
“Vin, aku yakin jika kau memang punya perasaan dan dia juga punya perasaan yang sama denganmu, pasti nanti dia akan kembali kepadamu, walaupun kau kehilangan kontak dengannya. Tuhan yang akan mengatur, jadi tunggu saja, Ok? Kata-kata dari pengantin sepertiku ini manjur loh, jadi tidak perlu khawatir,” kata Nita memberi nasehat yang kepada Vina agar tidak terlalu khawatir?
Justru karena tampang wajahnya yang tampak sedih saat membahas Elvano, hal itu pun membuat mereka berdua jadi terkekeh dalam hati, sebab apa yang dikatakan sangat bertolak belakang dengan isi hatinya yang terlihat jelas dari ekspresi wajahnya itu.
“Sudah aku bilang, dia hanya teman,”
“Pfft, teman tapi mesra,” ledek Intan dengan tawa kecilnya.
VIna jadi berkecil hati membahas Elvano lagi dan lagi. Setiap hari yang ada di dalam pikirannya, terus menerus memikirkan Elvano, pria berjuta pesona itu berhasil melewati segala dinding yang Vina buat?
Yah, walaupun Vina membuat dinding transparan sih, karena dia adalah wanita yang lemah dengan pesona yang di miliki oleh Elvano itu.
“Diamlah, jangan membahas orang itu lagi, aku tidak mau mendengarnya lagi. Lagian dia kan sudah ada di negara sana, jauh dari sini, jadi apa gunanya membahas orang itu?” timpal Vina.
“Eleh, meskipun kau terus mengatakan orang itu terus tanpa nama, tapi kau tidak bisa membohongi kami loh. Siapa yang tidak terpesona oleh pria sepertinya? Banyak yang berharap bisa dekat dengannya loh,” bahkan termasuk Intan sendiri, jadi tidak perlu di sangkal, kalau siapapun perempuan yang sempat berpapasan dengan Elvano, detik itu juga ada banyak hujan cinta yang terjadi untuk Elvano sendiri.
‘Mau dimana-mana terus saja Elvano.’ Vina berdiam diri terus sambil menghela nafas pelan.
“Nih Vin, aku bisikkan sesuatu padamu,” Nita tiba-tiba membungkukkan tubuhnya ke arah Vina, dan berbisik lirih, “Kau pasti akan menemukan cintamu, hanya itu yang bisa kau yakini sekarang,”
‘Padahal kan enak sendiri terus. Aku berpikir seperti itu, tapi kenapa mau dia atau dia, atau orang lain pun menganggap kalau aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya? Aku harus coba, kalau aku tidak akan terpengaruh dengan perasaan ini.
Aku harus membuang jauh-jauh perasaan yang menyesatkan pikiranku ini.’ pikir Vina untuk dirinya sendiri.
___________
“Hei, gimana? Wanita itu yang Bos inginkan kan?” tanya laki-laki ini.
Memantau seseorang dari dalam mobil, kedua orang ini pun terus berada di depan gang sempit dan memantau seseorang dari kejauhan, dan target mereka berdua adalah Vina.
“Iya, ini mirip, jadi kalau seperti ini, sudah dapat dikonfirmasi kalau misi kita kedepannya akan berjalan mulus,” jawabnya.
Sedangkan di satu sisi lain, seorang anak laki-laki yang sedang beli sate di pinggir jalan, mencurigai mobil berwarna hitam itu, karena dari tadi tidak ada satupun orang yang keluar dari mobil, dan samar-samar dia melihat bahwa di dalam mobil itu, ada seseorang yang sedang celingukan dengan sebuah teropong.
“ …” terus memperhatikannya, sampai pedagang sate nya pun ikutan penasaran.
“Ada apa? Dari tadi kau terlihat seperti memperhatikan sesuatu?” tanya pak tua ini.
“Aku hanya melamun sebentar,” jawabnya dengan cepat.
“Heh, anak muda, jangan melamun terus, nanti kesambet loh,” jawab pedagang ini kepada anak laki-laki itu.
“Memangnya kesambet apa? Apa maksudnya itu?” tanya anak ini.
