Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Strategi Dalam Diamnya


__ADS_3

Meskipun dia berada di dalam rumah yang bisa di anggap sebagai apertemen, tentu saja disana tetap ada cctv yang terpasang untuk memantau keadaan yang ada di dalam rumahnya untuk berjaga-jaga, sebaai hasilnya Veronica sama sekali tidak bisa bergerak bebas. 


Ada banyak mata yang mengawasi, dan Abel cukup terhibur melihat ekspresi wajah veronica yang tampak tertekan. 


“Hanya, Abel,” jawabnya dengan selamba, karena dia memang tidak tahu apapun soal Abel apalagi nama panjang yang di miliki Abel, atau bahkan identitas yang sebenarnya, dia sama sekali tidak punya informasi untuk itu. 


“Hahaha, kau pasti lelah karena aktivitasmu selama ini kurang mendukung dengan kebiasaanmu. Tapi aku akan mengatakannya, tidak lama lagi …” tenang, dan tidak ada percakapan lainnya setelah itu. 


Veronica yang dijadikan sebagai sandera pun memilih untuk diam ketimbang bertanya banyak hal, apalgi kedua koki yang dari tadi sibuk di dapur, kini sudah menyelesaikan misinya untuk membuat sarapan makan sore untuk Tuan nya itu. 


“Tuan, menu makan kali ini sudah selesai, dengan hidangan pencuci mulutnya sekalian, kami permisi lebih dulu,” kata koki ini sebelum pergi. 


Benar-benar, tidak ada celah untuk minta ini dan itu, atau bahkan sekedar sedikit meluangkan waktu untuk bicara sejenak dengan orang lain, Veronica hanya bisa dam dan mengikuti jalan permainan yang di kendalikan oleh Abel ini. 


“Aku harap kau suka. Kau tidak pemilih kan?” tanya Abel, sedikit basa-basi soal makanan yang baru saja dihidangkan oleh koki terbaiknya. 


“Paprika dan brokoli,” kata Veronica, tidak suka dengan dua sayur itu. 


Tapi Abel justru tersenyum miring, sambil mengangkat garpunya, dia menancapkan daging ayam yang dipotong kecil itu, “Aku sarankan kau menhabiskan semua mkanan yang ada di sini. Itu kewajibanmu, jangan sia-siakan kebaikanku ini,” perintah Abel sambil menunjukkan garpu itu ke arah depan, sebelum dia akhirnya memakannya dengan lahap sendirian. “Terlepas kau punya alergi atau tidak, kau tidak punya hak untuk memilih, setiap makana adalah uang yang aku keluarkan untuk menghidupimu, jadi jangan harap untuk menolaknya,”


Veronica menggertakkan giginya, dia sama sekali tidak suka dengan posisinya itu. 


Meskipun dari luar dia tampak diperhatikan dengan baik, meskipun dia dijadikan seorang sandera, tapi itu hanyalah cangkang luarnya saja. 


Seperti sekarang, apa yang tidak dia sukai, harus di paksa untuk menyukainya. Pikiran itu seperti sebagai salah satu tuntutan yang membuat dirinya tersiksa juga, waluapun sebenarnya itu tidak lebih buruk dari apa yang sudah di alami oleh Vina sebelumnya. 


“Ayo makan, kenapa kau idam saja disitu?” 

__ADS_1


“Iya, akan aku makan,” meskipun setiap kali dia memakan paprika dan brokoli membuatnya mual, tapi dia pun tidak berani untuk memuntahkannya, karen setiap tatapan yang diberikan oleh Abel terhadapnya, begitu cukup menusuk. ‘Tidak enak sekali, padahal jelas-jelas dia tahu kalau aku tidak bisa makan paprika dan brokoli, tapi dia benar-benar memaksaku. Seandainya kondisi dari perekonimian keluargaku tidak hancur, aku tidak mungkin di culik seperti ini. Hah, bahkan sekarang Ayah dipenjara, sedangkan Ibu malah milih untuk kabur, kehidupanku sungguh hancur karena orang itu.’ 


Seperti dalam tekanan, dia sungguh sudah membenci kehidupannya sendiri, sebab keluarganya sudah benar-benar hancur. 


Melihat wajah tersiksa yang diperlihatkan oleh Veronica kepada Abel, dalam diam Abel pun tersenyum puas dengan kondisi dari wanita yang ada di depannya itu. 


________


Sedangkan di sisi lain, di ruang CCTV. 


“Hoammh … aku benar-benar ngantuk, sebentar lagi jam setengah lima, lebih baik aku mandi dulu deh.” ucap anak buah Abel ini kepada dirinya sendiri. 


Setelah lama duduk dan memantau keadaan dari CCTV yang ada di segala penjuru dengan sekedar menatap dari layar monitor, dia pun beranjak dari temapt duduknya dan berbalik.


