
"Kau cantik," pujian berlalu begitu saja.
Hanya saja, sebagai orang yang pertama kalinya di puji oleh seorang pria sambil menatap ke arahnya, Vina seketika diam membisu.
Dia malu, hatinya cukup senang, tapi di satu sisi, dirinya justru merasa seperti sedang di permainkan.
Ketika Vina sedang berpikir keras apa yang harus dia lakukan, karena dia saat ini sedang berhadapan dengan Elvano, tiba-tiba saja salah satu tangannya Elvano terangkat dan meraih salah satu pipinya Vina yang sudah merona.
'Aku sama sekali belum pernah pacaran, dan apalagi aku bahkan tidak pernah pipiku di sentuh oleh seorang pria. Tapi bagaimana bisa aku sekarang malah mendapatkan momen sedang di rayu oleh orang ini?' Vina memejamkan matanya. Setiap sentuhan yang terjadi antara ujung jari dan kulit wajahnya, menciptakan sensasi yang cukup menggelikan, sampai Vina tanpa sadar memalingkan wajahnya.
Mendapati Vina memalingkan wajahnya, Elvano menghentikan aksinya. Dia pikir dia baru saja mengejutkan Vina, jadi dia hanya diam sejenak sambil memperhatikan reaksi Vina sendiri.
"Apa kau takut?" Elvano pun bertanya dengan nada sedikit rendah.
Senyuman lembut terus mewarnai bibir seksinya.
Sangat tidak bisa di pungkiri, ketika Vina mencoba mengintip wajah Elvano lagi, dia justru di hadapi sebuah ekspresi yang cukup lembut untuk di katakan sebagai orang yang sedang bersikap hati-hati kepadanya.
Seolah, diri Vina adalah sebuah gelas kaca yang harus di pegang dengan hati-hati?
Konyol, Vina tahu sekaligus sadar kalau saat ini sekarang tidak mungkin dirinya mendapatkan momen langka dari dua orang seperti hendak menghabiskan malam pertama.
'Ini hanyalah mimpi. Tapi kenapa aku bisa dapat mimpi seperti ini? Keterlaluan sekali, aku masih jomblo tapi aku malah dapat mimpi yang seperti ini.' pikir Vina, dia menelan air liurnya sendiri, karena dia melihat tubuh Vano yang memperlihatkan tubuh dadanya.
Deretan otot menghiasi tubuh berisi itu, sungguh menggoda dan penuh dengan pikat daya yang tidak mampu di singkirkan dengan mudah.
"Ya, aku takut," jawaban Vina atas pertanyaan dari Elvano tadi.
Untuk sesaat Vano terus menatapnya. Sepintas membuat Vina merasa cukup canggung, sampai di detik terakhir sebelum Vina mengalihkan pandangannya ke arah lain, tiba-tiba saja wajah Vina di tarik.
"Apa ya-mph..!" sebelum bisa bicara sepenuhnya, Vina langsung di bungkam dengan mulutnya Vano.
Sontak Vina langsung membelalakkan matanya, bahkan seketika itu juga pikirannya jadi sepenuhnya kosong.
'Vano? Ini tidak mungkin kan? Katanya kalau mimpi seperti ini, itu artinya tidak baik.' pikir Vina.
Vina mendorong kuat tubuh Elvano dari hadapannya. Akan tetapi Elvano justru langsung melingkarkan tangan kirinya itu untuk meraih belakang kepalanya Vina dan menekan kepalanya ke arah depan, sehingga niat untuk menjauh dari Elvano, sama saja dengan sia-sia.
"Mphh...!" kernyit Vina, dia memberontak ingin lepas dari Elvano.
"Kenapa kau mendorongku?" tanya Vano, setelah sesaat tadi dia menyelesaikan ciumannya.
"Hah ..., hah ..., hah ..., ini hanya mimpi saja, aku tidak mau melakukannya denganmu!" balas Vina sambil mengusap mulutnya sendiri dengan kasar. "Kalau hanya mimpi, aku tidak mau. Lagian, hanya mimpi, dan bukan kenyataan, kenapa aku harus melakukannya denganmu?!
