
'Apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali belum bisa bergerak banyak.' Elvano, sebagai orang yang baru merasakan kebaikan dari orang tanpa perhitungan seperti itu, sekarang diapun akhirnya merasa frustasi sendiri.
Bagaimana tidak, sekarang sudah jadi hari ke sepuluh, dan dirinya selalu saja mendapatkan kebaikan dari tetangganya tanpa pandang bulu seperti itu.
'Sebenarnya aku siapa? Bisa-bisanya aku seperti orang bodoh, karena aku kehilangan ingatanku.' Pikir Elvano.
Dia sekarang sedang berbaring sendirian di dalam rumah sempit itu sembari memandang langit-langit rumah tersebut.
Terbesit rasa janggal pada dirinya, sebab dia memiliki logat bicara yang sedikit berbeda dari tetangganya itu, dia paham bahasa indonesia, akan tetapi dia menyadari kalau dirinya bukan orang asli indonesia, sebab untuk bicara bahasa indonesia yang rupanya sudah cukup fasih, dia tetap punya gaya bicara lain.
Lebih tepatnya dia bisa bicara inggris.
Ya, dia sering menonton tv di rumahnya Vina, dan setiap kali ada berita atau film dari luar negeri yang memiliki bahasa dari mandarin, korea, Inggris, jepang, dia benar-benar paham dengan sendirinya.
Tidak heran, saat dirinya tidak sengaja menonton film tanpa ada terjemahan, dia masih bisa mengerti artinya, tapi film nya langsung di ganti oleh Vina, karena Vina tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
"Elvano, namaku. Ya, itu cukup keren sampai di puji oleh Vina. Tapi tetap saja, aku ingin mendapatkan informasi latar belakangku sendiri.
Lagi pula, aku tidak mungkin hidup dalam bayang-bayang identitas baru seperti ini." Ucap Vano, dia mengangkat telapak tangannya ke atas dan menatapnya dengan cukup lekat, sampai akhirnya dia mengepalkan tangannya dengan cukup erat.
'Jadi dia memang sudah punya niat untuk mencari identitasnya sendiri meskipun dia tidak tahu harus di mulai dari mana?' batin Vina, dia yang ada di luar rumah itu, masih bisa mendengar apa yang di katakan oleh Vano di dalam rumah itu.
Karena Vina merasa Vano sedang ingin menyendiri dengan memikirkan nasibnya sendiri itu, Vina pun pergi dari sana agar tidak mengganggunya.
__________
Di toko baju serba tiga lima.
Meskipun Vina merasa sayang, maksudnya sayang uang, karena sudah dari lama dirinya mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan apalagi dirinya benar-benar ingin punya tempat tidur sendiri yang lebih bagus, cat, serta perhiasan, tapi karena di kendala oleh orang asing yang membutuhkan perawatan medis serta kehidupan sehari-sehari mereka yang jadinya semakin meningkat, Vina pun merelakan apa yang dia inginkan itu untuk membiayai mereka berempat dengan uangnya sendiri.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pegawai dari toko tersebut, karena Vina masuk ke dalam toko dan terlihat bingung untuk memilih pakaian yang ingin di belinya.
"Aku ingin membeli baju untuk laki-laki." jawab Vina dengan jawaban yang masih memiliki maksud yang luas, karena baju yang di maksud itu untuk dewasa atau anak kecil atau apalah. "Tapi yang buat aku bingung, apakah ada ukuran jumbo? Nih, seperti ukuran ini, baju hoodie juga tidak masalah, intinya yang sebesar ini." imbuh Vina sekali lagi.
"Oh, untuk kekasih anda ya?" terka perempuan ini dengan senyum-senyum.
"Bukan, tapi untuk tetanggaku. Dia nitip, tapi karena aku tidak tahu ukurannya selain baju yang di pakai, aku jadinya bawa bajunya." Vina pun jadi merasa malu, karena di rumah tidak ada meteran, jadi dia tidak bisa membawa ukuran pakaian yang di gunakan oleh Vano itu.
"Pfft..., maaf-maaf, saya jadi tertawa. Biar saya tunjukkan untuk ukuran yang besar-besar." Perempuan ini pun menunjukkan letak dari pakaian yang di maksud oleh Vina tadi.
Dan itu letaknya ada di pojokan. Di sana ada pakaian atasan serta celana yang ukurannya cukup besar, lumayan, karena dia bisa beli tiga setel pakaian dengan harga murah.
Jadi dia pun setidaknya menghabiskan uang dua ratus ribuan untuk beli pakaian untuk Vano itu.
'Sabar-sabar, anggap saja sebagai sedekah. Mumpung hari jum'at.' batin Vina, dia pun percaya dengan apa yang dia tabur saat ini, akan membuatnya mendapatkan berkah juga. Jadi dia pun tidak mempermasalahkan kalau uang hasil dari jualan buket uang waktu itu, dia gunakan untuk membeli kebutuhannya Vano, sebab bagaimanapun Vano memerlukan pakaian ganti yang layak, dan tidak lupa dengan sandal.
