
"Di sini ada dua kamar, kau bisa istirahat di sana, aku ada di lantai atas. Dan semua kebutuhanmu juga sudah ada di dalam semua kamar, jadi kau hanya tinggal memakainya saja."
Elvano memberikan penjelasan kepada Vina, mengingat Vina sendiri pergi ke apartemen nya tanpa membawa apapun selain tubuh dan pakaian yang sudah di gunakan oleh Vina itu.
"Apa kau butuh sesuatu lagi?" tanya Elvano, seraya mengambil botol air minum di dalam kulkas.
"Kau mau pergi kamana?" tanya Vina, dia merasa kalau Vano akan pergi, tapi setidaknya dia ingin tahu Vano akan pergi kemana.
Baru juga sampai tapi sudah mau di tinggal begitu saja oleh Vano sendirian di dalam apertemen itu?
Bagi Vina, dia sama sekali tidak begitu mempermasalahkannya, karena lagi pula dia memang lebih suka sendirian.
Tapi kala itu, langit di atas kota benar-benar kembali menjadi kelabu, itu menandakan kalau hujan akan turun.
'Padahal aku sudah terbiasa sendirian, tapi kenapa aku merasa jika Vano pergi, aku akan seperti ketakutan?' di balik wajah Vina yang nampak tenang itu, terbesit rasa cemas yang menganggu di dalam hatinya.
"Aku hanya mau pergi ke supermarket dulu sebentar. Tapi selagi aku pergi, kau jangan pernah sekalipun buka pintu kecuali aku." Ujar Vano sambil memperingatkan kepada perempuan yang nampak kebingungan itu.
"Kalau ada orang yang mena-" belum juga selesai bicara, Vano langsung menyela.
"Aku tidak pernah memanggil siapapun untuk datang kesini, jadi jika ada orang lain yang benar-benar datang kesini, meskipun dia kenal dengan aku dan sampai menyebut namaku, kau lebih baik mengabaikannya.
Keamanan di apertemen ini sudah lumayan, tapi yang lebih penting kan itu kau. Jadi jangan pernah buka pintu itu sekalipun." jelasnya seraya menunjuk ke arah pintu.
Vina pun memberikan anggukan sebagai jawabannya.
Dan Vano pun meresponnya dengan senyuman simpul yang akhirnya menghilang selepas Vano memunggungi Vina dan berakhir dengan pergi dari sana.
KLEK....
"Vano- apa dia menyembunyikan sesuatu dariku?" gumam Vina, menatap pintu yang sudah tertutup itu. 'Tapi lebih dari pada itu, tempatnya sangat mewah ya?'
__________
Tepat setelah Vano keluar dari pintu apertemen nya, Vano langsung di lempari sebuah kunci mobil oleh Delvin yang sudah menunggu di depan sambil bersandar di ke dinding.
"Apa anda yakin akan pergi sendiri?" tanya Delvin, segera berjalan mengekori kepergiannya sang Tuan muda tepat di belakangnya persis.
Dengan ekspresi wajahnya yang cukup serius itu, Vano pun menjawab pertanyaan dari Delvin sambil memencet tombol lift. "Memangnya kau pikir aku ini siapa? Walaupun aku memang tidak ingat siapa diriku, tapi tubuhku ini jelas punya insting untuk bisa mewaspadai orang sekitarku. Kau hanya perlu menjaga Vina saja disini."
__ADS_1
TING...
Setelah lift sampai, Elvano pun berjalan masuk kedalam lift, dan meninggalkan salah satu anak buahnya yaitu Delvin yang tetap berdiri di ambang pintu lift.
Dan sebelum kedua pintu lift itu tertutup, Vano pun angkat bicara lagi : "Veronica, dia pasti akan pergi mencariku sampai kesini, cegah dia apapun yang terjadi, salah satunya adalah itu-" tepat di saat Vano mengangkat salah satu tangannya dan menunjuk ke arah pintu apertemen nya, kedua pintu lift itu pun tertutup.
