
"Nah, selesai~" seperti orang yang tidak melakukan kesalahan apapun, Arthur merasa senang dengan tindakannya itu.
"Ukh~ Kau membuatku makan obat apa?!" marah Vina, dia ingin memuntahkannya dengan cara memasukkan kedua jarinya ke dalam mulutnya, dan setidaknya sampai masuk ke dalam tenggorokannya, akar dia bisa memuntahkannya.
Akan tetapi Arthur mencegahnya, dia menahan tangan kirinya Vina agar tidak melakukan hal tersebut.
"Hanya permen~"
"Permen apanya? Pahit seperti ini, lepas, aku ingin memuntahkannya," pinta Vina.
Tapi Arthur mana mungkin mau, karena nanti usahanya untuk membuat Vina menelan pil itu pun jadi sia-sia, jika berhasil dimuntahkan kembali oleh Vina.
'Padahal tadi aku baru saja makan dua obat, tapi ini obat apa lagi? Apa yang dia berikan kepadaku?' tatap Vina, dia sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun, karena tubuhnya benar-benar berhasil di kunci, termasuk kedua tangan.
"Apa kau tidak mau merasakannya? Itu bisa membuatmu puas loh," seringai Arthur.
Vina sama sekali tidak mempercayai semua yang keluar dari mulutnya Arthur.
"Kita akan menunggunya sebentar lagi, pasti akan berefek," Arthur dengan percaya dirinya yang tinggi pun, menunggu reaksi obat yang baru saja di minum oleh Vina.
Tapi, sampai lima menit lamanya, Vina sama sekali tidak terlihat kenapa-kenapa.
'Kenapa dia tidak bereaksi sama sekali? Bukannya itu obat paling manjur agar wanita ini jadi bergairah? Padahal aku ingin melihat pemandangan gadis desa ini memohon-mohon padaku, apa aku salah ambil obat?' Arthur terus memperhatikan Vina yang diam dan membalas tatapannya dengan begitu seriusnya.
'Kenapa pandanganku jadi buram ya?' pikir Vina, dia memang terus membalas tatapan matanya Arthur, tapi tidak dengan jarak pandangannya yang kian buruk, karena semakin waktu berlalu membuat pandangannya semakin buram dan bahkan jadi tidak jelas. "Apa obat yang sebenarnya kau berikan kepadaku?" lirih Vina.
"Itu Afrodisiak, ini sudah lebih dari lima menit, seharusnya kau bisa merasakan gairah, tapi kenapa kau terlihat baik-baik saja?" Arthur pun jadi menatap Vina dengan rasa penasaran yang cukup tinggi, sampai-sampai Arthur pun menjilat telinganya Vina dengan sangat sengaja.
SLURP ...
Vina langsung merinding, dan di saat yang sama juga tembakan pun terjadi di luar rumah, yang artinya Delvin sedang berhadapan dengan musuhnya.
"Apa kau tidak bisa menghentikan itu?"
"Menghentikan apa?" Arthur malah menyahutnya dengan sangat pasti.
"Kau jangan jliat telingaku! Kau pikir itu permen?" balas Vina dengan cepat.
Arthur terkekeh, dia kembali menjilat salah satu telinganya Vina dan menjawab, "Ya, bagiku ini permen yang harus aku buat supaya terkontaminasi dengan lidahku, lagian-" belum apa-apa, suara milik Arthur berubah menjadi lebih dingin dan sangat datar. "Kenapa kau sama sekali tidak terlihat seperti terangsang?"
Vina menelan salivanya sendiri, dia mencoba untuk mendorong tubuh Arthur dari atasnya, tapi rupanya pria ini sama sekali tidak punya niatan untuk pergi dari tempatnya.
__ADS_1
'Dia pikir kenapa aku tidak terangsang? Yang benar saja, aku malah sedang menahannya.' sesungguhnya Vina sungguh-sungguh merasakan debaran jantung yang tidak mampu dia kontrol, di tambah dengan sebenarnya setiap sentuhan yang di lakukan oleh Arthur, cukuplah menyinggung akal sehatnya.
