Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Hampir


__ADS_3

Esok harinya.


"Apa kau sudah mulai baikan?" tanya Delvin, dia masuk ke dalam kamar dengan membawakan sarapan pagi untuk Vina.


"Aku ingin tahu keadaan kedua orang tuaku," jawabnya. "Tapi, bukannya jika aku ada di sini, dan kakaknya itu mengincarku, cara lain yang harus aku hadapi kemungkinannya adalah kedua orang tuaku juga kena? Atau aku salah?" tanya Vina.


Sudah lebih dari satu bulan, dan dirinya pergi tanpa ada kabar apapun untuk kedua orang tuanya. Vina sungguh rindu di rumah sendiri. Walaupun tidak sebagus atau sebesar dari tempat yang sedang dia tinggali, akan tetapi kenyamanan dari tempat tinggal untuk di tinggali tetap saja adalah rumah.


"Teman-temanku sudah membereskannya,"


"Membereskan dalam artian apa? Eh tunggu-" Vina yang baru menyadari beberapa hal, segera bertanya kepada Delvin yang baru saja meletakkan makanan di atas meja. "Jika gaji bulanannmu sampai dua ratus juta lebih, dan kau ada kaitannya dengan Elvano, bukannya berarti orang itu bukan orang biasa ya? Apa rumah ini juga miliknya?"


'Apa dia sekarang mulai menyadari kalau Tuan muda adalah orang terkaya di eropa? Lalu karena Tuan muda juga adalah orang yang mempunyai segalanya, apakah dia mulai tertarik?' Delvin tidak begitu suka dengan wanita yang hanya mengincar harta dari sang Tuan muda. Oleh karenanya, Delvin pun jadinya langsung memberikan tatapan waspada.


"Ini rumahku, tentu saja orang yang menggajiku untuk menjalankan misiku untuk membantu Tuan muda, adalah karena perintah dari Tuan besar. Dengan kata lain Tuan muda hanya orang yang berperan sebagai Tuan muda saja, tanpa memiliki hak apapun," penjelasan dari Delvin langsung di serap oleh Vina. "


Vina melamun, meskipun Delvin sudah menjelaskannya dengan panjang dan lebar, dia hanya tahu kalau posisi sebenarnya dari Elvano hanya sebatas Tuan muda tanpa memegang kendali apapun, karena kekuasaan masih di pegang oleh Tuan besar, yang tidak lain adalah Ayahnya.


Vina tahu kalau akhirnya Elvano pada akhirnya bukanlah orang biasa. Dia adalah orang kaya, tapi tidak memiliki kekuatan apapun, yang mana statusnya hanya sekedar lambang saja, tanpa ada makna tersendiri karena Elvano lah yang bercerita kepadanya.


Meskipun Vano dan Delvin sama-sama bicara jujur, tapi bukan berarti mereka membongkar rahasia besar yang mereka berdua miliki kepada Vina.


"Jadi, apakah itu alasannya meskipun dia punya posisi sebagai Tuan muda, dia tetap harus menghidupi dirinya sendiri dengan tenaganya sendiri?" tanya Vina.


Delvin yang akhirnya mendapati Vina punya pikiran seperti itu, diam-diam tersenyum puas. "Begitulah. Tidak semua orang punya hak untuk mendapatkan fasilitas mewah dari keluarganya sendiri. Demi membuat anak-anaknya punya daya pikir dewasa untuk menghadapi dunia luar yang keras, Tuan muda menjalani hari-harinya dengan sederhana.


Kau tahu kan? Kalau seorang pria sejati tidak mungkin akan mengemis-ngemis uang pada orang tuanya, dan itulah yang di lakukan oleh Tuan muda. Sedangkan aku hanya ada untuk membantu sedikit dari pekerjaannya,"


Di bagian akhir, Delvin sama sekali tidak memiliki pekerjaan yang sedikit. Dia hanya berbohong untuk kepentingan bersama.


Alasannya yang pertama adalah, Delvin yang tidak mau kalau Vina jadi semakin tertarik dengan Tuan muda kedua nya sebab sebenarnya Tuan muda kedua adalah orang yang sudah berhasil mendapatkan hak waris seluruh kekayaan Travers.


Alasan yang ke dua, Tuan muda Elvano sendiri punya alasan karena ingin di pandang tidak punya kekuatan apapun dan berharap di mata Vina kalau dirinya itu tetap orang biasa saja.


Sedangkan alasan yang ketiga, mereka berdua berharap kalau Vina lebih baik tidak tahu apapun soal pekerjaan di balik layar yang sebenarnya mereka berdua miliki.


