
Jauh dari kata harapan, perjalanan jauh tetap saja menjadi sebuah jalan yang cukup menyiksanya.
‘Ya Tuhan, aku sama sekali tidak bisa tahan. Aku mabuk udara cukup parah.’ kutuk Vina, dia sudah ingin muntah, tapi dia sebisa mungkin mencoba untuk bertahan dari derita muntah di dalam helikopter.
Tidak dapat di prediksi, pikiran macam apa yang dimiliki oleh Delvin ini.
Dengan alasan agar bisa cepat sampai, Delvin dengan sengaja menyewa kendaraan udara yang terbang melintasi langit kota dari jawa barat ke jawa tengah.
Tentu saja, meskipun perjalanannya jadi singkat, Vina tidak bisa berharap untuk bisa duduk tenang seperti seorang putri kerajaan, karena dia diberikan kehormatan satu kali dalam seumur hidupnya untuk merasakan menaiki helikopter.
“Tuan, anda ingin mendarat dimana?” tanya salah satu pilot kepada dua orang penumpang di belakangnya.
“Ukhh~” Vina mengernyitkan matanya. Dia ingin bisa melihat pemandangan dari atas langit dengan benar, akan tetapi rasa sakit kepala dan perutnya, tidak mendukung dirinya untuk merasakan senang.
Delvin yang tadinya duduk sambil memejamkan matanya, akhirnya membuka kelopak matanya dan melirik ke arah Vina sambil menjawab, “Mendarat di hotel Aston. Dengan begitu aku bisa sekalian reservasi kamar untuk dua malam.”
“Baik, Tuan,”
‘Hotel Aston? Berarti kalau seperti ini, agar sampai ke rumah, aku perlu waktu sekitar empat puluh menitan? Ah, lebih baik begitu ketimbang harus menarik perhatian lebih banyak orang, hanya karena aku naik kendaraan yang tidak mungkin mendarat di desaku.
Ternyata dia saja bisa memikirkan konsekuensi yang aku miliki, jika harus turun di desa langung, karena akan sangat menarik perhatian.’ Vian hanya menuruti dalam diamnya, karena satu kekhawatirannya yang selama ini Vina tahan, akhirnya tidak bisa dia kerjakan lagi.
Wajahnya yang sudah pucat pasi, menambah daya tari Vina yang benar-benar berhasil mempermalukan dirinya sendiri di tengah mereka bertiga.
“Nih, kantong kreseknya,” Delvin dengan sengaja, memberikan kantong plastik yang sangat di butuhkan oleh Vina saat ini.
Tanpa ragu, Vina merampas kresek itu dengan kasar, dan akhirnya dia pun mengeluarkan semua isi dari sarapan paginya ke dalam kantong kresek itu.
“Hueek~ Huekk~”
Dua pilot yang ada di depan langsung melihatnya dengan tatapan jijiknya.
“Maaf, aku jadi memperlihatkan sisiku yang buruk ini,” ungkap Vina.
“Itu hal yang wajar bagi orang yang mabuk udara,” kata Delvin mencoba untuk menenangkan.
__ADS_1
Vina yang merasakan sisi Delvin yang ternyata begitu perhatian kepadanya, hanya menatapnya dengan wajah sungkan.
“Delvin, apa setelah ini kau akan pulang ke negaramu?” sangat disayangkan, kalau akhirnya sekarang dia tidak bisa merasakan rasanya menikmati hari-harinya saat di paris.
Tapi, apa boleh buat ketika dia sendiri sudah membulatkan tekadnya untuk pulang.
“Tidak, aku akan disini sampai dua hari lagi sebelum aku langsung pulang ke paris. Apa sekarang kau menyesalinya, karena setelah semua ini berakhir, kau akan kembali ke rutinitas yang biasa?’
Vina awalnya tersenyum getir, saat mendengar pernyataan itu, tapi tidak lama setelah itu, dia pun memilih untuk menggelengkan kepalanya sebagai tanda dari sebuah jawaban, kalau dia sama sekali tidak menyesalinya.
“Tidak, aku pikir ini pilihan yang lebih baik untuk kita bertiga, yaitu aku, kamu, dan juga Bos mu,” sayangnya, meskipun mulutnya memang berbicara demikian, akan tetapi lain hal dengan hati, dia tetap saja merasa menyayangkan untuk bisa merasakan rasanya menjadi seorang yang kaya raya, meskipun hanya sekedar menumpang.
“Baiklah, jika memang seperti itu pilihanmu, jangan pernah menyesalinya juga. Tapi, jika kau berubah pikiran, detik ini juga kita bisa kembali ke paris, itulah yang di katakan oleh Tuan muda kepadaku untuk di sampaikan kepadamu, bagaimana?”
