
'Suaranya baru kali ini aku mendengarnya, apa alasan dia menculikku seperti ini? Sepertinya dia juga kenal dengan Elvano.' Veronica terdiam sambil berpikir soal alasan kenapa dirinya di culik.
Tapi sepertinya mau seberapa banyak dia berpikir, dia tidak akan pernah menemukan jawabannya, kecuali dia bertanya langsung kepada orang tersebut, yaitu Abel.
"Kau pasti sekarang sedang bertanya-tanya kenapa kau di culik, ya kan? Kau seharusnya tahu alasannya saat aku menyebut nama Elvano," kata Abel, dia mencoba main tebak-tebakan dengan Veronica. Entah wanita yang ada di depannya itu bisa menjawabnya atau tidak, dia berpikir untuk sedikit bermain-main dengan wanita itu.
'Elvano, entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja dia memutuskan hubungan denganku, lalu tidak lama kemudian bisnis keluargaku hancur, karena ketahuan oleh pihak pemerintah, kalau Ayah memperkerjakan buruh serta punya tambang ilegal yang belum di ketahui oleh pihak pemerintah.
Jika dia menculikku yang sudah di khianati oleh Elvano, apakah orang ini ada kaitannya dengan Elvano?
Aku sekarang jadi punya dendam dengan Elvano, jadi apakah dia juga punya tujuan yang sama?' terdiam membisu, Veronica hanya punya tebakan sebatas yang dia perkirakan saja. "Apa kau punya dendam pribadi dengan Elvano, sama sepertiku yang punya nasib setelah di khianati oleh dia?"
Pada akhirnya Veronica punya kesimpulan yang dia buat sendiri.
Abel yang terus menunggu jawaban macam apa yang akan di jawab oleh Veronica berdasarkan perkataannya tadi, tiba-tiba tersenyum cerah dengan jawaban wanita tersebut yang bisa di andalkan.
"Benar, seperti yang kau alami, baik kau dan aku, kita berdua punya masalah yang sama dan sama-sama punya ikatan yang berkaitan dengan Elvano itu," senyum Abel.
TOK... TOK... TOK...
Sudut matanya melirik ke arah pintu, hanya dengan menekan tombol enter dari papan keyboard laptop yang dia gunakan, pintu kamarnya yang terkunci itu pun langsung terbuka dengan tanda sebuah warna lampu yang berubah menjadi hijau.
KLEK...
"Permisi Tuan, saya ingin memberitahukan anda soal informasi yang saya dapat," salah satu anak buahnya pun datang dan berhenti di ambang pintu masuk sambil melihat situasi yang ada di dalam, apakah dirinya punya kesempatan untuk mengganggu lebih dari pada yang seharusnya atau tidak, dia sedang menunggu konfirmasi dari sang Tuan Abel yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Masuk," perintah Abel, lalu memberikan kode kepada anak buahnya itu untuk memberitahunya dengan berbisik di telinganya langsung.
"Tuan, ini soal Tuan muda pertama dan Tuan muda kedua," bisik pria ini kepada Abel.
Abel terdiam, dan akhirnya mendengarkan informasi yang dia dapatkan dari anak buahnya tersebut.
"Sekarang, Tuan muda pertama berhasil mengambil alih posisi Tuan muda ke dua. Penyerangan yang di lakukan kemarin, membuahkan hasil, apa yang akan anda lakukan?" bisiknya.
Setelah mendengarkan sedikit cerita yang di bawakan oleh anak buahnya, Abel yang tadinya diam, tiba-tiba saja tersenyum mengejek.
"Tidak mungkin, itu terlalu mudah untuknya, bagaimana bisa orang dengan sifat kekanakan tapi punya keras kepala yang tinggi itu, tiba-tiba memberikannya kepadanya? Selidiki lebih lanjut lagi, aku harus memastikan semua ini dengan informasi yang benar, bukan informasi yang setengah-setengah," tegur Abel.
Meskipun terdengar cukup meyakinkan, tapi Abel yang selalu punya banyak kecurigaan terhadap banyak hal, sama sekali tidak mampu mempercayai apa yang di katakan oleh anak buahnya tersebut.
"Saya belum selesai bicara," sela pria ini.