'Nah, jadi bagaimana soal pendapatmu? Jika Tuan muda sama sekali tidak memiliki kekuatan di dalam keluarganya sendiri? Apalagi banyak orang yang beranggapan kalau hak waris sepenuhnya akan di turunkan ke anak pertama, pasti dia tidak akan tertarik pada Tuan muda yang sederhana kan?' pikir Delvin.


Vina yang akhirnya mendapatkan kesimpulan, hanya mengangguk dan menjawab, "Jadi begitu, alasan dia ingin pulang bersamaku jika aku pulang ke negaraku?"


"Apa?" Delvin mengernyitkan matanya, dia bertanya-tanya dengan apa yang di katakan oleh Vina sesaat tadi. "Kau tadi bilang dia ingin pergi bersamamu saat kau pulang ke negaramu?"


"Ya. Padahal kehidupannya dia akan lebih baik jika berada di sini terus, tapi dia terus ngotot ingin pulang jika aku pulang ke Indonesia,"


Delvin langsung menepuk jidatnya sendiri, 'Ternyata begitu, alasan kenapa Tuan muda tiba-tiba saja jadi bersemangat. Dini hari tadi Tuan muda tiba-tiba saja memerintahkan semua anak buahnya untuk mengamankan rumah ini dengan lebih ketat, dan langsung mengambil posisi rencana yang bahkan tidak bilang dulu kepadaku.


Tuan muda, apa setelah anda kehilangan ingatan anda, anda jadi semakin gila karena seorang wanita?'


Ketika Delvin sedang bingung sendiri dengan rencana untuk mengatur Tuan muda nya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar itu, Vina hanya diam, tapi tidak dengan pikirannya yang terus bertanya-tanya.


'Setelah mengatakan soal mimpiku, sekarang apa yang dia pikirkan soal aku?' Vina sejujurnya sama sekali tidak begitu percaya diri dengan dirinya sendiri. Dia tidak mau berharap, tapi isi hatinya terus menginginkan untuk mendapatkannya. 'Dia pasti menganggapku sedang modus untuk menarik perhatiannya.


Aku hanya bicara sesuai yang aku mimpikan, tapi aku pikir dia tidak mungkin akan berpikiran lurus soal mimpiku ini. Eh, bentar.'

__ADS_1


Vina mengernyitkan matanya, dia menenung air teh yang di buatkan oleh Delvin beberapa saat tadi sebelum si pria itu pergi dari sana.


'Walaupun aku memang terjebak dalam masalah internal mereka, tapi mereka masih mau menganggapku sebagai orang yang harus di lindungi. Memang sih, aku marah, tepatnya aku marah karena diriku sendiri tidak bisa melindungi diri, walaupun begitu mereka berdua ternyata baik.


Nah, kalau seperti ini, aku jadi tidak bisa merah lagi, tapi apa yang harus aku lakukan dengan tangan kananku yang bahkan tidak bisa aku gunakan ini? Apa ini harga setimpal yang harus aku bayar jika aku ingin menjadi dekat dengan mereka berdua?' Vina pun mencoba mengangkat tangan kanannya itu.


Cukup sakit, dan sama sekali tidak mampu dia gerakkan dengan leluasa.


Salah satu kesedihan yang dia miliki itu dia sekarang jadi orang yang tidak bisa berbuat apapun selain harus berlindung di belakang Delvin juga Elvano.


'Lemah, aku memang tidak bisa di harapkan dama segala hal. Percintaan, karir, bahkan soal diriku sendiri.' batin Vina, dia duduk di kursi dan menatap cangkir berisi air teh itu dengan sangat mendalam.


Mengangkat cangkir teh nya, Vina pun mendekatkan cangkir tersebut di mulutnya.


'Aku pikir, Elvano punya banyak musuh. Tapi, apakah pertengkaran antara kakak dan adik harus sampai merenggut nyawa anak buahnya sendiri? Harga nyawa kenapa sangat murah sekali?


Bahkan jika kau menukar satu nyawa dengan satu milyar, itu berakhir tanpa nilai. Percuma dapat satu milyar, jika nyawa menjadi syarat untuk mendapatkan uang itu.' pikirnya lagi.


_______________


"Kenapa Tuan muda tidak mengangkat teleponnya?" dumel Delvin, dia sudah beberapa kali untuk menghubungi sang Tuan muda, tapi si Tuan muda sendiri sama sekali tidak bisa di hubungi. "Cifel, orang yang malas aku hubungi jadi terpaksa aku hubungi,"


Dengan wajah malasnya, Delvin pun mengalihkan nomor yang dia tuju dari nomor milik sang Tuan muda ke nomor salah satu anak buahnya, yaitu Cifel.