Vina tersenyum kecut, ternyata meskipun dia sudah berada tidak jauh dari tempat tinggalnya yang ada di desa, orang yang ada di negeri seberang, rupanya tetap saja memberikan sebuah harapan yang besar kepadanya.
“Tidak, aku akan tetap pulang, sampaikan salamku nanti jika kau menghubungi dia.
Delvin, terima kasih, karena selama ini kau sudah mau menjagaku, menyelamatkanku, sampai mau mengantarku pulang, aku benar-benar tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Walaupun aku masih trauma soal waktu itu, tapi karena aku masih di berikan waktu untuk melanjutkan hidupku, aku tetap bersyukur,"
//Kirim uang sebesar 1M ke rekeningnya Vina.//
Satu pesan itu membuat Delvin bingung, apakah sampai sebegitu banyaknya memberikan kompensasi kepada Vina?
'Sepertinya aku tidak bisa menganggu gugat keinginan Tuan. Bahkan kelihatannya tidak ada tanda-tanda kalau Tuan akan menyerah mengejar Vina.' mempertimbangkan segala hal yang berkaitan antara Tuan muda nya bersama dengan Vina, Delvin pun bingung harus bagaimana dia menghadapi Tuan muda nya yang sedang begitu bucin.
Setelah membaca pesan yang di kirim oleh Tuan muda nya, Delvin pun hanya menjawabnya dengan singkat.
Dan Helikopter itu pun terus bergerak menuju tempat tujuan.
_____________
Di dalam kantornya Elvano, dia kini sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya.
Sambil meletakkan lengan tangan kanannya di atas sepasang matanya, Elvano pun terus saja menghela nafas.
__ADS_1
"Hahh~ Baru juga dua puluh hari, tapi aku- konyolnya aku sudah merindukan wanita itu.
Apa yang dikatakan oleh Kakak memang benar, kalau seleraku memang berubah.
Tapi tetap saja, aku juga tidak puas hati jika aku membanding-bandingkan penampilannya Vina dengan Veronica yang begitu bertolak belakang.
Tapi aku harus tahan dulu, aku harus menyelesaikan urusan pekerjaanku ini terlebih dahulu, baru aku mengurus Vina.
Yang paling penting adalah mengawasi agar dia tidak di rebut oleh pria lain lebih dulu." Elvano bergumam sendiri. Dia sudah lebih dulu membulatkan tekadnya untuk membereskan pekerjannya, barulah dia mengurus soal percintaannya.
Karena jika dia menjalankan dua-duanya, yang ada dia justru akan kewalahan sendiri, apalagi jik di tambah kalau dia punya keadaan yang mendesak dan membuatnya harus turun tangan ke lapangan, dia mana mungkin meninggalkan Vina sendirian di tengah-tengah misi pengejaran cintanya?
'Delvin kapan pulang ya? Ini sudah setengah bulan lebih, tapi dia belum ada kabar akan pulang. Bahkan terakhir kali aku mengirim pesan, kemarin malam. Anak ini, dia makin bandel saja.' gerutu Elvano dalam hatinya.
Tok... Tok... Tok..
"Tuan, saya membawakan makanan yang anda pesan," kata salah satu anak buahnya yang bertugas untuk mengantar makanan dari Tuan majikannya itu.
"Masuk," ketus Elvano.
Dengan perlahan, anak buah Elvano pun berjalan masuk ke dalam kantornya.
Langkahnya begitu teratur, dan yang paling menarik perhatiannya adalah ketika kedua tangannya itu ternyata memegang nampan membawa semangkuk bakso dan juga air es teh manis juga air mineral.
'Kira-kira sejak kapan, selera Tuan muda berubah seperti ini ya? Karena Tuan muda tiba-tiba ingin makan bakso, mau tidak mau ketiga koki langsung ketar ketir mencari resep bakso.
Apakah ini ada hubungannya dengan rumor soal wanita simpanan Tuan muda?
Hm, kayanya semenjak Tuan muda kembali bekerja, ada banyak perubahan yang terjadi pada Tuan muda.' walaupun penasaran, tapi karena dia hanya bertugas untuk mengantarkan makanan saja kepada Bos nya itu, dia pun hanya bisa bertugas sambil mengamatinya saja.
"Apa itu bakso yang aku inginkan?" tanya Elvano.
"Iya. Maaf jika cukup lama, karena para Koki juga baru pertama kali membuatnya, jadi butuh banyak proses, agar rasanya bisa sesuai dengan lidah anda," jawabnya dengan jelas.
Setelah anak buahnya itu meletakkan semangkuk baksonya di atas meja kerja nya, Elvano pun menatap dengan puas tampilan bakso yang akan dia makan dengan bakso yang pernah dia makan bersama dengan Vina.
__ADS_1
Aromanya sama, mungkin karena isinya berbeda, karena di buat agar bisa lebih penuh, tapi itu tidak menyulutkan rasa rindunya terhadap makana lokal dari Indonesia.