Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
70 : Verina


__ADS_3

“Vina- kau kena eek burung.” 


“Huwahh, kenapa malah sekarang?” rengek Vina, dia benar-benar sangat malu dengan kondisinya sekarang, karena kepalanya di jatuhi kotoran burung.


“Vin- hei Vin, berdiri, ayo kita pergi ke salon.” tawar Vano membujuk Vina untuk pergi ke salon.


“Tidak mau, di sana pasti banyak orang yang justru memperhatikanku lebih dari pada ini.” Vina menolaknya karena ada hal lain selain dirinya harus menghadapi kotoran burung yang ada di atas kepalanya, dia juga harus menghadapi tentunya tatapan dari para wanita cantik yang ada di salon, yang pastinya sedang memanjakan tubuhnya sendiri di sana karena orang yang ada di sampingnya itu adlaah orang yang memiliki jutaan pesona. 


“Vina, jangan menolaknya, ini sekalian agar rambutmu bisa di tangani,” Elvano berusaha untuk terus membujuknya.


“Memangnya ada apa dengan rambutku?” tanya Vina penasaran.


“Sudahlah, jangan banyak bicara lagi, ayo naik ke mobil lagi, kita pergi ke salon sekarang juga.” Vano pun akhirnya menyeret Vina untuk berdiri dan kembali masuk kedalam mobil. 


“T-tunggu, mobilnya nanti bau-” Vina merasa ragu dengan naik ke mobil.


“Kenapa kau memikirkan itu? Tutup saja pakai ini, kita akan langsung pergi ke salon dulu.” sela Vano, memberikan handuk kecil kepada Vina agar kepalanya bisa di tutupi. 


Tujuh menit kemudian. 


Salah satu salon yang bisa di kunjungi oleh mereka berdua, karena letaknya yang tidak begitu jauh dari tempat mereka tadi. 


KLINGG….


Bunyi lonceng yang berasal dari pintu yang terbuka itu pun menunjukkan seorang tamu tidak terduga mereka. 


“Selamat datang Tuan dan Nona,” sapa ketiga orang perempuan dari pegawai salon tersebut. 

__ADS_1


Tidak seperti bayangannya, salon itu nampak sepi, sehingga Vina pun dalam diam merasa bersyukur dengan kondisi tersebut, sebab tidak membuatnya terlalu terbebani dengan banyak pasang mata 


“Kalian bertiga, urus dia, bersihkan dari atas sampai bawah sekalian. Dan satu hal yang perlu di perhatikan, maksudnya rawat rambut rontoknya itu, gunting dan bersihkan kuku tangan dan kaki, itu saja.” perintah Elvano dengan sebuah sesi meralat ucapannya sendiri agar tidak di salahpahami oleh mereka bertiga. 


“Baik Tuan, kan kami lakukan sebaik kami.” jawab mereka bertiga secara serentak. 


“E-eh, aku hanya perlu keramas saja kan?” Vina tidak tahu kalau tangan dan kakinya juga akan di urus untuk proese perawatan juga?


Berapa banyak biaya yang diperlukan untuk membayarnya?


Vina sama sekali tidak bisa membayangkan seberapa banyak total uang itu sendiri. 


“Tidak, kau sepertinya perlu perawatan kaki dan tangan. Kalau mau di pijat, mereka akan melakukannya juga.” beritahu Elvano, seakan kalau Vano adalah orang yang lebih tahu dari apa yang di ekspektasikan oleh Vina sendiri. 


“Tapi Vano- he- ah…pelan-pelan,” rintih Vina, saat ketika tubuhnya tiba-tiba saja di dorong?


“Dan! Akan lebih bagus kalian perhatikan punggungnya yang sedang terluka itu, jadi ada baiknya tanya kenyamanannya lebih dulu sebelum dia berbaring untuk keramas.” peringat Elvano. 


“Kami akan lebih memperhatikannya lagi.” jawab mereka bertiga secara serentak, lalu Vina pun di bawa pergi ke tempat khusus untuk Vina pergi membersikan atas kepalanya yang terkena kotoran burung. 