'Kalau ada ukuran 43, aku pasti beli yang itu. Tapi karena mentoknya saja sampai 42, tidak apalah, kalau tidak muat, aku potong saja jarinya kali ya?' memikirkan itu, Vina pun jadi tertawa cekikikan sendiri, karena merasa lucu.
Dan tidak lama setelah itu, dia pun membayar semua yang ia beli.
"Ini barang anda, terima kasih atas kunjungan anda." kata sang kasir kepada Vina.
__ADS_1
"Iya." Jawab Vina. Karena sempat melihat ada pedagang keliling, dia sempat mampir dulu dan membeli molen yang isinya kacang hijau kesukaannya.
__________
Siang itu, Vano sedang duduk santai di atas tempat tidurnya sambil memeriksa luka yang dia miliki di dadanya.
Sudah mulai membaik, sekalipun masih menyisakan rasa sakit yang lumayan.
"Ini sudah lebih mendingan. Kalau seperti ini, aku bisa lebih banyak melakukan kegiatan." ucap Vano pada dirinya sendiri, dan lebih tepatnya adalah mencari pekerjaan, karena ia tidak bisa hidup seperti itu terus dan membuat keluarga dari tetangga sebelah susah.
Karena sudah bisa tidak perlu di perban lagi, dia hanya menempelkan kain kasa dan di plester di tempat luka yang ia miliki.
Baru juga selesai merawat lukanya, sebuah ketukan pintu pun datang.
Tok...Tok....Tok...
"Vano, ini aku." Kata Verina, memberitahu kedatangannya kepada Vano yang ada di dalam rumah itu.
"Masuk saja." jawabnya.
Begitu sudah di izinkan masuk oleh si empu, Vina pun mendorong pintu tersebut dengan perlahan sebelum akhirnya dia masuk kedalam rumah yang tidak begitu besar.
Baginya, bahkan rumah itu setara dengan separuh dari kamar pribadi milik Elvano sebelumnya.
Vano yang tadinya sedang tiduran, dia pun bangkit dan duduk sambil mengedarkan pandangannya terhadap seorang perempuan yang baru saja masuk itu.
"Kau bawa apa?"
"I-ini, baju untukmu." Dengan wajah malu-malu, sebab Elvano sama sekali tidak memakai atasan, dan memperlihatkan tubuhnya yang begitu memikat.
"K-kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Tidak ada, hanya- dari pada berdiri kenapa tidak duduk saja?"
"Aku kan hanya datang untuk memberikan ini saja." jawab Vina dengan cepat.
"Apa kau punya banyak urusan sampai tidak mau duduk dan berbicara denganku sebentar?" Tanya Elvano seraya meluruskan kakinya ke depan, sampai membuat sepasang kaki Vina terperangkap diantara sepasang kakinya Vano.
"T-tidak sih. Tapi aku hanya tidak tahan." kata Vina sambil memejamkan matanya, menyerahkan satu kantong plastik itu di samping Vano duduk, lalu Vina pun jadinya ikutan duduk di atas karpet sambil melirik ke arah Vano.
Elvano yang penasaran dengan kantong kresek yang di bawa Vina, dia akhirnya membukanya dan bertanya balik. "Tidak tahan soal apa?"
"Apa kau sedang berpura-pura tidak mengerti? Aku itu tidak tahan berhadapanmu lama-lama karena tampangmu yang cukup maut itu." Pada akhirnya Vina pun menjawabnya dengan rahang sudah mengeras karena dia menjawabnya dengan rasa hati yang sedang geregetan sendiri. "Aku hanya frustasi, bisa-bisanya aku bertemu dengan orang sepertimu, ini bagaikan mimpi saja."
"Pfft..., tapi ini itu bukan mimpi."
"Biasanya kalau mau ketemu orang bule, paling tidak juga harus ke Bali, lah ini? Kau aku temukan di belakang rumah. Rasanya, aku sangat tidak mempercayainya," Jelas Vina, karena sudah tidak mampu menahan rasa di dalam dada juga pikirannya, dia memutuskan mengatakan apa yang dia rasakan di depan orangnya langsung.
"Ya ampun, kau pada akhirnya memang sudah tergila-gila denganku ya?" Tanya Vano dengan percaya dirinya yang tinggi.
Vina hanya diam dan menatap Vano yang kelihatan senang melihat derita yang di alami oleh Vina, hanya karena gara-gara tampang wajah Vano.
__ADS_1
"Tidak hanya aku saja kok," jawab Vina dengan ketus.
"Tapi pada akhirnya orang yang selalu datang untukku kan dirimu, jadi jelas siapa yang disini paling menderita, ya kan?" Tanya Vano.
