
WHUSSHH.....
Angin yang bertiup cukup kencang itu, seketika menerjang tubuhnya, membuatnya bisa merasakan sensasi yang cukup dingin. Dan berkat itu juga, mata yang semula terpejam itu akhirnya membuka matanya dengan perlahan.
'Dingin-' batinnya, lalu ketika kelopak matanya terbuka, hal yang pertama kali dia lihat itu akhirnya adalah sebuah pemandangan dari sebuah jurang yang cukup gelap. Dan satu pertanyaan yang tentu saja langsung terlintas di dalam benaknya adalah : 'Bagaimana aku bisa ada di sini?' Bukannya aku- ada di dalam ruangan gelap dengan aroma busuk itu? Tapi ini- aku ada di tepi hutan?'
Vina yang ternyata sedang berdiri di balik sebuah pohon cemara yang cukup besar dan tinggi, seketika itu juga dia tiba-tiba saja mendengar suara derap langkah kaki yang cukup cepat.
DRAP....DRAP.....DRAP.....
Dan angin yang besar itu pun kembali dia jumpai.
WUSHH....
Menyejukkan tubuhnya yang seketika itu membuat tubuhnya terasa menggigil.
"Kejar dia! Jangan biarkan dia lolos!" teriak salah satu orang, dan mendengar suaranya yang cukup rendah, Vina pun sudah menebak kalau itu adalah laki-laki.
"Hah...hah...hah, memangnya kalian bisa menangkapku?"
“Walaupun tidak bisa menangkap anda, setidaknya bisa menyingkirkan anda dari kehidupan Tuan kami, itu adalah pilihan yang paling bagus tanpa membuat kami kerepotan.” ungkapnya.
‘Mereka sebenarnya sedang membicarakan tentang apa?’ pikir Vina, dia pun berusaha untuk berdiri dan segera mengambil posisinya untuk bisa bersembunyi dari keberadaan mereka.
“Selera kalian dalam memilih majikan ternyata sangat buruk. Padahal jelas-jelas akulah yang mendapatkan posisi itu, tapi kenapa kalian lebih suka pada orang yang tidak terpilih seperti kakakku itu?” ucapnya.
Vina yang tidak tahu tentang permasalahan yanag sedang di bicarakan oleh beberapa orang yang ada di depan sana, hanya bisa memeluk erat tubuhnya sendiri, sebab tiba-tiba saja hembusan angin yang datang menerpa tubuhnya, benar-benar membuat tubuhnya cukup menggigil.
__ADS_1
CKLEK….
‘Suara itu?’ mendengar adanya suara dari senjata yang cukup familiar, Vina sontak mengintip, dan benar saja, sebuah pistol sedang di todongkan ke arah seorang pria dengan kemeja hitam itu. ‘Waduh, jangan-jangan dia akan di bunuh?’ detik hati Vina.
“Aku akan membayar kalian lebih dari yang di berikan oleh dia,” bujuknya.
“Itu tidak akan berpengaruh kepada kami, karena kami sepenuhnya sudah mendedkasikan hidup kami untuk Tuan muda Arthur. Jadi entah apapun konsekuensinya, kami akan tetap berpihak kepada Tuan muda Arthur.” jawab salah satu anak buah Arthur yang lainnya.
‘Arthur? Kenapa rasanya sangat familiar?’ pikir Vina, dia pun sempat memegangi kepalanya karena rasa sakit yang cukup menyiksanya. Merasa kalau yang barusan dia dengar sudah Vina kenal, tapi juga merasa tidak kenal, dengan kata lain pikirannya memang merasa ada yang salah.
“Maka dari itu, demi membuat tujuan Tuan muda pertama, andalah yang harus menjadi tumbalnya,” dan tentu saja dengan senjata yang ada di tangannya itu, maka kehidupan dari lawan bicaranya itu akan benar-benar berakhir jika ujung jari telunjuknya itu menarik pelatuknya.
