Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Rindu Bakso


__ADS_3

40 Menit sebelumnya.


BUGH ... BUGH ... BUGH....


Setiap jam, menit dan detik, setelah semua itu berlalu, usahanya untuk menciptakan pukulan demi pukulan, menerjang sebuah samsak yang sedang di pegang oleh salah satu anak buahnya, sukses membuat semua pori kulitnya mengeluarkan keringatnya.


Meskipun nafasnya begitu memburu dan keringatnya begitu banyak, hal tersebut justru tidak membuat pria itu ada tanda-tanda untuk menghentikan latihannya?


Entah itu latihan, atau sebuah pelampiasan amarah, tidak ada satu pun yang tahu.


BUGH .. BUGH ...!


'Ukh, padahal Tuan muda katanya sempat terluka parah dengan bahu yang sempat cidera, tapi apakah kekuatannya benar-benar sekuat ini? ' pria ini begitu kewalahan, untuk memegang samsak yang sedang di gunakan oleh Tuan muda nya itu. 'Kalau seperti ini, jika Tuan bertanding di dalam ring dengan atlet petinju, justru Tuan muda yang menang. Aku tidak kuat lagi, ayolah, berhenti sampai disini.' batinnya.


Karena dia posisinya di tunjuk oleh Elvano untuk memegangi samsak, maka dari itu, dia pun sama sekali tidak ada pilihan lain selain menurut.


Tapi, sampai manakah dia akan bertahan?


"Jo! Kekuatanmu semakin lemah!" tegur Elvano terhadap anak buahnya itu dalam memegangi samsak.


"Tuan, apakah anda tidak bisa berhenti untuk Istirahat lebih dulu? Saya sudah lelah," jawab pria ini yang di panggil Jo oleh Elvano.


Wajahnya benar-benar sudah memperlihatkan ekspresi wajah yang penat, sampai-sampai wajah dan telinganya pun memerah saking berusaha nya untuk menahan kekuatan dari pukulan yang di lancarkan oleh Tuan muda Elvano kepadanya.


BUGH!


Padahal Elvano belum lama sembuh, tapi dia sudah bekerja keras untuk latihan, lebih tepatnya kembali melakukan rutinitas olahraganya.


Berkat dia memberikan posisinya secara sementara kepada kakaknya, dia pun jadi punya lebih banyak waktu luang untuk melakukan hal yang dia inginkan


Tentu saja, salah satunya adalah sekarang ini. Dia dengan sengaja mengisi waktunya untuk main tinju di GYM yang ada di lantai lima dari gedung markasnya.


"Bukannya baru satu setengah jam?" tanya balik Elvano dengan dahi mengernyit.

__ADS_1


"Iya, saya tahu. Tapi jangan mentang-mentang karena anda kuat, jangan diteruskan seperti ini, mau bagaimanapun tubuh anda kan baru benar-benar pulih, jangan terlalu memaksakan diri begitu," omel pria ini.


Mendengar hal tersebut, Elvano menyeringai, "Ternyata kau perhatian juga ya, atau cuma dalih karena sebenarnya kau itu lemah?" ledek Elvano.


"Ya, terserah anda mau menyikapi ucapan saya ini mau seperti apa, yang penting saya sudah cukup lelah, jadi jika anda ingin lanjut, gantian saja dengan yang lain," katanya lagi, dia benar-benar sudah menyerah untuk melayani Tuan muda nya yang begitu gila olahraga.


"Ok, tapi sebagai gantinya, karena sekarang sudah hampir jam makan siang, aku perintahkan kau untuk buatkan aku bakso,"


"Apa?!" terkejut Jo dengan perintah tersebut, karena dia baru pertama kali mendengar kata bakso seumur hidupnya. "B-basko?"


Menghela nafas kasar, Elvano mengulangi ucapannya, "Bakso, bukan Basko.


Bakso itu makanan, jika kau pintar kau bisa cari tahu sendiri apa itu bakso. Aku berikan kau waktu selama empat satu jam, jika kau berhasil membuat bakso, jam latihan yang aku berikan kepadamu akan aku kurangi, bagaimana? Tawaran yang menguntungkan kan?" papar Elvano.


Jo pada dasarnya bukan sekedar anak buahnya saja, tapi juga bekerja sebagai juru koki di kantin juga.


Maka dari itu, karena Jo sudah berani mengeluh kepadanya, mau tidak mau Elvano pun membuat tantangan kepadanya.


'Bakso? Memangnya makanan macam apa itu? Kenapa Tuan muda bisa tahu soal makanan bakso?' karena cukup penasaran, Jo pun pergi mengambil handphone nya yang dia letakkan di dalam tas di atas kursi istirahatnya.


'Bakso? Makanan khas Indonesia yang terbuat dari daging sapi? Tuan yakin? Aku harus membuat bakso seukuran bola ping-pong ini?' merasa tertantang dengan tawaran yang diberikan oleh Tuan muda nya, Jo pun mengiyakan perintah itu.


Elvano yang kembali meninju samsak dengan kuat, langsung di datangi oleh Jo lagi.


