
"Kau tidak akan lepas dari rasa bersalahmu sendiri, Elvano," pria berambut hitam ini pun menyeringai melihat satu berita terkini yang menyatakan adanya sebuah ledakan di salah satu gedung apartemen di kota paris.
Di tengah adu balap yang di lakukan oleh Elvano dengan semua teman dari anak buahnya Arthur, Elvano pun mendapatkan satu pesan singkat yang langsung terpapar di layar iped nya.
TING...
"Ada apa ini?" Elvano bertanya-tanya apa alasan di balik ada pesan singkat yang tiba-tiba saja masuk itu.
Tapi begitu dia mendengar adanya helikopter yang datang melintasinya, Vano pun langsung mengambil keputusan dengan cepat, begitu melihat pesan yang di kirimkan oleh salah satu pelayan dari gedung apartemen nya.
"Vina, Delvin, sebaiknya kau baik-baik saja. Aku percayakan Vina kepadamu," ungkap Vano dengan sebuah gumaman kecil.
-"Cepat, serempet mobil Tuan muda kedua,"-
Satu perintah dari salah satu anak buah Arthur pun membuat mereka langsung mengambil aksi untuk membuat Elvano celaka.
Vano yang melihat kalau para pembalap di belakangnya itu sudah mulai beraksi lagi, sekilas Vano pun kembali lebih mengebut, hingga tepat dia menjelang masuk ke garis finis, Elvano langsung memutuskan untuk keluar dari arena balap.
"Apa? Ada kebakaran? Baik, kami akan segera kesana,"
"Kakak memang tidak pernah lelah membuat onar seluruh kota. Pantas saja, Ayah memberikan posisinya kepadaku, karena kakak saja suka bermain untuk membuat keributan seperti ini," Elvano tahu dengan posisinya yang terlihat merebut posisi hak waris untuk kakaknya sendiri.
Tapi jika melihat situasi dari perebutan hak waris keluarga Travers saja sampai seperti ini, Elvano pun yakin kalau alasannya sudah jelas kalau Arthur memang bukan orang yang cocok untuk mendapatkan hak waris tersebut.
"Mau kau membakar kota sekalipun, aku memang tidak bisa memberikan posisi ini kepadamu, Kak. Karena kakak saja tidak bisa menahan diri sendiri untuk tidak berbuat onar seperti ini," ungkap Vano, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti mobil pemadam, tapi dia pergi dengan menggunakan jalan layang.
Dari situlah Vano pun melihat betapa mengerikannya ketika ada asap tebal berwarna hitam pekat mulai membakar gedung apartemennya.
"Delvin, aku harus menghubungi anak itu dulu," mencoba menghubungi satu-satunya anak buah yang paling setia, sayangnya Vano sama sekali tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari Delvin. 'Kenapa tidak terhubung? Atau di sana ada alat yang mengacaukan sinyal?'
Raut muka Elvano pun berubah menjadi datar. Sambil melirik ke arah nomor Delvin yang tidak kunjung mendapatkan sambungan, ia juga sesekali melihat kearah gedung yang sedang terbakar itu.
__ADS_1
Ada dua helikopter udara yang membantu proses pemadaman, tapi semua itu juga pada akhirnya perlu waktu juga.
"Aku akan sangat senang jika aku bisa mendengar suaranya Vina," gerutu Vano.
Terjerat terus dalam hubungan yang tidak bisa di anggap sebagai pasangan kekasih, karena dia sendiri serta Vina juga tidak pernah sekali pun mengungkapkan perasaan mereka dalam tiga kalimat penanda hubungan, Vano pun jadinya tidak bisa berbuat apapun.
"Aku harap dia tidak apa-apa," lirih Vano, dan dia pun kembali menginjak pedal gas nya.
______________
Dua nafas menyatu menjadi satu, ketika udara buangan dari nafas mereka berdua, sama-sama di hembuskan ke wajah lawan mereka masing-masing.
"Maaf, kau jadi ikutan jatuh juga, karenaku," ucap Vina, menatap manik mata Delvin yang memiliki keindahan alami, berkat warnanya yang seperti air laut dangkal yang berwarna biru.
"Akulah yang seharusnya minta maaf, karena aku tidak bisa mengimbangi kemampuanmu dalam menuruni anak tangga," balas Delvin. "Tapi apa kau bisa menyingkir dari atas tubuhku?"
Vina yang kelabakan dengan posisi mereka berdua yang cukup terlihat intim, buru-buru berusaha untuk beranjak dari sana.