Setelah tertutup, Delvin yang di berikan titah oleh sang Tuan majikan yang menunjuk ke arah nomor pintu, membuat Delvin langsung paham apa yang di maksud oleh sang Tuan muda itu.
'Hal kecil, menukar nomor pintu. Hm..., seperti biasa, anda terlalu cerdik.' puji Delvin dalam diam dengan seringaian tipisnya itu, dia sangat suka setiap kali sang Tuan muda nya itu menemukan ide yang begitu cepat langsung muncul.
___________
Di Lobi, kemunculan Vano pun langsung membuat sebagian besar dari pegawai di sana, langsung menghentikan langkah kaki mereka untuk menyambut kemunculannya dari sang Tuan muda Elvano.
"Selamat siang Tuan muda," sapa semua orang yang ada di sana, entah mereka berada di posisi sedang apa, mereka tetap membungkukkan tubuh mereka sebagai salam penghormatan mereka semua kepada sang Tuan mereka.
"Apa anda mau pergi keluar?"
Evano pun langsung menyahutnya. Tanpa memperhatikan siapa yang mengajaknya bicara, Vano segera menjawab seraya memasang kacamata hitamnya. "Kalau ada wanita yang mengaku namanya Veronica, tidak perlu halangi dia. Lakukan saja layanannya seperti biasa."
Dan pernyataan itu pun membuat salah satu dari mereka langsung mengutarakan pendapatnya itu. "Kalau begitu Nona yang anda bawa bagaimana? Bukannya Nona Veronica itu adalah kekasih anda?" tanyanya.
"Baik Tuan, kami akan melaksanakan sesuai perintah anda." jawab mereka semua secara serentak.
Dan Elvano pun pergi menuju pintu keluar gedung, tetapi dia memilih untuk mengambil jalur milik karyawan, untuk menghindari kedatangan dari tamu yang kemungkinan kalau Veronica akan datang tanpa di undang.
_____________
Di dalam apartemen nya Elvano, Vina justru sedang menatap keindahan dari langit-langit apartemen tersebut yang bisa di anggap sebagai rumah juga.
"Bagaimana Vano bisa dapat rumah seperti sebagus ini? Apakah dia mendapatkan pekerjaan yang gajinya besar? Atau tempat dia bekerja, memberikannya fasilitas seperti ini kepadanya?" tidak ada yang bisa Vina tebak dengan benar, karena semua tebakannya pun salah besar.
Tapi apapun yang terjadi, dia pun tidak bisa menganggap remeh pria yang sudah dia selamatkan itu, kalau pria itu adalah orang biasa lagi, sebab sekarang Elvano sudah bukan lagi orang yang dulu. Orang yang menyedihkan karena hampir sekarat, dan dialah orang yang sempat kehilangan tujuan, tempat tinggal, dan identitasnya.
Sebab, sekarang Elvano benar-benar cukup berbeda, dan Vina pun sama sekali tidak ingin membuat kehidupan Vano berubah, jika pria itu malah ikut dengannya pulang ke tanah airnya Vina.
Memikirkan hal tersebut, Vina pun jadi tersenyum miris.
"Kenapa aku terus punya perasaan ingin memiliki?" gumamnya. Perasaan suka yang teramat sungguh bodoh, yang bisa membuat akal sehatnya terkadang lepas kendali jika tidak bisa di kontrol, setiap kali berhadapan dengan laki-laki yang nampak lebih dewasa dari pada dirinya itu. "Tidak boleh. Lagi pula, orang seperti dia pasti sudah punya pasangan. Entah siapa, itu aku tidak mau tahu, yang penting aku tidak boleh berhubungan dengan Vano lebih jauh lagi dari ini."
__ADS_1
Setelah mencoba untuk berpikir keras mengenai perasaan dan keputusan dari pilihannya untuk ke depannya, Vina yang sangat penasaran dengan isi dari kamar yang bisa dia tinggali untuk sementara waktu itu, dia pun masuk langsung masuk ke dalam.
Kamar yang empat kali lipat lebih luas dari pada kamar miliknya Vina yang ada di rumahnya, seketika membuat ekspresi wajah Vina pun terkejut.