"Bagaimana? Apa kau sudah tahu rupa bakso yang aku inginkan?" tanyanya dengan senyuman bangganya. "Sebagai Koki juga, kau seharusnya merasa tertantang dengan menu baru ini. Hm, apa jawabanmu?" imbuhnya, dia pun akhirnya memutuskan untuk melepaskan sarung tinjunya lalu langsung duduk selonjor sambil meminum air yang diberikan oleh salah satu anak buahnya yang lain.


"Baiklah, karena saya sendiri juga penasaran dengan rasa yang anda inginkan dari bakso itu, saya akan mencoba untuk membuatnya. Tapi Tuan, apakah saya boleh meminta bantuan kedua temanku yang lain, agar prosesnya lebih cepat?"


"Hmm ..., terserahmu, yang penting hasilnya bisa sesuai dengan lidahku," jawab Elvano dengan selamba.


Jo yang akhirnya punya tatangan baru untuk memenangkan taruhan itu, langsung mengangguk paham dan segera pergi berlari.


___________

__ADS_1


Flashback Off.


"Apa saya boleh bertanya Tuan?" setelah keheningan yang terjadi beberapa saat, pria ini pun mengajukan pertanyaan kepada Tuan muda nya.


"Tanya apa?"


"Sebenarnya saya sudah penasaran dari tadi, dari mana anda bisa mengenal makanan bakso ini? Jika saya tidak mencari tahunya sendiri, saya pasti tidak akan tahu kalau bakso itu makanan khas Indonesia," sejujurnya dia sendiri sedang cukup tergiur dengan satu mangkuk bakso itu.


Tapi karena hanya ada satu mangkok saja, dia pun hanya bisa mengambil keuntungan dari menghirup aroma penuh dengan rempah dan daging sapi yang begitu kuat itu.


'Aku jadi ngiler, aku harus menyuruh Jo untuk masak lagi ah, kali saja aku bisa mencicipi makanan yang tampak seperti makanan bintang lima itu.' pikir pria ini, sungguh dia cukup merasa penasaran.


Karena tiba-tiba saja dia mendapati sebuah pertanyaan yang menyangkut soal pengalamannya bersama dengan Vina, sudut bibir Elvano pun tampak terangkat dan membentuk sebuah senyuman yang begitu memikat.


Anak buahnya sendiri itu pun begitu tercengang dengan senyuman yang begitu memukau itu.


"Kalau kau ingin tahu, bisa-bisa aku jadi mendongeng," sahut Elvano dengan sendirinya.


"Eh itu, tapi ya ..., sebenarnya saya ini penasaran. Tapi jika anda tidak mau bercerita, ya tidak masalah juga sih," balas pria ini sambil tersenyum canggung. 'Melihat Tuan muda tiba-tiba tersenyum, sepertinya kisah milik Tuan muda ada bumbu-bumbu musim semi. Hah, yang seperti inilah, yang membuatku semakin penasaran saja.' batinya, sudah tidak tahan ingin mendengar kisah milik Tuan mudanya.


"Sebenarnya bukan rahasia besar juga sih, tapi aku yakin jika aku menjawabnya, kau pasti akan terkejut," kata Elvano lagi, dan hal tersebut pun membuat anak buahnya itu jadi dilema sendiri, gara-gara mengulur-ngulur jawaban terus, padahal sudah kebelet penasaran.


'Iya, tapi jika anda mau bercerita, bisakah anda memberitahu saya sekarang? Saya benar-benar penasaran!' kutuk pria ini, dia berteriak frustasi dalam benak hatinya.


"Hei, dari wajahmu kau tampak jadi sewot," tatap Elvano, menentang ekspresi wajah dari anak buahnya itu yang tampak gelisah tapi juga seperti ingin marah-marah.


Tidak bisa menyangkalnya, dia pun jadi sungkan untuk bicara lagi selain diam sejenak, "Kalau begitu, coba dulu baksonya. Kali saja jika kurang sesuai dengan lidah anda, saya akan membawanya kembali dan akan memerintahkan Jo untuk memperbaikinya lagi,"


'Hmm, dia cepat sekali menyerah.' karena tidak mau menunda-nunda untuk makan bakso, Elvano pun menyuapi mulutnya itu dengan satu butir bakso dan sesendok kuah.


"SLURPP..."


'Apakah harus menggunakan suara seperti itu? Kenapa jadi terdengar sangat menggugah selera ya?' pria ini pun jadi di buat ngiler, sampai-sampai dia secara tidak sadar, sudah menelan salivanya sendiri.

__ADS_1


"Hmm, dari kuah agak sedikit beda dengan rasa yang terakhir kali aku rasakan. Tapi baksonya, daging sapinya benar-benar cukup terasa. Kau- panggil Jo sekarang!" tutur Elvano dengan akhir sebuah perintah kepada anak buahnya itu.


"B-baik!" kalap dengan perintah dari Tuan muda nya yang begitu tiba-tiba, pria ini pun langsung bergegas pergi. 'Apakah ini artinya Jo akan disuruh untuk buat lagi? Nahaslah Jo, kau kalah taruhan tuh.' pikirnya dengan senyuman puas.


__ADS_2