Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Modus


__ADS_3

"Uh!" Vina yang merasa kesusahan untuk mengambil barang ke kelewat tinggi itu, akhirnya menyerah, dan memilih untuk istirahat sejenak.


Sekarang setelah mereka berdua istirahat sebentar, mereka pun jalan dari lantai bawah sampai ke lantai atas, tidak ada apapun yang bisa di belinya selain cuci mata saja.


Dan selah puas, mereka akhirnya pergi ke lantai pertama untuk belanja barang kebutuhan harian.


"Jika kau merasa terlalu pendek untuk mengambilnya, kenapa tidak bilang padaku? Memangnya aku ikut gunanya untuk pajangan saja ya?" Sampai suara milik Vano yang tiba-tiba berasal dari belakangnya persis, sontak membuat Vina terhenyak dan langsung mendongak ke atas.


Betapa eksotisnya di mata Vina setelah bisa melihat keindahan dari wajah Vano dari bawah, yang sekarang ada di atasnya persis dan tengah mengambilkan sebungkus pembalut.


Sungguh lucu, karena pria bule ini malah mengambilkan pembalut untuknya. Tapi meskipun begitu, dirinya tetap merasa cukup puas, bisa punya pria yang bisa dia anggap sebagai teman kencan, walaupun sebenarnya diantara mereka berdua tidak ada hubungan apapun, yang bahkan jika itu di juluki sebagai sepasang kekasih, maka itu tidak ada gunanya, sebab dia sadar, kalau dirinya merasa tidak akan cocok dengan pria eksotis seperti Arvin ini.


"Itu tergantung, yang aku ambil kan pembalut, aku jadi mikir pasti memalukan untukmu jika kau mengambilkannya untukku." Kata Vina dengan lirih, karena dia tidak ingin ada yang mengetahui apa yang dia bicarakan kepadanya dan, refleks membuat Vano menghentikan pergerakannya dan langsung menunduk ke bawah.


"Sebegitu khawatirnya? Padahal hanya mengambil pembalut, apanya yang memalukan? Ini," memberikan bungkusan besar isi tiga puluh dari roti tawar itu kepada Vina. "Apa jangan-jangan saat ini kau sedang berpikiran aneh-aneh soalku? Tidak masalah juga sih jika kau berpikiran kotor, karena pa dasarnya setiap orang kan punya na*fsu untuk bisa membiarkan otak kita berkhayal semau kita." tambahnya lagi, membuat Vina benar-benar sangat tercengang dengan apa yang barusan di katakan oleh Vano ini.


Dengan malu-malu, Vina pun mengambilnya dari tangan Vano, dan sekali lagi, banyak mata yang memandang ke arah mereka berdua.


'Kan, aku jadi pusat perhatian. Aku sih sudah setuju saja pada diriku kalau ini hal ini akan jadi pengalaman pertamaku, jalan dengan laki-laki layaknya sepasang kekasih. Tapi ternyata aku tetap saja belum kuat menghadapi efek yang di bawa oleh Vano ini kepadaku.' batin Vina, dia meletakkan belanjaannya itu kedalam keranjang tarik. "A-apa kau bisa menyingkir dari hadapanku?" Pinta Vina, karena tubuh Vano yang tinggi dan besar itu benar-benar menghalangi Vina untuk keluar dari area Vano itu sendiri.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" goda Vano dengan sengaja, sampai-sampai Vano pun benar-benar mengurung tubuh Vina di antara tubuh dan kedua tangannya itu.

__ADS_1


Benar-benar menarik, karena bisa melihat semburat dari wajah Vina yang sudah malu setengah mati.


"Lihat pria itu, keren sekali." puji salah satu pengunjung mall, yang baru saja melihat Vano.


"Ih, ada bule, aku jadi ngin foto dengannya." ucap perempuan lainnya.


Kembali lagi, Vano yang mendapatkan pandangan dari para pengunjung yang terus melirik ke arahnya, dengan sengaja dia pun mulai modus.


Vano tiba-tiba saja meletakkan kepalanya di bahu kanannya Vina.


PLUK...