Tapi, karena ada satu rahasia yang dia miliki sampai dia sama sekali tidak terpengaruh untuk memohon kepada pria ini, Vina pun jadinya diam dan hanya bicara seadanya saja, untuk menghemat tenaga miliknya yang sedang dia gunakan untuk mengurung akal sehatnya agar tidak keluar dari kepalanya.
DORR....
DORR.....
"Delvin sungguh sangat bersemangat. Tapi apa kau benar-benar ingin tetap berada di tempat ini dan membuatku harus mengusik kedamaianmu setiap hari? Ingat apa yang aku tawarkan tadi, kau harus pilih apakah kau mau membunuh adikku si pencuri itu atau membuat kedua orang tuamu terbunuh?"
"Aku- aku tidak bisa membunuh orang yang tidak bersalah," Vina menjawab dengan berat hati.
Bukan berarti pilihannya membuatnya terlihat seperti orang baik. Itu salah, tapi dia masih tahu mana baik dan mana yang buruk, maka dari itu dia benar-benar cukup terbebani dengan kata membunuh itu sendiri, dan tujuannya adalah untuk membunuh Elvano?
Setelah dia selamatkan dengan susah payah, sampai detik ini, apakah dirinya benar-benar akan menjadi seorang pengkhianat?
"Apakah harus di bunuh? Jika memang tidak suka, bukannya lebih baik di penjara, jika memang dia memiliki salah besar kepadamu?"
"Apa kau sedang bernegosiasi denganku?" tanya Arthur, dia tidak tahu rupanya Vina mampu untuk membuatnya banyak bicara. Sangat berbeda jauh dengan pertemuan pertama mereka yang selalu di selimuti tangisan dan rintihan yang cukup memilukan.
Vina enggan bicara lagi, dia rupanya sudah mulai berada di ambang batas yang bisa dia tahan.
Ada banyak makna yang tersirat di dalamnya, oleh karena itu Vina pun seperti baru saja berhasil mengibaskan ekornya ke seorang serigala.
"Aku tahu pasti yang sedang kau pikirkan," Arthur tiba-tiba menyentuh bibirnya Vina. Vina yang merasa mulai terhipnotis dalam pesona yang tidak ada bedanya dengan pesona yang di miliki oleh Elvano, dengan buru-buru dia segera merapatkan bibirnya sendiri. "Tapi dari tadi kau sudah membuang waktu terbaikku dengan sikap dan ceritamu yang meluber, sebaiknya sampai di sini saja.
Kau harus ingat, kau hanya punya dua pilihan itu, dan jangan perah berpikir kalau kau bisa mengadu kepada mereka berdua, karena sekalinya kau mengadu, aku akan langsung menghabisi nyawa kedua orang tuamu itu, kau pasti paham kan? VIna~"
'Bagaimana ini, bagaimana? Apakah aku harus menjadi seorang pembunuh untuk membuat kedua orang tuaku selamat dari tangannya?' Vina sudah mulai gerogi, dan rasa geroginya justru jadi bertambah besar sebab tubuhnya sudah mulai mendapatkan reaksi yang tidak dia harapkan.
Sentuhan lembut dari ujung jari yang di lakukan oleh Arthur tiba-tiba jadi terasa lebih dingin dan membuatnya nyaman.
Vina merasa sudah ada di titik paling gawat, karena lidahnya secara tidak terkontrol, tiba-tiba saja mulai menjulur keluar.
'Jangan-jangan lakukan itu, aku harus kembali waras!' tepat di detik itulah, alhasil Vina langsung menggigit lidahnya sendiri dan segera memalingkan wajahnya dengan cepat.
'Aneh, kenapa dari tadi dia tidak terlihat menunjukkan reaksi dari efek obat yang sudah aku minumkan padanya?' pikir Arthur, dia sungguh, benar-benar merasa cukup terheran dengan kondisi yang seharusnya di alami oleh Vina sama sekali tidak terjadi. 'Dia pasti salah memberikanku obat, padahal aku ingin melihatnya merintih dan memohon kepadaku. Haishh, sialan.'
