau pasti lapar setelah setengah hari istirahat di dalam kamar terus," tawar Elvano. 'Sekarang aku pasti akan di anggap sebagai orang yang tidak tahu malu kan? Tadi siang marah-marah, sekarang malah membujuk orang yang aku marahi dengan sogokan seperti ini.'


Vano yang sangat mengerti dengan perbuatannya sendiri hanya bisa menghela nafas dalam diam.


Dengan harapan malam ini akan menjadi malam yang terbaik untuk dirinya, karena bisa mendapatkan maaf, meskipun hanya masih sekedar ekspektasi belaka.


"Iya," Vina yang memasang ekspresi takut, berjalan dengan pelan menuju meja, lalu duduk di sofa.


Barulah, ketika Vano menurunkan semua hidangan yang dia bawa dari atas nampan dan di pindahkan ke hadapannya Vina, matanya melihat penampilan Vina yang rupanya memakai piyama.


'Dia memakai piyama yang aku belikan tapi hanya aku simpan di dalam laci itu? Kenapa dia memakai piyama ini?' lalu setelah merasakan takjub yang luar biasa, karena tidak menyangka kalau Vina akan memakai pakaian yang Elvano beli tapi sama sekali tidak ada niatan untuk di pakai oleh Vina, karena dia pikir Vina tidak akan menyukainya, barulah dia tahu alasannya.


'Itu kan daging lobster? Aku bahkan belum pernah sekalipun makan lobster, dia benar-benar tahu apa selera yang aku inginkan, ya?


Tapi tunggu, aku tidak boleh terhanyut karena beberapa lobster ini, aku harus tahu dan mencari alasan kenapa dia ingin bicara denganku.


Lebih baik aku tanyakan saja langsung, sekarang ini juga.' namun, begitu Vina hendak angkat bicara, sebuah udang tiba-tiba saja langsung di perlihatkan di depan mulutnya Vina.


Itu udang yang cukup besar! Udang yang sangat Vina sukai!


"Kau suka udang kan? Kebetulan aku juga belum makan malam, jadi sekalian makan malam berdua denganku ya? Apa kau mau? Kalau tidak, aku tidak masalah juga, yang penting aku bisa melihatmu makan malam saja, itu sudah lebih dari cukup." Elevano bicara, seolah-olah dia benar-benar seperti orang yang cukup putus asa.


"Aku masih belum terbiasa makan sendiri dengan tangan kiri, apa kau mau membantuku makan?" tanya Vina dengan gumaman yang cukup lirih, tapi masih bisa Vano dengar dengan cukup jelas.


"Kau ingin aku menyuapimu?"


"Tidak mau tidak apa-apa juga," Vina malah dengan sengaja menggunakan ungkapan itu sebagai balasan kepada Elvano tadi.


Lalu tanpa menunggu Elvano menjawab iya atau tidak, Vina mengambil daging lobster?


Tapi sayangnya itu adalah lobster yang masih bercangkang.


Vina jadinya mengurungkan niat itu, dan memilih untuk mengambil ayam pop, itu lebih baik untuk dia makan di saat dia tidak bisa menggunakan tangan kanannya dengan leluasa.


"Tunggu, aku akan menyuapimu," Elvano mencegat tangan Vina yang hendak mengambil ayam tersebut. "Sesuai dengan aturan makan, kau harus makan dengan tangan kanan, kan? Biarkan aku membantumu,"


Seperti sebuah kesempatan untuk memperbaiki hubungan di dalam suasana mereka berdua yang sebenarnya masih cukup canggung, Elvano pun mengiyakan tawarannya Vina.


Memberikan Vina makan ayam, dan daging lobster, sesuai keinginannya itu Vano benar-benar melayani Vina dengan baik.


"'Apa alasanmu datang kesini? Kau pasti- tidak sekedar untuk makan malam bersama denganku kan?" gumam Vina, dia masih belum berani bicara dengan keras, karena dia sendiri mencoba menata kalimat yang akan keluar dari mulutnya, dengan kata lain, Vina sendiri sedang bicara dengan cukup hati-hati.


Elvano yang baru saja menyuapi dirinya sendiri dengan daging lobster juga, segera menjawab sesaat setelah dia menelan daging tersebut.


"Sebenarnya aku ingin minta maaf atas kata-kataku yang membuatmu- pasti jadi takut denganku kan?"

__ADS_1


Vina yang mendengar jawaban Elvano, jadi diam sejenak. 'Jika dia bicara dengan ekspresi seperti itu, justru aku seperti orang yang benar-benar bersalah.' pikir Vina.


Vina lantas menggelengkan kepalanya, seharusnya yang minta maaf bukan pria ini, sebab semua perkataan dari pria ini tadi siang, adalah benar.


"Tidak Elvano, akulah yang seharusnya minta maaf," Vina bicara dengan menunduk, dia sungguh tidak mampu untuk menatap lawan bicaranya yang pernah menatapnya dengan cukup merendahkan. "Karena aku melakukan seenaknya seperti itu di depanmu, dan di depan semua orang, aku mempermalukan diriku sendiri, aku minta maaf,"


"Vin, walaupun apa yang kau lakukan salah, bukan berarti sepenuhnya adalah kesalahanmu, dan aku sendiri juga tidak seharusnya memarahimu sampai seperti itu," timpal Vano, "AKu baru menyadari, jika aku di posisimu aku pasti akan melakukan hal yang sama ketika ada di titik rasa putus asa dan dibawah tekanan mental yang cukup berat.


