
"Artinya itu rezekimu," kata Vano, telapan tangannya mengusap ujung kepalanya Vina dengan gemas, sebab seperti yang diperkirakan, kalau wanita yang baru saja bangun tidur, jelas akan nampak seperti singa, dan itu benar-benar terjadi kepada Vina.
"Tapi aku merasa tidak nak saja, uang dua puluh juta itu bagiku bukalah uang yang sedikit," gerutu Vina, dia masih saja memandangi layar handphone nya yang memperlihatkan nominal digit dari uang yang baru saja masuk itu, benar-benar cukup besar.
"Sudah tidak ada waktu lagi, sekarang sudah waktunya berangkat," kata Delvin, memberitahu Tuan majikannya itu peringatan, kalau jam untuk pergi ke bandara sudah tidak banyak.
Vano yang mendengar hal tersebut, hanya tersenyum kecut, karena ia harus melihat wajah Vina yang nampak sedih itu. "Baiklah, Vina, aku sudah harus pergi, jaga dirimu baik-baik,"
"Iya, aku juga ingin mengucapkan terima kasih, karena orang luar seperti kalian bisa mau mengajakku bicara. Bagiku ini pertama kalinya untukku, dan mau berteman denganku, aku cukup senang. Aku aneh kan?" kata Vina dengan risau, takut di tertawakan karena tingkahnya yang super polos itu.
"Apanya yang aneh? Dengar, kalau kau rindu hubungi saja kita, tidak usah sungkan." balas Vano.
Vano pun kemudian menutup kembali kotak kecil itu dan meletakkannya kedalam tas, karena ia sementara waktu tidak akan memakainya, karena jika dirinya memakai cincin itu, maka itu sama aja sedang memperlihatkan jati dirinya kepada semua orang.
Sedangkan kondisinya saat ini, dirinya saja belum benar-benar pulih dari luka yang dia dapatkan itu. Maka dari itu, dia pun harus menjaga dirinya dengan baik lebih dulu sampai benar-benar sembuh, dan bersiap untuk menghadapi kemungkinan besar dari musuh yang harus ia hadapi.
Sekalipun Elvano memang dalam posisi ingatannya menghilang, akan tetapi dia harus tetap percaya, sekaligus mewaspadai apa yang ada di sekitarnya, sesuai saran dari wanita yang akan dia tinggal itu.
_________
Hari-hari yang biasanya dia lewati dengan kebahagiaan, sebab dia mendapatkan teman laki-laki dari luar negeri yang tampan, mapan, dan enak untuk dia pandang setiap hari, kini harus dia kubur dengan paksa.
Kepergian dari Elvano membuat hari-harinya kembali seperti biasa.
Seperti halnya saat ini, sekarang dia kembali sendirian, menatap kosong pintu rumah yang tertutup.
"Aku ingin menghubunginya, tapi aku takut kalau aku akan mengganggu pekerjaannya," gumam Vina sendirian di ruang tamu sambil duduk memandang handphone nya juga yang sengaja dia letakkan di atas mejanya.
Dari tadi dia terus termenung di sana sendirian.
Apakah dia tidak punya teman?
Ada, hanya saja teman-temannya itu tergolong sudah menjadi seorang Ibu rumah tangga, ataupun sedang bekerja di luar kota. Maja dari itu, dia pun sama sekali tidak bisa bertemu dengan teman-temannya di saat masa-masa sekolah dulu.
"Sudah dua hari dia pergi, tapi kenapa rasanya sudah seperti satu tahun, ya?" gerutu Vina sekali lagi.
__ADS_1
Semua ingatan dari dirinya pertama kali bertemu dengan Vano, merawat lukanya sampai perlahan sedikit sembuh, makan bersama dengannya, dan apalagi saat jalan-jalan bersama. Dari semua itu, tidak ada satu pun yang terlupakan, karena pesona dari senyuman milik Elvano itu terus saja terngiang di dalam kepalanya.
DRRTT.....
DRRTT.....
"Eh?" matanya Vina membulat saat dia melihat ada nomor yang sedang menghubunginya, dan nomor itu adalah nomor asing dari luar negeri? 'Bukannya aku hanya punya satu nomor dari luar, dan itu milik Delvin? Jika seperti itu, ini nomor milik siapa?' pikirnya.
Handphone nya terus berdering, karena dia sempat tidak mengangkatnya satu kali.
Vina awalnya ragu dengan nomor itu, tapi karena terlihat terus menghubunginya tanpa henti, sedangkan Vina sendiri sampai menganggapnya kalau itu bisa saja nomornya Vano, dengan perasaan cemas, sampai membuat jantungnya berdebar, Vina pun dengan terpaksa, mengangkat telepon tersebut.
"Halo?" tanya Vina untuk pertama kalinya. "Ini siapa ya?" dengan cerobohnya, dia bertanya dengan menggunakan bahasa indonesia.
Alih-alih kalau si penelepon itu tidak paham dengan apa yang di tanyakan, dia justru berhasil mendapatkan respon. -"Kenapa kau tidak menghubungi nomornya Delvin?"-
DEG....
Vina yang cukup terkejut dengan suara yang baru saja dia dengar dari speaker handphone nya, refleks Vina letakkan di atas sofa dan menatapnya dengan tatapan matanya yang cukup terkejut.
'B-bagaimana dia punya suara yang begitu bagus? Meskipun dia menghubungiku lewat telepon, tapi ini! Suaranya bahkan masih saja keren dari suara aslinya,' pikir Vina, masih kagum dengan suara milik Vano yang baru saja menyapa gendang telinganya.