“Setan lah. Kalau tidak tahu, itu hantu,”
“Mana mungkin, jangan mengira kalau melamun pikiran seseorang itu kosong.
Justru aku melamun itu karena banyak yang aku pikirkan,” jawab anak ini dengan terus terang. “Semuanya berapa?” imbuhnya sambil mengeluarkan uang lima puluh ribuan.
“Dua puluh lima ribu,” jawabnya.
“Ini,”
“Ini kembaliannya,”
“Terima kasih pak,” kata anak ini sambil menerima uang kembalian.
Membawanya pergi menuju motor yang diparkirkan di depan salah satu rumah, dia pun duduk di atas batu besar dan mulai memakan sate yang baru saja dibeli.
‘Enak juga. Tapi tidak baik makan makanan yang dibakar dengan arang seperti itu. Walaupun begitu, aku tidak bisa mengatakan kalau ini tidak enak.’ batinnya. ‘Aku sedikit curiga dengan mobil itu. Mereka berhenti tepat di saan Nona Vina pergi ke acara resepsi di sana, sebenarnya siapa? Atau jangan-jangan mereka adalah orang yang akan mengganggu kehidupan Nona Vina?’
Pikirannya pun jadi begitu kacau, karena dia sendiri memang ditugaskan untuk menjamin keselamatan dari orang yang harus dia jaga sesuai dengan perintah dari tuan Delvin.
__ADS_1
“Uhm, mas?”
“Mas?” anak ini pun langsung menghentikan makannya, sebab ada seorang wanita yang tiba-tiba berhenti di depannya persis.
“Apa mas tahu diman-”
“Maaf, aku bukan orang dari daerah sini, jadi tidak tahu apapun,” sela anak ini dengan cepat.
‘Ya elah, padahal baru juga sekalian mau kenalan, sudah di serobot saja, menyela ucapanku.’ batin wanita ini, sebenarnya dia sempat tertarik dan dengan sengaja ingin minta petunjuk arah dari pria itu, tapi karena sudah ditolak dengan kata-kata yang begitu tepat sasaran, membuat hatinya sedikit sakit.
“Ei, kalian siapa? Mau menggoda pacarku ya?” tiba-tiba saja, seorang wanita berambut pirang malah datang memeluk laki-laki yang dianggap sebagai kekasih.
‘Wih, bule~’ terkejut bukan main, melihat wanita berambut pirang tiba-tiba menempel pada laki-laki yang sedang makan sate. “Maaf, mengganggu. Aku hanya ingin tanya arah jalan, tapi keburu di tolak,” ketusnya.
Tahu tidak dapat kesempatan, wanita ini pun pergi.
Setelah itu, dia pun pergi dari sana meninggalkan sejoli itu di sana.
“Apa yang kau lakukan? Tiba-tiba memelukku,” ketusnya.
“Ditolong bukannya berterima kasih, malah tanya seperti itu.”
“Aku kan tidak minta,” jawabnya dengan singkat, lalu laki-laki ini pun memberikan setengah porsi sate nya itu untuk wanita itu. “Makan sampai habis jangan sampai ada sisa, bahkan bumbu kacangnya sekalipun,” perintahnya dengan tegas.
“Ok!” dengan tabik hormat, wanita ini pun benar-benar memakannya sampai habis.
“Wahh, bule. Kenapa aku akhir-akhir ini seperti banyak bertemu orang dengan wajah asing, ya?” gumam Vina, saat tidak sengaja melihat dua orang yang sedang makan di depan rumah orang. “Pfftt, tapi lucu juga, cara dia makan. Aku jadi pengen sate,” tatap Vina terhadap dua orang asing yang sedang makan berdua itu. “Romantis ya? Aku jadi iri sendiri.”
Vina jadi tersenyum mencibir, karena dia benar-benar menolak kesempatan bertemu sekaligus merasakan apa yang namanya cinta yang sesungguhnya.
“Pfft, apa kau anj*ing, sampai menjilat wadahnya?” ledek pria ini kepada wanita bule itu.
