Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
35 : Batasan Vano.


__ADS_3

Selama satu minggu itu, Vano pun di tuntut untuk terus istirahat, menjalani pengobatan dengan begitu intensif, sampai dia tidak bisa memegang handphone untuk menelepon pahlawannya.


"Apa masih lama lagi?" tanya Vano.


"Demi kelancaran misi ini untuk anda sendiri, lebih baik anda bertahan dulu, dari merindukan Vina," ucap Delvin, sedang membantu menulis kertas dengan tulisan tangannya sendiri.


"Tapi ini terlalu lama Delvin, apa tidak tahu betapa bosannya aku, karena aku harus menjauh dari handphoneku sendiri," protes Vano kepada asisten pribadinya itu.


Walaupun ingatannya sama sekali belum pulih, akan tetapi demi mengelabuhi musuhnya, kalau sebenarnya dirinya lupa ingatan, dia pun terus belajar, serta memahami semua permasalahan apa yang sedang terjadi kali ini, agar dirinya tidak ketinggalan info terbaru dari musuh-musuhnya.


"Saya tahu, anda pasti bosan, tapi anda sendiri harus tahu, sebelum anda hilang ingatan seperti ini, bahkan anda sebelumnya bisa tidak memakai handphone selama setengah bulan, jadi kenapa baru satu minggu saja sudah protes seperti ini?" tanya Delvin dengan serta merta.


"Ternyata kau itu tidak peka soal hati ya?"


DEG...


Delvin terdiam, walaupun itu sebenarnya cukup tepat sasaran juga, dengan hati nuraninya sebagai manusia sekaligus sebagai laki-laki.


"Setidaknya aku harus tanya kabarnya sebentar, jangan sampai karena aku mengingkari janjiku, dia akan melupakanku." jelas Vano dengan singkat, kalau Vano khawatir, bahwa Vina nantinya akan benar-benar marah ataupun tidak akan suka kepadanya lagi, karena dirinya berhasil mengingkari janji yang sudah di buat dengannya.


"Tidak Tuan, tahan sebentar lagi, karena saya sendiri sedang membuat program, agar ketika anda menghubungi seseorang, termasuk Vina, sinyal anda tidak akan terlacak oleh pihak luar, kecuali saya," jelas Delvin juga.


"Wah, jangan-jangan kau mau jadi penguntit pribadiku ya?" sindir Vano, dia saat ini sedang berbaring sambil memandang langit-langit plafon kamar inap miliknya itu.

__ADS_1


"Bukan begitu juga Tuan," sahut Delvin, dia benar-benar mencoba untuk terus bersabar dalam menghadapi majikannya yang memang pada dasarnya, susah untuk di atur. "Saya melakukan ini untuk pencegahan saja Tuan, mengingat saat ini adalah saat paling penting dalam penyembuhan anda, dan saya sendiri fokus dalam pekerjaan saya, agar tidak ada satu orang pun yang menganggu anda," Imbuh Delvin.


"Ternyata punya tangan kanan sepertimu, bisa menyebalkan juga ya," ledeknya lagi, berharap kalau Delvin akan terpancing dengan ucapannya.


"Ya, seperti inilah saya, apakah anda tiba-tiba jadi punya pikiran untuk menggantikan saya yang cerewet ini?" tanya Delvin lagi.


'Dia gigih sekali, tidak terprovokasi ucapanku,' detik hati Vano. "Tapi jika memang tidak bisa, setidaknya kau lakukan sesuatu dong, agar aku tidak bosan,"


Seperti bayi besar yang ingin di layani dengan baik serta dengan sepenuh hati, Delvin pun terpaksa jadi baby sitter untuk sementara.


Karena kebetulan di samping kanannya ada handphone miliknya, dia pun segera mengambilnya, dan mengarahkannya tepat ke televisi.


"Itu, saran dari saya jika tidak ingin anda terlalu bosan di dalam kamar ini," jawab Delvin.


