
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa nomornya tidak aktif?" Vano yang diam-diam sedang berada di toilet untuk sekedar menyendiri sambil mencuri-curi waktu untuk menghubungi Vina, hanya berakhir dengan desisan kesal, karena nomor yang dia hubungi itu sama sekali tidak aktif.
Apa yang sebenarnya terjadi? Elvano sudah mencobanya beberapa kali, tapi bahkan sampai detik ini, dia pun sama sekali tidak mendapatkan apa yang sudah dia harapkan beberapa hari ini.
"Tuan, saya tahu kalau anda ada di dalam, jadi cepat keluar dan segera sarapan," pinta Delvin terhadap Elvano yang sudah di lingkupi dengan bad mood yang benar-benar cukup buruk.
Bahkan di saat Delvin mengatakan waktunya sarapan, Elvano pun sudah tidak begitu berselera makan.
KLEK....
Elvano pun keluar dari dalam kamar mandi dengan ekspresi wajahnya yang benar-benar dingin.
Delvin yang melihat Tuan mudanya keluar dari dalam toilet, justru memasang wajah bingung, selain terus memperhatikan dengan cukup seksama kalau di salah satu tangan majikannya itu tengah memegang handphone, yang entah dari mana bisa mendapatkan handphone itu, padahal Delvin menyita handphone majikannya itu untuk sementara waktu.
"Itu handphone siapa?" tanya Delvin, penasaran dengan handphone siapa yang Tuan muda nya itu gunakan?
"Tetangga," jawab Vano dengan sangat ketus. Meskipun jujur, dia tetap saja mengekspreksikan perasaannya dengan begitu baik, sampai Delvin sendiri cukup terganggu dengan tatapan mata majikannya yang begitu tajam itu, seolah mata itu akan menangkap semua mangsanya dalam detik itu juga.
Itulah, sikap yang Elvano sembunyikan jika sudah dalam kondisi suasana hati yang buruk.
Meskipun Tuan muda nya itu hilang ingatan, tapi yang namanya kebiasaan, sama sekali tidak bisa di rubah, sebab tubuhnya sudah hafal dengan benar perasaan apa yang harus dan di sikapi di waktu-waktu tertentu.
Berbeda dengan ingatan, yang bisa saja pulih tapi juga bisa hilang ingatan untuk selamanya, itu semua tidak akan bisa mempengaruhi kebiasaan dari tubuh Tuan muda.
"Jadi apa anda sudah selesai menelepon?" tanyanya lagi.
Dengan langkah cepat dan lebar, Elvano langsung melempar handphone itu ke sofa dan segera duduk dengan perasaannya yang cukup kesal itu.
BRUUKK...
__ADS_1
"Dia tidak bisa aku hubungi," kernyit Elvano. Mengingat kalau Vani tidak bisa di hubungi sama sekali, Vano pun jadi merasa cemas apa yang sebenarnya yang sudah terjadi kepada Vina?
Apakah dia baik-baik saja?
Atau banyak pekerjaan, makannya handphone mati dan lupa di cas?
Banyak sekali tebakan-tebakan yang berkeliaran di dalam kepalanya, membuat Vano spontan jadi memperlihatkan ekspresi frustasinya.
"Ini, minum dulu, baru anda bisa ceritakan kepada saya, apa yang membuat anda begitu kesal sampai seperti ini," tawar Delvin seraya memberikan layanan terbaik kepada Vano.
Elvano pun langsung meminum air itu sampai tandas, barulah dia pun angkat biara lagi : "Vina, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Coba kau hubungi, mungkin saja dari nomormu, nomor dia akan kembali aktif, atau apapun itu, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi." perintah Vano kepada Delvin, satu-satunya yang Vano anggap paling dia percayai, walaupun tidak sepenuhnya dia akan percaya dengan apapun yang keluar dari mulutnya Delvin, karena mulut itu banyak daya tipunya.
Tapi, meskipun begitu, Delvin pun mengiyakan perintah dari Tuannya untuk menelepon Ashera dengan handphone Delvin sendiri.
