Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Delvin


__ADS_3

Delvin, setelah dia sampai di bandara internasional Juanda, dia langsung mencari seseorang yang sudah dia perintahkan untuk menunggu di bandara.


Begitu masuk kedalam bandara yang besar itu, sambil berjalan sendirian dengan koper miliknya, tepat di area tunggu, dia melihat ada seorang gadis kecil dengan sebuah bando di atasnya yang bertuliskan Delvin.


Dengan percaya diri, Delvin pun berjalan menghampiri gadis kecil yang sedang minum jus itu.


"Apa kau sendirian di sini?" tanya Delvin, dia langsung duduk di sebelah gadis kecil itu seraya membuka kacamata hitamnya.


Lalu gadis kecil berusia kurang dari tujuh tahun ini, langsung memberikan satu botol air jus untuk Delvin.


"Ini untukku?"


"Iya lah, memangnya apa lagi? Paman pasti haus, aku beri ini sebagai tanda terima kasihku kepada paman karena mau membantu keuangan Ibu ku dengan mau membeli mobil Ibuku," jawab gadis kecil ini.


Dengan mata bulat bagai malaikat kecil yang sedang memberikan kebaikannya itu, Delvin pun tidak mampu untuk menolaknya dan mau menerima botol itu, kemudian langsung dia buka, mencium aromanya, dan karena tidak ada bau aneh yang mungkin saja ada, dia pun segera meminumnya.


"Dimana Ibumu?"


"Ibu ada di dalam mobil," sahut gadis kecil ini, masih menyeruput jus jambu miliknya. "Ibuku tidak suka keramaian, jadi ibuku meninggalkanku di sini untuk menunggu paman,"


"Kau tidak takut, jika yang menghampirimu bisa saja seorang penculik?" tanya Delvin, bertanya sekaligus mencoba menginterogasi apakah gadis ini punya pikiran seperti itu? "Bisa saja kau di tinggal di sini sendirian oleh ibu mu, karena Ibumu sudah tidak mau mengurusmu, apa kau tidak punya pikiran seperti itu juga?"


Mendengar pria dewasa yang ada di sampingnya itu berbicara seperti sebuah ancaman untuknya, lantas gadis ini langsung menghentikan aktivitas minumnya, dan berkata : "Aku pernah punya pikiran seperti itu, tapi itu tidak terbukti. Tapi kenapa paman malah bicara seperti itu kepada anak kecil sepertiku?" tanyanya.


Delvin pun menatap gadis itu dengan tatapan datarnya, lalu menjawab : "Kira-kira apakah yang membuatmu penasaran akan di pendam terus?"


"Paman terlalu bicara secara terang-terangan ya?"


"Kau anak yang cerdas juga, sampai bicara dengan paman sampai sejauh ini, dari pada bicara hal yang kurang berguna ini, apa kau bisa mengantarkan pamanmu ini ke mobil ibumu?" kata Delvin, menghentikan pembicaraan diantara mereka berdua yang sudah tidak menarik itu.


Melihat paman Delvin ingin segera menuju mobil yang di beli dari Ibunya, gadis ini segera menghabiskan terlebih dahulu minumannya, dan setelah itu pun dia membuangnya ke tempat sampah yang ada.


"Ayo paman, akan aku tunjukkan mobilnya," jawab gadis ini.


Delvin pun berangkat, mengekori gadis kecil tersebut sampai akhirnya dia sampai di salah satu mobil sedan berwarna biru Navy, warna kesukaan Delvin sendiri.


"Bu~ Paman sudah aku bawa," kata gadis ini sambil mengetuk jendela mobil.


"Ah iya nak, tunggu sebentar," jawab seorang wanita di dalam mobil.


Kurang dari satu menit, wanita itu pun keluar.


KLEK...


"Whah, anda ternyata tampan,"


"Ibu," anaknya langsung memberikan peringatan agar tidak mengoceh hal yang tidak berguna, karena akan mempermalukan image nya.


"Heheh, anda Tuan Delvin kan?" tanya wanita ini dengan polos.


"Iya, ini aku, Delvin, seperti naman yang ada di bandana anak anda," jawab Delvin.


"Nah, karena anda sudah ada di sini, apakah proses pembayarannya bisa di lanjutkan?" tanyanya lagi dengan senyuman ramahnya.


