Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
52 : Tekad Elvano


__ADS_3

Elvano menutup mulutnya, setelah dia harus melihat fakta pahit kalau pintu yang menuju ke arah ruang bawah tanah, ternyata sudah terhalang oleh puing bangunan, antara besi, pecahan dinding, serta kayu yang terbakar, juga asbes, yang intinya semua keberadaan dari puing-puing itu, berhasil membuat Elvano langsung merasa kalau dia baru saja mendapatkan jalan buntu.


Delvin yang melihat puing-puing itu benar-benar menutupi sepenuhnya pintu yang menuju ruang bawah tanah, sama-sama memasang wajah terpegun, saking terkejutnya, karena tujuan mereka berdua ternyata harus di persulit dengan puing-puing itu.


"Vina!" teriak Elvano dengan lantang, berharap kalau panggilannya itu bisa di sahut oleh Vina.


Tapi, apa yang terjadi, hanyalah suara dari letupan kecil barang-barang yang sedang di lalap api, yang menandakan kalau jika mereka berdua terus berada di sana, kemungkinan paling besar mereka berdua akan ikut terbakar juga.


"Tuan, ini mustahil untuk di bereskan dalam waktu yang singkat, kita harus keluar sebelum atapnya runtuh!" perintah Delvin mencoba membujuk Tuan muda nya untuk tidak melanjutkan misi mereka karena terlalu bahaya, apalagi sekarang mereka berada di wilayahnya Tuan Arthur, maka sudah jelas kalau Tuan Arthur akan terus menyaksikan insiden ini sampai benar-benar bangunan ini runtuh, dan membuktikan kepadanya kalau mereka berdua mati di sini.


PLAK...


Dengan wajah penuh amarah, Elvano langsung menepis dengan sangat kasar tangan Delvin yang sempat menyentuh tangannya, karena dia tidak bisa pergi dari sana sebelum bisa menyelamatkan Vina yang terjebak di ruang bawah tanah.


"Kalau aku pergi, lalu apa yang terjadi kepadanya?! Kau pasti sudah tahu dengan jelas apa yang akan terjadi, jadi jangan halangan aku!" pekik Elvano.


BRAKK...


Satu puing atap pun runtuh juga, membuat suasana di dalam sana jadi semakin tegang.


"Vina! Kau dengar aku tidak?!"teriak Vano, berharap kalau orang yang harus dia selamatkan itu benar-benar masih hidup.


Setidaknya dia bisa mendengar suaranya. Itulah yang di harapkan oleh Vano.


Tapi apa?


Setelah Vano memanggil namanya, tidak ada sahutan sama sekali, Elvano pun jadi semakin geram sendiri, ia tidak ingin harapannya harus hanyut dalam jurang keputusasaan hanya karena Vina tidak menyahut panggilannya.


"'Uhukk..uhuk.." namun, dengan tekad yang di milikinya, Vano dengan nekat langsung menerjang api itu.


Dengan bermodalkan pakaian basah tambahan yang dia bawa, Elvano langsung menyobek pakaian itu menjadi dua, dan segera membalut tangannya dengan pakaian basah itu. setelah benar-benar terbalut dengan benar, Elvano segera mengangkat puing-puing yang kiranya bisa dia singkirkan, untuk memberikan ruang agar pintu besi yang tertutup itu bisa di buka.


"Vina, tunggu aku, aku akan datang menyelamatkanmu." ucap Vano dengan sepenuh hati.


"Tuan muda-" melihat majikannya itu benar-benar sangat bertekad untuk menyelamatkan wanita itu, Delvin pun jadi merasa kalau Vina memang benar-benar sudah mengisi hati dari pria tersebut.


Itu terlihat dengan jelas dari ekspresi wajah Tuan muda nya yang begitu khawatir, cemas, dan di penuhi amarah yang tidak bisa di lampiaskan selain terus melawan kematian yang bisa saja langsung mendatanginya, karena situasi mereka yang begitu darurat.


