
"Hii~" Vira meringis dengan ulu hati yang serasa ingin copot, gara-gara kecepatan Delvin dalam mengendarai mobil, tidak main-main. "Apa kau tidak bisa pelan-pelan saja?"
"Aku hanya berpikir agar kita bisa cepat sampai ke tujuan," jawabnya, tanpa ragu sedikitpun, Delvin menginjak pedal gas dengan lebih dalam lagi, dan membuat adrenalin mereka berdua langsung teruji saat itu juga. 'Tuan menyuruhku untuk masuk ke dalam salah satu kontainer. Plat nomor 72610, hm- aku harus menyesuaikan waktunya agar posisinya bisa pas.'
Menggunakan rencana yang disusun sendiri oleh sang Tuan muda, Delvin pun mulai menyesuaikan watu miliknya dengan posisi truck yang ada di jalan yang berbeda dengannya.
Dengan bermodalkan GPS yang sudah terhubung dengan alat pelacak yang di sematkan di dalam truck incarannya itu, Delvin pun langsung mengebut dan membuat Vina benar-benar harus menahan diri untuk tidak berteriak.
'Semoga tidak mati, tidak mati, aku masih ingin hidup, ak utidak mau jomblo terus, makannya semoga kali ini juga tidak kenapa-kenapa.' berdoa dalam hati, Vina terus berkomat-kamit untuk keselamatannya sendiri.
_________
Di sisi lain.
"Apa? Jadi mereka berdua dan terutama wanita itu masih selamat?" tanya Abel, dia sedang bicara dengan salah satu buahnya yang kebetulan di tugaskan untuk menjadi mata-mata sebagai salah satu pelayan di gedung apartemen nya Elvano.
-"Iya Tuan, saya melihat sendiri kalau wanita yang anda incar itu masih selamat berkat bantuan dari pengawal pribadi milik Tuan muda kedua."-
"Beritahu rinciannya, dan kirimkan lokasi terakhir dari mobil itu terlihat di cctv kota, aku akan segera mengejarnya dan kalau bisa, harus bisa mendapatkan kembali wanita itu sekarang juga," perintah Abel kepada anak buahnya tersebut.
-"Akan saya kirimkan, tunggu satu menit,"- jawabnya.
TUT...
Abel pun segera berlari menuju mobilnya yang dia parkirkan di tempat parkiran, dan segera pergi dari sana untuk memburu mangsanya yang ternyata bisa selamat dari ledakan bom tadi.
"Delvin, kau memang bukan sembarangan orang ya? Aku akui kehebatanmu untuk menyelamatkan wanita itu. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, kau akan bertahan sampai berapa lama?
Proses untuk mengevakuasi satu orang wanita dari gedung lantai 40 saja sudah pastinya cukup menguras tenaganya, dan kau masih mau bermain kejar-kejaran denganku? Ok, aku layani permainan kejar-kejaranmu.
__ADS_1
Karena kali ini aku pasti akan mendapatkannya balik, dan lagian, mumpung Vina tidak mati setelah melewati beberapa kecelakaan maut, dia harus aku manfaatkan. Tapi jika aku memang bisa membawanya dengan selamat sih. Tunggu aku Vina, kau pasti akan mendapatkan giliran dariku, Ok." seringai Abel, dia pun mengebut di jalanan sambil di pandu dengan GPS yang mengarahkan keberadaan dari satu mobil yang harus dia temukan sekarang.
___________
Di tempat di mana Elvano berada.
"Apa mereka berdua sudah pergi?" tanya Vano terhadap salah satu anak buahnya.
-"Sudah Tuan. Tapi sepertinya saya punya kabar buruk,"- anak buahnya Elvano pun sedikit mengutarakan keraguannya dengan pendapatnya sendiri itu.
"Kabar buruk apa? Katakan saja," Vano yang begitu santai dalam menanggapi apapun yang menghalangi jalannya, akhirnya secara tidak langsung dia pun berhasil mempengaruhi salah satu anak buahnya itu untuk tidak gugup.
-"Aku tadi melihat, ternyata diantara kita ada seorang pengkhianat. Dia memberikan informasi kepada orang lain, soal perihal Tuan Delvin dan Nona Vina yang baru saja pergi dengan mobil.
Jadi kemungkinan terburuknya adalah kalau mereka berdua saat ini tetap masih dalam bahaya,"- jelasnya dengan panjang lebar.
-"Baik Tuan, akan saya lakukan."-
Dan setelah berkata seperti itu, sambungan telepon diantara mereka berdua pun langsung terputus.