Entah ramah atau tidak, Delvin sedikit mencurigai sesuatu terhadap wanita di depannya itu. Tapi karena dirinya saat ini sudah ada di Indonesia, dan sudah melihat mobil yang dia beli, Delvin pun mengangguknya. "Akan aku bayar sisanya, setelah mobilnya aku cek,"


"Sialahkah, silahkan di cek, ini masih bagus dan mulus, surat-suratnya bahkan saya bawa, jadi anda tidak perlu khawatir soal mobil ini, karena saya belum lama membelinya, jadi masih termasuk bagus," jelasnya, mencoba untuk memberikan kepercayaan kepada Delvin, kalau mobil yang di belinya tidak memiliki cacat apapun.


Setelah Delvin memeriksanya, body sampai bawah serta dalam mobilnya, Delvin pun kembali ke posisinya tadi. "Lumayan, untuk ukuran mobil kredit," jawab Delvin.


"Eh?" seketika raut wajah dari wanita ini pun berubah menjadi terkejut.

__ADS_1


Delvin yang sudah tahu seluk beluk dari wanita di hadapannya itu adalah seorang Ibu yang akan menipu pada dirinya, Delvin pun mengeluarkan handphone nya.


"Anda membeli mobil ini secara kredit, tapi belum sampai ke tahap pelunasan, anda mau menjualnya kepada saya ya kan?" terka Delvin seraya memakai kembali kacamata hitamnya, "Mana suratnya,"


"T-tidaklah, mobil ini saya beli secara tun-"


"Surat-" tanpa ingin mendengarkan segala alasan yang akan di bua-buat oleh ibu dengan satu anak di depannya itu, Delvin menuntut wanita itu untuk memberikan semua surat-surat mobilnya itu.


Dengan perasaan yang cukup terancam, wanita ini pun segera memberikan surat kendaraan yang memang asli, namun sayangnya di balik semua berkas asli itu, ada satu berkas lagi yang terus mengintai, yaitu sebuah hutang mobil yang nominalnya lumayan, tapi masih bisa Delvin atasi.


"Ibu sih, kan sudah aku bilang, jangan mencoba untuk menipu, paman ini pasti sudah tahu akar-akarnya, ya kan paman?" tanya gadis ini kepada Delvin.


Delvin pun melirik ke arah anak kecil tersebut, terdiam sesaat, Delvin segera menjawab : "Sesuai tebakanmu, aku memang sudah tahu semuanya. Tapi di sini aku tidak akan akan menuntut masalah ini ke rana hukum, asal anda memberikan semua surat kredit mobil ini, aku akan mengurus sisanya, dan uang yang sudah di transfer itu, itu untuk anda, jadi setelah ini, jangan ada hubungan lagi, mengerti?" ucap Delvin.


"S-saya,"


"Ibu, katakan iya, saja, itu lebih baik," ucap sang anak kepada Ibunya yang sudah ketakutan, karena hampir membuat masalah dengan orang yang salah.


"Saya mengerti, dan terima kasih, surat kreditnya ada di bawah jok mobil belakang, itu saja," sahutnya dengan mata sendu.


Delvin sebenarnya masih punya rasa simpati kepada wanita di depannya ini, karena seorang janda dengan satu anak ini, harus bekerja sendirian untuk menghidupi anak perempuannya.


Karena proses pembelian mobil secara kredit itu sebenarnya ulah dari mantan suami dari wanita di depannya ini sebelum mereka berdua berpisah satu sama lain, maka secara tidak langsung, kasus mobil hasil hutang itu hampir saja di lempar oleh Delvin.


Delvin pun mengecek bawah jok mobil penumpang, memang benar, ada satu amplop sedikit besar yang ada di sana, dan saat di ambil dia menemukan semua lembaran surat hutang milik dari mantan suaminya.


"Jujur itu lebih baik, dari pada menambah beban untuk masalah anda." kata Delvin tanpa memperlihatkan ekspresi wajahnya itu.


"B-baik, Tuan. Saya jadi merasa bersalah, ta-"


"Shhtt~ Aku tidak ingin mendengar alasan anda, karena tujuanku hanya mobil ini," kata Delvin, memotong ucapan dari wanita tersebut.


"Kalau begitu, paman. Ini untukmu, aku juga sudah tidak memerlukan ini lagi," dengan begitu perhatiannya, gadis kecil ini memberikan bandana yang di pakainya itu kepada Delvin.


"Tapi paman, apakah nanti suatu hari kita akan bertemu lagi?" tanya gadis ini.


