Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
66 : Tabrakan


__ADS_3

Delvin, dia adalah anak buah sekaligus tangan kanannya Elvano. 


Entah sang Tuan muda nya itu masih seperti semula ataupun jadi orang yang berbeda, karena semua ingatannya menghilang, akan tetapi, Delvin akan tetap menjaga posisinya itu dengan sebaik mungkin. 


Dan salah satu perbedaan dari Tuan mudanya sekarang, pria itu justru terlihat seperti kucing jantan yang sedang kesengsem dengan kucing betina. 


“Vina, apa kau lapar?” tanya Vano, dia mencoba menawarkan sebuah restoran, jika Vina menjawab ‘iya’. 


“Tidak-” jawab Vina. 


‘Kalau Nona muda tahu soal ini, apa yang akan terjadi? Apalagi mengingat Tuan muda terus saja menempel padanya, ini akan jadi skandal pertengkaran karena selingkuh.’ pikir Delvin. Demi menjaga keamanan dari Tuan muda yang harus dia jaga, Delvin pun menyamar jadi orang lain, dan pergi mengikuti dua orang yang sedang ada di depan restoran.


Tepatnya hari ini, senin pagi jam tujuh pagi, Elvano yang mengajak Vina untuk pergi keluar, dengan tujuan bisa jalan-jalan berkeliling kota paris, membuat posisi Delvin ditempatkan untuk sebagai bodyguard mereka berdua. 


“Kau kan belum sarapan-”


“Tapi aku kan sudah makan bubur yang kau bawa tadi-” jawab Vina, dia yang sedikit risih dengan sepatu boots yang dikenakannya, membuatnya terus melirik ke arah salah satu toko sepatu. ‘Sebenarnya sepatunya kurang nyaman, tapi aku tidak boleh mengeluh karena ini. Apalagi kelihatan mahal-mahal. Kenapa tidak beri aku sepatu yang biasa dipakai suster itu? Kelihatannya itu lebih nyaman.’ pikir Vina. Tanpa sadar, dia menatap kedua kakinya. 


“Apa sepatunya kurang nyaman?”


“Tidak kok, ini nyaman-” Vina tidak bisa berbohong. Raut mukanya yang tampak risih itu, bisa dibaca oleh Vano. 


‘Padahal musim semi, tapi udaranya memang masih agak dingin. Apa ini alasannya aku harus memakai pakaian tebal seperti ini? Tapi jika aku bisa bersenang-senang seperti ini, lalu bagaimana dengan kedua orang tuaku ya? Aku jadi terus kepikiran tentang mereka berdua. 


Aku tidak ingin terlihat murung terus seperti ini di depan orang yang sudah rela meluangkan waktu untukku, tapi isi kepalaku benar-benar, ingin sekali bisa pulang.’ merasa terjerat dengan isi hati dan pikirannya, Vina pun memejamkan matanya sejenak. 


‘Apa aku terlalu memaksanya pergi, padahal kondisinya masih belum benar-benar pulih? Dan kelihatannya, aku memilih sepatu yang salah. Dia jelas terlihat kurang nyaman, tapi masih saja tidak mengatakannya dengan jujur kepadaku.’ pikir Elvano, dia melirik ke arah sepatu berwarna putih boots dengan hak setinggi lima sentimeter yang di pakai oleh Vina. 


“Hahaha, ma! Pah! Cepat, aku sudah lapar sekali!” teriak anak perempuan berambut pirang ini kepada kedua orang tua di belakangnya. 


“Hahh- Maaf, aku jadi terlihat seperti orang yang sedang menikmati jalan-jalan ini.” kata Vina, jadi merasa bersalah dengan Vano. Padahal niat baiknya sudah cukup membuat hatinya jadi sempat bergetar, tapi karena masalahnya pikirannya terus memikirkan kedua orang tuanya, makannya Vina jadi sungkan. 