Meskipun Delvin tetap punya perasaan takut, tapi melihat majikannya itu benar-benar punya tekad yang begitu kuat untuk menyelamatkan satu orang yang memang sudah menjadi pahlawan dari mereka berdua, Delvin pun pada akhirnya tidak bisa menolak untuk tidak membantu Tuan muda nya itu.


Sungguh, itu adalah proses yang cukup panjang, menguras waktu, tenaga, dan emosi yang penuh dengan rasa khawatir serta cemas yang mengakibatkan mereka berdua pun harus merasakan panas bagai di neraka.

__ADS_1


"Kenapa? Aku pikir kau akan pergi,"


"Tidak mungkin saya meninggalkan Tuanku sendirian di sini," sahut Delvin, sedang melempar potongan dari atap plafon ke sembarang tempat.


'Delvin-' panggilan dari dalam hatinya pun seketika menghilang setelah Delvin melanjutkan ucapannya.


"Karena jika anda mati, maka apa yang akan terjadi dengan gaji saya?" imbuh Delvin tanpa ekspresi wajah.


Mendengar ucapan dari Delvin itu, Vano tiba-tiba saja tersenyum simpul.


Di saat situasi dari mereka berdua yang sedang sangat genting, dan bisa saja mereka berdua mati bersama di tengah kobaran api itu, Delvin malah masih saja memikirkan gajiannya.


"Aku akan bayar kau empat kali lipat, jadi tugasmu tentu saja jangan biarkan kita semua mati di sini," tawar Elvano kepada Delvin.


"Tentu saja, itu kan sudah bagain dari tugas saya untuk terus menjaga anda," sahut Delvin dengan wajah penat, sampai keringat pun sebenarnya sudah mulai bercucuran.


Setelah mencoba untuk menyingkirkan puing-puing bangunan, sampai membuat tangan mereka berdua terasa sudah seperti terbakar, akhirnya pintu besi yang tadinya tidak bisa di buka, bisa terbuka, meskipun Elvano harus mendobraknya dengan salah satu kakinya itu.


BRAKK...!


"Vina! Vin! Kau ada di dalam kan?!" teriak Elvano, "Uhuk..uhuk..uhuk..." asap yang semakin tebal, apalagi asap itu terus terkurung di ruang tertutup seperti itu, Elvano dan Delvin pun merasa sangat terganggu, dan bahkan jarak pandangnya pun sudah semakin menipis dengan mata yang sudah cukup perih.


"Uhuk...uhuk..., Tuan, kita harus cepat," pinta Delvin, merasa dinding di sekitarnya sudah sepenuhnya mulai retak, dan garis retakannya pun semakin panjang dan banyak, yang menandakan kalau tempat itu sudah tidak butuh waktu yang lama lagi untuk rata dengan tanah.


Anak tangga yang akhirnya membawa mereka berdua sampai ke satu pintu yang ternyata selain di kunci, juga di gembok dengan menggunakan rantai.


Delvin mencari-cari besi yang bisa dia gunakan untuk merusak gembok itu.


BRAK.... BRAKK.....


Delvin terus mencobanya, tapi karena tenaganya terkuras dalam pertarungan dan membereskan puing-puing tadi, dia pun jadi kesulitan untuk merusak gembok itu, sampai Elvano yang sudah tidak sabaran itu, langsung mengambil senjata yang Vano bawa dan segera menembakkan semua peluru yang tersisa itu untuk menghancurkan gembok beserta knop pintu itu.


DOR....DOR....DOR...DOR...


"Kau menyuruhku untuk cepat, tapi kau bahkan tidak ingat bisa menggunakan pistol," sindir Elvano terhadap Delvin.


'Benar juga, kenapa aku melupakannya?' detik hati Delvin, merutuki dirinya sendiri yang benar-benar melupakan hal penting itu.


CRAK....


Begitu sudah rusak, dalam sekali tendang, Elvano berhasil mendobrak pintu itu sampai keduanya langsung terbuka.

__ADS_1


"Vin? Vina! Kau di mana?!" panggil Vano kepada wanita yang kemungkinan besar memang ada di dalam sana.


