
"Apa ekspresi wajahku seperti orang yang suka menyerah, sekalipun sudah gagal berkali-kali?" pertanyaan itu menghasilkan persepsi tersendiri yang tidak dapat di sangkal oleh Vina, bahwa senyuman, tatapan matanya yang tampak lembut, serta raut muka penuh harap, menjadi bagian yang tidak dapat di pisahkan pada diri Elvano.
'Benar. Elvano ini, dia bahkan sebenarnya sudah mencobanya beberapa kali. Meskipun aku sudah menolaknya berkali-kali, dia tetap saja tidak pantang menyerah.' Vina yang sudah hidup bersama dengan laki-laki ini, sudah sepenuhnya menyadari kalau Elvano ini memang tipe yang tidak pantang menyerah.
Saking tidak tahu arti kata menyerah, Vina sendiri pun jadi di buat heran. Dia tetap saja cukup penasaran, apa alasan dibalik Elvano memilihnya, padahal ada banyak perempuan di luar sana yang mengantri.
Sudut pandang soal status, tetap menjadi pemicu hubungan diantara mereka, itulah kendala yang sebenarnya ada pada diri Vina sendiri atas keberadaan dari Elvano tersebut.
"Kau menang, tapi aku tetap bersikukuh, aku akan tetap menolakmu sampai kapanpun. Maaf, aku hanya kita berdua itu tidak sebanding satu sama lain.
Tapi, lebih baik kau urus soal masalah pribadimu itu dengan keluargamu, aku hanya ingin pulang, dan hidup normal dengan kedua orang tuaku saja.
Hubungan kita, sampai disini saja, Vano. Kau sudah ada di tempatmu, dan aku hanya ingin berada di tempat yang seharusnya," sejujurnya Vina cukup berat hati saat bicara seperti itu kepada Elvano.
Elvano mengerti, tapi dia sendiri sebenarnya tetap tidak mau mengerti.
Dia tahu, kalau jawaban Vina itu sebagai dasar perasaan untuk menyerah kepadanya.
Namun, Vano sama sekali enggan untuk melakukannya.
Satu alasan yang pasti, Elvano bukanlah orang yang suka dengan kata perintah yang memungkinkan akan merugikan dirinya sendiri, maka dari itu dia pun tetap pada keteguhannya sendiri, walaupun Elvano sendiri merasa tidak cukup masuk akal, karena dia bisa punya perasaan pada gadis asing dalam waktu sesingkat itu.
'Viasa, bodoh, naif, dan terlalu baik hati. Apa hanya karena alasan itu aku langsung mengerahkan semua usahaku untuk mendapatkannya?' di saat Elvano sedang berpikir, sudut matanya secara tidak sengaja melihat Vina yang terus melirik ke arahnya, bahkan tatapan matanya fokus pada pedang yang Vano bawa itu.
Demi menarik perhatian Vina yang suka baca komik, dengan sengaja Elvano rela cosplay menjadi seorang kesatria yang ada di dalam komik tersebut.
Ya, berkat Delvin yang meretas aktivitas pencarian internet dari handphone yang di gunakan Vina, dia pun mendapatkan banyak akses yang cukup mengejutkan.
'Di balik wajah polosnya, aku tidak pernah berpikir kalau dia suka komik dengan genre yang panas.' hanya dengan memikirkan itu, Elvano menyeringai.
'Kenapa dia tiba-tiba tersenyum seperti itu?' panik Vina, menyadari senyuman maut yang diperlihatkan oleh Elvano.
__ADS_1
"Vin," panggil Elvano dengan lembut, bahkan suaranya yang begitu rendah, mampu menarik perhatian Vina lebih banyak lagi dari pada yang tadi.
"Apa?" Vina merasakan adanya ancaman yang mulai mendatanginya.
Elvano yang menyadari reaksi Vina yang cukup waspada, terus saja tersenyum dan bergerak melangkah menghampiri Vina yang hendak minum itu.
Vina semakin waspada, sehingga secara refleks saja, dia mundur satu langkah ke belakang. 'Apa yang mau dia coba katakan? Kenapa terus saja berjalan menghampiriku?'
"Aku pikir, aku belum bertanya soal pendapatmu soal penampilanku malam ini, apa kau punya sesuatu yang bisa di katakan untuk menilai penampilanku ini?" tanya Vano.