-"hm halo, kenapa tiba-tiba meneleponku? Apa kau akhirnya merindukanku?"-


Mendengar pertanyaan itu langsung keluar dari mulutnya, Delvin langsung menjawab, "Jangan banyak bicara seolah kau dan aku ini dekat, katakan saja apa Tuan muda ada bersama denganmu?"


Merasa kesabarannya sedang di uji, Delvin angkat bicara, "Ini mendesak, jangan buat tebak-tebakan, aku ingin tahu apakah Tuan muda kedua ada bersama denganmu atau tidak! Jawab sekarang,"


-"Yah bisa di bilang begitu sih, tapi juga tidak,"- sengaja meledek Delvin yang sudah mulai emosi.


'Anak ini, baru juga di rekrut setengah tahun, tapi kenapa sombong sekali? Aku memang salah merekomendasikan orang untuk jadi bagian dari anak buah Tuan muda kedua.' Delvin diam-diam menyesal dengan keputusannya setengah tahun yang lalu soal merekrut anak buah baru, dan Delvin merekomendasikan temannya sendiri kepada Tuan mudanya sendiri.


Tapi alhasil, Delvin sangat menyesal, karena temannya itu benar-benar bekerja terlalu seenaknya sendiri.


Hanya saja di tengah-tengah Delvin sedang bicara dengan temannya tersebut, dia secara tidak sengaja melihat seorang pembantu yang tidak dia kenal baru saja keluar d ari kamar ganti. Tanpa memperlihatkan gerakan yang mencurigakan, Delvin punya kekhawatirannya sendiri, saat ada senyuman tipis tersungging di bibir pelayan wanita tersebut.


"Vina!" panggil Delvin, dia langsung memikirkan Vina yang kemungkinan besar menjadi target hari ini dari pelayan tadi.


-"Sekarang Tuan muda sed-"- temannya Delvin yang hendak bicara itu, tiba-tiba langsung terdiam. -"Vina? Apa itu pacarmu?"-


DRAP...DRAP...DRAP....


Delvin langsung berlari kembali menuju kamarnya Vina. Begitu sudah ada di depan pintu, Delvin pun akhirnya membuka pintunya dengan kasar.


BRAK....


"Vin! Jangan sentuh makan dan minuman apapun!"


Teriakannya Delvin langsung sampai ke telinga dari temannya tersebut, karena telepon mereka berdua masih saling terhubung satu sama lain.


Namun, begitu Delvin masuk ke dalam kamar, salah satu makhluk hidup yang baru saja meminum teh itu, kini sudah terbaring di lantai.

__ADS_1


Tapi yang membuatnya terkejut itu, bukan Vina yang terbaring kena racun, melainkan seekor anj*ing kecil ci hua-hua yang merupakan peliharaannya Delvin.


"D-Delvin! I-ini- ini anj*ng kecilnya bagaimana? D-dia, dia baru saja minum teh itu dan langsung, se-seperti itu! Apa, dia ma chu! Hachum! Hachum! Hchum! Hiks ... " Vina yang panik, dengan memeluk anj*ng tersebut dalam dekapannya untuk memastikan kalau hewan tersebut masih hidup, rupanya menjadi halang rintangnya sendiri.


Dia tidak tahu kalau dirinya malah langsung bersin-bersin.


Delvin yang sudah tahu alasan kenapa Vina tiba-tiba jadi bersin begitu, bergegas menghampiri Vina.


"Apa anj*ing kalau minum teh akan mati? Hachum~" vina yang tidak tahu soal alerginya sendiri, tidak menggubris dirinya sendiri yang terus bersin itu.


"Tidak, tapi karena ada racun, itu jelas akan langsung membuatnya mati." jawab Delvin, dia jadinya terpaksa harus merelakan peliharaannya yang sudah sekarat, sedangkan prioritas utamanya saat ini adalah membawa Vina pergi dari kamar tersebut. "Jadi kau harus lepas itu,"


"Tapi mungkin an- chum! Hachum!"


"Kau alergi bulu anj*ing, jangan di paksakan, lepaskan, kau harus pindah agar kamar ini segera di bersihkan." tegas Delvin, dia menurunkan si Cihu dari pelukannya Vina, dan membawa Vina pergi dari kamar.


"Iy- hachum! Tapi kenapa aku terus ber- hachum!" Vina sudah meler, hidungnya sudah memerah dan air matanya terus merembes keluar, gara-gara terus bersin dan membuat hidungnya sangat gatal itu ingin dia bersihkan.