Abel pun mendengarkan lagi, dan akhirnya dia pun mendapatkan lanjutan dari cerita yang baru setengah jalan tadi. "Tuan muda kedua hanya memberikan Tuan muda muda pertama kesempatan selama satu bulan, itulah yang saya maksud.
Jadi untuk posisi kepala kelurga Travers ke depannya akan di pimpin oleh Tuan muda pertama selama satu bulan. Kemungkinan besarnya setelah itu Tuan muda kedua akan mengambil kembali posisi itu, anda mau bagaimana dengan informasi ini?"
Abel terdiam, dia sedang berpikir keras, lalu selain itu dia pun sedang memikirkan untuk menggunakan wanita yang ada di depannya itu untuk digunakan dalam rencana yang akan di jalankan nya itu.
"Kau pergi saja dulu, bawakan aku makanan, ah, lepaskan penutup kepala itu, biarkan dia melihat wajah tampanku ini, apakah dia bahkan terpesona dengan pria lain selain Elvano atau tidak," perintah Abel kepada anak buahnya tersebut.
__ADS_1
Anak buah Abel pun mengangguk paham. Dia pergi menghampiri Veronica dan melepaskan kantong hitam yang menutupi kepalanya itu, setelah itu dia pun pergi dari kamar tersebut, untuk memberikan waktu antara Tuan Abel bersama dengan Veronica.
"Phuah, sesak," keluh Veronica, setelah kepalanya berhasil bebas dari penutup kepala yang cukup menyesakkan itu. "Ngomong-ngomong, kenapa kau bicara dengan begitu percaya diri sekali, kalau kau punya wajah tampan?"
Veronica yang baru saja menggelengkan kepalanya untuk mengatur rambutnya yang sempat menutupi wajah dan matanya, tepat begitu dia berhasil menyingkirkan rambutnya sendiri, seketika langsung diam membisu, ketika dia akhirnya melihat dalang dari penculikan dirinya, sekaligus orang yang dari tadi membuatnya terus berpikir dengan tebak-tebakan.
Bibir tebal, alis hitam tebal, rambut serabai berwarna aram temaram, lalu di padukan dengan tubuhnya yang di selimuti handuk kimono dan memperlihatkan dadanya yang begitu bidang, serta tatapan matanya yang tajam, begitu juga dengan beberapa bagian wajah yang lebam akibat di pukul, membuat kesan dari pria bernama Abel itu pun tampak memperlihatkan pesona ganas yang tidak pernah Veronica lihat sebelumnya, bahkan jika itu Elvano, sebenarnya Veronica sendiri sama sekali tidak pernah melihat sosok dari Elvano yang punya ekspresi wajah yang tajam seperti Abel itu.
'T-tampan, bagaimana bisa pria setampan dia tiba-tiba menculik wanita sepertiku? Apa yang mau dia lakukan kepadaku? Bahkan auranya jelas sangat berbeda dari Elvano yang terus memperlihatkan tampang kekanakan, dia malah seperti orang dewasa yang sudah melalui banyak hal.
Apa-apaan ini? Apa ini yang namanya lotre? Setelah aku mendapatkan hinaan seperti ini, aku malah di pertemukan dengan pria sepertinya.
Benar-benar tidak adil sekali, apalagi penampilanku seperti ini, pasti aku benar-benar terlihat cukup menyedihkan di depan matanya.' puji Veronica dalam diamnya.
Dia yang cukup kagum dengan keberadaan dari Abel yang ada di atas tempat tidur itu, hanya bisa tersenyum tipis sendiri, saking kagum dan tidak mampu untuk berkata-kata selian dengan matanya yang terus saja tidak bisa mengalihkan pandangannya kepada Abel tersebut.
"Walaupun kau diam, setidaknya aku langsung tahu apa jawaban setelah kau melihatku.
Mata yang mendambakan lebih dari pada kenyataan, sebuah khayalan yang berbuah ekpektasi yang tidak bisa di gapai, semua wanita sering memandangku seperti itu, jadi kau termasuk aman karena menjadi salah satu dari mereka, bahkan wanita itu-" Abel sengaja menggantungkan kalimatnya agar Veronica yang sedang menahan senyuman dalam godaan itu, jadi di buat penasaran.