“Kan kau yang nyuruh aku habisin ini. Lagian enak, jadi tidak masalah jika image aku hancur, yang penting kan ada kau,”
‘Wahh! Aku iri! Gila, gila! Aku bisa dengar apa yang mereka berdua bicarakan, dan aku cukup iri dengan pasangan itu!’ Vina pun jadi menangis dalam diam.
Berkat itu juga, dia jadi sedikit kesulitan untuk mengeluarkan motornya dari area parkir.
“Sini Non, aku bantuin,” tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya menawari bantuan.
“Eh iya, makasih pak!” sedikit terkejut juga, karena imajinasinya sempat melayang, dan tiba-tiba ditawari bantuan seperti itu.
“Sepertinya dia melihat kita berdua?” tanya wanita bule ini pada temannya itu.
“Itu kan karena gara-gara kau. Jika iya ingin ikut, setidaknya simpan rambut mataharimu itu,”
“PRUTT!” wanita berambut pirang ini pun langsung tersedak sendiri. “Uhuk ..uhuk..uhuk, rambut matahari? Ini itu rambut menawan, kenapa jadi matahari?”
“Kan bersinar terang?” balasnya dengan senyuman merendahkan.
“Ya nggak gitu juga kali. Sudahlah, jangan meledekku lagi, nih, aku sudah membersihkan sisa bagianmu sampai kinclong,” memberikan tempat sate tadi kepada temannya itu, dan benar saja, itu wadah benar-benar bersih.
“Mwahahaha, ah, aku jadi ketawa. Aduh,” Vina yang tidak bisa menahan ketawanya, jadi tergelak sendiri di tengah parkiran. ‘Aku jadi tidak bisa nahan ketawaku. Kenapa mereka berdua kocak ya? Rasanya mereka pintar melawak.’ batinnya.
“K-kita sebaiknya pergi dan lakukan penyamaran yang lain.” bisik bule ini kepada rekan kerjanya itu.
“Itu kan salahmu sendiri, ya sudah, kita pergi dari sini dulu, lagian kita juga sudah menempatkan alat pelacak di motornya, jadi kita bisa pantau dengan cara yang lain,” bisiknya juga.
Karena malu alias tidak mau terbongkar kedok mereka yang merupakan seorang penjaga yang bertugas untuk menjaga Vina, mau tidak mau harus pergi dari sana lebih dulu.
_________
Malam harinya.
__ADS_1
Di salah satu rumah, terdapat cctv yang di pasang tanpa sepengetahuan orang di rumah itu sendiri.
Dari situlah, dua orang sejoli ini bisa memantau apa yang di lakukan oleh Vina.
Walaupun hal itu melanggar privasi, tapi apa boleh buat? Yang melakukannya juga adalah orang yang sempat berperan sebagai Vina untuk sementara waktu, jadi mau tidak mau harus memanfaatkan kondisi tersebut dengan sebaik mungkin.
“Hah, itu tadi hampir saja ketahuan kalau kita ada di sana untuk mengawasi wanita itu,” keluh wanita berambut pirang ini kepada temannya yang sedang duduk ngopi sambil menatap layar laptop.
“Kau sedang apa? Jangan-jangan kau mau mengintip wanita itu untuk kepentingan hasratmu sebagai pria ya?”
“Apa kau tidak bisa menjaga mulutmu? Aku bukan sedang melakukan itu,” jawab pria ini. Meskipun masih muda awal dua puluh tahunan, tapi dia sudah cukup terlatih untuk banyak hal, terutama menyamar sebagai orang biasa yang suka nongkrong layaknya remaja lainnya.
“Kalau gitu, sedang apa?” tanyanya lagi, karena penasaran wanita ini pun pergi menghampiri temannya itu dan membungkukkan tubuhnya ke depan untuk bisa melihat lebih dekat lagi layar laptop itu.
“Apa kau tidak bisa menyimpan buah dadamu dengan benar?” sindirnya, melirik ke arah belahan dada yang dimiliki oleh teman wanita disampingnya itu.
“Namanya juga Lingerie, kenapa? Apa kau suka?” tanyanya dengan tatapan datar.
“Jijik, bodoh. Kaya melon, itu membuatku terasa geli sendiri,” jawabnya dengan selamba, seolah tidak tertarik.
