
Memperlihatkan kekuatan di bawah ketakutan, wajah adalah topeng untuk menutupi kelemahan. Tapi itu berlaku untuk topeng yang ke dua.
Jadi, apa yang sebaiknya di lakukan ketika banyak orang menggunakan topeng untuk menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya?
Vina bukanlah orang bodoh yang menganggap kalau semua kebaikan yang di perlihatkan oleh Delvin kepadanya, adalah jati diri Delvin. Kebaikan itu berasal dari tuntutan pekerjaannya, menciptakan suasana yang mampu mendukung lingkungan hidup baru untuk Vina.
Dalam artian kenyamanan. Jika bukan karena Delvin bekerja di bawah kendali Elvano, jelas saja Delvin tidak mungkin akan bertindak baik kepada Vina.
Delvin, dia pun terus menyembunyikan sifat aslinya dengan sifatnya yang lain, yang jelas sangat bertolak belakang dengan sikap yang Delvin perlihatkan kepadanya selama ini.
"Iya, tapi apa kau tidak sarapan?"
"Sebelum aku mengerjakan pekerjaanku, aku selalu mempioritaskan diriku untuk sarapan lebih dulu. Jadi tidak perlu sungkan, makan saja semua hidangan yang sudah ada di atas meja," jelas Delvin dengan ramah?
Sikapnya memang terlihat ramah, tapi jika mendengar dari cara bicaranya, jelas kalau Delvin bukanlah orang yang akan seperti itu.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan pertemuanmu semalam dengan Tuan muda?"
"Hanya, begitulah-"
Salah satu alis Delvin terangkat, dia tidak mengerti dengan maksud Vina menjawab itu, "Ha? Begitulah apa maksudnya?"
"Aku menerima permintaan maafnya," ketus Vina, dia terganggu dengan cara Delvin menatapnya dengan wajah konyolnya.
"Semudah itu?" tanyanya lagi.
"Bukannya kau menyuruhku untuk melakukan apa yang aku mau?"
"Iya. Tapi apakah semudah itu memaafkan orang yang sudah memarahimu seperti itu?" pertanyaannya Delvin malah tiba-tiba seperti menjerumus kalau pilihannya Vina lagi-lagi salah.
"Dia kan sudah minta maaf, jadi apa masalahnya?" vina malah bertanya balik dengan polosnya.
Tidak sesuai dengan harapannya, Delvin kembali memunggungi Vina dan menjawab, "Aku memang mengatakan padamu untuk memutuskan sendiri pilihanmu, karena Tuan muda akan meminta maaf kepadamu secara langsung.
Tapi yang aku harapkan darimu, bukan mengiyakan menerima permintaan maafnya begitu saja, kan? Aku pikir kau akan mengulur waktu, setidaknya sampai membuat Tuan muda frustasi dan memohon kepadamu balik,"
"Walaupun aku memang mengatakan menerima permintaan maafnya, tapi seperti yang kau tahu, jika hati sudah pernah di lukai, susah sembuhnya.
Aku sendiri sebenarnya masih marah, tapi marah pada diriku sendiri. Biarlah, biarkan waktu berlalu, jika aku terus memikirkan hal masalah kemarin, sepertinya luka aku tidak akan pernah sembuh.
Lagi pula apa yang di katakan olehnya benar semua, jadi untuk apa aku menunda-nunda menerima permintaan maafnya itu?" penjelasan dari Vina itu, membuat suasana pagi itu kembali tenang.
Tidak ada satu orang pelayan pun yang mondar-mandir lagi, karena pekerjaan mereka semua sudah selesai. Maka dari itu, rumah mewah itu pun kembali sepi, seakan hanya ada mereka bertiga?
Ya, bertiga, setelah ada satu orang tiba-tiba saja datang ke arah mereka berdua.
Vin~"
Panggilan itu di tunjukkan kepada Vina yang hendak menyuapi mulutnya dengan tangan kirinya, dan orang yang baru saja memanggil nama itu adalah Elvano.
__ADS_1
Sosok pria yang sampai setengah sepuluh menit yang lalu berhasil menciptakan keributan kecil yang mengejutkan bagi mereka berdua, karena baik Vina maupun Elvano, sama-sama mempermalukan dirinya sendiri.
'Apa dia baru saja mandi?' detik hati Vina dengan mata membulat sempurna.