Delvin yang baru saja menutup pintu mobilnya, menjawab : "Tidak ada yang tahu apa yang terjadi ke depannya, tapi itu mungkin saja bisa,"


"Kalau begitu paman hati-hati ya?" ucapnya.


Diam tanpa bicara sedikitpun, Delvin menaikkan jendela mobilnya, dan akhirnya dia pun pergi dengan membawa mobil tersebut.


"Hmm, padahal Ibu masih sayang dengan mobilnya," ucap wanita ini dengan raut mukanya yang sedih.


"Tapi ibu saja tidak bisa membayar mahal hutang mobil itu, apa yang perlu di pertahankan? Mending hidup sederhana saja," jawab anak ini seraya mendongak ke atas.


Wanita itu pun hanya tersenyum lemah seraya mengusap ujung kepala dari anaknya, kemudian mereka berdua pun pergi berjalan kaki.


__________


Di tengah jalan, Delvin pun pergi mengendarai mobil yang baru saja di belinya dari orang lain.


Dia sesaat melihat bandana yang dipegangnya itu, karena dia tidak begitu suka dengan benda kecil, rapuh dengan warna yang cukup norak itu, Delvin segera mematahkannya dan melemparnya ke tempat sampah yang kebetulan ada di jalan.


"Jo~ Berikan alamatmu, aku ingin kau membersihkan mobilku ini," kata Delvin, tengah menghubungi temannya itu.


TING....


Tidak lama setelah itu, suara notifikasi dari pesan masuk yang dikirimkan oleh temannya itu, segera Delvin buka dan memasukkannya ke dalam navigasi dari GPS yang ada di dalam layar monitor di dalam mobil itu.


Tidak perlu waktu yang lama, Delvin sampai dengan selamat, dan tujuannya adalah ke tempat pencucian mobil.

__ADS_1


"Delvin~ Kau baru saja beli mobil? Tapi kelihatannya tidak baru?" tanya pria berambut cepak ini, dialah Jo yang sempat Delvin hubungi.


Karena pekerjaannya adalah mencuci mobil, dia pun hanya memakai celana dari jas hujan, sisanya tubuh bagian atasnya terekspose dengan baik.


"Seperti yang kau pikirkan, ini bukan mobil baru, jadi aku ingin kau bersihkan semua kotoran yang ada di dalam mobil ini, kalau sudah bangunkan aku, aku mau tidur dulu," sahut Delvin, keluar dari mobil bersama dengan koper yang sempat dia letakkan di bagasi mobil, Delvin pun segera pergi dari sana menuju ruang tunggu yang ada di dalam bangunan.


Sedangkan Jo, dia yang ingin berkenalan lebih lama lagi, karena bisa mempunyai teman dari luar negeri, hanya bisa bicara dengan angin saja, sebab Delvin terlihat mengabaikannya.


"Hah~ Orang luar memang seperti itu ya? Mentang-mentang kaya, dia bisa mengabaikan orang kecil sepertiku. Yah~ Itu sudah biasa terjadi sih, ayo Jo, tetap kerja!" menyemangati dirinya sendiri, pria ini pun masuk kedalam mobil tersebut, untuk memulai pekerjaannya.


____________


"Ahahaha, jangan-jangan..tidak, jangan gelitik aku!" tawa milik Vina pun menggelegar saat tubuhnya tiba-tiba saja di gelitik oleh orang yang tidak lain adalah Vano.


"Inilah pembalasanku. Bagaimana? Kau akhirnya sudah merasakannya kan? Kalau di gelitik itu menggelikan," ucap Vano dengan senyuman lebar, karena dia bisa mengerjai perempuan ini, yaitu Vina, yang nyatanya sangat sensitif dengan gelitikan nya, sampai Vano melihat sudut mata Vina yang sudah mulai berair.


"I-iya! Su-sudah, ah! Aku geli! Ih! V-Vano!" teriak Vina, dia sangat tidak tahan dengan rasa geli yang cukup ekstrim itu, sampai tubuhnya pun bergelayut ingin lepas dari kungkungan pria ini, sebab sangat tidak mengenakkan, jika rasa geli itu benar-benar tidak bisa dia hindari.