“Ya sudah, kalau tidak tertarik. Namanya juga berkah dari yang di atas, memangnya aku bisa apa dengan ini?” timpalnya seraya menunjuk dadanya sendiri. “Tapi ngomong-ngomong, ini mobil siapa yang kau foto? Kau tertarik ingin punya, mobil seperti ini?”
“Tidak, aku sedang melacak nomor mobilnya. Tapi ternyata itu nomor mobil palsu. Jadi ada kemungkinan besar kalau mobil yang aku lihat tadi siang itu, di dalamnya adalah orang-orang yang sedang memantau Nona Vina,”
“Tapi bisa saja kan, Tuan Delvin mengirim orang lagi untuk membantu kita?” sela wanita ini dengan cepat.
“Iya sih, coa kau tanya,” perintahnya kepada wanita itu.
“Tidak di angkat tuh? Aku coba lagi,” tapi kedua dan ketiga kalinya, dia tetap gagal menghubungi Delvin.
“Kalau begitu coba aku,” lalu orang ini gantian menghubungi Delvin dengan handphone nya sendiri.
Tapi seperti yang di dapatkan oleh teman kerjanya itu, dia pun sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari si empu itu sendiri.
“Kenapa tidak di angkat ya? Tumben sekali? Biasanya dia itu orang yang jika handphone nya getar satu kali, langsung di angkat, tapi kali ini- ada yang aneh,” ucap wanita ini, merasa ada keanehan pada Delvin itu sendiri, karena selama ini mereka berdua sama sekali tidak pernah sampai menunggu teleponnya terhubung, atau lebih tepatnya, baru beberapa detik, teleponnya langsung di angkat oleh Delvin.
Tapi kali ini, mereka berdua gagal untuk menanyakan hal penting kepada tuan mereka.
“Kau, coba cari informasi apapun, kayanya ada masalah yang sedang terjadi kepada Tuan kita.”
“Ok,”
dan mereka berdua pun berusaha keras untuk mencari tahu penyebab dari Delvin yang tidak bisa dihubungi itu.
Untuk menemukan apa yang terjadi di negeri asal mereka, mereka hanya perlu waktu kurang dari dua menit saja.
“C-coba kau lihat ini deh, ada kekacauan di paris! Waduh-waduh, bagaimana ini?” wanita ini khawatir dengan Delvin.
Tidak hanya dia saja, pria ini pun sama juga, dia merasakan cukup banyak beban saat melihat kekacauan yang ada di negara mereka berdua.
“Aku yakin pasti ada sesuatu, tapi kita bahkan sama sekali tidak bisa menghubungi siapapun di sana,” ucapnya.
Mereka berdua pun saling pandang satu sama lain.
Tapi baru juga tiga menit berlalu, tiba-tiba semua medsos yang menyiarkan berita terkini soal kerusuhan yang ada di negeri romantis itu, menghilang secara mendadak.
“Weh?! Menghilang?! Aku tidak bisa mencari berita itu lagi!” panik wanita ini.
“Sudah cukup,” menghentikan tangan milik wanita di sampingnya itu untuk tidak lagi berkutat di tab nya sendiri. “Sepertinya Tuan Delvin sedang sibuk karena urusan itu. Jadi sebaiknya kita tetap pada fokus utama untuk mengawasi Nona Vina.
Apalagi sesuai dengan informasi terakhir, kalau Veronica yang diculik oleh Abel, sudah tidak ada di sana lagi, kemungkinan besar katanya mau pergi ke sini, jadi kita tetap harus berhati-hati.” peringatnya.
“Kau benar, lagipula kita juga hanya ditugaskan untuk bekerja di sini, jadi tidak ada pilihan lain, jangan sampai karena berita tadi, membuat kita malah mengalihkan perhatian kita pada objek yang harus kita jaga itu.” jawabnya.
__ADS_1
Lalu di dalam rumah sewa itu, mereka berdua pun diam membisu sambil memikirkan fokus utama pekerjaan mereka yang tidak boleh di tunda hanya karena apa yang terjadi di negara mereka berdua.