
Tepat setelah kepergiannya Arthur dengan mobil sportnya yang baru saja keluar lewat pintu gerbang khusus keluar, detik berikutnya mobil sport hitam milik Elvano pun masuk ke dalam area partement khusus gerbang pintu masuk.
Sehingga tidak dia sendiri pun tidak akan pernah tahu kalau kakaknya sempat datang ke sana.
Mobil itu pun berhenti tepat di depan lobi dari pintu masuk apartemen.
Tentu saja, berkat itu juga dia langsung disambut dengan tatapan penuh dengan kebencian dari para anak buahnya Abel yang ada di lobi.
KLEK …
Akibat dari kedatangan Elvano yang tidak terduga itulah, hal tersebut sukses membuat mereka semua langsung mengeluarkan senjata mereka secara bersamaan dan segera menodongkan senjata mereka ke arah Elvano yang baru saja keluar dari mobil.
“Jangan berkgerak,”
“Oh, kalau begitu kau jangan bicara,” balas Elvano detik itu juga pada salah satu diantara mereka semua.
Hal itu membuat mereka langsung tersentak kaget dengan ekspresi wajah Elvano yang justru tampak begitu menikmati suasana yang baru saja dibuat oleh mereka semua secara bersama-sama.
“Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku tahu aku ini tampan, tapi jika kalain menatapku dengan begitu sensual seperti itu, sepertinya kalian benar-benar sudah tertarik denganku. Apakah, tidak masalah?” ledek Elvano, dia justru dengan sengaja mengompori emosi mereka semua dengan begitu entengnya.
“A-apa?! Anda ternyata cukup narsis sekali ya?”
“Hah, tapi apa boleh buat, anda anda sama sekali tidak bisa masuk ke dalam gedung ini, Tuan muda kedua~”
“Yah, jika aku tidak narsis, mana mungkin ada yang tergoda dengan mulut manisku ini,” jawab Elvano dengan cepat, bahkan dia masih bisa-bisanya tersenyum dengan begitu percaya diri, seakan dia sedang tidak berada di dalam masalah sama sekali.
Lalu setelah dia bicara seperti itu kepada mereka, Elvano pun memperhatikan satu per satu wajah dari semua anak buahnya abel dengan singkat.
Cukup singkat, setidaknya untuk menghitung jumlah mereka semua, serta untuk mengingat wajah-wajah yang sedang dia temui itu.
“Apa kalian tidak ada keinginan untuk jadi anak buahku saja ketimbang dia?” tawar Elvano kepada mereka semua.
Tentu saja, ia datang bukan tanpa persiapan sama sekali.
“Tuan kami hanya beliau saja, tidak ada yang bisa menggantikan beliau dari hati kami,”
Tap… Tap… Tap…
Satu langkah demi satu langkah, Elvano ambil.
Setiap langkahnya, terus menciptakan suasana tegang.
Mereka berpikir untuk segera menghentikan Elvano saat itu juga dengan mengambil tindakan, setidaknya menyerangnya.
Tapi sayangnya, mereka semua cukup pintar sekaligus menyadari untuk mengetahui ukuran dari kemampuan milik Elvano dengan kemampuan milik mereka semua, jelas cukup jauh berbeda.
“Kalian yakin? Aku bisa memberikan kalian gaji dua kali lipat dari yang diberikan oleh mereka,” bala Elvano, dengan langkah percaya dirinya itu, dia pun tetap berjalan masuk ke dalam area lobi, dan berhenti sejenak di sana sambil memperhatikan lampu gantung yang menggantung di atas sana.
Keindahan dari lampu kristal itu tentu saja menarik perhatian untuk diamati sejenak, tapi bukan itu yang ingin dia lakukan.
Tepatnya dia mengamati seorang laki-laki yang sedang berdiri di atas sana, yaitu di lantai dua.
“Gaji kami lebih banyak dari yang anda tawarkan, jadi jangan menghasut kami,”
“Hahaha, kalau tidak menghasut kalian, lalu apa gunanya aku jadi seorang pemimpin?” kata Elvano dengan tawanya yang begitu renyah, sampai-sampai semua orang di sana saja untuk beberapa saat sempat terpesona dengan senyumannya Elvano yang tampak menggoda itu.