"Kau seperti seorang Duke,"
"Apakah tidak ada kata lebih yang mengartikan sosokku ini?" di dalam kamar yang sedikit redup, Elvano berjalan dengan kepala menunduk.
Wajahnya yang sedikit terhalang oleh rambut miliknya, tidak mengartikan kalau wajahnya sulit untuk di lihat.
"Kau tampan, seperti seorang duke yang itu, apa kau berharap aku memujimu seperti pangeran?" sebenarnya Vina sudah mulai gugup dengan suasana yang tiba-tiba saja berubah itu.
"I-iya, tunggu, kau mau apa? Kenapa kau tiba-tiba ja ... Jadi menyeramkan seperti itu? Ja-jangan mendekat," kata Vina dengan suara terbata-bata, saking takutnya dengan nuansa dingin dari kamar yang sedang mereka berdua gunakan itu.
"Apa aku ekspresi wajahku begitu menyeramkan?" tanpa menggubris kekhawatirannya Vina tadi, tiba-tiba Elvano melepas sabuk yang mengikat sarung pedang dan pedangnya itu.
KLANG ...
Berjalan lebih maju, jas hitam dengan ornamen payet yang memberikan kemewahan pada pakaiannya itu, tiba-tiba saja dia lepas.
SRUK ...
"Mungkin kau tidak tahu kalau sebenarnya aku tahu," senyumannya semakin menjadi-jadi. Kini dasi yang sempat mengikat lehernya, dia longgarkan dalam sekali dua gerakan dan dia lepas juga.
"Tahu apa?" wajahnya semakin pucat, dia tidak tahu apa yang ingin di lakukan oleh Elvano kepadanya.
__ADS_1
Namun, satu yang pasti, melihat pria tersebut berjalan ke arahnya, maka instingnya yang merasakan bahaya, seketika muncul.
Vina awalnya ingin pergi menjauhi Elvano. Tapi niatnya itu, seketika langsung dihentikan saat kedua tangan itu, tiba-tiba saja mencengkram bahunya.
"Vina, apa kau tidak tahu, kalau ekspresi wajahmu antara takut tapi juga menginginkan hal lain?"
Ucapan dari Elvano, membuat Vina jadi bingung sendiri, "Sebenarnya apa maksudmu? Lepaskan, itu sakit,"
Vina sempat merintih, tapi rupanya tidak di gubris oleh Elvano sama sekali, yang ada, justru pria tersebut malah mengulas senyuman simpul yang kemudian berakhir dengan bicara dengan nada berbisik, "Kau mungkin menolakku perasaanku, tapi kau sama sekali tidak menolak untuk menodai mata dan pikiranmu, apa kau pikir aku tidak akan pernah tahu rahasia besar yang kau sembunyikan dari semua orang?"
Mata kian redup, Vina saat itu jadi diam dan merasakan insting yang cukup berbahaya.
Mengenai rahasianya?
'Sebenarnya rahasia mana yang dia maksud itu? Padahal aku sama sekali tidak punya rahasia yang begitu penting, apalagi berhubungan dengannya.
Walaupun begitu, kenapa aku begitu cukup terancam? Dan aku sangat tidak bisa mengalihkan pandanganku dari dadanya itu.
Tidak, vIna kau harus tetap waras. DI depanmu ini ada Iblis yang harus kau tangani, tenang, harus ten-' namun, belum apa-apa, matanya seketika membulat begitu sempurna, saat Elvano yang tadinya diam, kembali berbisik dengan cukup jelas dengan kepala mendarat di atas salah satu bahunya.
"Aku yang sempurna ini, dan aku yang begitu bodoh ini, apa kau benar-benar ingin melewatkan diriku, menolak semua apa yang aku punya, di saat kau setiap hari baca komik yang punya genre ++?" tanya Elvano dengan senyuman lemah tersirat begitu sempurna di bibir manisnya.
'Apa?! J-jangan-jangan handphone aku di hack!' terkejut bukan main, Vina berhasil diam membisu.
"Vin, aku bisa mengabulkan semua angan-anganmu itu, apa kau sama sekali tidak punya pikiran untuk menerimaku?" kata-kata penuh hasutan itu pun menuai kontroversi yang selama ini di rahasiakan oleh Vina.
Rahasia kecil yang dimiliki setiap individu, rahasia yang dia pendam sendiri untuk hiburan semata.
Namun, rahasia itu, rupanya diketahui oleh pria ini?
Mencoba membujuk? Mengancam? Atau menggoda?
__ADS_1