
Abel tampak memberikan senyuman penuh makna, dia sama sekali tidak berharap kalau pertanyaannya akan dijawab, tapi karena dia sendiri sudah tahu bagaimana sikap yang dimiliki oleh Arthur terhadapnya, dia pun hanya bisa bersikap tenang untuk menghadapi pria itu.
“Bagaimana kondisi kakimu? Apa kau sudah bisa berjalan?” tanya Arthur dengan nada sedikit ketus.
Namun, mau bagaimanapun dia tetap memperlihatkan sikap dari rasa khawatirnya.
“Meskipun masih harus memakai bantuan tongkat, ini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Terima kasih, karena anda ternyata masih mengingat saya yang terluka dan tidak bisa digunakan untuk menjalankan rencana anda kedepannya,” jawab Abel sekaligus mengatakan permintaan maaf kepada tuan muda nya itu.
Ya.
Meskipun dari segi profesionalitas dirinya sendiri masih bisa dibandingkan dengan kemampuannya Delvin, dibandingkan dengan majikannya yang masih tidak bisa dibandingkan dengan Elvano, tentu saja di mata Abel, dia merasa dirinya jauh lebih baik ketimbang Arthur itu sendiri.
Apa maksudnya, tentu saja, Abel adalah orang yang terpaksa melayani Arthur yang tidak lebih baik ketimbang Elvano.
“Tidak masalah. Asal kau tidak berkhianat padaku, aku akan memberikanmu waktu sebanyak yang kau mau untuk kesembuhanmu.
Tapi di satu sisi, setidaknya kau masih bisa menggunakan ini-” Arthur menunjuk pelipisnya sendiri dengan jari telunjuknya sebagai kode kalau setidaknya Abel masih bisa menggunakan otaknya untuk membantu segala permasalahan yang kemungkinan akan Arthur hadapi kedepannya.
“Yah, itu tidak masalah. Tapi, apakah anda hanya berkunjung kesini hanya untuk menemui saya saja?” tanya Abel, dia mencoba mencari tahu lebih dalam apa sebenarnya tujuan dari tuan muda pertamanya itu.
“Apa aku terlihat seperti itu? Aku punya tujuan lain, ini meng-”
“Shtt~” seketika Abel langsung memberikan kode untuk membuat Arthur diam. “Lebih baik jika anda bicara sambil duduk,” Abel pun menunjukkan sebuah tempat duduk, tapi bukannya sofa, dia memilih untuk membuat majikannya itu duduk di depan meja makan.
Arthur yang tidak tahu apapun itu, hanya mengikuti arahannya, dan tidak lama setelah itu, salah satu koki langsung menyajikan teh dan beberapa camilan untuk mereka berdua sebelum memutuskan pergi dari sana juga.
“Apa yang sudah kau rencanakan di belakangku?” akhirnya Arthur pun bertanya karena penasaran dengan sikap Abel yang selalu saja tampak menyembunyikan banyak sekali rahasia.
“Hmm, hanya pekerjaan sampingan, tapi dari pada itu, posisi anda saat ini, apakah anda sudah mulai menikmati rasanya menjadi seorang kepala keluarga?”
“Selagi kau tidak menjawab pertanyaanku lebih dulu, jangan harap untuk mendapatkan jawaban dariku,” kecam Arthur terhadap perkataan dari Abel tersebut.
__ADS_1
Abel diam, dia lantas mengambil tisu dan membungkus sedikit jari telunjuknya lalu membersihkan pinggiran dari cangkir teh miliknya.
Jujur, dia jadi sebenarnya ingin bercerita banyak pada tuan muda nya itu. Tapi karena dia memiliki batas waktu untuk bicara, dia pun hanya menjawab ala kadarnya.
“Apakah anda tahu soal wanita yang saya culik sekitar dua setengah bulan yang lalu? Saya sedang menyerahkan tugas itu kepada mantan pacar dari adik anda itu.”
Arthur langsung mengernyitkan matanya dan bertanya, “Veronica itu? Aku dengar keluarganya hancur, apa kau yang melakukannya agar kau bisa mempergunakan wanita itu menjadi salah satu pionmu untuk mengurus wanita kampungan itu?”
Persepsi yang diungkapkan oleh Arthur kepada Abel cukuplah masuk akal.
Akan tetapi, tebakan dari Arthur jelas cukup melenceng.
“Untuk apa saya harus repot-repot menjatuhkan keluarganya itu? Saya hanya memanfaatkan sisa dari jerih payah adik anda yang sudah mengacaukan keluarganya Veronica.
Pembalasan dendam adalah titik terbaik untuk membuat dia menuruti semua perkataanku.
Tentu saja, karena saya menambahkan sedikit bumbu kebohongan, dia berhasil saya jadikan pion untuk membuat kehidupan Vina jadi hancur juga.