Aku tahu, aku ini jomblo, tapi setidaknya aku tidak mau harapanku ini sampai membuatku jatuh dalam angan mimpiku saja! Pergi!" teriak Vina sambil menendang-nendang kaki dan mendorong tubuhnya Elvano.
__ADS_1
Elvano yang tersenyum kecut, pandangannya kemudian jatuh pada wajah Vina yang terlihat ingin menangis dan berkata, "Jadi apakah jika mimpi ini jadi nyata, kau akan menerimaku?"
"Kenapa aku harus menerimamu? Kau dan aku beda level, itu tidak baik, makannya mau seberapa banyak kau mengutarakan perasaanmu, aku akan menolak! Pergi!" jerit Vina.
Elvano diam sejenak, menghela nafas dengan kasar dia tahu kalau mimpi sama saja seperti hinaan besar, jika mimpi ini tidak terwujud.
"Walaupun kau berkata menolak, asal kau tahu saja-"
Berusaha untuk menata kalimat yang akan dia ucapkan selanjutnya, Vano akhirnya sedikit membuat jarak, meskipun diantara mereka berdua masih menyisakan jarak dekat yang membuat mereka berdua masih mampu merasakan nafas mereka masing-masing.
"Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkanmu, kau harus ingat ini. Jadi untuk kali ini, aku tidak akan datang ke dalam mimpimu lagi, melainkan akan selalu datang dalam kehidupanmu yang sebenarnya, Vina." sambung Elvano sambil mengusap wajah Vina dengan kelembutan yang sebenarnya cukup asing untuk Vina sendiri. "Menentang, mendorongku untuk menjauh, jika pikiranmu untuk membuat jarak terjauh untukku, maka aku jutsru sebaliknya.
Aku akan memakan semua jarak diantara kita, entah kau aku menggunakan cara kasar atau baik, ini akan jadi pengalamanmu sendiri, kalau aku sama sekali tidak akan pernah mundur darimu.
Kau itu pahlawanku, tidak banyak wanita sepertimu di sepanjang hidupku ini, Vina.
Kau seharusnya menerimaku. Yah, itu butuh waktu, tapi jangan lagi menganggap kalau kata-kataku ini hanya omong kosong belaka."
Setelah berkata panjang lebar, Elvano pun pergi dari kamar itu, dan meninggalkan Vina sendirian dalam kondisi mematung.
___________
Sentuhan hangat mendarat di dahinya. Begitu Vina membuka kelopak matanya, dia justru melihat Elvano yang sedang mendaratkan telapak tangannya di atas dahinya Vina.
Di bawah cahaya bulan purnama, kamar gelap itu seketika jadi terang secara signifikan, dan sosok dari Elvano yang membelakangi cahaya bulan, membuat background dari keberadaan pria ini, semakin menciptakan kesan aneh yang tidak terhitung jumlahnya.
Vina hanya diam untuk sementara waktu. Dia mencoba untuk mencerna situasinya langsung berubah secara drastis itu.
“Tidak. Mungkin aku kepanasan saja,” jawab Vina.
Kenyataannya di dalam kamar itu, Vina emmang tidak mengaktifkan AC, karena dia tidak suka dengan kamar yang dingin.
‘Benar sih, kamarnya memang cukup panas. Tapi apa yang membuatnya berubah seperti ini? Kelihatannyadia punya mimpi yang berkaitan denganku.’ pikir Elvano. Dia lumayan cukup curiga dengan sikap Vina yang benar-benar kembali cuek. ‘Perubahan mood nya benar-benar drastis. Aku harus menyelesaikan ini pelan-pelan saja.
Ya, asal Vina tidak pergi dari isni dengan cepat, aku pasti bisa membuat Vina menerima perasaanku.
Bagaimanapun, aku harus membuatnya jadi milikku.
Karena setelah itu, kau pasti akan menyadari betapa beruntungnya bisa mendapatkanku.’