Dengan asap yang benar-benar sudah cukup tebal, Vano sudah cukup kesulitan untuk melihat apa yang ada di dalam, sampai salah satu kakinya sempat menabrak kayu yang tergeletak di lantai.


"Vina!" tapi Vano yang tidak mengenal putus asa, tetap melanjutkan pencariannya.


'Dia ada di mana?' Delvin pun turut untuk membantu Tuan nya mencari Vina. Dengan bantuan menggunakan senter dari handphone nya, mereka berdua pun jadi setidaknya punya sedikit penerangan untuk melihat situasi dari gudang tersebut.


Gudang yang ternyata selain karena aroma menyengat karena asap, ternyata juga terasa ada aroma busuk yang cukup kuat, dan bercampur dengan aroma aneh lain yang membuat Delvin hampir mual.


"Vina! Jika kau dengar aku, buat suara! Apapun itu, aku kesulitan melihat karena asap ini," ucap Elvano, terus gencar untuk menemukan keberadaan dari Vina. 'Vina, kemana dia? Kenapa dari tadi aku belum menemukanya?' pikir Elvano, merasa heran karena Vina belum juga ketemu.


TOK...TOK...TOK...


Mendengar suara ketukan kecil dari suatu tempat, Vano dan Delvin langsung mencari-cari asal dari ketukan pada suatu kayu.


"Tuan, ada lemari-" Delvin langsung menunjuk pada satu lemari kayu yang ada disudut ruangan di belakang Elvano jauh di jarak lima meter di belakang sana.


Tanpa membuang waktu lagi, Vano dan Delvin segera menghampiri lemari kecil tersebut.


KLEK....


Tepat setelah pintu lemari tersebut di buka, Delvin dan Elvano akhirnya bisa menemukan Vina yang sedang meringkuk terbaring di dalam lemari kecil tersebut.


"Vin-" panggil Vano dengan tatapan mata yang begitu sendu, melihat kondisi Vina yang nampak buruk, bukan dari segi penampilan, tapi tubuh yang terlihat lebih kurus.


"Tuan- sudah tidak lama lagi, ayo cepat keluar," peringat Delvin, melihat Tuan nya yang nampak sedang benar-benar memperhatikan kondisi dari Vina yang tergeletak meringkuk di dama lemari pendek dan kecil itu.


'Kau pasti sangat menderita karenaku, maaf, aku datang terlambat.' kata hati Vano seraya membuka jas miliknya, meletakkannya di aas tubuh Vina, Vano pun segera menggendong tubuh Vina yang benar-benar lebih ringan dari pada sebelumnya.


"Uhukk..uhuk.., siapa?" Vina yang terbatuk sambil bertanya siapa, kepada Vano, sontak membuat Delvin dan Vano saling pandang satu sama lain.


Namun, karena Delvin memberikan isyarat sebuah gelengan kepala sebagai kode agar tidak membuang waktu untuk bicara, karena tenaga mereka sekarang lebih berharga untuk berbicara, Vano pun memutuskan untuk terdiam, dan segera menutup wajah Vina yang nampak lemah itu.


'Vina, kau jangan membuatku khawatir dengan pertanyaan itu kenapa?' pikir Vano, tiba-tiba jadi merasa tersinggung karena ia tidak mau merasakan hal khawatir lainnya, soal pertanyaan Vina yang begitu mengejutkan tadi.


BRAKK...


Suara dari puing bangunan yang terjatuh, berhasil membuat Vano dan Delvin semakin mengkhawatirkan jalan keluar mereka yang kemungkinan besar sudah tertutup.


"Tetap jalan," perintah Vano, mendahului Delvin yang terlihat ragu untuk berjalan memimpin.

__ADS_1


'Tuan- padahal-' Delvin yang tidak ingin begitu terjerat dengan situasi dan kondisi terkini, Delvin pun menghela nafas kasar, dan segera menyusul Tuan muda nya itu.


__ADS_2