Penampilan kasar yang tampak di lakukan dengan begitu tergesa-gesa menjadi pemandangan yang cukup menarik.
"Apa kau tidak butuh bantuan untuk menyuapimu makan?" satu pertanyaan itu kembali keluar dari mulut Elvano.
Rambut hitam legam yang tampak masih basah menghiasi kepala dari pemilik wajah rupawan. Namun, kulit leher, wajah, tangan yang tidak di seka dengan baik, memperlihatkan sedikit air yang masih melekat di permukaan kulitnya.
Aroma sampo di padukan dengan parfum yang di pakai oleh pria itu, menyeruak mengisi seluruh ruangan di dalam rumah, menciptakan suasana roma pemikat untuk, Vina.
Langkah demi langkah, berhasil mengikis jarak diantara mereka berdua, sampai pria yang tadinya berada di atas tangga, kini tiba-tiba saja sudah ada di depan meja makan dengan senyuman cerah menghiasi bibir tersebut.
Bibir yang pernah menciumnya. 'Tiba-tiba saja, aku jadi teringat dengan hari itu. Kenapa dia menciumku ya?'
Tanpa sadar ujung jari telunjuknya menyentuh bibirnya sendiri, sampai nasi yang tadi sudah berhasil dia angkut dengan sendok, malah tumpah dan mendarat ke atas sup yang masih panas, karena di kacaukan oleh pikirannya yang kembali mengingat momen tersebut.
'Tapi sepertinya dia bahkan tidak seperti merasa bersalah atau apapun. Atau dia sudah melupakan kejadian itu?' pikir Vina, dia tiba-tiba saja jadi tidak fokus dengan makanannya, karena malah teralihkan untuk fokus menatap sekaligus menyentuh bibir yang menjadi saksi bisu akan momen yang pernah mereka berdua buat kala itu.
"Vin! Kau kena ciprat air sup, apa kau kepanasan?" tanya Elvano, dia tampak khawatir karena nasi yang sempat jatuh tadi, memang masuk ke dalam mangkuk yang berisi sup panas, dan air sup tersebut pun sempat menciprat keluar.
"Tidak," jawab Vina dengan tenang. Dia sebenarnya cukup kepanasan, tapi itu hanya berlalu untuk beberapa saat saja, jadi dia tidak begitu menghiraukannya. "Hanya sup saja, tidak masalah. Lagi pula tidak ada yang lebih sakit ketimbang tangan ini,"
Dia dengan percaya diri menunjuk ke arah tangan kananya itu.
"Aku hanya kurang fokus, itu saja sih," imbuhnya. 'Sebenarnya apa yang sedang aku katakan sih? Apakah aku jadi terlihat jahat, karena menjawab apa adanya?' pikir Vina, dia sempat melirik ke arah Elvano.
'Eh? Dia kemana? Kenapa tiba-tiba saja sudah hilang?' kelabakan sendiri, tidak melihat Elvano di depan meja makan, Vina langsung menoleh ke kanan dan kiri.
"Biar aku menyuapimu,"
Begitu Vina mendongak ke atas, bayangan dari kepala Elvano yang menutupi seluruh tubuhnya Vina, sontak saja membuat Vina terkejut, apalagi saat sendok yang ada di tangan kirinya tiba-tiba saja sudah ada di tangan pria ini.
"Aku bisa makan sendiri,"
"Tapi buktinya saja, kau bahkan tidak bisa membuat nasi itu masuk ke mulutmu, apa itu yang namanya bisa makan sendiri?" timpal Elvano.
'Wajahnya terlalu dekat!' tersipu malu dengan semua keadaan yang pernah dia dapatkan selama waktu beberapa hari ini, Vina spontan jadi langsung berdiri.
BUKH..
"AKh...!"
"Aduh~" Vina merintih sakit, saat kepalanya malah menghantam wajah Vano.
"'Kau kenapa tiba-tiba saja berdiri?"
"Aku terkejut, karena kau tiba-tiba saja sudah ada di belakangku dan mengambil sendokku, makannya aku secara refleks berdiri menghindarimu!" tekan Vina, mengusap kepalanya dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
Alhasil, Vina yang hendak kabur, tapi karena kepalanya sempat menghantam dagunya Elvano, membuat Vina akhirnya kembali duduk di kursinya sambil menahan rasa sakitnya itu.
