
Gemuruh dari bangunan karena adanya ledakan kedua dan ketiga, sontak membuat Vina yang ada di dalam ketakutannya itu, hanya menatap pasrah nasibnya sendiri, ketika melihat dinding beton di sekitarnya mulai retak.
“Aku belum tahu namamu, sebelum kita berdua mati di sini, apa kau mau memberitahu namamu itu?” tanya Vina dengan entengnya.
Delvin yang sudah menyeret Vina keluar dari pintu darurat, tanpa basa-basi langsung menggendong tubuh Vina dan membawanya lari menuju ujung koridor ala bridal.
Tercengang dengan kekuatan fisiknya Delvin yang benar-benar di luar kepala dan ekspektasinya, Vina pun berpikir sejenak, 'Kenapa dia sebegitu inginnya aku bisa selamat? Apakah aku tidak berat ya? Dan lagian, sebenarnya dia seberapa kuat sampai masih saja bisa lari setelah ikut jatuh dari tangga tadi?'
“Namaku Delvin. Dan aku peringatkan, jangan pernah sekalipun kalau kita akan mati, tatapan wajahmu yang terlihat menyerah itu sangat menyebalkan. Karena aku sudah lebih banyak menghadapi kematianku sendiri, jadi bahkan hari ini pun tidak akan ada dari kita berdua yang akan mati.” jelas Delvin. Mau bagaimanapun dia harus memperingatkan Vina yang suka bicara sembrono itu.
“Kenapa kau sangat yakin?” tanya Vina lagi seraya memejamkan matanya, karena dia tidak ingin melihat kenyataan paling pahit, ketika di belakang sana, perlahan atap dari koridor mulai runtuh. 'Sayang sekali, kenapa aku harus terjebak dalam situasi pembunuhan seperti ini? Jelas-jelas ini pembunuhan, ada bom di gedung ini, kira-kira seberapa banyak lagi korban luka yang di timbulkan oleh orang yang sedang mengincar aku?'
Ada rasa cemas yang cukup mendalam. Baik karena cemas pada dirinya sendiri, maupun cemas kepada orang lain, karena mau bagaimanapun kalau gedung ini pasti banyak penghuninya, tapi berkat beberapa ledakan yang di akibatkan oleh bom tadi, sudah jelas kalau pasti banyak korban yang berjatuhan.
'Rumahnya Elvano, hah~ Padahal harganya pasti mahal, tapi saat pulang nanti, rumahnya sudah hancur seperti itu. Bagaimana ini? Ujung-ujungnya karena keberadaanku, semua orang jadi kena imbasnya.
Aku jadi merasa harus menanggung banyak dosa. Dan, mau sampai kapan aku bisa lari dari kejaran mereka?
Tidak mungkin aku akan terus bersembunyi dan lari seperti ini sepanjang hari. Suatu hari nanti pasti akan ada waktunya dimana mereka pasti akan menangkapku.
Aku jadi menyusahkan banyak orang, bahkan termasuk orang ini. Orang yang baru pertama kali aku kenal.' pikir Vina panjang lebar.
Berhenti setelah berlari lebih dari lima puluh meter, Delvin lantas menghela nafasnya, dan kemudian menatap mata Vina yang kini akhirnya mau membalas tatapannya. “Karena pada dasarnya apa yang aku lakukan, pasti sudah aku persiapkan. Jadi sudah pasti, aku punya keyakinan, kalau hari ini pun aku dan kau pasti akan selamat lagi."
‘Mempersiapkan apa?’ begitu Vina berpikir demikian, tubuh Vina tiba-tiba saja di turunkan, lalu Delvin langsung memukul salah satu dinding dengan tangan kosongnya.
__ADS_1
BUKHH..!
Melihat Delvin meninju dinding, Vina spontan jadi langsung memejamkan matanya, saking takutnya kalau tangannya Delvin akan bersimbah darah.
KRAK…
“Apa?!” Vina kembali dikejutkan dengan apa yang terpampang jelas di dalam dinding yang baru saja di pukul oleh Delvin, dan itu adalah senjata beserta dengan beberapa tali pengait? “Tunggu, kau mau apa dengan itu semua?”