Hanya saja, apa yang di dapatkan oleh majikannya juga akan berdampak pada anak buahnya juga, sebab entah berapa kali Delvin mencobanya, sama sekali tidak bisa di hubungi juga.
Delvin menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda tidak bisa. "Tapi jika anda benar-benar ingin mencari tahu apa yang sedang di lakukan oleh Vina, saya bisa membantu anda dengan kemampuan yang saya miliki ini." jawab Delvin.
"Baik, saya akan usahakan dalam beberapa jam ke depan, apa yang anda minta saat ini bisa saya dapatkan dengan cepat." jawab Delvin dengan percaya dirinya yang cukup tinggi itu.
"Baguslah kalau seperti itu, nih, kembalikan pada orang yang di rawat di kamar sebelah." Vano pun memberikan perintahnya lagi kepada Delvin untuk segera mengembalikan hanphone milik tetangganya.
Delvin pun mengiyakan perintah mutlak itu dengan senang hati.
____________
Di salah satu gudang yang begitu gelap, pengap, dingin, lembab, serta sepi.
Keheningan yang cukup hakiki, karena tidak ada satu pun yang membuat berisik di tempat yang hanya dalam sekali lihat saja, akan terlihat angker.
__ADS_1
'Vano, Vano, kenapa di terus saja memanggil nama Vano? Aku tidak tahu apa yang dia katakan selain nama Elvano yang terus di panggil berulang kali.
Kelihatannya dia marah, kesal, ingin baku hantam dengan Vano kah?
Apa ini ada hubungannya dengan Vano yang aku temukan dalam kondisi terluka parah seperti itu?
Makannya, mereka pun menculikku, berharap kala aku tahu mereka pergi kemana.' pikir Vina dalam hati.
Ah, jika di katakan hati, hati sudah lelah, tapi yang lebih lelah itu adalah mentalnya yang terus saja di uji dengan beringasnya pria asing yang bahkan Vina sendiri tidak tahu apapun, apa pun yang mereka bicarakan, Vina benar-benar tidak mengerti sama sekali.
Dan akibatnya, Vina yang hanya bisa mengerang sakit, dan menggelengkan kepala serta bicara dengan bahasanya sendiri, dia pun berakhir seperti akan masuk ke neraka.
Di siksa, di pukul, dibentaki, tampar, jambak, apapun itu, sampai saking stressnya, rambutnya pun jadi bertambah rontok.
'Sebenarnya aku salah apa? Sampai aku mendapatkan perlakukan seperti ini dari mereka? Padahal jika mereka memang ingin mencari Vano, dia seharusnya meretas sistem semua informasi dan sistem cctv.
Tapi aku tidak berharap juga kalau Elvano sebaik itu harus berhadapan dengan musuh seperti dia.
Yah, tampan sih, tapi sifatnya aku tidak suka. Ini kejam, apa aku bisa bertahan di sini?Kira-kira bagaimana dengan kondisi kedua orang tuaku ya? Pasti mereka sangat khawatir denganku, karena aku tiba-tiba saja menghilang.' lelah dalam fisik serta pikiran, Vina pun perlahan memejamkan matanya.
Banyak luka lebam yang di dapatkannya.
'Sakit, lapar, kalau memang aku mati, lebih baik buat aku mati lebih cepat. Itu lebih baik dari pada terus tersiksa seperti ini.
Walaupun, sepertinya aku di sini juga untuk di gunakan sebagai umpan Elvano, agar dia keluar dari persembunyiannya?
Hahh~ Nasib, aku lelah, aku tidak bisa bergerak lagi. Apa ada harapan agar aku bisa keluar dari sini?' pikirnya lagi.
Vina, dia pun benar-benar di sana sendirian. Dengan bernafas saja sudah cukup menyiksa, apalagi oksigen yang seharusnya di gunakan sebagai dirinya bernafas, tapi malah punya aroma yang cukup bau, bertambahlah menderita Vina di sana.
__ADS_1
"Vano," lirih Vina, sebelum dia tidak sadarkan diri di dalam gudang tersebut.