“Sevien! Jangan lari begitu,” peringat sang Ayah kepada anaknya itu. 


Tapi, tidak mendengarkan perkataannya, anak perempuannya itu terus berlari tanpa melihat jalan. 


“Lagian mama dan papa lambat sih, cepat dong!”  ucapnya lagi. 


Sedangkan di satu sisi, Vano menjawab perkataannya Vina tadi. “Memangnya kau sedang kepikiran apa?” 


“Aku han-”

__ADS_1


Hingga, Vina yang masih belum melihat jalan dengan benar, karena berjalan dengan kepala menunduk, anak kecil itu pun tanpa basa-basi jadinya menabrak Vina. 


BRUKK…


“Akhh…!”


Vano yang melihat anak kecil itu langsung menerjang kedua kakinya Vina dengan kuat dan membuat Vina yang kehilangan kesembangan tubuhnya, dengan cekatan, Elvano menangkap dua orang itu sebelum jatuh. 


GREP…


“Sevien!” teriak seorang pria kisaran tiga puluh lima tahunan itu, begitu melihat anaknya hampir terjatuh. 


Hingga pria bersama dengan istrinya itu pun langsung berlari menuju persimpangan dari bangunan di depan sana, karena anaknya yang baru saja menabrak orang. 


“Sevien! Kau barusan menab-” belum sempat selesai bicara, wanita yang tidak lain adalah Ibu dari putri kecil yang barusan membuat onar, sesaat jadi langsung terdiam.


“Maa! Pa! Tolong Sevien, aku mau di culik, di culik oleh paman ini!” racau anak perempuan ini, ketika kerah belakang bajunya itu, sudah dicengkram kuat oleh Vano, sampai kedua kaki anak itu pun menggantung, sedangkan di sisi lain, tangan kirinya, sudah berhasil melingkarkan tangannya di belakang punggungnya Vina, menghindari Vina terjatuh. 


“Hei, apa yang kau bicarakan kepadaku?”


“Kau mau menculikku!” anak perempuan ini malah nyolot kepada Vano. Tidak terlihat adanya rasa takut di matanya yang bulat dan lebar itu. 


“Pasti akal-akalan mereka berdua, karena Savi-”


“Savien, dengarkan papa,” sela pria ini, agar putrinya itu diam. 


“V-vano, turunkan anak itu. Jika kau mengangkatnya dengan cara seperti itu, dia akan kesusahan bernafas,” bujuk Vina kepada Elvano, yang dengan begitu kuatnya, bisa-bisanya mengangkat tubuh Savien sampai tubuhnya menggantung di udara, dengan bermodalkan mencengkram baju belakang dari gaun yang dipakai anak perempuan itu. 


Melihat anak perempuan tersebut terdiam, Vano pun menurunkan tubuh Savien dengan perlahan. 


“Paman jahat, memangnya aku ini gantungan baju,” ketus anak ini. 


“T-tuan, maafkan anak kami, karena sudah menabrak kekasih anda.” ucap Ibu dari Savien, sambil membungkuk bersama dengan suaminya kepada Elvano. 


‘Tidak diduga, mereka langsung minta maaf, bahkan sampai menunduk segala,”


“Kekasih? Padahal tidak coc-” ucapannya langsung terpotong, setelah mulutnya langsung di bungkam oleh tangan Ayahnya. 


“Sekali lagi maafkan anak kami,” kata pria ini, terhadap Vano juga. 


“Iya, Tuan dan Nona, maaf karena anak kami melakukan kesalahan kepada anda.” ucap wanita ini lagi, kepada Vano juga Vina. 

__ADS_1


“Ya, aku tidak begitu mempermasalahkannya, lain kali hati-hati, agar putri kalian setidaknya jangan sampai berkeliaran sampai ke tengah jalan” jawab Vano. ‘Ngomong-ngomong, kenapa mereka begitu terlihat menghormatiku? Bahkan dari ekspresi wajah mereka berdua, sepertinya terlihat takut. Aneh, atau mereka menganggap aku terlihat seperti orang kaya? Meskipun aku bahkan sudah berpakaian yang paling biasa?’ Vano pun diam-diam merasa curiga sendiri dengan segala pikirannya. 