“Menawarkan penawaran pada kalian, adalah tugasku sebagai seorang pemimpin, menambah
jumlah orang-orangku yang mau setia denganku, adalah sesuatu yang pasti pernah kalian dapatkan dari kakakku dan si Abel itu kan?
Jadi apa salahnya jika aku menggunakan posisiku untuk menawarkan kalian untuk menjadi orangku?
Yah, tentu saja jika kalian ingin selamat, sih, bagaimana?” desak Elvano, membuat mereka semua jadi disudutkan sendiri.
Bagaimana tidak, jika Elvano adalah seorang ketua sebenarnya dari penerus keluarga Travers, tentu saja kekuasaannya lebih besar ketimbang tuan yang mereka layani saat ini.
Sebagai pengingat, para penjaga yang berjaga di area apartemen sekaligus markas mereka sendiri, adalah orang-orang yang belum pernah sekalipun bertarung di lapangan.
Apalagi melihat Elvano sekarang, mereka seperti seekor semut yang berkerumun untuk menyerang harimau.
__ADS_1
“Kalian belum pernah merasakan pertarungan yang sebenarnya, apa kalian benar-benar tidak ingin menjadi anak buahku saja?” imbuhnya, dia melirik setiap orang yang tampak bimbang. “Aku bisa membuat kalian hidup meskipun akan berakhir dengan babak belur, dan rumah sakit juga sudah aku sediakan, tapi apa kalian rela mengorbankan tubuh kalian dengan melawanku?”
Sontak mereka semua secara serentak langsung tercengang.
Ya, untuk beberapa alasan yang tidak banyak orang ketahui, Elvano merupakan orang yang mendirikan sebuah rumah sakit khusus.
Tentu saja, rumah sakit itu diperuntukan untuk anak buahnya yang terluka atau apapun itu, untuk dirawat di sana, sebagai bagian dari tunjangan untuk menjadi anak buahnya.
“Ka-”
“Apa kalian benar-benar tidak mau membiarkan aku lewat?” pertanyaan itu jujur, mengandung sebuah peringatan keras untuk semua orang di sana.
Abel yang masih berdiri di lantai dua yang merupakan restoran itu sendiri, hanya diam dan terus menatap pemandangan di lobi, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana.
“Bagaimana ini?” tanya salah satu dari mereka.
“Aku tidak tahu, tapi bos jelas menyuruh untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke gedung selain Tuan muda pertama,”
Banyak yang bingung dengan pilihan mereka.
Sampai beberapa saat kemudian, Elvano pun mendapatkan sebuah telepon.
DRRTT …
“Bos kailan kebetulan menghubungiku, jadi kalian dengar,” ucap Elvano, dia pun menerima panggilan itu dan menekan tombol volume sampai penuh.
-“Biarkan dia masuk.”-
Suara milik Abel, langsung sukses memberikan Elvano akses tanpa perlu menggunakan kekerasan.
“Semuanya, simpan senjata kalian,” perintah salah satu dari mereka kepada semua rekan-rekan kerjanya.
Secara serentak, mereka semua pun menyimpan kembali senjata mereka.
“Kalian benar-benar anj*ng yang penurut. Tapi sayangnya-” sengaja menggantungkan kalimatnya, Elvano dalam sekejap menatap mereka semua dengan tatapan sinis. “Kalian memilih pilihan yang salah. “ sambungnya.
Tatapannya begitu dingin, bahkan sedingin es di kutub utara. Sampai-sampai bulu kuduk mereka semua jadi langsung berdiri dengan kengerian dari ekspresi wajah Elvano yang bisa berubah drastis seperti itu.
Setelah Elvano masuk ke dalam lift, seketika suasana di lobi seakan kembali cerah.
“Hah!”
“Hah~”
“Ya ampu, kenapa suasananya seram sekali?”
“Padahal Tuan muda juga manusia, tapi kenapa aku merasa dia adalah seorang penyihir kegelapan ya?”
Satu per satu dari mereka langsung mengeluhkan kesan mereka yang sama-sama merasakan ketakutan, karena dibalik orang yang bisa tersenyum lebar layaknya orang bodoh, bisa menciptakan sisi gelap yang tidak pernah dibayangkan oleh mereka semua.
