Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Elvano Melepaskan


__ADS_3

'Dia memang berbahaya, bagaimana bisa dia mengatakan itu kepadaku sebagai bujukan untukku?' pikiran Vina semakin rumit.


Tidak, sebenarnya tidak begitu rumit, dia hanya diberikan dua pilihan yang begitu jelas, apakah menerima bujukan itu atau tidak.


Pada intinya, Elvano datang untuk minta maaf sekaligus membujuknya lagi, tapi dengan rahasia yang Vina miliki itu.


"Tidak." jawaban singkatnya membuat Elvano tampak sangat terkejut.


"Kenapa?" tanyanya lagi, masih memposisikan kepalanya di atas bahunya Vina. "Aku bisa memba-"


"Mulut dengan janji manis, pria buaya, godaan, sikap, masa depan, masalah waktu, juga perubahan hati," semua yang dikatakan oleh Vina langsung di pahami dengan jelas oleh Elvano. "Aku hanya ingin bilang, aku tidak mau karena aku masih punya pikiran yang masih kekanakan, dan aku masih belum siap.


Aku hanya takut, banyak konsekuensi yang tidak ingin aku tanggung, aku lebih suka hidup sendiri, jadi jangan sok membawa rahasiaku itu.


Entah apa yang mau kau lakukan kepadaku, aku sama sekali tidak begitu menginginkanmu selain hubungan teman, itu saja.


Jadi, biarkan aku pulang, dan kau selesaikan urusanmu dengan keluargamu itu.


Jika kau memang menghargaiku sebagai orang yang menyelamatkan nyawamu, sebaiknya kabulkan permintaanku itu saja, tidak ada yang lain.


Itu saja yang aku minta darimu, Elvano,"


Setelah mendengar semua isi kata hatinya Vina, seketika itu juga Elvano pun tersadar.


Satu alasan yang pasti untuk Vina atas perasaan yang sudah Elvano katakan adalah, Vina sebenarnya ingin tapi takut, mau tapi tidak mau begitu repot, kebebasannya adalah dia sama sekali tidak ingin ikut dalam aturan manapun.


Satu hal yang pasti, pada akhirnya, Vina menolak perasaannya Elvano karena masih belum siap menanggung beban untuk menjalin kasih dengannya.


Karena sudah tidak ada satu pun yang bisa dia harapkan ketika Vina benar-benar teguh pada keputusannya, Elvano pun menyerah.


"Begitu ya? Baiklah, besok aku akan mengirimu pulang. Delvin akan menemanimu pulang sampai ke rumah, tidak masalah kan?" kata Elvano, tidak mengharapkan apapun lagi kepada Vina.


Vina yang mendengar hal tersebut, cukup terkejut, 'Eh? Dia mau melepasku begitu saja? Apa artinya aku dan dia, sudah tidak ada ikatan apapun lagi?

__ADS_1


Aku memang takut, jika anak buah Arthur datang dan melakukan sesuatu lagi kepadaku, tapi tetap saja aku ingin pulang.


Tapi, karena aku tidak mau lebih merepotkan dia dan semua orang disini, aku memutuskan untuk pulang saja.


Hanya saja, kenapa- aku merasa sedih ya?


Kenapa aku cukup kecewa dengan jawabannya yang tiba-tiba mengiyakannya begitu saja?'


Begitu Elvano mengangkat kepalanya dari atas bahunya Vina, mereka berdua pun sempat bertatap muka.


"Kenapa? Apa kau kecewa, kenapa aku tiba-tiba melepaskanmu?" tanyanya dengan nada menggoda.


Vina terhenyak, dan menjawab dengan cepat, "Tidak, kenapa kau berpikir aku kecewa? Aku cukup senang, karena aku akhirnya bisa pulang," padahal di dalam hatinya ada terbesit rasa kecewa, tapi dia tidak ingin memperlihatkannya.


Vano tersenyum lemah mendengar jawaban Vina yang begitu buru-buru. "Terserah kau mau menganggap aku ini apa, tapi sebelum kau pergi, apa kau mau membiarkan aku mendapatkan ini?"


Vina melirik ke bawah, yang mana jari jempolnya Elvano entah sejak kapan, sudah berada di depan bibirnya Vina itu sendiri.


Tidak mau kalah dalam beradu argumen, Elvano pun langsung membalas, "Kau juga mesum, lebih mesum dariku. Apa kau tidak mau mengaku dirimu itu lebih parah dariku?" seringaian liciknya sangat menganggu iman Vina, apalagi dengan bibir yang terus di belai dengan jari jempol Elvano yang terbungkus oleh sarung tangan hitamnya.