"Wanita itu? Siapa yang kau maksud?" Veronica akhirnya berhasil di pancing, dengan membuat kode yang mampu menarik perhatian Veronica dengan keingintahuannya.
"Yah~" berhadapan dengan meja lipat yang menjadi sahabat duduknya, Abel menyangga kepalanya dengan tangan kanannya sambil mengumbar senyuman remeh.
Senyuman yang sedang mencari-cari kesenangan dalam diri Veronica, Abel benar-benar sedang menunggunya.
"Itu ada kaitannya dengan mantan pacarmu juga," Abel lagi-lagi memancing rasa penasarannya Veronica.
"Yah, padahal aku ingin menunggu kau bertanya dan-"
"Dan menjawab, bertanya dan menjawab tapi ujung-ujungnya salah, dan membuatku terus untuk berpikir lagi dan lagi, jika seperti ini terus, walaupun aku penasaran, aku lebih baik menghentikan permainan tebak-tebakan ini," timpal Veronica dengan sangat berani, sampai Abel yang lumayan tercengang dengan sikap yang di perlihatkan oleh Veronica itu, di buat tersenyum dengan cukup manis, hingga rona pipi Veronica pun muncul juga.
"Menarik sekali ya, kau punya pikiran seperti itu, walaupun jadi tersiksa sendiri dengan rasa penasaranmu itu," tukas Abel. "Tapi, sebelum aku memberitahumu, aku tanya satu hal padamu, apakah kau sekarang membenci Elvano?
Dia memutuskan hubungan secara sepihak secara tiba-tiba, apa kau rasa tidak ada yang janggal?"
Meskipun Abel berkata dia akan memberitahu jawaban siapa wanita yang dia maksud kepada Veronica, dia memberikan pertanyaan yang justru membuat Veronica secara otomatis kembali terpancing untuk menjawab, mengingat Veronica juga pernah bertemu dengan wanita yang Abel maksud.
Veronica yang sudah tersulut rasa kesal, saat pertanyaannya Abel keluar dari mulutnya, hal itu membuat kilatan memori milik Veronica pun memunculkan satu orang wanita lain yang pernah dia temui karena ada kaitannya dengan Elvano.
Ya, kemungkinan besar kenapa Elvano tiba-tiba saja memutus hubungan dengan Veronica sendiri secara sepihak.
"Yah, aku memang sempat mencurigainya. Curiga kalau wanita yang pernah aku lihat itu, menjadi satu alasan kenapa Elvano memutus hubungan denganku secara sepihak seperti ini," jelas Veronica. "Dan tentu saja, hal itu membuat aku jadi membencinya, bahkan wanita jelek itu," imbuhnya.
Abel lantas tersenyum manis, dia memang sudah tahu soal itu semua, tapi bisa mendengar rasa tidak suka itu keluar dari mulutnya Veronica secara langsung, membuat Abel jadi merasa puas.
"Aku tidak tahu namanya siapa, tapi kemungkinan besarnya memang ada pada wanita itu, kenapa? Apakah itu ada hubungannya dengan wanita yang kau maksud tadi?" tanya Veronica dengan alir mengkerut, karena tiba-tiba saja dia melihat senyuman manis dan lebar itu malah menghiasi wajah tampan milik Abel yang sedang menatap ke arahnya.
"Kau sudah menemukan jawabannya sendiri tanpa perlu aku jawab, kau memang pintar ya?" puji Abel.
__ADS_1
"J-jadi! Jadi dia bahkan suka padamu? Begitu?!" pekik Veronica tidak sabaran.
"Begitulah, kalau saja kau pernah melihatku ingin memotong lehernya dengan pisau kesayanganku, kau akan tahu apa reaksi yang di perlihatkan wajah dari wanita itu.
Meskipun dia berhadapan dengan bahaya yang akan merenggut kematiannya, dia tidak melupakan untuk mengais sisa rasa yang dia dapatkan saat mengusap wajah ini," dengan percaya dirinya, Abel bercerita sambil mengusap wajahnya sendiri yang pernah di sentuh oleh tangannya Vina.
Veronica terkejut, namun dia bukan terkejut soal Vina yang mengusap wajah tampan milik Abel ini, melainkan apa alasan di balik Abel ingin memotong lehernya?
