Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Titip Diriku Padamu, Vina.


__ADS_3

"Ha? Apa? Mau pesan lima?" Tanya Vina pada seseorang yang ada di ujung telepon. "I-iya, iya, untuk kapan? Baik, untuk minggu depan, akan aku usahakan bisa jadi dalam waktu itu juga. Terima kasih." ucap Vina, dia pun dalam hatinya sudah begitu kegirangan karena akhirnya ada juga yang mau pesan jasa darinya, jadi dia pun begitu bahagia karena akan ada pundi-pundi uang yang akan masuk kedalam tabungannya.


Setelah selesai berbicara lewat telepon, Vina pun menutup teleponnya dan langsung menghela nafas dengan pelan.


TING...


Beberapa notifikasi, masuk secara berurutan, dan ketika melihatnya, ada uang masuk ke rekeningnya, atas orderan yang baru saja Vina terima.


"Lima, itu banyak, apalagi stok bungaku sudah mulai habis. Kayanya hari ini aku akan belanja banyak." Gumam Vina.


Untuk sekedar belanja saja, sebenarnya dirinya sedang malas pergi, karena cuaca yang sedang ekstrim.


Sekalinya panas, akan begitu panas, dan tiba-tiba dalam waktu dekat, bisa langsung hujan.


"Tapi, bawa lima bingkai itu, bukannya terlalu banyak ya? Tapi aku juga malas untuk bolak balik pergi." gumamnya lagi.


Bisa mendapatkan orderan banyak, memang rezeki yang patut di syukuri, makannya dia harus menerima kesempatan yang datang itu detik juga.


Tapi permasalahannya sekarang, dia harus belanja dulu, agar besok-besoknya, dia hanya tinggal membuat orderan dari orang tadi.


________


Pagi itu, jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Vina, tumben sekali kau pagi-pagi sudah mandi. Kau mau pergi kemana?" Tanya sang Ibu kepada Vina yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku mau pergi ma, ada orderan banyak, jadi aku harus berangkat pagi-pagi, mumpung udara masih sejuk dan belum panas juga." jawab Vina. Dia selalunya keluar dengan penampilan sudah pakai pakaian.


Karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, maka dari itu saat Vano yang ternyata sudah menunggu, dia tidak begitu malu untuk sekedar terkejut gara-gara dia keluar dari kamar mandi setelah mandi pagi.


'Yah, padahal aku aku sudah menunggunya, kalau dia keluar dengan memakai handuk saja.' benak hati Vano, tidak jadi mendapatkan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


'Apa yang dia pikirkan? Ah, lihat senyuman tipis tadi. Pasti dia sedang berpikir hal yang bukan-bukan.' pikir Vina. Dia pun jadi menaruh tatapan curiga pada Vano yang barhasil menarik perhatian Vina.


"Airnya masih ada kan?" Tanyanya, untuk sekedar basa-basi saja. Padahal dia sebenarnya ingin bicara lebih banyak dengan wanita yang ada di depannya itu, sebab ia merasa kalau baru kali ini dirinya melihat ada yang mandi, bahkan keluar pun sudah memakai pakaian yang cukup lengkap.


"Kalau habis kan di sumur juga masih banyak." sahut Vina dengan cepat, selagi mencoba menata rambut yang sempat di ikat ke atas dan di tekuk, karena sedang tidak ada mood untuk mencuci rambutnya, gara-gara pagi ini dirinya sedang di pepet dengan waktu yang harus dia gunakan dengan sebaik mungkin.


"Tapi aku kan tanya yang ada di dalam bak kamar mandi." kata Vano.


"Masih ada, banyak, bahkan jika kau berendam pun, muat." cetus Vina dan segera pergi menuju kamar, karena tidak ingin membuang waktunya lagi untuk sekedar bicara yang menurutnya topiknya kurang berguna untuk di bahas lebih banyak lagi.


'Kenapa dia jadi jutek seperti itu padaku? Apa dia masih saja marah dengan ucapanku yang kemarin?' kata hati Vano, masih mengingat kejadian kemarin.


___________


Tok...Tok...Tok...


Vina yang sudah setengah jam ada di dalam kamar, tiba-tiba saja pintunya di ketuk oleh seseorang, yang tidak lain adalah Vano.


"Iya,"


KLEK....


Begitu sudah di buka, Vano melihat penampilan dari Vina yang sudah begitu rapi.