"Matikan bodoh, memangnya aku ini anak kecil, sampai di pertontonkan kartun seperti itu?" tanya Vano dengan begitu ketusnya, dia benar-benar tidak suka dengan sikap Delvin yang begitu antusias sekali untuk memperhatikannya, bahkan sejengkal untuk keluar dari kamar saja, benar-benar di perhatikan juga.


"Nikmati saja Tuan, yang penting kan bisa jadi hiburan," jawab Delvin dengan sabar.


Ya, sebagai orang paling sabar dalam melayani Tuannya itu, dia pun tidak akan pernah marah, sekalipun di panggil bodoh oleh majikannya itu, karena yang terpenting dari ini adalah, dirinya bisa melakukan tugasnya dengan cukup baik.


Sampai 10 menit kemudian.


"Hahahaha...., kena kau, makannya jangan usik tikus itu," tawa Vano tiba-tiba saja menggelegar sampai memenuhi ruangan.

__ADS_1


Pada akhirnya, kartun yang memperlihatkan satu keluarga tikus yang ketahuan menempati satu loteng di salah satu rumah milik seseorang, seketika langsung berbondong-bondong keluar dari segala sisi rumah, membuat si pemilik rumah yang tidak lain adalah seorang nenek, langsung terkejut setengah mati.


Hanya gara-gara membereskan satu tikus yang berhasil dia tangkap, hal itu pun membuat dia harus menerima fakta kalau ternyata di atap ada banyak tikus yang tidak terhitung jumlahnya.


"Hahaha, ya ampun, padahal di kenyataan, tikus itu mengganggu, bagaimana bisa produser kartun ini membuat tikus ini begitu cerdik, dan terlihat lucu?" ucap Vano, masih tidak bisa menahan tawanya, gara-gara menonton kartun yang di setel oleh Delvin beberapa waktu lalu.


KLEK...


"Iya, kau siapkan ruangannya saja lebih dulu, aku akan pergi menyusul nanti," ucap dokter ini kepada anak buahnya, sebelum mereka berdua berpisah karena tujuan mereka berdua yang terpisah.


"Baik dok," suster ini pun membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya dia pun pergi dari sana, sedangkan dokter ini, segera masuk kedalam kamar inap yang di huni oleh Elvano.


"Tuan, sekarang wak-"


"Hahaha, g-gila, pakai buku untuk jadi perahu? Benar-benar tikus pintar. Kalau saja aku punya tikus seperti mereka, aku akan memperkerjakan nya jadi anak buahku juga," tawa dari Vano yang benar-benar menggelegar itu, sampai membuat dokter yang baru saja masuk untuk menemuinya, langsung diam membisu tepat setelah melihat tawa sang Tuan Mafia itu begitu terlihat sangat bebas, seakan pria itu benar-benar tidak punya beban masalah apapun.


"Tuan, dokter sudah datang," peringat Delvin, agar Tuan majikannya tersebut bisa segera menghentikan tawanya yang begitu bebas itu.


"Oh~ Paman~ Silahkan periksa aku, buat aku sampai sembuh dengan cepat, agar aku bisa segera ingat semua yang harus aku ingat, termasuk bisa pergi ke indonesia lagi untuk menemui Vina lagi. Dia pasti sudah cukup merindukanku, apalagi ini sudah satu minggu lamanya," ungkap Vano.


Dia yang memang pada dasarnya bukan pria yang begitu dingin pada orang yang di anggap baik, akan selalu bicara bebas seperti itu, jadi dokter ini pun jadi mulai terbiasa dengan sikapnya yang begitu apa adanya itu.


"Hahaha, Tuan, anda benar-benar bersemangat sekali. Kalau begitu anda harus mengikuti semua saran dari kami, maka anda pasti bisa cepat sembuh. Lagi pula dalam satu minggu ini, anda sudah termasuk punya pemulihan tubuh yang cukup cepat, jadi anda akan segera sembuh dalam beberapa minggu lagi." jawab dokter ini.

__ADS_1


Dan ketika orang laki-laki yang ada di dalam kamar itu pun saling senyum satu sama lain.


__ADS_2