'Ini sangat memalukan, padahal juga baru pertama kali keluar dari rumah sakit, dan ingin jalan-jalan. Tapi kenapa aku selalu berakhir seperti ini? Tidak ada yang berakhir dengan baik.' Vina jadi galau, mood nya untuk pergi jalan-jalan menyusuri kota paris yang katanya terkenal romantis, sekarang justru berakhir dengan kotoran burung yang mendarat di atas kepalanya persis.


"Nona, apa anda punya keluhan di keala anda atau anda biasanya pakai sampo apa?"


"Terserah, aku biasa pakai semua sampo, tapi pada akhirnya rambut ku ini tetap saja rontok, mengembang, dan ya seperti inilah hasil akhir aku punya rambut." oceh Vina, dia sangat malu ketika di tanyakan seperti itu, karena mau bagaimanapun, pergi ke salon karena gara-gara kotoran burung, bukannya itu sungguh lelucon yang begitu buruk?


"Baiklah, saya akan merekomendasikan sampo ini,"

__ADS_1


Vina yang enggan untuk melihat ataupun membaca produk sampo itu, hanya diam saja.


Merasa di abaikan, pegawai salon ini pun hanya tersenyum tawar, dan tetap melanjutkan pekerjaannya.


"Kalian berdua, urus tangan dan kaki Nona,"


"Baik madam," dua orang tersebut pun mengangguk paham, dan di situlah Vina pun memulai proses perawatan tubuhnya untuk pertama kalinya selama dia hidup.


'Kira-kira tangan dan kakiku mau di apakan ya?' Vina pun mulai memperhatikan kedua orang tersebut yang ternyata hendak mengikir ujung kukunya Vina, membersihkannya, serta kedua tangannya pun di berikan pijatan yang lembut.


"Lotion ini bisa membuat kulit anda bisa lebih lembut dan cerah," ucapnya, tanpa menunggu di tanya oleh Vina.


'Tapi kayanya mau aku pakai produk apapun, karena aku bahkan tidak punya kulit putih bersih sepeti mereka, rasanya tidak ada gunanya. Tapi ya sudahlah, lagian aku hanya mengikuti permintaan Vano untuk datang kesini.' pikir Vina.


___________


“Tuan, apakah tidak masalah bagi anda untuk selingkuh seperti ini?” tanya Delvin kepada sang Tuan muda. 


Karena prosesnya akan lebih panjang untuk menunggu Vina selesai dengan sesi keramas karena kotoran burung, Elvano pun di ajak keluar ke seberag jalan, dimana di depan salon persis, memang ada sebuah kafe, maka dari itu mereka berdua saat ini sedang saling bicara satu sama lain dengan santainya. 


"Kau kalau bicara pada Tuanmu sendiri ternyata seperti itu ya? Selingkuh? Padahal aku dan dia saja sama sekali belum punya hubungan apapun." jawab Elvano atas pertanyaan tidak sopan dari satu-satunya anak buahnya yang setia itu.


"Tapi kan tetap saja, anda kan sudah punya kekasih, tapi anda malah mengajak perempuan lain berkencan, di sini pula." kata Delvin sekali lagi, membuat Vano jadi semakin tersinggung.


Dia sebenarnya tahu kalau dirinya punya kekasih. Tap memangnya apa gunanya itu? Ketika hati saja, dia sama sekali tidak memiliki rasa kepada pacarnya.


"Tapi sepertinya hubunganku dengan pacarku ini hanya sekedar hubungan biasa tanpa ada ikatan kata cinta kan?" tanya Elvano, membuat Delvin jadi terhenyak.

__ADS_1


Delvin tahu kalau Tuan muda Elvano kehilangan ingatan, namun ternyata perasaan yang mengatasnamakan cinta, rupanya tidak pernah ada, dan tidak pernah bisa di rasakan sedikitpun sekalipun ingatannya menghilang.


"Yah, tapi kan setidaknya anda harus berpikir lebih dulu dalam mengambil keputusan. Karena setiap langkah anda, bisa membuat banyak perubahan di sekitar anda. Anda harus ingat itu," beritahu Delvin dengan serta merta kepada Tuan muda Elvano.


__ADS_2