Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
77 : Gawat Darurat


__ADS_3

"Nona, makan ini dulu ya?"


"Bubur lagi? Apa tidak ada sup itu lagi?" tanya Vina kepada suster tersebut, kalau yang dia inginkan adalah bubur yang sering dia makan.


'Apakah sup yang di maksud itu adalah sup yang biasanya Tuan muda buat?' pikir suster ini.


Dia pun mencoba untuk mencari tahu apakah ada Tuan muda di rumah sakit atau tidak dengan menghubungi seseorang.


-"Hmm? Apa ada sesuatu dengan Nona Vina?"- itu adalah suaranya Delvin.


"Tuan, Nona ingin sup yang biasanya di buatkan oleh Tuan muda,"


Mendengar hal tersebut, Vano pun melirik ke arah sang Tuan muda yang saat ini sedang bekerja keras di depan laptop.


-"Kau hanya tinggal mengatakannya saja kalau Tuan lagi bekerja, jadi tidak usah membuatnya terlalu manja."- kata Delvin.


-"B-baik, akan saya sampaikan."- kata suster ini.


'Padahal aku kan hanya minta sup yang biasanya aku makan, kenapa dia malah sampai menelepon seseorang?' pikir Vina, merasa curiga dengan suster tersebut.


Setelah selesai menghubungi Delvin untuk menanyakan soal Sup yang biasanya di buatkan oleh Tuan muda Elvano, suster ini pun langsung menghampiri Vina dan mengatakan hal yang sebenarnya. "Maaf Nona, sup yang biasanya anda makan sedang tidak ada, karena kokinya sedang bekerja di tempat lain."


Sebuah kebohongan yang cukup hakiki, karena dia memang tidak akan memberitahukan kalau sup yang sering di minum oleh Vina adalah buatan dari sang Tuan muda.


Dia hanya tidak ingin membuat Vina terus menerus berharap dengan sup tersebut.


"Oh, baiklah. Ya sudah kalau memang tidak ada." sahut Vina dengan raut wajah penuh dengan kekecewaan. "Tapi aku ingin minum sup. Apakah aku bisa membuatnya di sini?"


"Hah? Apa?" suster ini pun jadinya terlonjak kaget dengan permintaan dari Vina ini. "A-anda mau membuat sup?"


"A-ah, tidak- tidak usah, aku akan makan seadanya ini saja." jawab Vina, dia langsung meralat ucapannya sesaat tadi. 'Aku tidak mau repot-repot buat sendiri, lagian hanya sarapan pagi saja kan?'


Vina sebenarnya ingin sekali bisa minum sup, tapi kalau membuatnya sendiri saja akan membuat waktunya terkuras banyak untuk sekedar memasak, Vina pun terpaksa memakan apa yang di berikan oleh suster ini.


"Aku akan makan ini saja." kata Vina, dia pun menatap kembali bubur yang ada di atas meja, serta ada susu, telur, bahkan buah-buahan pun ada.


Karena memang hari ini adalah hari sabtu, maka dari itu, jadwal sarapannya pun adalah bubur. Tapi nanti saat siang hari, menu makanannya akan berubah, jadi untuk sementara waktu, dia akan menahan diri.


"Ini minumnya Nona," suster ini pun dalam diam menyeringai, karena akan melihat Vina makan makanan yang diam-diam sudah di beri racun.


Dan satu sendok yang sudah Vina ambil pun, mulai dia angkat dan dia masukkan kedalam mulutnya.


'Aromanya enak, tapi semoga saja aku tidak memuntahkannya, karena tidak selera dengan lidahku.' batin Vina, dia tanpa ada rasa curiga apapun, perlahan mulai memasukkan sendok tersebut.


___________


Sedangkan di ruang ganti.


Seorang wanita, sedang dalam kondisi terikat, dan wanita tersebut pun di kurung di dalam locker yang kebetulan memang cukup muat.


"Hmm! Ehmm!" ronta perempuan ini, berharap kalau ada orang luar yang akan mendengarnya. 'Bagaimana ini? Ada satu orang yang lolos dari penjagaan, aku harus keluar dan menyelamatkan Nona Vina, atau kepalaku akan di penggal oleh Tuan Elvano.' pikir wanita ini, berharap banyak pada doanya, kalau akan ada yang mau menyelamatkannya.

__ADS_1


"EHmmm!"


BRAK...BRAK.....


Dia terus mencoba untuk berusaha menarik perhatian orang luar, agar bisa mendengar suara gebrakannya.


'Aduh, kenapa masih saja belum ada yang masuk ke ruang ganti? Bagaimana ini? Ya Tuhan, tolonglah aku, aku harus bisa menyelamatkan Nona yang sudah menjadi tanggung jawabku itu.' batin wanita ini sekali lagi.


BRAKK....


Kedua kakinya yang terikat itu pun terus menendang pintu locker nya sendiri.


KLEK....


"Hah, akhirnya aku bisa pulang juga." sampai tiba-tiba ada orang lain yang akhirnya masuk kedalam ruang ganti.


"Iya, aku juga merasa lelah. Karena kemarin ada kecelakaan serius, kita jadi harus lembur sampai jam segini." ucap temannya.


Wanita yang sedang di kurung ini pun langsung membulatkan matanya dengan cukup sempurna, karena akhirnya dia bisa melihat peluang besar untuk meminta bantuan kepada mereka berdua.


BRAK...


BRAK...


"EHmm! Ehmm!" ronta wanita ini lagi, mencoba memancing kedua orang tersebut.


"Eh? Kau dengar itu?"


"Iya? Suaranya berasal dari mana?"


BRAKK....


"Di locker itu! Ada suara di dalam locker itu." ucapnya, memberitahu.