“Dasar orang yang serakah, bukan hak sendiri, malah mengambil hak yang sudah di berikan kepadaku,” kata pria ini, tidak lain adalah Vano. “Tapi jika sudah seperti ini, kita hanya tinggal melihatnya saja, apakah kalian yang lebih dulu mati, ataukah aku,” dengan seringaian tipisnya, Vano pun menodongkan pistol dengan tiga buah peluru saja yang tersisa di dalam magazine.
‘Jangan-jangan mereka mau adu tembak?’ Vina yang bahkan merasa terjebak di dalam urusan mereka, secara tidak sengaja Vina malah mendengar adanya gerakakn ringan yang berasal dari phon yang ada di sepuluh meter di belakangnya persis.
‘Hah? Apa-..., apa dia akan menembak laki-laki yang berdiri di dekat tebing itu?’ Vina yang bahkan tidak tahu siapa orang yang sedang berdiri di depan sana, refleks perasaan pedulinya tiba-tiba saja muncul.
KLEK…
Suara itu lagi kembali muncul, membuat Vina yang bahkan tidak tahu kapan orang yang menjadi sniper itu menembakkan pelurunya, jadi semakin khawatir.
“‘Kaulah yang akan lebih dulu mati, Elvano-” suara bisikan yang terdengar lirih itu, sontak menaruh perhatian Vina detik itu juga kepada pria yang ada di depan sana.
‘Elvano? Nama ini bahkan memang cukup familiar. Tapi kenapa aku sangat khawatir pada orang yang ada di depan sana jika dia benar-benar menembak? Tidak, masa aku mau membunuh diriku sendiri hanya untuk laki-laki yang bahkan aku sendiri tidak tahu, tidak usah. Aku tidak harus memperlihatkan kepedulianku.
Nyawaku itu hanya satu, jadi jangan coba-cobanya lari kesana untuk melindungi orang itu.
__ADS_1
Tidak, aku harus tetap di sini, biarkan apapun yang akan terjadi, terjadilah, aku tidak mau peduli.’ racau Vina dalam benaknya yang paling dalam.
Hanya saja, bertolak belakang dengan pikirannya yang terus membujuk hatinya agar tidak berbuat apalagi ikut campur dengan urusan dari mereka, tubuhnya seketika menunjukkan keberanian.
“Ayo, sedikit lagi. Jangan bergerak, di sana saja,” ucap sniper ini, dan begitu bidikannya sudah berhasil di kunci, ujung jari telunjuknya pun mulai menarik pemicunya.
Dan di saat itulah, Vina yang merasa kalau Vano akan terancam, di balik hubungan mereka berdua yang begitu asing, secara refleks saja Vina seketika berlari.
‘Elvano! Siapa sih sebenarnya dia? Kenapa tubuhku tiba-tiba secara refleks langsung berlari ke arahnya untuk melindunginya?!
Jika seperti ini, aku bisa-bisa mati, kan?’ teriak Vina dalam hatinya.
“Disini, kalianlah yang akan mati duluan. Berbahagialah, karena akulah yang melakukannya, bukan Arthur itu,” ucap Vano.
Begitu Vano menarik mulai menarik pelatuknya, tiba-tiba saja suara derap langkah kaki yang begitu cepat itu langsung datang dan menuju ke arahnya.
“AWAS!” teriak Vina, dan saat itulah, begitu Vina merentangkan tangannya dan mendorong tubuh Vano untuk terjatuh, detik itu pula sebuah tembakan langsung mengisi keheningan di tengah hutan belantara itu.
DORRR…
“Uhukk!” seketika itu juga Vina matanya membulat sempurna di sertai langsung terbatuk tepat di saat rasa sakit yang teramat sangat itu tiba-tiba saja muncul.
‘Siapa, wanita ini?!’ detik hati Vano, dan suara dari daging yang langsung di tembus, langsung membuat Vano yang secara otomatis terdorong tadi, segera terjatuh ke belakang dengan di kejutkan darah yang langsung muncrat ke pakaiannya Vano sampai akhirnya tubuh dari seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul di depan matanya, detik itu juga langsung ambruk, dan menimpa tubuhnya Vano.
BRUKK….
__ADS_1