Apalagi karena Delvin sendiri sudah kembali ke sini, jadi ini akan jauh lebih mudah untuk memanfaatkan situasinya,”
Dalam diamnya, jujur Arthur merasa kagum dengan cara berpikir Abel sendiri yang terasa bisa jadi cukup mengerukan jika tidak dipantau secara langsung seperti ini.
Maka dari itu, agar Abel bisa dikendalikan, dia harus lebih sering untuk menemuinya, sekaligus mencari tahu semua rencana yang direncanakan oleh anak itu kepadanya.
Apakah akan mengandung pemberontakan atau tidak.
Tidak seperti Delvin yang bekerja di bawah kendalinya Elvano karena dulu sempat diselamatkan, maka tidak dengan Abel yang justru datang menemuinya untuk membantu masa proses perebutan kekuasaan di dalam keluarga Travers.
“Karena pertanyaan anda sudah dijawab, jadi bagaimana dengan anda sendiri, apakah anda akan menjawab pertanyaan saya?” tanya balik Abel, dia begitu santai untuk ukuran seorang anak buah yang dikendalikan langsung oleh Arthur, maka dari itu, mau di lihat dari manapun Abel tampak berbahaya.
“Kurang lebih pekerjaanku hanya seperti pekerjaan kantor biasa. Tapi tentu saja itu jauh lebih banyak, untuk mengurus semua usaha yang dimiliki oleh Ayahku itu,”
__ADS_1
“Tapi sayangnya, anda punya batas waktu anda sendiri, kan? Kedepannya, akan akan bagaimana? Waktunya tinggal setengah bulan lagi, apakah anda akan dengan senang hati menyerahkan posisi itu kepada adik anda, atau mau bagaimana?
Sekarang keputusan ada di tangan anda sendiri, dan waktunya sudah tidak banyak lagi,” Abel jadi bicara lebih banyak, karena mau bagaimanapun dia harus memberikan peringatan jelas kepada majikannya itu, kalau posisi sebagai seorang kepala keluarga, hanyalah sekedar pinjaman yang diberikan oleh Elvano kepada Arthur itu sendiri.
“Kenapa kau pakai bertanya segala? Yang jelas aku ingin mempertahankan posisiku ini, mau bagaimanapun itu.” jawab Arthur dengan begitu antusias, sampai Abel yang melihat cara dari tuan mudanya menjawab, berhasil membuatnya jadi tertawa geli sendiri.
“Yah, seperti biasa, walaupun sekarang saya hanya bisa duduk saja, tapi saya akan membantu anda dari belakang.
Yang terpenting sekarang saya sudah membuat satu rencana yang pasti akan membuat adik anda itu akan kehilangan akal sehatnya lagi,” jawab Abel dengan senyuman simpulnya.
Sejujurnya Arthur cukup risih dengan cara berpikir Abel ini, apalagi saat pria itu tersenyum, itu seperti ada sisi lain yang sedang di sembunyikan.
Walaupun Arthur sama sekali tidak tahu itu apa, tapi dia cukup yakin kalau Abel pasti punya rencana lainnya.
“Aku akan mempercayakannya kepadamu. Yang penting kau urus bagianmu, dan aku akan mengurus bagianku. Apalagi cincin itu, aku harus mendapatkan cincin itu dari tangannya Elvano, dengan begitu aku bisa menguasai posisiku tanpa ada yang bisa menganggu gugat lagi,” ungap Arthur, lalu dia pun meminum teh yang di sajikan oleh koki tadi.
Tentu saja, melihat Arthur benar-benar meminum teh itu, dalam benak hatinya, Abel diam-diam tersenyum, seolah dia baru saja mendapatkan apa yang dia mau.
“Hm, ini lumayan enak,” puji Arthur, dia cukup suka dengan aroma dan rasa khas dari teh yang dia minum itu, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. “Aku tidak bisa berlama-lama disini, jadi aku akan pergi,” imbuh Arthur.
“Hmm, kalau begitu hati-hatilah,” sahut Abel sambil melambaikan tangannya layaknya melambai pada seorang temannya sendiri, padahal hubungan diantara mereka berdua tidaklah sedekat yang terjadi antara Elvano dengan Delvin, maka dari itu, Arthur pun sama sekali tidak merespon sikap yang dilakukan oleh Abel kepadanya.
KLEK …
Begitu melihat Arthur sudah pergi dari sana, Abel akhirnya tersenyum senang. Sambil menyesap sejumput teh, dia pun langsung duduk bersandar di sandaran kursi sambil terkekeh.
‘Kisah kakak beradik yang semakin unik. Aku akan menunggu kisah selanjut mereka berdua akan jadi seperti apa.’ kata hati Abel, dan akhirnya dia pun meminum teh itu sampai habis sebelum dia memakan beberapa camilan. “Nyam, ini cukup enak, ya, manis, tapi sayangnya tidak ada satupun manusia yang bisa hidup semanis kue seperti ini.’
Melempar kepingan kue kering itu ke atas, Abel pun langsung menangkap potongan kue itu ke dalam mulutnya.
“Nyam~”
__ADS_1