
Untuk beberapa alasan, Vina berada di jakarta lebih lama dari pada yang seharusnya.
“Kapan kita pulang?” Vina yang baru saja keluar untuk mencari udara segar, begitu dia masuk ke dalam kamar, dia sudah melihat Delvin baru saja memesan makanan.
Delvin yang kala itu hendak mencuci tangannya lebih dulu, menyaksikan wajah penasaran dari Vina yang begitu tidak sabaran untuk segera pulang.
“Apa tanganmu sudah lebih baikkan?” tanyanya.
“Masih sedikit sakit, tapi ini sudah lebih baik ketimbang seminggu yang lalu. Aku juga sudah bisa sedikit menggerakkan tanganku,” jawabnya.
“Aku baru saja menghubungi Tuan muda, dia memilih untuk membiarkanmu disini lebih dulu sampai gips di tanganmu itu dilepas. Jadi kita hari ini aku akan membawamu ke rumah sakit untuk periksa,” selesai mencuci tangan, Delvin pergi ke meja makannya dan segera menyuruh Vina untuk ikut makan juga.
‘Elvano yang mengatakan itu? Berarti memang sudah sampai disini saja ya? Walaupun dia kelihatan perhatian, bukan berarti dia memperhatikanku. Hah, aku tidak mau memikirkannya lagi.
Kalau aku terus memikirkannya, aku akan terus gagal move on. Lagian karena ini masalah yang harus diselesaikan oleh Delvin dan Elvano, karena membuatku seperti ini, mulai hari ini aku tidak akan sungkan dengan apapun yang mereka tawarkan kepadaku maupun apa yang aku inginkan.
Buktinya, aku jadi punya handphone baru. Tentu saja, untuk menghindari aku tiba-tiba rindu dengan orang itu, aku tidak pernah meminta nomornya kepada Delvin. Rencana bagus, dari pada aku terjerat dalam perasaan yang tidak menguntungkan, lebih bagus untuk melakukan apapun yang aku inginkan.’ setelah berpikir demikian, Vina pun ikut sarapan pagi bersama dengan Delvin.
Untuk sesaat, dia benar-benar menikmati makanan tersebut dengan begitu khidmat.
Ada daging ayam, sapi yang dibuat menjadi steak, pasta ,yang sering dia lihat di tv, Ratatouille yang merupakan hidangan paris juga ada di situ, dan dari pada itu semua adalah ketika dia melihat ada satu teko penuh dengan air kelapa!
"Delvin, kau yang memesan air kelapa?" tanyanya.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Delvin balik, padahal dia hampir memakan potongan ayam yang pertama ke dalam mulutnya, tapi terpaksa di tunda karena Vina malah mengajaknya bicara seperti itu.
"Aku pikir kalau kau memesannya lagi. Aku suka dengan air kelapa, jadi kemungkinan satu teko ini justru akan kurang," jawab Vina.
"Baiklah, setidaknya buktikan dulu, apakah akan habis dan ingin lagi, atau bahkan tersisa banyak," Delvin yang sudah tidak mau tahu lagi dengan apa yang ingin di katakan oleh Vina ini, langsung memutuskan perbincangan diantara mereka berdua dengan di gantikan oleh suara peralatan makan yang saling beradu.
'Ya ampun, ini sangat lembut sekali! Empuk, dan mudah untuk di kunyah, serta rasa dari rempah yang begitu kuat, membuatku ingin makan sekali lahap!' dan benar saja, Vina yang tidak tahan dengan rasa dari daging ayam crispy itu, langsung dia potong jadi dua, menancapkan nya ke garpu, lalu secara berantakan, dia langsung memakannya dalam satu gigitan paling besar. "Nyam! Hmm! Enak, ini uenak!"
__ADS_1
"Telan dulu baru bicara," memberikan peringatan penuh kepada wanita yang terlihat bar-bar itu.
"Hmm! Hm!" Vina mengangguk, tapi ekspresi wajahnya yang begitu menikmati potongan ayam yang hanya berisi daging saja, membuat Delvin sedikit tercengang.
Padahal dia dengan sopan memotongnya jadi beberapa bagian, tapi tidak dengan wanita yang satu itu.
Kerakusan, tamak, adalah wujud dari diri Vina saat ini yang terlihat begitu kelaparan, di balik ekspresi wajahnya yang sebenarnya sangat menikmati setiap gigitan yang ada.
