
Setelah Verina di pindahkan ke kamar inap milik Elvano, Elvano dan Delvin pun terdiam sambil menatap sosok dari Vina sendiri yang terlihat cukup kalem.
"Apa yang akan anda lakukan sekarang?" tanya Delvin sambil menutup tirai jendela yang masih terbuka itu.
"Karena permasalahannya saat ini adalah aku dan kakakku adalah musuh. Maka Vina adalah sebagai contoh dari perbuatannya,. Jadi yang sekarang harus kau lakukan adalah cari salah satu anak wanita yang punya ciri-ciri seperti dia.
Buat skenario agar Vina yang menghilang, di temukan olehku, tentu saja sekaligus buat wanita ini menjadi pengganti Vina selai Vina masih di rawat di sini." jelas Vano.
Sangat di sayangkan memang, karena harus melihat kondisi Vina yang benar-benar punya hari-hari kelam di siksa dan mendapatkan banyak luka seperti itu karena dirinya, maka dari itulah, Vano pun membuat rencananya sendiri agar semua yang nampak berlubang, bisa di tambal dengan ide yang Vano miliki.
Rencana yang cukup sempurna, karena Vano akan menyuruh seorang wanita yang akan menjadi seorang penggantinya Vina, sekaligus menjadi bodyguard untuk melindungi kedua orang tuanya Vina, selagi Vina yang asli sedang dalam kondisi perawatan.
Hal ini sebenarnya tidak mungkin akan dia lakukan jika saja Arthur tidak membuat ulah dengannya.
Tapi, karena sudah terlanjur, maka apa boleh buat, jika dia harus menyesuaikan kondisi yang ada saat ini, gara-gara kakaknya.
"Saya mengerti, jadi apakah itu termasuk untuk melindungi kedua orang tuanya juga?" Delvin bertanya untuk mengkonfirmasi ucapannya Tuan muda nya tadi.
Karena jika posisinya hanya mencari wanita yang bisa menyamar, maka ada banyak. Namun, jika kulifikasinya bisa bela diri dan bisa melakukan hal yang lainnya, maka Delvin akan mencarinya dengan seleksi yang lebih tinggi.
__ADS_1
"Benar. Sudah cukup Vina saja yang mau peduli padaku sampai seperti ini, jangan sampai kedua orang tuanya juga terseret dalam kehidupan pribadiku." jawab Vano, lalu salah satu tangannya pun menyentuh kepalanya, dan berkata lagi : "Walaupun aku tidak memiliki ingatanku sendiri, tapi jika melihat situasi ini dan semua informasi yang sudah aku ketahui, jelas ini bukan sesuatu yang bisa aku anggap enteng. Kau pergilah, aku akan istirahat." perintahnya, sebab Vano sendiri butuh perawatan, sekaligus menenangkan pikirannya yang sudah cukup serabut karena banyaknya pikiran serta kilatan-kilatan memorinya yang cukup mengganggu itu, dia pun sudah ingin bisa membaringkan tubuhnya.
Setidaknya, sekarang dia bisa melihat pahlawannya itu berada satu kamar dengannya.
"Kalau begitu ini obat anda, jangan sampai lupa meminumnya, saya akan membereskan sisa dan perintah yang baru saja anda berikan kepada saya.
Lalu juga ini-" Delvin yang baru saja memberikan kantong kertas berwarna putih dengan isi berbagai obat yang harus Tuan muda minum untuk menunjang kesehatan serta pemulihan tubuhnya dengan cepat, Delvin juga memberikan dua cincin emas kepada Tuannya tersebut.
Elvano pun menerima kedua barang itu bersama-sama. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah kedua cincin emas itu.
"Kau mau melamarnya? Jangan harap kau bisa melamar Vina," cetus Vano dengan sorotan mata tajam, mengintimidasi Delvin saat itu juga, kalau Vina bukanlah wanita yang bisa Delvin ajak sebagai pasangannya, itulah peringatan yang di berikan oleh Vano kepada Delvin sendiri.