“Hei kau, sebentar lagi ada perganitan shift, aku mau pergi mandi dan makan dulu, kau gantikan aku. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera hubungi aku,” perintah pria ini kepada rekan kerjanya yang sama-sama duduk dan bekerja di situ. 


“Bagus, jika ada orang yang bertanya aku ada dimana, katakan aku sedang BAB,” tuntutnya.


“Iya, pergi saja sana, aku akan mengurusnya sendiri,” pungkas pria ini kepada rekan kerjanya yang hendak melalaikan tugasnya lebih dulu. 


“Hm, baguslah,” karena tidak ada yang perlu di pikirkan lagi, orang ini pun segera pergi dari sana, meninggalkan satu orang temannya untuk menggantikannya memantau monitor. 


“ … “ Diam membisu, tatapan matanya terus tertuju pada rekaman live yang diperlihatkan oleh Abel dan juga Veronica. 


Semua aktivitas diseluruh gedung ada di situ, tapi dia lebih fokus pada dua orang yang sedang makan bersama itu. 


‘Apakah Tuan Abel menyukai wanita seperti itu?’ gumamnya. ‘Tidak ada yang mencurigakan, bahkan sama setelah lebih dari satu minggu mengawasinya, tidak ada pergerakan apapun dari mereka berdua. Apakah aku harus melaporkan ini kepada Tuan muda kedua?’ pikirnya. 

__ADS_1


Namun, tidak ada yang tahu, kalau sesuatu apa yang dia lihat bukan berarti adalah kenyataan. 


Dia melewatkan bagian terpenting dari segala strategi yang Abel miliki. 


Sebab, ketika pria itu hanya terfokus pada keberadaan dari Abel dan Veronica, di sisi lain di ruang parkir bawah tanah, seseorang berpakaian serba hitam lengkap dengan masker yang menutupi separuh wajahnya, berjalan menghampiri sebuah truk sampah bersama dengan satu orang supir yang baru saja masuk ke dalam truk juga. 


“Kita akan pergi kemana?”  tanyanya perempuan itu dengan gaya rambut pendeknya yang membuatnya tampak seperti laki-laki. 


Sedangkan pria yang akan menjadi supir, hanya menoleh sesaat ke arah perempuan tersebut dan menjawab dengan singkat, “Bertemu dengan kenalan,”


Hanya mendengar jawabannya yang begitu singkat, lantas perempuan itu pun diam dengan tatapan malasnya. 


“Hei, kalau kalian sudah selesai mengangkut sampah, cepatlah pergi! Ada beberapa truk lain yang mau masuk!” teriak salah satu penjaga yang berjaga di area pintu masuk. 


Diberi peringatan dengan jelas oleh orang tersebut, supir yang bertugas membawa truk sampah ini pun berteriak, “Iya! Jangan bawel!”


“Makannya cepat, biar aku tidak bawel,” kata pria ini terhadap petugas kebersihan itu. 


Karena sedang ditunggu oleh antrian truk lainnya yang membawa stock kebutuhan dari apartemen tersebut, truk sampah itu pun segera pergi keluar dari sana meninggalkan gedung itu. 


“Apa ini akan baik-baik saja?” tanyanya dengan raut khawatir, sebab ada beberapa orang yang sempat melirik ke arahnya. 


Supir itu menjawab apa adanya, “Apa kau meragukan rencana dari Tuan Abel?”


Perempuan yang tidak lain adalah Veronica yang sedang menyamar itu segera menoleh dan berkata, “Hanya aneh saja, kenapa aku harus menyamar, jika tujuanku ujung-ujungnya hanya keluar dari gedung ini?”


“Jika kau membutuhkan jawaban, mending kau tanyakan pada Tuan Abel. Tapi kau bisa beranya itu nanti saat kau sudah ada di pesawat. Jadi aku peringatkan, jangan tanya apapun lagi kepadaku, aku benci orang yang banyak tanya,” papar pria ini, dan membuat komunikasi diantara mereka berdua pun terhenti, karena Veronica sendiri tidak bisa leluasa melakukan apa yang dia inginkan, saat dia bahkan masih dalam posisi di sandera oleh Abel. 

__ADS_1


‘Sebenarnya kenapa? Jika Abel menyuruhku untuk turun tangan untuk membuatku balas dendam sendiri kepada wanita yang sudah merebut Elvano dariku, kenapa aku harus menyamar seperti ini? Bukannya ini masih ada di wilayahnya?’ pikir Veronica. Dia yang sama sekali tidak punya pikiran luas, hanya bisa bergumam sendiri dalam diamnya, karena takut-takut dia akan dimarahi oleh si tukang pengangkut sampah di sebelahnya itu. 


__ADS_2