Vina yang merasa terhina itu, menggertakkan giginya.


Dia ingin marah, tapi sayangnya ekspresi wajah Elvano yang terlihat memelas itu, membuat Vina tidak kuat jika harus bersikap marah kepada pria itu.


Padahal pria tersebut sudah cukup melecehkannya dalam beberapa kesempatan yang tidak terduga, namun karena dia benar-benar cukup lemah dengan wajah rupawan milik Elvano, iman Vina pun jadinya terganggu.


Dahinya mengkerut, Vina sangat tidak bisa konsisten dalam hati dan pikirannya yang terus di uji dalam limpahan rahmat yang tidak bisa dia sangkal, kalau sebenarnya dia suka dengan pria tersebut.


Tapi, karena Vina sadar, kalau dia harus berpikir lebih matang jika berkaitan dengan hubungan, dia tetap pada pilihannya untuk menolak perasaannya Vano.


Ya, sekedar menolak perasaan adalah hal yang cukup mudah, tapi satu hal yang tidak bisa dia tolak adalah ketika kesempatan itu ada tapi tidak dia ambil.


'Lagi pula ciumanku sudah direnggut. Aku pikir tidak masalah jika dia menginginkannya. Setidaknya, ini untuk terakhir kalinya.' setelah berpikir demikian, Vina pun tersenyum mencibir.

__ADS_1


Elvano yang sedari tadi menunggu sambil bermain dengan bibirnya Vina menggunakan jari jempolnya, dengan cepat secara tiba-tiba Vina meraih lengan Vano, menariknya dengan kuat ke arahnya, saat itu juga Vina berjinjit dan mengecup bibir Elvano dengan cukup intens.


CUP


"...! " Elvano seketika tercengang dengan mata membulat cukup sempurna.


"Nah, sudah, kau tepati janjimu, biarkan aku pulang, dan kau urus kakakmu agar setidaknya tidak menganggu kehidupanku dan kedua orang tuaku lagi," jelas Vina, seakan tidak terjadi apapun dengan apa yang dia lakukan barusan.


Elvano yang terdiam itu, justru menyeringai, 'Melihat dia bahkan sampai mau menerima permintaanku untuk berciuman, berarti aku memang masih ada kesempatan.


Yah, aku akan memberikan dia waktu sampai siap. Dengan begitu, seperti yang dikatakan oleh pelayan itu, suatu hari nanti, aku pasti akan mendapatkannya.


Baik tubuhnya, maupun hatinya. Walaupun cukup keras kepala, tapi dia tipe yang mudah aku tangani, ini tidak masalah, yang penting aku bisa membereskan masalahku lebih dulu, sepeti Arthur, dan Abel, aku pikir mereka berdua pasti sedang merencanakan hal lain bersama dengan Veronica.


Jika aku ingin mendapatkan kesempatan keduaku dari Vina, satu masalah yang penting itu aku harus membereskan masalahku dulu.


Dengan begitu, dia tidak akan terlibat lagi dalam lingkaran di dalam masalah internal milikku.'


Bertaruh kepada keputusan terakhirnya, Vano pun melepaskan Vina untuk pulang ke negaranya.


Ya, setelah pembicaraan dimalam itu, Vina yang tahu kalau handphone nya di hack, dia riset dan dia tinggalkan di sana.


Dia tidak peduli kalau Elvano atau Delvin bisa memulihkan data-datanya, karena bagi dia, hal tersebut tidak akan ada untungnya juga, sebab setiap manusia juga punya rahasia yang nanti ujung-ujungnya juga akan ketahuan juga.


Lalu, Delvin yang tadinya sedang mengawasi anak buahnya yang sedang bekerja di kediaman utama Travers, di tuntut untuk mengantarkan Vina pulang ke negaranya.


Sedangkan Elvano?


Menjadi titik pusat masalah diantara mereka semua, Elvano pun membereskan kemungkinan besar pemberontakan yang di lakukan oleh kakaknya dengan mengawasi kakaknya dengan sangat ketat, di saat kakaknya itu dia berikan kesempatan satu bulan untuk menjadi kepala keluarga.


Tentu saja, masalah yang harus Elvano bereskan tidak sampai disitu saja.


Akan tetapi, satu yang paling penting di dalam lingkar masalah mereka semua, Vina yang tadinya berada di negeri asing, pada akhirnya bisa pulang ke negaranya.

__ADS_1


__ADS_2