"Apa kau tidak tahu, kau itu gejala alergi,"


"Siapa yang akan tah-chum! Tahu? Di sekitar tempat tinggalku kan tidak ada anj*ing hachum!" jawabnya dengan cepat.


'Itu- benar sih. Kenapa aku tidak kepikiran?' Delvin baru sadar, sepanjang hari saat dia pertama kali pergi ke desanya Vina, dia memang tidak pernah melihat satu ekor anj*ing pun yang berkeliaran kecuali ayam, kucing, ataupun merpati.


Maka dari itu, dia pun tahu alasan kenapa Vina tidak tahu soal alergi, karena dia tidak pernah mendapati kasus untuk terus bersin-bersin yang menjadi tanda awal kalau Vina punya alergi.


"Tapi kau sama sekali tidak minum atau makan itu sedikitpun kan?" tanya Delvin, mencoba untuk mengkonfirmasi informasi yang dia tebak itu.


"Bukannya kau yang menyajikannya untuk membunuhku? Jangan-jangan kau sebenarnya komplotan dari kakaknya Vano?" tuding Vina, selepas dia keluar dari kamar dan terus menutup hidungnya dengan saputangan pemberian Delvin.


"Kenapa aku harus melakukan hal merepotkan jika ingin membunuhmu?" tiba-tiba aura yang di miliki oleh Delvin, langsung berubah drastis.


Jelas, siapa juga yang mau di tuduh tanpa alasan yang berdasar seperti itu, apalagi tapa bukti kuat?


'Dia marah, aku terlalu berlebihan.' detik hati Vina, dia terkejut dengan perubahan sikap, serta cara Delvin yang menatap ke arahnya itu, sungguh benar-benar seperti seorang yang sedang memusuhinya. "Kalau begitu kenapa jadi seperti ini? Hachum!"


"Ada seorang penyusup, dia seorang pelayan, meskipun punya wajah yang sama sekalipun, cari dia dan kumpulkan mereka jadi satu, aku akan segera menginterogasinya secara langsung." ucap Delvin.


Lalu salah satu anak buah Delvin yang ternyata berdiri di balik dinding, tiba-tiba saja peri keluar dan memberikan informasi itu ke semua rekan-rekannya.


'Sejak kapan ada orang di situ? kenapa aku sama sekali tidak merasakan kehadirannya?' terkejut Vina. Dia jadi mulai kembali takut. Rupanya, meskipun dia berada di dekat Delvin, maka itu tidak menjamin dirinya akan bisa selamat, karena semua bahaya bisa datang kapanpun dan di manapun tanpa kenal tempat dan waktu.


"Dia yang pasti melakukan sesuatu pada peralatan makannya. Aku kurang teliti, seharusnya aku lebih teliti lagi. Aku tidak akan membiarkan kejadian ini terulang lagi, jadi aku harap kau tidak perlu mengadu pada Tuan muda, mengeri?" ucap Delvin sekaligus menunggu konfirmasi apakah Vina paham untuk menuruti perintahnya atau tidak.


'Dia- seperti bukan Delvin. Apa ini sikapnya yang sebenarnya?' pikir Vina, dia pun jadi merinding sendiri dengan sikap Delvin yang tampak lebih serius. "Aku mengerti, lagi pula, aku sekarang baik-baik sa- hachum!"


Terdiam sejenak, Delvin pun pergi meninggalkan Vina di ruang tamu dan tidak lama kemudian Delvin membawa beberapa pil obat untuk Vina. "Minumlah itu, kau tidak akan bersin-bersin lagi. Itu untuk alergimu, jadi tenang saja. Lalu untuk sementara kau bisa memakai kamar yang ada di atas letaknya di pojok sendiri, kau bisa sendiri kan? Aku harus membereskan pelayan yang berani masuk ke dalam rumahku, jadi aku tidak akan ada di sisimu untuk sementara waktu."


"I-iya, hati-hati," jawab Vina dengan ragu.


Lalu tanpa sepatah kata apapun, Delvin pun pergi meninggalkan Vina sendirian di ruang tamu.


'Dia tiba-tiba jadi seram. Untung aku tidak memprovokasinya, tapi- aku tidak tahu ternyata aku punya alergi? Huh? Padahal aku suka kucing, tapi tidak kenapa-kenapa tuh. Tapi kenapa jika itu anj*ing, aku langsung bersin begitu?' tidak mau berdebat dengan pikirannya sendiri, Vina pun segera pergi ke dapur untuk cuci tangan, dan minum obatnya tanpa syarat apapun.

__ADS_1


__ADS_2