Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
55 : Berkorban


__ADS_3

Tapi di saat Vano memberikan ajakan seperti itu kepada Vina, Vina yang tadinya sedang memunggungi Vano, seketika itu langsung berbalik dan menatap Vano dengan ekspresi wajahnya yang cukup terkejut.


Vano yang tidak tahu apa arti dari tatapan itu selain harus membawa Vina pergi dari sana, hanya merentangkan tangannya ke depan dan hendak meraih tubuh dari wanita itu.


Akan tetapi, terlepas dari pada niat yang di perlihatkan oleh Vano kepada Vina adalah untuk niat mengajak wanita itu segera pergi dari sana, dia harus di kejutnya dengan Vina yang tiba-tiba saja berlari ke arahnya dengan cukup cepat.


'Kenapa dia tiba-tiba saja berekspresi seperti itu?' pikir Vano, masih belum tahu jelas apa maksudnya.


Sampai Delvin yang tadinya hendak memberikan isyarat kepada kedua pilot yang ada di atas sana untuk segera pergi dari sana, karena anak buah Arthur masih ada di sana dan hendak menembak jatuh mereka berdua, Delvin sontak langsung menoleh ke arah belakang dan berteriak sambil berlari ke arah Elvano.


"Tuan! Tiarap!" pekik Delvin.


Sampai di saat yang bersamaan ketika Delvin berteriak untuk memberikan peringatan kepada Tuan mudanya itu, Delvin justru melihat Vina yang tiba-tiba saja berlari ke arah sang Tuan muda dan detik itu juga Vina langsung menerjang tubuh Tuan muda Elvano dengan cepat.


"Vano," panggil Vina dengan lirih, detik ketika salah satu kakinya langsung mengambil tumpuan, dan akhirnya melompat ke arah Vano.


"Vin-" Vano yang terkejut dengan panggilan namanya yang terdengar ada tersirat makna yang sangat mendalam di setiap nada yang keluar dari mulutnya Vina, saat itu juga Vano langsung mendapatkan pelukan yang cukup kasar oleh Vina, sampai Vano yang tidak mampu untuk menahan kuatnya tenaga Vina untuk menerjang tubuhnya secara tiba-tiba itu, akhirnya membuat Vano langsung terhuyung ke belakang dan terjatuh.


BRUKK....


"Vi-" belum sempat bertanya apa maksud dari tujuan Vina itu, tiba-tiba suara ledakan pun terjadi.


DHUAAR...


Ledakan yang berasal dari tabung gas yang memang sudah di persiapkan oleh Arthur di sana, serta mesin yang sebenarnya masih bisa layak pakai itu, membuat ledakan tersebut berhasil membuat gelombang kejut yang cukup kuat, sampai gelombang panas itu sukses menerjang mereka bertiga dengan cukup ganas.


"Vina! Kau-" ucapannya seketika langsung di potong oleh Vina.


"'Shtt, aku tidak ingin kau terluka lagi karena orang itu," bisik Vina sambil masih mempertahankan posisinya untuk memeluk tubuh serta wajah Vano dengan tubuhnya Vina.


Delvin yang sempat tiarap sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya itu, buru-buru langsung mendongak dan melihat Vina yang awalnya di prioritaskan sebagai tujuan untuk di selamatkan, sekarang justru sebaliknya.


Vina, dengan tubuhnya itu, dia berani membuat tameng untuk melindungi Tuan muda Elvano dari ledakan yang terjadi dari gedung pabrik yang tiba-tiba saja meledak itu.

__ADS_1


"Vin, cepat, ayo berdiri dulu, aku akan membawamu pergi dari sini," bujuk Elvano dengan segera.


Namun, tidak seperti Vano yang belum menyadari apa alasan di balik Vina tetap terdiam di tempat dengan terus memeluk wajah Vano di depan dadanya, Delvin justru menatap wanita itu dengan ekspresi paling datarnya, karena alasan di balik Vina tetap pada posisinya itu, sebab di belakang punggungnya Vina sudah ada beberapa serpihan kayu ataupun batu yang sempat tersebar karena ledakan tadi.


"Apa bisa kita seperti ini dulu sebentar?" bisik Vina, karena dia masih menginginkan kehangatan yang selama satu minggu ini tidak Vina dapatkan.


"Kau bisa memelukku lebih puas jika kita pergi dari sini sekarang Vin," sahut Vano, Dia mencoba untuk menyingkirkan tubuh Vina dari atas tubuhnya, tapi yang di lakukan oleh Vina sendiri justru adalah terus memeluknya dengan lebih erat.


Rasa sakit yang tidak bisa Vina ekspresikan dengan suara rintihan itu di gantikan dengan cengkraman tangannya yang dia lakukan pada selembar pakaian yang di kenakan oleh Vano.


'Mungkin ini balasan yang setimpal, karena ada orang baik kepadaku setelah aku di sekap entah berapa lama, aku merasa kesepian dan merasa tidak akan ada yang akan menolongku.


Kau rela datang kesini untuk menyelamatkanku, bahkan sampai melewati api untukku, aku tidak bisa melakukan banyak hal selain melindungimu dari ledakan tadi.