Tapi, bahkan sebelum Vina hendak berdiri, tiba-tiba saja sebuah ledakan langsung menggetarkan gedung tersebut.
"Akkhh...!" Vina spontan berteriak ketakutan.
Delvin yang terkejut dengan ledakan tersebut, buru-buru menarik tubuhnya Vina dalam dekapannya dan mendorong tubuh Vina untuk dia lindungi dengan tubuhnya.
PRANG...
"Kyaa...!" Vina kembali berteriak, tapi berkat apa yang di lakukan oleh Delvin kepadanya, Vina pun selamat dari pecahan lampu neon yang di gunakan sebagai penerangan.
Tapi berkat itu juga, punggung Delvin pun jadinya terkena pecahan kaca tersebut.
"H-hei, pu-punggungmu, kenapa kau melakukan ini? Kau jadinya terluka kan?" panik Vina terhadap keputusan Delvin untuk menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk melindungi Vina.
__ADS_1
Delvin yang sama sekali tidak kenapa-napa, langsung memperlihatkan wajahnya setelah sesaat tadi dia menundukkan kepalanya.
"Bukankah sudah aku katakan, aku ini sebenarnya di sini bukan sebagai tetanggamu ataupun orang asing yang sengaja menolongmu, tapi karena aku ini adalah orang yang di utus untuk melindungimu.
Maka dari itu, jangan sekali-kalinya kau mengatakan ingin menyerah, karena sama saja kau tidak menghargai usaha kami berdua,"
Setelah di berikan penjelasan seperti itu, Vina pun sepenuhnya paham, kalau rupanya Elvano bukanlah orang biasa.
"Tapi, punggungmu pasti sekarang terluka, coba aku lihat-" menuntut Delvin untuk bangun dari atasnya, Vina pun mencoba melihat punggungnya Delvin, tapi di situ dia tidak melihat adanya luka atau apapun, padahal berkat lampu yang pecah tadi saja, membuta pakaian bagian belakang Dlevin ada beberapa robekan.
"Bukan ini yang harus kau khawatirkan, tapi sekarang situasinya itu kita harus pergi dari sini segera," timpal Delvin, dia langsung berdiri dan membuat Vina masih dalam poisi jongkok.
Vina tercengang, walaupun Delvin baik, tapi sikapnya tidak memperlihatkan keramahan sama sekali. Maka dari itu Vina pun memutuskan untuk diam saja dan memberikan sebuah jawaban dengan anggukan kepalanya saja.
"Kalau sudah paha, kita pergi sekarang, sebelum asap itu menyebar kesini, atau yang lebih parahnya lagi ada ledakan lagi. Itu jika kau tidak ingin menjadi mayat perawan di sini," oceh Delvin, kembali memimpin pelarian mereka.
'Apa iya, harus menyebut kata perawan di depanku?' detik hati Vina, merasa tersinggung dengan segala ucapan yang keluar dari mulutnya Delvin ini.
_____________
Di satu sisi lain, Abel masih berdiri sambil mengamati gedung apartemen yang sedang menjadi sasaran kriminalnya.
"Apa sekarang dia sudah mati?" tanya Abel pada dirinya sendiri, seraya mengunyah permen karet. "Untuk berjaga-jaga lebih baik aktifkan saja seluruh bom nya,"
Menyiratkan senyuman penuh dengan rasa puas, ke sepuluh jari-jemarinya yang cekatan itu kembali mengetik laman dari layar PC yang dia bawa itu untuk mengkonfirmasi waktu ledakan yang bisa dia atur sesuka hatinya.
"Jadi daging penyek di tambah jadi daging bakar dengan bumbu semen, pasti kelihatan enak." sindir Abel. Tapi meskipun begitu, ada yang dia sesali, sampai membuatnya menghela nafas dengan kasar, Abel pun berkata lagi, "Hah, sayang sekali, sebenarnya aku masih belum puas untuk memberikan pelajaran dengan wanita itu. Setidaknya bisa bermain semalaman sebelum pertunjukkan di atas panggung. Tapi karena sudah terlanjur begini, mau bagaimana lagi? Aku akan cari perempuan polos yang lain."
Begitu Abel menekan tombol enter, sebuah ledakan secara beruntun pun terjadi.
DHUARR...
__ADS_1
Hal itu mengakibatkan gedung pencakar langit yang ada di depan sana, berakhir lebih banyak mendapatkan kerusakan yang cukup parah.
Kabut, teriakan, serta sirine mobil ambulans, pemadam, serta bunyi klakson, semua itu akhirnya membuat suasana di sana semakin tegang.