"Tidak, masih kurang dua puluh detik lagi sampai hukumanmu selesai," jawab Vano tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Mendengar hal itu, Vina pun jadi merasa cukup merasa menderita. Ya, menderita cukup hebat, betapa menyiksanya mendapatkan gelitikan yang luar biasa tidak bisa Vina tahan lagi, sampai-sampai kemeja pendek berwarna biru yang Vina pakai itu, tidak sengaja sudah mulai tersingkap ke atas, gara-gara Vina yang berbaring dan berguling-guling ingin melepaskan diri dari hukumannya Vano.


"Ah, ya ampun! Vano, sudah...hiks, sudah aku tidak tahan..hahh..hahh,, Vano, hentikan!" sampai tepat di kalimat terakhir miliknya yang sedikit dia berikan tekanan, salah satu kakinya itu akhirnya menendang perutnya Vano.


BUKH..


"Akhh...!" Vano pun sontak langsung mengaduh kesakitan di perutnya, dan membuatnya secara otomatis langsung menjauh dari Vina.


"'Rasain," ketus Vina melihat Vano akhirnya merasakan kesakitan di perutnya. "Hah...hah...hah...hah..., kau kurang ajar, kau lebih lama dariku," imbuh Vina.


"Itukan salahmu sendiri, karena kau duluan yang mengagetkanku dengan menggelitikku,"


'Ya, benar juga sih, tapi kenapa aku justru mendapatkan siksaan yang lebih lama dari dia?' pikir Vina, dia pun jadi ngos-ngosan menghadapi Vano yang cukup agresif ini, makannya lengan tangan kanannya itu pun dia gunakan untuk menutup sepasang matanya, agar dia tidak terlena lebih dulu oleh pria ini.


Tapi sayangnya, Vina pun masih belum sadar dengan perutnya sendiri yang sudah terekspose dengan jelas, gara-gara ujung dari pakaiannya itu tersingkap ke atas sampai memakan banyak tempat.


Vano yang melihat perut Vina yang rata itu, dia pun dengan jahilnya langsung menempatkan telapak tangannya di atas perutnya Vina.


PLOK....


"Kyaa..!


DHUAK...


"Akhh...!" dan secara refleks, salah satu kakinya itu pun kembali menendang tubuh Vano dengan cukup keras, sampai Vano merintih. "K-kau keterlaluan, kenapa menendang perutku lagi?"


"Lah, itu tanganmu mendarat dimana?!" tegas Vina, seraya bangun sambil menurunkan ujung pakaiannya agar perutnya itu tidak terekspose di depan mata pria ini.


"..." akan tetapi, Vano justru terus terdiam, seraya memegangi perutnya sendiri.


'Haduh? K-kenapa dia diam saja? Jangan-jangan tendanganku tadi cukup keras. Apa dia kesakitan sekali sampai tidak merespon ucapanku?' pikir Daisy, dia pun jadi ikutan khawatir dengan keterdiaman Vano yang masih saja menunduk ke bawah dengan perut yang terus di pegang.


Karena Vina merasa khawatir dengan orang di depannya itu, Vina pun kembali duduk, merangkak ke depan sambil mencoba membujuk Vano untuk tidak menundukkan kepalanya ke bawah.


"V-vano, apakah tendangnku sesakit itu?" tanya Vina merasa khawatir dengan kondisi Vano yang justru terlihat seperti anak kecil yang sedang murung dengan Ibu nya sendiri. "V-vano, jangan membuatku khawatir, sakit atau tidak? Kalau sakit jangan diam seperti itu dong, Vano!"


Akan tetapi, Vano terus diam, dan justru semakin membungkukkan tubuhnya dan terus menekan perutnya, seakan perutnya benar-benar kesakitan.


Vina yang tidak tinggal diam saja, dia pun segera berdiri, "Jangan-jangan kau sebenarnya punya luka dalam, ya kan? Akan aku panggilkan Bu bidan dulu," kata Vina.


Hanya saja, di saat Vina hendak mau berlari pergi, tiba-tiba saja pergelangan tangannya itu di cengkram oleh Vano, dan menariknya sampai akhirnya Vina yang otomatis langsung berbalik ke arahnya, segera di seret ke arah Vano sampai Vina pun terjatuh.

__ADS_1


BRUK...


"...!" sepasang matanya Vina seketika membulat lebar, karena dia benar-benar merasakan keterkejutannya saat tubuhnya tiba-tiba saja di tarik sampai jatuh, dan akhirnya membuatnya langsung masuk kedalam pangkuannya. 'A-apa ini?! Kenapa aku malah jatuh ke atas pangkuannya?!' pekik Vina dari dalam hatinya yang terdalam.


__ADS_2