"Jangan-jangan Abel, dia selalu punya keinginan kuat untuk menuntaskan pekerjaannya itu sampai selesai. Jadi aku harus mencari keberadaan dari mereka berdua lebih dulu, dan mencegat Abel?" Elvano yang masih berada di dalam mobilnya sendiri, masih mencoba untuk berpikir keras, dan menemukan kalau lebih baik dirinya untuk mengutus beberapa orang lebih dulu yang dekat dengan posisi mereka, sedangkan Elvano sendiri memutuskan untuk pakai caranya sendiri. "Aku yakinkan padamu kalau kau bisa melindungi Vina, Delvin." gumam Elvano dengan cukup lirih, sebelum akhirnya dia pun pergi dari sana dengan mobil sportnya.
________
"Apa tidak bisa pelan-pelan saja, aku jadi ingin muntah," Vina bicara dengan begitu gamblangnya, membuat Delvin langsung menyentuh laci dari dashboard mobil yang ada di depannya Vina.
"Kalau kau mau muntah, muntah saja, sudah ada kantong kresek untukmu," jawabnya dengan lugas.
Vina yang tercengang dengan keberadaan kantong kresek itu, seakan sudah di persiapkan khusus untuk Vina sendiri, berakhir dengan senyuman tawar, "Kau benar-benar hebat ya, bisa tahu saja kalau aku ini harus siap sedia kresek! Hueekk!"
__ADS_1
Delvin yang malas berdebat karena seketika mendapatkan pemandangan yang mengerikan dari Vina, hanya bisa diam dan menatap ke arah depan dengan wajah seriusnya itu.
"Huek~"
'Dia memang wanita paling merepotkan yang pernah ada. Tuan, sebaiknya anda harus cepat-cepat buat dia ini pulang ke rumahnya, jangan berada di sini terus,' harap Delvin kepada Tuan majikannya, karena dirinya itu memang tidak begitu tahan dengan apa yang sedang terjadi setiap kali berada di sampingnya Vina.
____________
"Tuan muda, apa yang akan anda lakukan selanjutnya?" tanya wanita cantik ini kepada pria yang kini sedang memangku tubuhnya. "Untuk merebut hak waris anda dari adik anda?"
Arthur, pria yang notabene nya adalah kakak kandung dari Elvano itu pun mengusap perut milik dari wanita itu dengan penuh kelembutan, menikmati setiap sentuhan yang ada dan menjawab, "Dia saat ini jelas sedang kerepotan untuk mengamankan wanita itu, jadi yang jelas, di samping Abel mengurus wanita dari desa itu, aku akan menggunakan kedua orang tuanya agar adiku yang bre*ngsek itu semakin kewalahan,"
"Anda itu memang kejam ya," senyuman lembutnya itu pun berakhir dengan kecupan hangat yang dia berikan kepada Arthur.
Setiap menjalani hidup, satu konsekuensi yang ada pasti akan timbul dari setiap pilihan yang diambil.
Dan Arthur sangat yakin, kalau konsekuensi yang di hadapi oleh adiknya saat ini, jelas adalah tanggung jawab besar sebab harus menyeret orang lain dalam urusan perebutan takhta diantara mereka berdua.
"Kalau aku tidak kejam, sudah jelas aku tidak mungkin bagian dari keturunan Travers ini," sahut Arthur terhadap ucapan dari perempuan tadi.
"Tapi ngomong-ngomong, jika anda berhasil merebut hak waris dari adik anda, apa yang akan anda lakukan selanjutnya?"
Arthur memejamkan matanya sesaat, dan setelah itu dia bergumam lirih, "Aku akan menguasai seluruh daratan eropa dan asia, aku akan membuat semua orang mengenal aku lebih dari pada siapapun, dan sampai tidak akan ada yang berani melawanku. Dengan kata lain, aku akan memonopoli pasar dunia, baik dengan cara legal maupun ilegal,"
Wanita tersebut lantas tersenyum cerah, dan mengecup bibir Arthur selama beberapa detik.
"Kalau begitu, bagaimana jika saya membantu anda untuk melakukannya?" tanyanya.
"Tidak perlu, biar Abel yang urus, kau disini saja, menemani waktu bosanku, Irine," kata Arthur, lalu dia pun membalikkan tubuh Irine untuk tengkurap di atas tubuhnya, dan berakhir dengan saling berpelukan dan mendapatkan banyak tautan yang berasal dari dua bibir mereka yang saling menyatu.
__ADS_1