“Apakah aku akan menemukan ajalku jika berhadapan dengan Tuan muda kedua?”
“Hahh~” sama-sama merasakan ketakutan yang sangat mendalam, mereka seketika langsung duduk di lantai sambil menghela nafas berat.
___________
Di tempat diman Abel berada.
“Sepertinya cukup menyenangkan, membuat anak buah orang lain ketakutan?” tanya Abel, kini di depannya sudah ada pria yang sedari tadi membuat onar hanya dengan keberadaannya saja.
Ya, padahal Elvano sama sekali tidak melakukan appaun pada anak buahnya Abel, tapi hanya dengan keberadaannya saja, hal itu membuat banyak orang heboh, dan merasa tertekan dengan sosoknya itu.
“Aku tidak mau basa-basi, aku akan menangkapmu atas rencana terselubungmu,” kata Elvano, membuat Abel tersenyum sinis.
“Apa itu kekhawatiranmu kepadaku?” tanya balik Abel, dia lagi-lagi harus bersilat lidah dengan orang lain, dan apalagi yang dia hadapi sekarang ini, justru adalah Elvano, adik dari Arthur yang beberapa puluh menit lalu baru saja berkunjung. “Sampai berkunjung ke tempatku, dan ingin membawaku pergi dari rumahku sendiri,”
“Aku tahu, kau pasti menggunakan Veronica sebagai pionmu untuk menghadapi Vina kan?”
Abel menyangga wajahnya dengan tangan kanannya, setelah itu dia menatap handphone yang dari tadi tergeletak di atas meja makan.
__ADS_1
Itu adalah handphonenya Abel, yang sengaja dia letakkan di sana untuk menciptakan suasana yang cukup serius di antara mereka berdua.
“Dari mana anda mendapatkan informasi seperti itu?” tanya balik Abel, seakan dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Elvano.
“Dari mana itu, kau tidak perlu tahu, katakan sekarang di mana wanita yang kau kirim itu,” tuntut Elvano. ‘Aku dan Delvin sudah mencoba untuk mencari Veronica dengan menggunakan CCTV, didukung dengan sistem pemindai wajah, seharusnya aku bisa cepat menemukan wanita itu.
Tapi, sepertinya Abel menggunakan cara lain, agar tidak bisa dilacak.
Dan butuh proses yang lama, untuk mencari jika harus mengecek barang-barang di bandara.’
Di balik keberadaannya, dia saat ini juga sedang bekerja keras untuk mencari keberadaan Veronica yang memungkinkan untuk mencegah terjadinya perselisihan antara Veronica dengan Vina.
Tentu saja, hal itu bisa terjadi jika Elvano berhasil mencegahnya, tapi apa yang terjadi jika tidak bisa mencegahnya?
Vina jelas akan mendapatkan perkara buruk di desanya.
‘Aku terlalu fokus mengurus pekerjaanku.
Begitu aku menyerahkan bagian untuk mengawasi Abel ini, aku jadi kehilangan kesempatan untuk menghentikan rencana terbesarnya.’
Elvano tidak bisa berhenti untuk tidak khawatir dengan Vina.
‘Ada banyak cara untuk mendekati Vina, tapi aku tidak tahu mana yang menjadi kemungkinan terbesar untuk dijadikan cara mengambil kesempatan untuk mempengaruhi kehidupan Vina, sekalipun aku sudah memberikan perintah agar beberapa anak buahku untuk kembali di letakkan di sekitar rumahnya dan menjaganya dari segala bahaya apapun.’ Sungguh, dibalik wajahnya yang tampak tenang, hatinya tidak bisa tenang untuk mengkhawatirkan Vina.
“Hm, aku sendiri juga tidak tahu. Meskipun aku sudah mengirimnya, tapi yang menentukan jalur yang akan dia lewati untuk sampai ke tujuannya bukanlah aku.” Abel masih saja bisa membuat alasan yang cukup jelas, meskipun Elvano sendiri sama sekali tidak pecaya dengan perkataannya.
Abel tersenyum melihat ekspresi wajah Elvano yang benar-benar tegang itu.
Tidak ada yang bisa menyaingi wajah seram milik Elvano.