Aku tidak berpikir panjang dan seenaknya mengambil kesimpulan sampai marah-marah kepadamu. Jadi akulah yang seharusnya minta maaf, karena aku tidak mengerti perasaanmu dengan benar."


Setelah bicara seperti itu, Vina dan Vano pun diam tidak bicara apapun, bahkan sampai ketika makanan mereka berdua sama-sama habis.


"A-aku-" Vina ragu dengan ucapannya sendiri.


Vano yang sudah membereskan piring dan mangkuk, lalu hendak dia bawa pergi keluar, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Vina yang tampak ingin bicara lagi dengannya. "Apa kau ingin bicara lagi denganku?"


"Aku- aku, aku..., aku menerima permintaan maafmu, itu saja." jawab Vina dengan sangat gugup, bahkan sampai selepas bicara seperti itu, Vina langsung mengalihkan perhatiannya untuk menatap pemandangan di luar jendela kamar.


Elvano yang mendengar pernyataan tersebut, langsung tersenyum simpul. "Terima kasih, aku tidak akan mengulanginya lagi,"


"Aku tidak mengharapkan janji yang bisa di langgar kapanpun," pungkas Vina, memberitahu Elvano, bahwa sekalipun Elvano bicara tidak akan mengulanginya, dalam artian janji lisan yang bisa di langgar oleh semua orang, Vina sama sekali tidak punya ekspektasi kalau pria ini akan memegang janji tersebut.


"Kalau begitu aku akan berusaha, untuk tidak mengulanginya lagi. Lalu jika aku hendak melakukan sesuatu yang tidak kau sukai, kau tinggal peringatkan aku saja, atau tampar aku,"


Vina diam, dia sama sekali tidak akan terbujuk dengan omong kosong yang keluar dari mulutnya, karena bagi Vina sendiri, semua ucapan yang keluar dari mulut pria adalah ciri khas untuk menebar janji saja, karena kenyataannya tidak akan semudah yang di ucapkannya.


"Berarti sekarang aku bisa bicara berdua lagi dengan leluasa kan?" tanya Vano.


"Entahlah, berikan aku waktu," pinta Vina, dia masih mengedarkan pandangannya ke tempat lain.


"Aku akan menunggunya. Jadi terima kasih," kata Elvano, lalu dia pun pergi keluar dari sana.


KLEK...


Di luar kamar, lima orang pelayan sudah berdiri menyambut sosok Tuan muda mereka yang baru saja masuk ke kamar misteri.


Lalu, semua wajah dari anak buahnya itu pun sama-sama menunjukkan ekspresi wajah penasaran mereka terhadap hasil yang Elvano toreh malam ini.


"Tuan, bagaimana dengan hasilnya?" tanya salah satu dari mereka semua.


Vano yang memasang ekspresi datar, terdiam dan terus berjalan sambil membawa piring dan mangkuk serta gelas yang sudah kosong.


Seperti menunggu undian yang di pertaruhkan dalam harapan milik sang Tuan muda, mereka sama-sama terdiam dan menunggu sang Tuan muda mengatakan jawabannya.


BRAK...


Vano meletakkan nampan itu di atas meja dengan cukup kasar, sehingga membuat sebagian besar dari mereka, sama-sama jadi terkejut.


"Tuan? Apakah gagal?"


Elvano langsung menatap anak buahnya tersebut secara bergantian, "Apakah aku seperti orang yang baru saja mendapatkan kegagalan?"


Mereka semua mengangguk setuju.


Tapi, Elvano menggelengkan kepalanya, dan menjawab, "Aku berhasil mendapatkan permintaan maaf dari Vina, bukannya menakjubkan, padahal aku marah sampai seperti itu, tapi dia dengan lapang dada malah mau menerima permintaan maafku dengan cepat," jelas Elvano dengan senyuman simpul yang memiliki banyak makna.


Mereka semua pun sama-sama memasang ekspresi senang dengan senyuman bahagia mereka.


"Syukurlah, karena anda bisa mendapatkan balasan atas permintaan maaf anda dari Nona," kata pelayan wanita tersebut.


"Tapi yang penting, anda harus menahan emosi anda, jika tidak mau mendapatkan kejadian seperti ini lagi. Sebab, perasaan dari seorang wanita itu, meskipun kita mendapatkan maaf, ada banyak dari mereka yang hatinya sudah berlubang.


Maksudnya meskipun maaf bisa di dapatkan dengan mudah, tapi perasaan dari sakit hati itu sendiri sama sekali tidak bisa di hapus dengan mudah.


Jadi saya pikir, anda setidaknya harus lebih berhati-hati lagi untuk ke depannya, jika anda memang benar-benar ingin menjalin hubungan serius dengan Nona."


Mendengar salah satu pelayannya berkata demikian, Elvano langsung membuka matanya dengan lebih lebar, "Kalian-"


Mereka semua jelas sudah tahu, soal perasaan sang Tuan muda mereka yang sudah menaruh satu perasaan terhadap Nona Vina yang di bawa oleh Tuan muda mereka sendiri.


"Kami semua sudah tahu kok, jadi tidak perlu di sembunyikan lagi," kata salah satu dari mereka lagi, yang akhirnya membuat Elvano tidak mampu berkata-kata lagi.

__ADS_1


__ADS_2