Sedangkan kenyataan sebenarnya, Vano tidak tahu, kalau sebenarnya kedua orang di depannya itu adalah anak buahnya sendiri, yang sedang menyamar jadi orang biasa, dengan cara membuat rutinitas layaknya orang pada umumnya. 


Di sisi satunya lagi, yaitu Vina, dia diam-diam terus menatap wajah dari Sevina itu. 


‘Rambut pirang, anak itu kenapa imut sekali? Sial, aku ingin menyentuh dan mencubit pipinya yang gemoy itu.’ batin Vina, tangannya sebenarnya ingin sekali dia angkat, untuk mencubit pipi atau setidaknya mengusap ujung kepala dari anak perempuan itu. 


Tapi, demi menjaga image miliknya, dia pun harus menahan diri dengan cara mencengkram mantel yang Vina pakai. 


“Baik, kami akan memperhatikan Putri kami lebih baik lagi, terima kasih karena sudah memaafkan kecerobohan kami.” ucap ayah dari Sevina. 


“Paman ini, padahal tampan, tapi jalan kaki, lucu sekali ya?” ledek Sevina lagi. 


Tombol ujian kesabaran Elvano pun muncul juga. ‘Anak ini, masih kecil tapi mulutnya kenapa berani sekali kepadaku? Dan dia tadi bilang apa? Lucu? Kenapa ada yang bisa menganggapku lucu? Padahal tampangku saja, kelihatannya malah seperti preman.’ 


Elvano yang merasa dengan aura dan tampang wajahnya sendiri seperti apa, dia pun menoleh ke arah kaca jendela dari toko yang ada di sebelahnya persis. 


“Sevina-, diamlah, hormati orang yang lebih tua darimu, jangan seperti itu.” tegur sang Ibu kepada Sevina. 


“Tapi- tapi kan aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya, apakah aku salah?” Sevina merungut. 


“Apakah orang tampan itu seharusnya naik mobil? Memangnya sebenarnya apa yang bisa dinikmati dari sekedar duduk didalam kendaraan dan terus konsentrasi ke jalan raya, menghindari tabrakan dengan kendaraan besar yang lain?” sahut Elvano. 


“Uhukk! Uhukk..!” 


Mendengar adanya orang yang terbatuk, mereka berlima pun langsung menoleh ke belakang, dan melihat ada satu orang laki-laki yang sedang duduk di dalam mobil mewah, tengah terbatuk. 


“Sayang kenapa kau tiba-tiba batuk, pakaianmu jadi basah tahu,” ucap seorang wanita cantik yang kebetulan memang duduk di dalam mobil bersama dengan pria dengan setelan jas berwarna biru yang sedang terbatuk itu. 


“Jadi paman tidak iri dengan orang yang ada di dalam mobil mewah itu?” Savien pun menunjuk satu orang yang bisa dijadikan contoh kepada Vano. 


Alhasil, tatapan mata Elvano dan pria yang ada di dalam mobil Mercedes itu, saling bertemu. 


‘Gila, kenapa dia tampan sekali? Bahkan lebih, ketimbang pacarku ini’ batin wanita yang ada di dalam mobil ini, di saat tangannya sedang mengambilkan tisu untuk membantu kekasihnya itu mengeringkan baju yang terkena siraman kopi. 


“Iri itu jadi penyakit,” cetus Vano, “Vin, ayo pergi.” Elvano pun menarik tangan Vina untuk pergi dari sana. 


‘Mobilnya bagus. Tapi aku tidak kuat jika berada di dalam mobil.’ batin Vina, mereka berdua pun meninggalkan mereka. 


__ADS_1


__ADS_2