Di luar konteks yang ada, Vina sebenarnya benar-benar sangat terganggu dengan keberadaan dari Elvano ini.
Tampangnya, tubuhnya, perhatian, sikap dan cara bicara dari pria yang ada dihadapannya itu, sejujurnya sangat mengganggu kehidupan damainya selama ini.
Setidaknya kehidupan damai yang berlangsung di satu setengah bulan yang lalu, sebelum akhirnya kedamaian itu sirna.
__ADS_1
“Vano,” Vina memanggil namnaya dengan lirih.
“Hm? Apa kau butuh sesuatu?” tanya Vano dengan percaya dirinya yang cukup tinggi.
“Apa kau bisa tinggalkan aku sendirian? Kau kan punya kamar sendiri?”
“Sebenarnya mau sampai kapan kau akan terus membuat jarak denganku? Padahal aku kan sama sekali tdiak melakukan hal buruk kepadamu?” Vano pun lumayan bingung dengan sikap Vina ini, apalagi dengan keputusan Vina yang benar-benar menolak perasaannya.
“Selamanya,” ketus Vina. Meskipun dia bisa bersikap tenang dalam bicara berdua dengan Elvano, tapi tidak dengan hatinya yang terus berkecamuk karena dia benar-benar masih belum biasa bicara dengan pria sampai sebegitu banyaknya.
Elvano menyesuaikan diri lebih dulu, menunggu dan memperhatikan situasi setelah dia mendengarnya jawabannya Vina.
“Ada satu pertanyaan yang harus kau jawab,” pinta Elvano.
“Pertanyaan apa?” menatap Vano yang terus memandanginya dengan cukup serius.
“Padahal aku ini kaya, tampan, punya tubuh bagus, bahkan banyak wanita yang mengantri demi bicara denganku, tapi kau Vina.
Kau satu-satunya wanita yang lebih banyak bicara denganku, kenapa kau menolakku sih? Aku jadi bingung.”
Salah satu alis Vina terangkat, dia baru tahu ternyata pria yg ada di depannya itu rupanya bisa bingung dengan keputusannya.
“Apa itu perintah?”
“Ya, ini perintah, makanya jawab,” tegas Vano.
Vina mecoba menata kata-katanya, hatinya, dan pikirannya.
Selepas dia menghla nafas untuk merilekskan tubuh, hati dan pikirannya, Vina pun menjawab, “Karena aku pikir, jika aku menerima perasaanmu, kedua orang tuamu pasti tidak akan setuju.”
Vano diam, dia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum dia akhirnya menyahut perkataann Vina ini. “Mereka tidak akan menentangmu, jadi kau tidak pelru khawatir soal mereka berdua,”
“Kenapa kau begitu yakin dengan perkataanmu?” Vina curiga dengan Vano, karena menganggap kalau hubungan diantara mereka berdua dianggap mudah, padahal banyak sekali kegelisahan yang ada pada diri Vina.
“Karena aku sudah diberikan wewenangku sendiri, siapa yang ingin aku pilih untuk ada di sisiku,” jawab Vano dengan senyuman lembut.
Itu adalah senyuman yang menginginkan harpaan besar terhadapnya.
“Jadi aku bebas, siapa yang aku inginkan aku akan mewujudkannya, bahkan termasuk kau,” imbuhnya lagi.
“Tidak, tetap saja tidak. Karenamu, banyak wanita yang dekat denganmu, da-”
“Tapi hanya satu saja tuh, yang mengisi hatiku, apa kau sama sekali benar-benar tidak mau menjadi milikku?” perkataan Elvano pun sangat menggoda, bahkan sangat-sangat menghasut akal sehat Vina yang sedang Vina pertahankan.
“Ada masalah yang lain!” Vina jadi mulai kelabakan, dia kehilangan kendalinya sendiri untuk bersikap tenang dan tidak terprovokasi oleh perkataannya Vano. “Kau bukan levelku!”
__ADS_1
JLEB…
Seperti di tikam pisau, Vano merasa sakit hati sendiri.