"Padahal aku pergi juga tidak diam-diam seperti hantu, kamu nya saja yang sempat melamun," Vano pun benar-benar merasakan sakit di dagunya, sampai sendok yang ada di tangannya tadi, sebenarnya sudah ada di lantai. "Untung saja aku jadi tidak menggigit lidahku sendiri," lirih Vano.
"'Maaf, aku hanya terkejut, lagian wajahmu kenapa dekat-dekat begitu denganku?"
"Apakah maksudmu kau ingin wajahku jauh dari kepalaku?"
Salah lagi salah lagi, Vina jadi kehabisan kata-kata, karena ucapannya bisa dilempar balik kepadanya.
"Apa dagumu baik-baik saja?" tanya Vina dengan hati-hati.
"Apa aku terlihat baik-baik saja?" sela Vano dengan cepat.
"Tidak, kau terlihat kesakitan seperti itu,"
"Bagaimana kau harus bertanggung jawab dengan dagu aku yang berharga ini?" tatap Elvano terhadap Vina yang tampak sudah sedih dan merasa bersalah.
"Kau maunya apa?"
Diam, menunggu, Elvano mencoba mencari cara untuk menebus rasa bersalah Vina terhadapnya karena melukai dagunya. "Tiup,"
"Ya?" Vina bertanya karena merasa kurang jelas, atau sebenarnya merasa salah dengar.
"Tiup dan usap dagu yang sudah kau lukai ini," jawab Elvano.
Vina yang mendengar permintaan itu dari Vano sebagai tanggungjawabnya, langsung membelalakkan matanya. "Iya, aku akan melakukannya!" jawab Vina dengan cepat.
Tanpa memperdulikan soal apa yang terjadi sesaat lalu saat di kamar, Vina langsung menuruti permintaan dari Elvano sebagai tanggungjawabnya.
Maka dari itulah Vina pun langsung berdiri, menyentuh dagu Elvano dan saat itu juga dia pun langsung meniupnya dengan penuh perasaan, sampai Elvano yang tidak diberikan waktu untuk bicara lagi, langsung diam dengan wajah mematung.
'A-aku pikir dia akan menolaknya. Tapi dia dengan cepat langsung mengiyakan, apa dia benar-benar merasa bersalah sampai mau menuruti ucapanku? Lalu, apakah dia sungguh sama sekali tidak canggung denganku, karena kejadian di kamar tadi?' ucap Elvano dalam hatinya.
Sangat di sayangkan, permintaan dari pertanggungjawaban yang di lakukan oleh Vina hanya berlangsung sesaat, tapi meskipun begitu hembusan angin dari nafas serta sentuhan hangat yang menyapu kulit wajahnya, tetap masih tertinggal.
"Apa sudah mendingan?" tanya Vina dengan terus terang.
Elvano yang kembali menarik semua pikirannya itu, masih diam dan menatap wajah Vina.
'Tuan muda, apakah anda benar-benar menyukai wanita lugu dan merepotkan seperti dia?' Delvin bermonolog sendiri di dalam benaknya, begitu melihat ekspresi wajah Elvano yang memang terlihat sangat terkejut dengan reaksi yang di berikan oleh Vina terhadapnya, karena mau menuruti permintaan kecil yang sebenarnya hanyalah omong kosong saja, untuk mengerjai Vina.
'Elvano? Kenapa dia terus menatapku seperti itu? J-jangan-jangan mulutku bau?! Makannya dia jadi mendelik ke arahku seperti itu?' punya perbedaaan kesan yang dia miliki dengan yang Elvano miliki, sontak membuat Vina yang baru saja menuruti perintah kecilnya Vano, dengan buru-buru langsung menunduk dan menutup mulutnya sendiri lalu langsung kabur.
BRAK...
"Eh? Vin? Kenapa kau kabur?!" teriak Vano terhadap Verina yang sudah menghilang dari hadapannya. 'Apa aku baru saja melakukan kesalahan lagi? Dia tiba-tiba menutup mulutnya, lalu kabur? Apa dia sakit dan mau pergi ke kamar mandi karena mual?'
Elvano yang khawatir dengan pikiran yang dia miliki itu, dengan buru-buru langsung menyusul Vina yang sudah masuk ke dalam kamar, meninggalkan Delvin yang masih memperhatikan tingkah kedua orang tersebut dengan tatapan datarnya.
__ADS_1
"Salah paham lagi," ucap Delvin, dia tahu alasan dua orang itu punya sikap yang terlihat bertolak belakang.