"Sepertinya kau lebih suka daging ayam ya?" tanya Delvin.
"Ya, ini enak, daging sapi juga enak, tapi jika terlalu banyak makan daging sapi dalam satu proses kali makan, bukannya tidak baik untuk tubuh?"
"Kenapa kau bicara seolah-olah kau tipe orang yang memperhatikan kondisi tubuhmu? Lihat itu, dari atas, sampai bawah, kau begitu kurus kering," Delvin menjelaskan sambil menunjuk wajah Vina yang sedang menyimak dengan begitu seksama.
"Ya, aku akui itu. Yang penting aku kan sehat," jawabnya dengan cepat.
Itu adalah pemikiran yang cukup simpel untuk tidak begitu memikirkan kondisi tubuhnya yang begit berbeda dengan wanita-wanita di luar sana yang mendambakan kesan seksi dan juga berisi.
Saat mengatakan itu di dalam pikirannya Delvin, Delvin spontan jadi melihat ke arah dadanya Vina yang lebih ke tampak lebih tidak punya buah dada.
"Aku tahu kok, punyaku kecil," sela Vina dengan begitu tiba-tiba.
"Uhuk!" Delvin yang baru saja ingin menelan air minum, jadi tersedak gara-gara perkataannya Vina yang begitu terus terang tanpa ada kata malu sedikitpun itu.
"Aku sama sekali tidak bisa di bandingkan dengan wanita lain yang banyak kau jumpai itu," imbuhnya lagi, membuat Delvin merasa kalau perkataannya Vina itu benar-benar cukup tepat sasaran.
"Kenapa kau begitu percaya diri sekali mengatakan itu, padahal aku tidak memikirkan soal ukuranmu," kata Delvin lagi.
"Yah, kau baru saja membicarakan soal ukuranku, jadi sudah termasuk kau baru saja memikirkannya," balasnya dengan begitu cepat.
Delvin yang ingin makan ayam lagi, sontak dagingnya sempat jatuh ke piring lagi.
__ADS_1
'Sejak kapan dia begitu berani bicara sepeti itu? Dia bisa membuat aku tidak bisa berkata-kata lagi seperti ini.' pikirnya.
'Aku hanya asal tebak saja, semoga dia tidak marah dengan ucapanku ini.' batinnya.
___________
Di salah satu kamar, seorang wanita sedang duduk di belakang meja makan, disana dia duduk sendirian sambil menunggu makanannya datang.
“Apa kau merasa jenuh, karena aku tidak membiarkanmu pergi keluar sejengkalpun dari wilayahku?” sampai suara yang begitu rendah, menyambut kesunyian di ruang makan tersebut.
Wanita yang tidak lain adalah Veronica itupun menatap ke arah pintu, dan melihat seorang pria tengah duduk di kursi roda.
“Jangan tanya, aku memang jenuh, tapi memangnya apa yang bisa aku lakukan? Protes dan marah-marah kepadamu?” balas Veronica, dia lagi-lagi jadi tidak bisa mengalihkan pandanganya terhadap Abel yang tampak segar bugar. Jika bukan karena luka tembang di salah satu kakinya, jelas Abel akan memperlihatkan kesan seperti sebuah patung yang berjalan.
Tapi apa boleh buat, patung yang hidup itu ternyata cacat.
‘Apakah dia akan cacat?’ detik hati Veronica.
“Tuan, apakah anda perlu sesuatu yang lain?” tanya salah satu anak buah Abel, setelah berhasil menempatkan Tuan nya itu masuk ke dalam ruang makan.
“Tidak, kau bisa keluar dari sini,” jawab Abel, menarik serbet yang tertata di atas piring dan meletakkannya di atas pangkuannya.
“Saya akan menunggu di luar,” jawabnya.
Setelah kepergiannya, sekarang di ruang makan itu pun hanya ada mereka berdua. Tentu saja di tambah dengan dua koki yang sedang bekerja, disana ada empat orang.
“Kau sepertinya tertarik dengan wajahku ya?” tanya Abel dengan senyuman sombongnya.
Veronica tersenyum tipis, “Siapa yang tidak menyukai wajahmu itu? Cukup mengagumkan untuk menarik perhatian banyak wanita,”
“Kau masih saja gigih,” Abel terkekeh sambil menatap Veronica dengan tatapan merendahkan. “Apa kau tahu, sekarang kau duduk di depan siapa? Dan tugasmu disini untuk apa?”
__ADS_1