Memangnya apa kesalahan yang di lakukan oleh wanita yang Veronica kenal itu, sampai harus berhadapan dengan Abel yang ingin membunuhnya?
"A-apa maksudnya itu? Dia bahkan masih bisa menggodamu di saat terakhirnya? Apa itu yang kau ingin katakan kepadaku kan?" tanya Veronica dengan cepat.
"Benar, kau ternyata memang berbakat ya, untuk bisa main tebak-tebakan denganku, ku jadi semakin tertarik saja," padahal itu adalah kalimat bualan, tapi Veronica rupanya langsung tersipu karena di puji.
Benar, Veronica adalah tipe wanita yang menginginkan banyak pujian, seperti Ayahnya itu.
Tapi semua pujian itu perlahan akan menghilang dari belahan hidupnya, karena keluarganya sudah ada di ujung kehancuran.
Dengan kata lain, Veronica yang menginginkan pujian seperti itu, apalagi dari diri Abel, membuat Abel semakin mampu untuk mengendalikan Veronica untuk melakukan sesuatu yang Abel inginkan.
"Aku sudah tahu soal kondisimu saat ini, alasan aku menculikmu tentu saja karena kita punya masalah yang sama dan sama-sama memiliki kaitannya dengan Elvano juga wanita itu, wanita yang tentu saja pernah aku culik, dia namanya Vina, umurnya baru 23 tahun, dia masih muda, sama sepertimu.
Aku bicara sepertimu karena aku hanya ingin tahu dulu, apakah kau punya keinginan dari semua kejadian yang sudah kau dapatkan sampai detik ini?"
Veronica yang mendengar penjelasan itu, langsung membelalakkan matanya, dia langsung tahu apa tujuan dari pria rupawan yang ada di atas tempat tidur itu.
Meskipun dia tidak tahu apa alasan pria itu tetap berada di tempat tidurnya, tapi Veronica menyadari satu hal yang pasti, kalau Abel ingin membuat perhitungan dengan mengandalkannya.
"Dari segi kemampuan yang kau miliki sekarang, aku tahu kalau kau mana mungkin bisa berhadapan dengan Elvano secara langsung, tapi bukan berarti kau tidak bisa melakukan apapun, Veronica,"
Nama Veronica yang tiba-tiba di sebut oleh Abel, sontak saja membuat Veronica membuka matanya lebih lebar.
Dia serasa baru saja mendapatkan satu dukungan yang bisa membuatnya untuk melakukan sesuatu sebagai bekal untuk membalas dendamnya kepada seseorang.
"Vina, dia adalah wanita dari desa, dia adalah wanita yang punya pikiran masih polos, jadi bahkan ketika dia melihat kucing kelaparan di jalan, dia pasti akan menolongnya.
Intinya, jika kau ingin melakukan balas dendam, entah itu kepada Elvano sebagai mantan pacarmu, ataupun Vina yang merupakan ja*ang yang ingin kau singkirkan, satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah dengan membereskan Vina.
Kelemahan Elvano sekarang ada pada Vina, kau paham maksudku kan?
Dari pada kau hanya diam dan merenungi nasibmu sendiri, bukannya kau bisa melakukan apa yang ingin kau lakukan?
Dengan bantuan dariku, aku bisa membuat balas dendam kau itu terwujud." Penjelasan dari Abel pun berhasil membuat Veronica seperti baru saja mendapatkan secercah harapan.
"Kau memang seperti Dewa," puji Veronica.
Abel yang baru saja menyelesaikan kata-katanya, jadi terdiam sejenak, "Apa kau barusan menganggap aku sebagai Dewa?"
"Tepat. Di balik tampangmu, ternyata kau juga punya pikiran yang begitu licik untuk menghasutku.
__ADS_1
Jadi lebih tepatnya kau seperti seorang Dewa Raja Iblis yang sedang menyamar menjadi seorang manusia dan menghasut semua manusia yang memiliki entitas berbeda tapi punya satu tujuan yang sama, apakah aku salah?" terus terang Veronica, membuat Abel bahkan tidak percaya kalau dia jadi punya julukan seperti itu dari wanita yang baru saja dia culik itu.