Tidak sesuai dengan harapan yang Arthur ekspektasikan, Arthur pun dengan terpaksa sekalian memberikan Vina makan obat itu lagi.
Hanya sebagai kejahilan semata, Arthur sungguh melakukannya tanpa memperhatikan konsekuensi apapun.
__ADS_1
'Tunggu! Apa yang mau dia lakukan lagi?' Vina langsung membelalakkan matanya saat melihat Arthur mengeluarkan obat lagi dan membuat Vina mencoba untuk menelan obat tersebut. "Tidak mau! Ukh...!"
Arthur tertawa, "Mau tidak mau, kau harus memakannya,"
Paksaan itu pun kembali berlanjut dan membuat Vina yang sudah menangis itu pada akhirnya kembali menelan obatnya, sampai di waktu yang bersamaan seseorang tiba-tiba saja menembakkan peluru ke arah pintu balkon yang terbuat dari kaca, dan tidak lama setelah itu suara derap langkah yang cepat berhasil membuat seseorang dalam sekejap mata sudah berdiri di balkon kamar.
"Arthur, apa yang sedang kau lakukan pada Vina!" teriaknya.
Suara yang sangat familiar, segera menyeruak masuk seisi rumah saat itu juga.
"Dia memang seperti gorila, bagaimana dia bisa langsung manjat ke lantai tiga tanpa tangga?" gerutu Arthur dengan wajah panik, sebab adiknya sendiri malah sudah berada di hadapannya dengan wajah penuh amarah.
'Elvano? Kenapa dia bisa berada di balkon? Lalu ekspresinya itu-' pikir Vina.
Dia sendiri juga merasa terheran bagaimana bisa Vano berada di balkon kamar, ketika mereka bertiga saat ini berada di lantai tiga?
'Meskipun mereka berdua kakak beradik, ternyata mereka berdua tetap punya perbedaan yang cukup kentara. Hanya saja, dia membuatku makan obat dua kali, dan empat kali bersama dengan obat alergi yang baru saja aku minum. Apa jadinya nanti? Apa tubuhku akan baik-baik saja, atau apa?'
BRAKK!
Vano yang sudah marah besar itu, langsung mendobrak pintu balkon dengan tendangannya, sampai pintunya rusak, dan segera masuk untuk menangkap kakaknya sendiri.
Dengan langkahnya yang besar dan lebar, Vano berhasil masuk dengan cepat dan bergumam memanggil nama kakaknya sendiri dengan perasaan yang begitu geram, "Arthur, Arthur..., Arthur, kau benar-benar memang ingin membuatku jadi orang yang membunuhmu dengan tanganku sendiri kan?! Aku akan kabulkan sekarang juga!"
Vano yang sudah di sulut emosinya dari awal dia masuk ke dalam rumah, sudah memegang senjatanya sendiri. Keringat yang bercucuran, mata yang sudah mulai memerah, serta suaranya yang begitu keras serta sangat lantang, dia sungguh sudah berada di titik puncak untuk membuat pelajaran kepada kakaknya itu.
Apalagi? Semuanya karena demi untuk melindungi Vina yang sudah terbaring di lantai dengan posisi Arthur yang terlihat ingin menyerang Vina dengan caranya sebagai seorang pria.
Jelas saja, Vano yang melihat hal tersebut jadi bertambah marah kepada kakaknya itu.
Bukannya jadi contoh yang baik, tindakannya Arthur pun membuat emosinya Elvano semakin mendidih di dalam rasa cemburu, khawatir, dan juga amarahnya sendiri karena terlambat datang.
KLEK ...
Elvano akhirnya menodongkan pistolnya ke arah Arthur.
'Dia benar-benar sudah gila, aku harus menembaknya lebih dulu!' Arthur yang hendak mencoba melawan Elvano yang mau menembaknya, dengan segera mengeluarkan pistolnya juga.
Namun, pergerakan antara jari telunjuk yang langsung menarik pemicunya dengan tangan yang sedang mengambil pistolnya, pada akhirnya membuat Arthur jadi langsung kalah cepat dengan tembakan yang di lancarkan oleh Elvano kepadanya.
DORR....
__ADS_1