Dari celana jeans berwarna biru, kaos kaki hitam, baju berlengan panjang di padukan dengan blazer berwarna hitam, dan satu buah blazer lagi yang akhirnya membungkus tubuhnya dengan begitu tebal juga rapat. Tidak ketinggalan juga dengan rambut yang di kuncir satu ke belakang, Vano pun akhirnya tidak bisa menahannya untuk bertanya lagi.


"Rapi seperti ini, memangnya kau mau pergi kemana?" Akhirnya Vano bertanya juga.


"Hmm? Aku mau pergi jauh."


Vano jadi semakin terpancing dengan cara Vina bicara yang tidak kunjung di jawab dengan benar itu. "Mau pergi kemana? Dan sejauh apa?"

__ADS_1


"Sejauh aku dan dirimu berada." cicit Vina sekali lagi.


"Heh~ Kau sedang merayuku yah?" seringai Vano.


"Tidak, aku hanya ingin bicara seperti itu saja padamu, tapi bukan berarti aku sedang menggoda.


Lagian-" sengaja menggantungkan kalimatnya, Vina berkata lagi : "Memangnya untuk apa aku menggodamu? Aku ini perempuan yang membosankan, dan kau mungkin banyak wanita di luar sana yang sud-" tapi dengan tiba-tiba Vina berhenti bicara, karena dia tahu apa yang akan di katakan oleh Vano selanjutnya adalah dengan melemparkan perkataan dari Vina tadi menjadi sebuah bumerang untuk Vina sendiri.


"Sud apa hayo~ Bilang saja kalau kau cemburu, berpikir kalau aku punya kekasih, ya kan?" terka Vano, perlahan mulai iseng untuk menggoda balik Vina yang terlihat sedang bete dengannya karena persoalan kemarin.


"Aku sudah menebaknya akan jadi seperti ini." gumam Vina dengan helaan nafasnya yang pendek dan kasar.


"Kalian berdua, ini makan, jangan malah bicara terus." tegur Ibu nya Vina.


"Iya." jawab Vina, dengan sengaja langsung mengabaikan Vano yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Tapi aku tanya sekali lagi, sebenarnya kau mau pergi kemana?"


"Aku ingin pergi ke kota, beli perlengkapan mahar, jadi mau kau mau apa kalau aku sudah menjawabnya?" jengah di tanyai terus menerus, Vina dengan sengaja menyetel lagu yang sebenarnya sudah terhubung dengan headset bluetooth, dan segera makan dengan kecepatan super.


Bagaimana tidak, ketika Ibunya dan Vano hendak mengambil nasi, Vina lebih dulu merebut centong nasi, dan setelah itu satu sendok tumis kangkung, sambal, gorengan dari ikan kering, juga lalapan, langsung Vina ambil, diletakkan di atas piringnya sendiri, dan memakannya dengan cepat, karena dalam kurun waktu kurang dari lima menit, dia sudah selesai.


"Aku mau berangkat dulu ma. Dan Vano, kau mau titip apa? Mumpung aku pergi jauh."


"Aku titip diriku padamu." jawab Vano dengan singkat namun cukup jelas juga padat.


"Uhuk...uhuk..uhuk.." Vina yang barusan sedang bertanya sambil minum, seketika langsung tersedak begitu saja setelah mendapatkan jawaban paling mengejutkan yang pernah ada, sampai Ibunya Vina pun terdiam. "Apa maksudmu?!" Pekik Vina, sebenarnya di dalam pikirannya itu dia sudah memiliki kesalahpahaman sendiri dengan ucapannya Vano ini, karena terkesan seperti baru saja menembaknya, padahal Vina jelas sadar, kalau itu bermakna lain.


"Dari pada kau pergi keluar sendirian, bukannya lebih bagus jika ada yang menemanimu? Jarak ke kota pasti jauh juga kan?" ucap Vano, menjelaskan bahwa dirinya ingin ikut pergi bersama.


"Iya, dari pada kau sendirian, lebih baik di temani oleh dia saja." Ibunya Vina pun mendukung.

__ADS_1


Dan Vina seketika jadi tersudutkan dengan ucapan dari kedua orang tersebut. 'Padahal enak pergi sendiri.Tapi sekarang, jika dia ikut, bisa berabe aku? Pasti banyak aku akan jadi pusat perhatian semua orang.' pikir Vina, dia sudah mulai memikirkan apa yang kan terjadi ke depAs


__ADS_2