Delvin saat ini mengeluarkan senjata yang punya bentuk seperti laras panjang, dan juga dengan tali pengait.
“Pindah ke gedung sebelah,” jawabnya dengan singkat.
“Ha?! Kau bercanda ya? Bagaimana caranya? Apa kita akan melompat ke sana?” tanya Vina dengan wajah paniknya.
SYUHT~
Sebuah jangkar tiba-tiba saja keluar dari moncong senjata tersebut dengan kecepatan tinggi dan langsung menancap ke dinding beton yang ada di gedung sebelah.
Selesai menancapkan ujung jangkar itu ke dinding, Delvin langsung meletakkan senjata yang di pegangnya itu ke salah satu besi yang ada di dalam dinding yang tadi sempat Delvin pukul sampai berlubang itu.
“E-eh, k-kau serius? Kita mau keluar dengan cara ini?!” tanya Vina lagi, langsung kelabakan saat Delvin tiba-tiba saja memeluknya dengan melingkarkan tangan kirinya ke pinggangnya Vina.
“Kalau ingin selamat, hanya inilah cara satu-satunya untuk bisa keluar dari situasi ini,” jawabnya, “Karena prioritas tugasku adalah untuk melindungimu, mau kau siap atau tidak, aku akan tetap membawamu keluar dari sini meskipun kau mau memukulku atau apapun itu.” jelas Delvin dengan nada dan ekspresi wajahnya yang cukup tegas.
Vina yang bahkan tidak punya kesempatan untuk menjawab ucapannya Delvin, langsung membalas pelukan itu dengan erat, begitu Delvin langsung terjun meluncur ke bawah dengan menggunakan jalur dari tali baja yang sudah terbentang dari gedung ke gedung sebelah.
__ADS_1
“Hiiii~ Kau yakin bisa membawaku dengan cara seperti ini? Apa aku tidak berat?”
Merasakan pakaiannya di cengkram dengan cukup kuat, dan melihat Vina yang benar-benar memeluknya dengan sangat erat, Delvin pun menjawab, “Berat dari mananya? Kau bahkan tidak lebih berat dari karung beras.”
‘Walaupun kedengarannya dia sedang menyindirku, tapi ini tetap saja sangat menakutkan.’ ungkap Vina dalam hatinya. Vina sempat mengintip ke bawah, dan wajahnya langsung berubah jadi pucat pasi, karena saking tingginya jarak antara mereka berdua dengan tanah. ‘Kalau matinya menegangkan seperti ini, apa aku tidak akan berubah jadi hantu gentayangan?’
“Kalau takut, seharusnya kau memejamkan matamu,” kata Delvin memperingatkan, karena sebenarnya sebentar lagi mereka berdua akan sampai di tempat tujuan, Delvin pun harus bersiap untuk pendaratannya yang jelas tidak akan sempurna.
Karena apa?
Begitu Vina sudah mempererat pelukannya kepada tubuhnya Delvin, Delvin tiba-tiba saja langsung melepaskan pegangan tangannya itu dari tali yang dia gunakan untuk membuat tubuhnya meluncur itu.
‘Akhh! Gila! Kenapa dia tiba-tiba melepaskan pegangan tangannya dari tali?!’ ronta Vina dalam benak hatinya, dan tidak lama setelah itu tubuh mereka berdua pun langsung jatuh.
PRANG….
“Kyaa! Siapa kalian?!” teriak seorang wanita, yang jelas bukan suaranya Vina.
BRUKK….
Tepat setelah menerjang kaca jendela, tubuh Delvin pun langsung terjatuh dan menahan tubuh Vina yang kini sudah berada di atas tubuhnya.
“A-apa ini sudah selesai?” tanya Vina dengan posisi wajah masih telungkup di atas dada bidangnya Delvin, dan kedua tangannya yang masih mencengkram erat pakaiannya Delvin juga.
Sambil menahan rasa sakit di tubuhnya akibat harus menerjang kaca jendela sampai pecah seraya menahan tubuhnya Vina, Delvin pun menjawab, “Kalau ingin tahu, cepatlah menyingkir dari atas tubuhku."
__ADS_1