-"Vina? Kenapa kau diam saja? Apa kau bahkan tidak mengenali suaraku?"- tanya Vano lagi, penasaran.
Karena suara milik Vano kembali terdengar, Vina dengan buru-buru langsung mengambil handphone nya dan meletakkannya di samping wajahnya, mendengarkan suaranya dengan cukup seksama, lalu menjawab : "A-aku hanya terkejut saja, aku pikir ini nomor siapa," jawab Vina dengan perasaan yang benar-benar cukup gugup.
-"Ternyata begitu? Tapi sampai dua hari ini tidak menghubungiku lebih dulu, jangan-jangan kau memang sama sekali tidak rindu ya? Apa karena pekerjaanmu yang banyak itu, kau sampai melupakanku?"-
Deretan pertanyaan itu terus tertuju untuk Vina, sampai Vina yang merasa kegirangan mendengar suara milik seorang pria yang kini sedang meneleponnya, dia jadi kehilangan kata-katanya untuk sesaat.
"T-tidak, bukan seperti itu, aku hanya ragu takut mengganggumu, dan- dan...aku hanya terkejut saja, ternyata kau yang meneleponku," jawab Vina, "Tapi aku senang, apa kau baik-baik saja di sana?" tanya Vina. Walaupun saat ini jantungnya itu benar-benar cukup berdebar, tapi dia tetap senang karena bisa bicara dengan orang itu lagi, meskipun harus lewat telepon.
_______________
Sebagai salah satu rumah sakit terbaik di dunia, dan salah satunya adalah rumah sakit Asan yang terletak di kota Seoul, Korea Selatan, Elvano pun di rawat di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Hal ini di akibatkan dari banyak luka yang harus segera di rawat, maka keputusan dari Delvin untuk membawa Tuan majikannya ke sana adalah pilihan yang paling bagus.
Tentu saja mereka berdua datang ke sana juga bukan karena alasan untuk mendapatkan perawatan terbaik dari dokter terbaik dari rumah sakit Asan, tetapi juga sebagai tempat dimana mereka berdua harus bersembunyi terlebih dahulu.
Karena sekarang masih bulan mei, cuaca dari kota Seoul pun masih cukup bagus, dan masih musim semi, hal itu pun cocok untuk membuat mereka berdua setidaknya bersantai sekaligus bersiap terlebih dahulu sebelum rutinitas pekerjaan mereka yang sebenarnya.
Di gedung rumah sakit Asan, tepatnya di lantai delapan, dengan bangsal 8 nomor 807, sebuah kamar inap VVIP, di sana sekarang sudah di huni oleh Elvano yang baru saja mengganti pakaiannya dengan pakaian medis.
Tentu saja, tanpa kehilangan dari rasa sepinya, dia memutuskan untuk menelepon Elvina yang ada di Indonesia untuk menghilangkan satu jenuh di dalam kamar yang ia huni sendirian itu.
Dari pada kamar pasien, itu justru terlihat seperti hotel.
"Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau sebenarnya sedang berdebar karena aku tiba-tiba meneleponmu?"
-"A-apa suara jantungku terdengar olehmu?"- tanya Vina saat itu juga.
"Pfftt~ Aku bisa mendengarnya tiga kali lipat lebih jelas dari pada kau yang memiliki jantung, aku harap kau tidak kenapa-kenapa karena aku membuat jantungmu berdegup kencang, ya~" oceh Vano.
"Tuan, saya datang untuk me-"
"Haha~ Aku terdengar seperti sedang menggodamu ya? Bisa tahan tidak dengan godaanku hmm?
-"Tidak! Jangan menggodaku lagi, atau akau akan mendapatkan serang-"-
"Shhttt~ Jangan bicara yang bukan-bukan. Kau kan pernah bilang, kalau ucapan itu doa, jadi sebaiknya kau perhatikan bicaramu itu, paham?" sela Vano terhadap ucapan Vina yang sedang menggebu-gebu tadi.
"Tuan Delvin, apa Tuan Elvano memang pada dasarnya bisa tertawa seperti itu?" tanya seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai dokter ini, dan dia masuk kedalam kamar inap milik Elvano karena ingin melakukan pemeriksaan pertama lebih dahulu, agar tahu apa saja yang harus di lakukan oleh dirinya juga rekan-rekannya, supaya bisa membuat Tuan yang akan dia rawat itu bisa sembuh dengan cepat.
Delvin yang baru saja masuk setelah dokter tersebut, langsung menjawab : "Tuan memang pada dasarnya seperti itu, apalagi karena sempat terdampar di negeri orang dan di selamatkan oleh seorang wanita, rasanya Tuan akan lebih aktif lagi untuk tertawa dengan wanita tersebut." jelasnya dengan sedikit panjang dan lebar.
"Tuan anda memang unik ya? Dari luar saya pikir Tuan anda itu orang yang dingin, jadi saya pikir beliau adalah orang yang sedikit suli untuk di ajak komunikasi," ungkap dokter ini.
"Oh, aku mau di Medical Check Up dulu, akan aku hubungi nanti saat ada waktu lagi," ucap Vano, dan setelah itu Vano pun memutuskan panggilan tersebut. "Hah~ Dia memang lucu ya? Hanya dengan kata-kata saja, langsung tergoda seperti itu," ucap Vano kepada mereka berdua.
Tapi baik itu Delvin dan dokter tersebut, mereka berdua hanya memilih diam sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ayo, aku mau Medical Check Up ku bisa cepat selesai," kata Delvin, dengan semangatnya, dia pun pergi duduk di atas tempat tidur pasien, karena hendak di lakukan langkah pertama lebih dulu.