Aku- memang orang yang menyedihkan. Belum lama kenal, tapi karena alasan aku suka kepadanya, aku bahkan sampai berbuat sampai sejauh ini. Tapi terima kasih, karena kau mau datang kepadaku di saat aku sedang membutuhkannya, Elvano.' pikir Verina dalam diamnya.


"Vin?" panggil Vano, merasa curiga dengan keterdiaman Vina selama beberapa waktu ini, karena tidak menyahut apa yang Vano ucapkan tadi. "Vin, kau mendengarku kan?" tanya Vano seraya mendorong tubuh Vina dari atas tubuhnya.


"Delvin, tanganmu kenapa berdarah?" Vano buru-buru duduk dan segera menatap Delvin dan Vina secara bergantian. "Dan kenapa Vina tidak bicara lagi?"


Terkejut dengan pemandangan yang sangat menyiksa matanya itu, Vano buru-buru berdiri dan mencoba memeluk Vina seraya melihat ke punggungnya Vina. Dan dari situlah, Vano pun seketika langsung menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah paling datar, dan tatapan mata yang kian masuk dalam kegelapan.


DORR...


DORR....


Tembakan demi tembakan terus mengisi keriuhan dari tengah hutan rimbun itu.


Karena dua target dari dua pesawat tadi sudah tidak ada, maka tembakan itu pun tertuju untuk mereka bertiga, dan yang melakukannya bukan satu atau dua orang saja, melainkan ada lebih dari satu lusin anak buah Arthur yang ternyata memang sudah menyimpan skenario untuk bisa berada di titik ini, menargetkan Vina sebagai orang yang akan menjadi pemicu dari keputusasaan Vano, jika Vano memang sudah sangat peduli dan menaruh banyak perhatian kepada Vina.


DORR....


DORR...

__ADS_1


DORR....


Tembakan demi tembakan memang terjadi, tetapi Delvin yang punya kemampuan untuk mengimbangi kecepatan dari peluru yang sedang mengarah ke arah mereka bertiga tidak akan berlangsung dengan lama, Vano pun benar-benar semakin terpojok dengan situasinya sendiri.


"Vano, apa kau puas dengan hadiah dariku?" satu pertanyaan dari suara yang tidak lain adalah milik dari Arthur pun berhasil membuat Vano semakin menaruh banyak dendam dengan aura hitam yang terus keluar dari tubuhnya.


"Arthur, sampai kau benar-benar mau bertindak sampai sejauh ini?" tekan Elvano.


"Ya, aku harap kalau wanita yang ada di pelukanmu itu bisa mati dengan cepat, jadi setidaknya aku bisa melihat ekspresi wajah putus asa milikmu dengan cepat." hina Arthur dengan sangat sengaja, karena dia terus menerus mencoba untuk memprovokasi adiknya sendiri, tapi tidak pernah berhasil.


Dan sekarang? Adalah kesempatan emas yang cukup berhasil menarik mental Vano ini untuk bisa jatuh sampai ke jurang keputusasaan paling dalam.


"Tembak mereka lagi, biarkan mereka mandi peluru dan darah sekalian," perintah Arthur kepada semua anak buahnya.


"Tuan-" panggil Delvin, dia sudah kehabisan pelurunya, dan tidak mungkin untuk melawan satu setengah lusin orang secara bersamaan di saat-saat seperti ini.


Vano yang sayangnya sudah terus terdiam sambil menatap mereka semua yang sudah bersiap untuk menarik pemicunya untuk menembak mereka bertiga di tempat itu juga, Delvin pun jadi ikutan terdiam dan menutup akses mulutnya untuk bicara, karena begitu melihat Tuan muda nya itu diam seperti itu, berarti tidak lama lagi akan segera terjadi sesuatu yang tidak pernah Delvin rencanakan sebelumnya.


"Arthur, karena kau lebih dulu melawanku, maka akulah yang akan lebih dulu menghentikanmu," sahut Vano dengan nada yang begitu dingin.


Arthur yang bergeming di tempatnya seraya mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh Vano tadi, seketika memberikan kode 'tembak' kepada semua anak buahnya dengan sangat lirih.


"Tuan kamilah yang pantas jadi penerus Travers," ucap mereka secara serentak, dan di saat itulah ujung dari telunjuk mereka semua pun sudah mulai menekan pemicu dari pistol yang menjadi senjata mereka untuk menyerang Vano, Delvin dan Vina.


"Buktikanlah," ancam Vano secara tidak langsung dengan tatapan mata sengitnya.


'Tuan muda, dia benar-benar sangat marah kerena wanita itu.' detik hati Delvin saat pertama kalinya ia harus melihat betapa dingin dan aura mencekamnya yang di perlihatkan oleh Tuan muda kedua kepadanya, begitu tangan dan tubuh itu akhirnya terus memeluk tubuh Vina dalam dekapan yang paling erat, seraya mempertahankan jiwa dari kemarahan serta aura kepemimpinannya kepada semua orang yang sedang berani melawan dirinya.


DORR...


DORR...


DORR....

__ADS_1


__ADS_2