"Sudah ah! Jika kau hanya ingin menyindirku, aku tinggal!" Vina yang mudah emosi jika di sindir seperti itu, dia akhirnya berteriak sambil bangkit dari tempat dia duduk tadi.
Akan tetapi, saat Vina hendak pergi dari sana, tangannya tiba-tiba saja di cengkram dan membuat Vina tertahan di sana.
"Sensi sekali, jangan pergi. Jika ucapanku menyinggungmu, aku minta maaf, tapi jangan pergi dari sini, aku masih ingin di temani olehmu." Kata Vano dengan mata polos, memohon kepada Vina.
Vina yang melihat hasutan dari mata polos milik dari pria itu, hatinya jadi tidak mampu untuk menolak permintaannya itu.
'Sialan, aku tidak bisa menolaknya, apalagi dengan raut wajahnya yang memelas itu, aku sama sekali tidak mampu untuk mengatakan tidak!' Teriak hati Vina dengan permintaan itu.
Dan karena Vano sempat menarik tangannya untuk segera duduk di bawah atau lebih tepatnya di sampingnya itu, Vina pun mengikutinya, dia duduk di atas tempat tidurnya Vano.
"Kau beli apa untukku?" tanya Vano, berbincang lagi dengan Vina untuk sekedar basa-basi. Aaa
"Itu baju," sahut Vina, dia terus melirik ke arah Vano yang sedang menjembreng baju yang Vina beli tadi di toko serba 35. "Hanya itu yang bisa aku berikan, walaupun murah, tapi setidaknya kau ada pakaian ganti yang lebih baik." ucap Vina.
Vano pun memperhatikan pakaian murah itu dengan penuh perhatian. Masih ada bandrol harga pula, tapi meskipun itu murah, bagi Vano, dia tetap merasa berterima kasih.
Ketika kemungkinan banyak orang yang ingin membunuhnya, ternyata di balik kemalangan yang Vano terima, dia masih bisa mendapatkan kebaikan dari orang lain, dan salah satunya adalah sekarang.
Dia bisa mendapatkan baju dari Vina, padahal selama hampir sepuluh hari ini dirinya sudah merepotkan Vina dalam berbagai hal, tapi Vina masih saja memberikan kebaikan kepadanya.
"Terima kasih. Aku akan mencobanya." Ucap Vano, Dia segera memakai kaos dan jaket, serta ada baju hoodie pula.
Sayangnya, tidak hanya itu saja, ada celana, sandal, bahkan sampai CD pun ada.
"Tapi apa alasanmu memberikan ini semua? Ketika kau bahkan sudah menghidupiku dengan uangmu, tapi kau masih saja mau membelikanku pakaian seperti ini?" Tanya Vano.
"Anggap saja aku lagi cari pahala." Tukas Vina. "Walaupun aku ingin mengatakan tidak apa-apa dan tidak usah di pikirkan, tapi hatiku ternyata tidak bisa di bohongi, kau harus membalas budi padaku suatu hari nanti.
Yah..., jika memang ada pertemuan berikutnya.
Tapi ya..., seperti itulah. Pakai saja, dan jangan membuatku kepikiran aku sudah menghabiskan banyak uang untuk merawatmu. Itu membuatku kesal. Jadi jangan katakan apapun lagi apa yang aku berikan dan bertanya alasan," Jelas Vina dengan wajah merungut.
Vano hanya tersenyum, dan dia pun mengambil CD yang Vina beli untuknya?
Sambil menjembreng barang pribadi yang akan menjadi miliknya ,Vano pun bertanya tanpa rasa bersalah. "Kau yakin, ini pas untukku?"
BLUSHH....
Mendengar pertanyaan tersebut, Vina akhirnya berdiri dan berkata : "Entah lah! Aku hanya kira-kira saja. Bye!"
"E-eh! Vina! Kau mau pergi kemana? Kalau tidak pas bagaimana?"
"Tinggal kembalikan saja padaku!" Seru Vina dan akhirnya dia menutup pintunya dengan sedikit kasar.
BRAKK...
__ADS_1
Dengan ekspresi wajahnya yang tadinya terkejut dengan mata polosnya, ekspresi wajah membatu milik Vano langsung pergi dan tergantikan dengan senyuman nakalnya. "Pfft, dia memang lucu. Tapi tidak terduga juga, sampai membelikanku CD juga, dia benar-benar, berhasil mengganggu pikiranku. Vina-vina, kalau seperti ini terus bisa-bisa aku jadi gila.
Tapi ngomong-ngomong-" Saat Vano mencobanya, ukuran yang di belikan oleh Vina pun benar-benar pas. "Kenapa yang dia beli pas semua? Jangan-jangan saat aku tidak sadar waktu itu, dia sudah mengukurnya?" gerutu Vano, dan karena hari memang sudah mulai sore, Vano pun melepaskan CD nya dan akan memakainya saja langsung setelah dirinya mandi nanti.