'Bahkan kamar ini, Ini bukan tempat yang bisa aku jangkau dengan mudah. Ini bukan sebanding dengan posisiku yang hanya perempuan dari desa.' setelah kagum dengan kamar mewah itu, Vina pun menilik ke arah lemari, dimana kata Vano sebelum keluar tadi, Vano mengatakan kalau semua kebutuhan dan bahkan termasuk dengan pakaiannya, sudah tersedia.
Tapi apa yang dia dapatkan, ekspresi dari wajah kagumnya pun langsung menghilang dalam hitungan detik, tepat setelah melihat isi dari lemarinya itu, dan di gantikan dengan ekspresi wajah yang sudah tersipu malu.
"Elvano, k-kenapa dia malah menyediakan pakaian seperti ini kepadaku?" lirih Vina dengan perasaan jijik, di saat kedua tangannya mengeluarkan dua buah pakaian yang di gantung dengan gantungan kayu. "Vano ini- apa dia...sengaja melakukannya? Kenapa aku di beri pakaian Lingerie semua?"
Sontak saja, Vina pun langsung mengembalikannya ke dalam lemari dan menutupnya rapat-rapat.
BRAKK....
"Hahh..hah..hahh, tidak. Gara-gara itu-" Vina seketika jadi panik sendiri. Sambil menunjuk ke arah lemari, wajah paniknya pun seolah seperti mengisyaratkan hal lain, kalau apa yang ada di dalam adalah barang pacuan yang seketika membuat pikiran Vina otomatis langsung berkeliaran kemana-mana. "Gara-gara itu aku jadi punya pikiran kotor. Kenapa Vano malah menyiapkan satu lusin lingerie di dalam lemari? Apa artinya ini? Kenapa dia malah melakukan ini kepadaku?" racau Vina.
Dia pun jadinya langsung terduduk di atas tempat tidur sambil memegangi kepalanya.
"Ini apa artinya?! Apakah alasan kenapa aku di bawa kesini karen aku harus memakai itu untuk menemaninya? Ups...tidak-tidak boleh. Tapi kenapa pikiranku terus mengarah ke hal negatif ya? Ah! Vano ini, dia terus merusak isi pikiranku!" pekik Vina, sampai-sampai dia akhirnya terbaring di atas tempat tidur sambil berguling-guling. "Dia bahkan bilang mau pergi ke supermarket, apa dia jangan-jangan ada yang mau dia beli?"
Dan otaknya pun semakin berpikiran konyol, kalau pria itu pergi ke supermarket untuk membeli barang tabu yang hanya di pakai untuk dua orang yang ingin bercinta.
'Aku tidak mau ini terjadi, tapi pikiranku ini sama sekali tidak bisa di kontrol! Vano, kau harus tanggung jawab!' teriak Vina lagi di dalam hatinya.
______________
BRRMMM..........
"Kenapa aku merasa seperti ada yang memanggilku?" Gumam Vano, tidak sengaja telinganya pun sedikit berdengung, seolah pikirannya tadi pun seperti baru saja di masukkan kata-kata umpatan yang tidak jelas dari seseorang.
PIP-----
Melihat tanda pengukur pengisian ulang kendaraannya sudah cukup penuh, Vano pun membayar jasa pengisian ulang itu dengan kartunya.
"Tuan, ini kartu anda." ucap pegawai ini terhadap Vano yang masih setia duduk di dalam mobil.
"Hmm.." jawab Vano dengan deheman, lalu dia pun pergi dari sana, membawa kembali mobilnya untuk menyusuri jalanan kota paris. 'Semoga saja dia suka dengan kamar dan pakaian yang sudah di siapkan.' harap Vano.
Padahal sebenarnya dia menyuruh Delvin untuk menyiapkannya, tapi sayangnya Vano yang tidak tahu Delvin akan menyiapkan semua kebutuhan itu dengan apa saja, Elvano sekarang ini pun jadi bahan umpatan dari Vina yang berada di dalam rumahnya.
__ADS_1