“Kau benar-benar mengkhawatirkan wanita itu ya? Sebenarnya apa sepesialnya dari wanita kampungan seperti dia sih?” tanya Abel, dia bertanya di luar konteks hubungan mereka berdua yang jelas adalah musuh.
“Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu itu. Ayo ikut,” balas Elvano, dia sama sekali tidak berminat untuk menjawab pertanyaan itu, karena tidak ada gunanya, sebab dia pikir kalau Abel sendiri sudah bisa menebaknya sendiri.
Dengan otaknya yang memiliki banyak pikiran liciknya, tentu saja Elvano sudah cukup untuk diam saja, dan membiarkan pria di depannya itu menebaknya sendiri tanpa memberitahukan jawabannya.
“Padahal akan menarik jika kau menjawab pertanyaanku,” kata Abel, dia pun dengan susah payah, mencoba untuk berdiri, sebab salah satu kakinya sedang di gips.
Elvano yang sudah sebal sendiri dengan tingkahnya Abel, langsung memborgol Abel.
“Hei, apa kau benar-benar tidak mau melawanku?” tanya Elvano dengan tiba-tiba.
Abel yang masih bisa tersenyum itu, menjawab, “Memangnya apa yang bisa dilakukan orang yang sedang sakit seperti ini?”
“Kau kan biasanya menggunakan trik kotormu itu, tidak mungkin kau mau ditangkap olehku dengan begitu mudah seperti ini,”
‘Err, sebenarnya apa yang terjadi antara Tuan Abel dan Tuan Elvano? Dari pada musuh, sekarang aku justru seperti melihat dua sahabat dekat.’ pikir pria ini, dia adalah salah satu anak buah Abel, tapi di satu sisi dia juga sebenarnya adalah seorang agen ganda yang bekerja di bawah naungan Elvano itu sendiri untuk menjadi seorang mata-mata.
“Kadangkala otak juga perlu beristirahat, jadi apa salahnya jika aku menyerah dan kau bisa menangkapku sesuka hatimu?” Abel masih saja bisa menjawab perkataannya Elvano.
“Oh, benar juga,” Elvano lantas menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju juga atas perkataannya Abel itu, “Tapi setelah itu kau pasti akan menggunakan trik licikmu lagi, kan?”
“Yah, namanya juga hidup. Jika aku tidak menggunakan otakku untuk menyelesaikan masalahku sendiri, bagaimana aku bisa ada disini dan tinggal dengan nyaman seperti ini, meskipun aku hanya duduk dan bicara dengan orang-orang seperti kalian?”
Apa yang dikatakan oleh Abel kali ini juga tidak salah juga.
‘Bukannya kalian justru seperti sahabat ketimbang musuh?! Kenapa kalian berdua malah bisa bicara santai seperti itu? Dan Tuan muda kedua, kemana perginya sifat angkuh anda tadi? Kenapa seperti tiba-tiba jadi seperti seorang anak yang penurut seperti itu?!’ teriak pria ini, dia sungguh tercengang dengan apa yang dia lihat itu.
“Kalau begitu, borgol tanganmu itu. Aku tidak mau sedikitpun menyentuh tubuhmu, atau kuman yang kau miliki malah berpindah kepadaku,” tukas Elvano sambil meyerahkan borgol kepada Abel.
Abel dengan senang hati, menerima borgol itu dan mengunci tangannya dengan borgol yang diberikan oleh Elvano itu.
KLEK …
‘Vina, aku lupa untuk menanyakan nomor barunya Vina. Sebaiknya aku membicarakan ini dengan Delvin segera. Yah, setidaknya jika dia membuat status, pasti bisa aku lihat.
Tapi sebelum itu, aku harus menyelesaikan masalahku dengan anak ini dan juga kakakku.
Tinggal setengah bulan lagi, aku harus memperkuat posisiku dengan membuat Arthur menyerahkan posisinya itu dengan tangannya sendiri.’ bertekad kuat dengan tujuannya kali ini, Elvano diam-diam mengepalkan kedua tangannya menjadi sebuah bogem mentah.
__ADS_1
Tentu saja, Abel pun melihat betapa beringasnya Elvano yang benar-benar menginginkan agar semua tujuan yang Elvano inginkan, bisa tergapai.