Tapi respon yang di berikan oleh Delvin sendiri adalah ekspresi wajahnya yang datar. "Anda pikir saya ini tertarik kepada Vina?"
"Saya kan hanya ingin menitipikan cincin itu karena cincin tersebut miliknya Vina, kenapa anda punya prasangka buruk kepada saya sih?"
"Vina, vina, panggil dia Nona. Kalau kau panggil dia dengan namanya langsung, lebih baik kau panggil aku dengan namaku juga, itu lebih baik," perintah Vano saat itu juga.
"Tidak bisa, anda kan kastanya lebih tinggi ketimbang wanita itu-" jawab Delvin dengan gamblang. "Jadi saya akan tetap memanggil anda Tuan, dan wanita itu namanya secara langsung."
__ADS_1
"Kau-" Elvano seketika menggertakkan giginya, karena Delvin bisa-bisanya secara terang-terangan langsung mengatakan kalau Vina punya kasta lebih rendah. "Padahal kau sama-sama manusia bahkan punya nasib yang sama dengannya, tapi bisa-bisanya mengatakan kalau Vina punya kasta lebih rendah. Dia itu bukan sembar-"
Merasa di tatap terus dengan ekspresi wajah Delvin yang cukup datar, Vano seketika sadar kalau ucapannya Delvin tadi sebenarnya untuk pancingan saja, untuk mengetahui reaksi yang akan Vano perlihatkan jika ada yang merendahkan Vina secara terang-terangan.
"Pfftt~" Delvin sontak jadi tidak bisa menahan tawanya, sebab melihat ekspresi Tuan mudanya yang tiba-tiba mematung karena baru saja menyadari niat sebenarnya Delvin mengatakan kalau Vina orang rendahan yang tidak bisa di panggil Nona oleh Delvin sendiri adalah karena ingin melihat reaksi dari wajah majikannya itu.
Mata Elvano yang membulat itu pun langsung menatap sadis Delvin, dan tanpa banyak bicara, salah satu tangan Elvano pun dia gunakan untuk mendorong tubuh Delvin dengan kasar.
BUKHH....
"Sana pergi! Lakukan tugasmu dengan baik, ada kesalahan kecil, walaupun itu sekecil semut, kau harus memperbaikinya semulus mungkin." tuntut Vano, dan akhirnya dia pun mendorong tubuh Delvin sampai keluar dari kamarnya.
"Tuan ini, ini hanya peringatan saja. Jika anda memberikan perhatian lebih seperti itu kepadanya secara terang-terangan, anda itu sama saja dengan memperlihatkan kelemahan anda," ucap Delvin, sebelum kakinya benar-benar menginjak lantai marmer di luar pintu itu.
"Itu masalahku, kau urus saja pekerjaanmu sendiri, jangan ganggu aku jika itu hal yang mendesak," tuntut Vano, dan tanpa pikir panjang lagi, Vano pun langsung menendang pan*at nya Delvin, hingga Delvin benar-benar keluar dari kamarnya.
BRAKK...
"Hah, dasar, kenapa aku punya anak buah seperti itu di dekatku? Konyol sekali," gerutu Elvano seraya melihat ke arah pintu kayu yang akhirnya sudah benar-benar tertutup rapat.
__ADS_1
Namun, kembali lagi ketika di tangan kanannya itu dia menggenggam sepasang cincin emas, Vano pun jadi merasa bersimpati sendiri, sebab gara-gara jari jemarinya Vina sempat lecet-lecet, cincin itu pun jadi terpaksa harus di keluarkan.
'Ngomong-ngomong dia pintar sekali ya, bisa memilih cincin yang bisa buat orang lain sepertiku salah paham sendiri, karena desainnya ini benar-benar seperti cincin pasangan?' gumam Vano. Sampai gabutnya dia karena penasaran dengan ukuran cincin tersebut, Vano pun dengan sengaja memasang salah satu cincin itu ke dalam jarinya, dan sayangnya cincin itu tidak bisa sampai masuk ke tengah dari jari kelingkingnya, menandakan kalau jari milik Vina ini memang cukup kecil dan nampak rapuh.