Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Inikah


__ADS_3

Mata Franz yang semula terpejam, kini perlahan membuka matanya karena sudah terangsang oleh bau yang sangat manis menyeruak masuk ke indera penciumannya.


"Minggir, jangan menghalangiku." Pungkas Ovin. Dia berusaha untuk pergi, namun tangannya rupanya tetap saja tertahan karena cengkraman tangannya Franz.


Namun, karena di saat yang sama pula lengan jubah mandinya tertahan oleh tangan Franz juga, Ovin yang terus bergerak ingin melepaskan tangannya dari cengkraman nya Franz itu, secara otomatis bagian sisi dari lengan yang kena tarik itu langsung terbuka meski ikat pinggangnya masih terikat dengan betul.


Dan dari situlah, sepasang matanya jadi kembali di nodai oleh penampilan gadis yang mana, di balik jubah mandinya itu, tentu saja Ovin masih belum memakai apapun.


'Menarik sekali, padahal kecil, tapi bisa-bisanya aku menganggap bentuk kecil seperti bakpau itu, sebagai sesuatu yang imut. Apa otakku benar-benar sudah terkontaminasi?' benak hatinya tat kala matanya Franz melihat satu sisi menggemaskan dari dada gadis ini yang tidak sengaja diperlihatkan ke dirinya.


Dalam diam, Franz jadi tersenyum tawar dengan godaan itu sendiri.


Meski hanya menampakkan separuh sisi kiri dada yang hampir memperlihatkan seluruh gundukan itu, tapi hal itu ternyata sukses membuat dirinya langsung traveling.

__ADS_1


'Dia selalu membuatku menjadi gila sendiri. Harus tahan, lagian dia tidak ada apa-apanya dengan wanita lain di luar sana. Anggap saja dia hanya patung.' Tepatnya karena patungnya terlalu sempurna juga terlalu nyata, Franz pun jadinya tidak bisa mengalihkan perhatiannya itu.


"Franz, mau sampai kapan kau mencengkram tanganku? Apa-" Dengan ekspresi wajah datar, matanya menatap satu tujuan ke arah dimana Franz selalu membawa harta berharganya. "Kau mau melakukan itu denganku ya~"


Senyuman tipisnya itu pun berhasil membuat Franz akhirnya salah tingkah sendiri.


"Melakukan apa? Jangan berpikir hal yang tidak-tidak, sana pergi, jangan menodai mataku." Cetus Franz, dia pun kembali pada sifatnya yang super gengsi, menolak kenyataan kalau sebenarnya Franz ini bingung harus menanggapi ucapannya Ovin dengan alasan apa lagi, selain alasan konyol.


"Nah terus tadi, kau baru saja mengintip, ya kan?" ledek Ovin.


"Ngaku saja, aku mau menerimanya kok, dengan begitu ur-" Seketika mulutnya Ovin langsung Ovin bungkam sendiri. 'Tadi hampir saja.'


Ia hampir saja mengatakan jalan keluar lain selain dari mereka berdua harus menjalani pernikahan selama lima tahun dulu, dan Franz akan menerima warisannya sendiri, ada cara paling cepat agar bagian warisan untuk Franz turun, adalah agar mereka berdua lebih dulu memiliki anak, maka syarat Franz menerima bagian harta warisan milik Ayahnya itu, bisa sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

__ADS_1


"Kau tadi bilang apa?"


"Tidak bilang apa-apa." Ovin dalam diam tersenyum licik, melihat Franz bersikeras terus mendorong tubuh Ovin agar pergi dan masuk kembali ke kamar mandi.


Namun, begitu mereka berdua mau mengakhiri perdebatan mereka berdua, kejadian di luar perkiraan mereka pun kembali terjadi.


Pintu, yang sebenarnya sudah tertutup, serta otomatis terkunci juga, tiba-tiba saja terbuka.


KLEK...


"Akhirnya aku bisa pul-" Begitu tangannya sudah memutar knop pintu kamar yang ingin ia tempati, kejutan pun langsung dia dapatkan. "Lang?" akhir kalimatnya dipenuhi tanda tanya karena dia cukup terkejut sebab ada dua wajah yang sangat ia kenal, rupanya ada di dalam kamar yang hendak ia huni itu.


'A-apa? Penampakkan apa ini?!' Pikir pria ini setelah melihat ke dalam kamarnya dan ternyata ada dua orang sedang bermandikan bau romantis musim panas yang tidak lain adalah Franz dan Ovin itu sendiri.

__ADS_1


Karena kebetulan dirinya memegang hp, jari jempolnya tak kuasa untuk menekan tombol kamera.


CKREK.......


__ADS_2