"Eh, itu kan locker miliknya Dairen?" ucapnya juga, dan mereka berdua pun langsung berlari menuju locker milik dari temannya itu.


"Ehmm! Ehmm!" mencoba kembali berteriak.


KLEK...


"Eh! Tidak ada kuncinya, Dairen! Kau ada di dalam?!" panik wanita ini, dia juga sebenarnya teman dari Dairen, tapi hanya bekerja di beda shift saja.


"Ehm!"


"Kau cepat panggil seseorang untuk membukanya, kuncinya tidak ada." pinta wanita ini kepada temannya tersebut.


Temannya pun menganggukkan kepalanya, dan langsung berlari keluar mencari bantuan.


"Dok-dokter, tolong, ada teman saya yang di kunci di dalam locker." pinta wanita ini, setelah tidak sengaja di jalan ada seorang dokter muda yang kebetulan lewat koridor tersebut.


"Apa?!" panik dokter ini, tanpa bertanya apapun, dia pun langsung pergi menuju ruang ganti wanita yang memang letaknya tidak jauh dari sana.

__ADS_1


"Ehhmm! EHmm!"


KLEK...


"Bagaimana bisa temanmu di dalam locker?" tanya dokter ini, dia langsung mengambil tongkat besi yang ada di samping tabung pemadam kebakaran yang ada di samping pintu, tongkat itu memang adalah tongkat serba guna untuk keadaan darurat, jadi dia pun langsung mengambilnya dari dalam kaca.


"Saya tidak tahu dok, kami tidak bisa membukanya karena tidak ada kunci, jadi langsung mencari bantuan." jelasnya dengan singkat.


"Dok, Dairen di kunci di dalam." ucap teman Dairen yang satunya lagi, dimana wanita ini berdiri di depan pintu lockernya.


"Minggir, aku akan membukanya," dengan sigap, pria ini pun langsung mencongkel pintu tersebut. 'Darien, di orang yang bertanggung jawab untuk merawat Nona yang ada di bangsal khusus itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi, sampai harus terkurung di dalam sini.' karena dirinya tahu tugas dari wanita yang sedang di sekap di dalam locker, dia pun dengan berusaha sekuat tenaga, mencoba untuk merusak pintu locker tersebut.


KRAKK...


Dengan kekuatannya, dia pun akhirnya bisa membuka pintu tersebut.


Walaupun agak memalukan, karena ternyata Dairen di sekap dalam kondisi tubuh hanya memakai pakaian da lam, tapi dia yang mencoba untuk bersikap profesional, dia pun langsung membantunya keluar dari sana, lalu melepaskan ikatan kain yang ada dimulutnya.


"Hah..hah, Nona! Dok! Cepat buat pengumuman untuk Nona agar tidak memakan atau apapun jika bertemu dengan suster!" teriak Dairen dengan cepat kepada dokter tersebut .


Terkejut dengan penjelasan dari Dairen ini, dokter muda ini pun jadinya langsung menghubungi Dokter Jason dan memberikan perintah kepada semua keamanan yang ada di sana untuk langsung pergi ke kamar inap milik Vina.


"Dok, cepat buat pengumuman kepada mereka, dan langsung pergi ke tempat Nona!" katanya.


___________


Dokter jason sebenarnya ada di ruang kerjanya, tapi begitu dia mendapatkan telepon dari temannya, dia pun langsung memencet menekan pesan darurat yang akan langsung terkirim ke semua anak buahnya Delvin.


"Masa mau kecolongan lagi? Ternyata targetnya memang benar-benar perempuan itu!" Jason yang menggerutu kesal, langsung berlari keluar dair tempat kerjanya.


"Eh Dok? Anda mau kemana?" salah satu orang suster yang ingin memberikan berkas pemeriksaan pasien yang akan di operasi ini, langsung terkejut setengah mati, karena dirinya hampir saja di tabrak oleh dokter Jason.


"Ada yang lebih darurat! Letakkan saja di meja kerjaku!" teriak Jason kepada suster tersebut.


"Kenapa mereka semua selalu terlihat sibuk ketimbang aku ya?" gumamnya.


___________


DRAP...DRAP...DRAP.....


Beberapa orang berlarian melewati orang-orang yang berlalu lalang di koridor, termasuk orang yang ada di kamar inap di samping persis kamar yang di gunakan oleh Vina dan Vano.


Ya, meskipun peran dari dirinya adalah menjadi pasien bohongan, karena memakai baju pasien juga, dia juga keluar dan segera menghampiri kamar dari Nona Vina.


'Untung saja aku di tempatkan di kamar sebelah. Bisa-bisanya aku sampai teledor, kalau ada apa-pa dengan Nona, aku pasti akan kena hukuman dari Tuan.' batin pria ini, dia langsung menarik pintu kamarnya, dan langsung menarik pintu kamar pasien miliknya Vina.


KLEK...


Tepat disaat dia membuka pintunya, dia pun langsung di kejutkan dengan seorang suster yang sedang menunggu Nona Vina makan bubur tersebut.


"No-" belum sempat berteriak untuk memberikan peringatan kepada Nona Vian, tiba-tiba saja hal yang tidak terduga itu terjadi lebih dulu.

__ADS_1


"Tapi apakah kau bisa mencicipnya lebih dulu?" tanya Vina detik itu juga, tepat di saat ujung sendok yang hendak menyentuh bibirnya, tiba-tiba saja Vina memberikan perintah kepada suster abal-abal itu.


'Hah?' pria yang berpura-pura jadi pasien ini pun langsung terkejut dengan tindakan yang di lakukan oleh Nona Vina terhadap suster abal-abal itu.


__ADS_2