"Weh, aku iri sekali dengan mereka berdua."


"Ahw, aku jadi mau juga. Kenapa mereka yang punya penampilan bertolak belakang seperti itu tetap saja kelihatan romantis sih?" Ucap mereka lagi, setelah melihat betapa modusnya Vano untuk menarik perhatian mereka yang terus berisik dengan cara paling membuat orang yang melihatnya merasa baper.


'Romantis? Iya, ini romantis, tapi kenapa di sini? Ini kan memalukan?!' teriak Vina dalam hati. Dia sudah malu setengah mati, karena seumur hidupnya dia sama sekali tidak pernah jalan dengan laki-laki.


Ya, boro-boro pacar, dia bergandengan tangan dengan laki-laki saja tidak pernah, selain hanya bersalaman sebentar saja.


Tapi apa yang terjadi kali ini? Justru pria yang sedang populer dalam beberapa waktu ini, kini sedang mengais simpati dari pengunjung mall dengan aksinya yang cukup membuat semua orang jadi merasa baper sendiri.

__ADS_1


"A-apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? Singkirkan kepalamu dari bahuku," pinta Vina kepada Vano, seraya mendorong kepala berwajah rupawan itu dari bahunya.


Benar-benar, ia pun cukup tersiksa dengan beberapa tingkah Vano yang tiba-tiba saja tidak begitu biasa.


"Tunggu sebentar, tiba-tiba dadaku merasa sakit, jadi biarkan aku seperti ini sebentar saja," jawab Vano, membuat alasan yang membuat Vina jadi berpikir ulang untuk membuat Vano menyingkirkan kepalanya dari bahunya Vina.


"Kan sudah aku bilang, lebih baik istirahat di rumah," kata Vina, dan ucapannya itu pun berhasil membuat mereka sama-sama membulatkan matanya dengan sempurna.


Jelas saja, mereka hanya terkejut sekaligus tidak menyangka kalau Vina dan Vano benar-benar memiliki hubungan, yang mana membuat pikiran mereka, jelas beranggapan kalau mereka berdua sudah lebih dari sepasang kekasih biasa, gara-gara mendengar kata rumah.


'Pfft..., dia ketipu. Sebenarnya aku tidak merasa sakit di manapun, tapi kelihatannya aktingku lancar, bisa membuat Vina mengira aku benar-benar kesakitan.' pikir Vano dengan pikiran liciknya itu.


Ide yang tiba-tiba saja muncul, dan bisa dia gunakan untuk memalsukan kondisinya dengan begitu baik, sampai Vina benar-benar mengira kalau rasa sakit di dadanya memang betulan.


"Tapi kan aku ingin pergi keluar, suntuk jika di dalam rumah terus," jawabnya lagi, membuat alasan dan alasan demi tidak di usir oleh Vina ini.


"Ehmm, kalau begitu kita pergi ke kasir, dan kita istirahat di luar." jawab Vina dengan tegas, karena dia sedang emncoba untuk menahan hati dan jantungnya yang terasa sangat terguncang hebat, gara-gara perlakuan Vano kepadanya.


Padahal dia masih ingin pergi berjalan-jalan, tapi karena mengingat kondisi Vano memang masih dalam tahap pemulihan, dia pun memutuskan untuk menghentikan acara belanjanya sampai disini, dan akan di lanjutkan di tempat lain, ketika Vina pergi sendirian.


'Ah, benar-benar deh, agak memalukan sekali, dia meletakkan kepalanya di bahuku. Dan nafasnya yang sempat menghembus ke leherku, ya ampun tubuhku kenapa seketika rasanya jadi sepanas ini ya?' pikir Vina, dan sayangnya, gara-gara pikirannya yang sudah bercampur dalam mode liarnya, tanpa bisa Vina kontrol, area bawahnya jadi ikutan terasa panas. 'Semoga tidak basah, tapi tetap saja aku harus pergi ke kamar mandi dulu, lagi pula bulan ini aku memang belum datang bulan, aku khawatir ternyata yang aku rasakan adalah haidku sendiri.'

__ADS_1


__ADS_2