Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
62 : Debat


__ADS_3

"Jangan sentuh itu!" peringat Elvano kepada Delvin, begitu dia melihat Delvin hendak membantunya.


"Saya kan hanya ingin membantu anda, biar cepat selesai." bujuk Delvin dengan ekspresi wajahnya yang datar.


"Aku tidak butuh cepat selesai, yang aku butuhkan aku bisa membuat ini dengan tanganku sendiri dari awal sampai akhir." kata Vano, lalu dia pun memasak sosis yang di campur dengan rebusan brokoli, di masukkan dan di campur dengan sayuran lainnya yang sudah lebih dulu ada di dalam wajan, dan setelah itu dia mengaduknya dengan gerakan yang cukup profesional, meskipun Elvano sendiri merasa kalau dia tidak pernah memasak.


'Ini sudah sebelas hari, dan Tuan muda terus bangun lebih pagi untuk menjaga wanita itu. Apakah Tuan muda benar-benar menaruh perasaannya itu dalam hatinya?' pikir Delvin. Berbeda dari sebelum-sebelum ini, dimana Tuan muda nya itu di jam seperti ini akan berolahraga, dan yang akan jadi juru masaknya adalah Delvin sendiri, sekarang hal itu benar-benar sama sekali tidak berlaku lagi, setelah wanita bernama Verina itu masuk dalam kehidupan dari Tuan mudanya, karena menolongnya.


"Delvin, aku ingin tahu soal perkembangan apa yang aku suruh waktu itu. Apa kau sudah melakukannya dengan baik?" tanya Vano, dia mengambil kecap asin dan beberapa gram gula pasir untuk di masukkan kedalam masakannya.


Delvin yang seketika itu paham arah dari pertanyaan dari sang Tuan mudanya itu adalah bertanya soal keadaan dari kedua orang tua nya Vina serta orang suruhan yang di posisikan sebagai pengganti Vina yang asli, karena Vina yang asli sedang dalam kondisi perawatan, jelas harus ada yang menggantikan posisinya agar tidak ada keributan di dalam keluarga kecilnya itu.


"Semuanya sudah beres. Awalnya kedua orang tua Vina memang sempat melapor ke pihak polisi karena kasus itu, tapi berkat ide dari anda, skenario penggantian posisi Vi-"


Mendapatkan delikan yang cukup tajam dari Tuan muda nya, karena Delvin terus memanggil Vina dengan namanya secara langsung tanpa ada kata sapaan Nona, Delvin jadinya terdiam sejenak.


"Sudah aku bilang, jika kau memanggilku Tuan muda, kau panggil dia Nona, agar terkesan sopan. Tapi jika kau memanggil dia namanya secara langsung, lebih baik kau juga memanggil namaku secara langsung. Kau punya dua pilihan itu," peringat Elvano.


Walaupun dia memang masih kehilangan ingatannya, akan tetapi Vano  sendiri otomatis memang sudah punya kebiasaan dalam wewenang untuk mengatur anak buahnya sendiri, maka dari sudut manapun tidak akan ada yang tahu kalau Elvano ingatannya masih belum pulih.


Dan yang ada di dalam otaknya saat ini hanyalah Vina, dan Vina.


Dengan kata lain, dia benar-benar jadi orang yang sungguh menaruh perhatian penuh kepada wanita yang menjadi pahlawannya dalam berbagai keadaan.


Makannya, Elvano pun sangat memperhatikan setiap ungkapan atau apapun itu yang di lakukan oleh Delvin.


"B-baiklah, maksud saya Nona Vina. Intinya, berkat ide anda, posisi dari Nona Vina ini bisa di gantikan dengan cukup mudah dan langsung di percaya oleh kedua orang tuanya." kata Delvin, merevisi ucapan sebelumnya.


"Apa kau memilih anak buah yang cukup  menjanjikan?" tanya Vano lagi, dia kali ini sedang mencicipi masakan yang baru saja dia buat sendiri itu. Dan sekiranya sudah pas di lidahnya, dia pun langsung mematikan kompor tersebut dan segera mengambil piring bentuk bundar berwarna putih, dan segera dia desain dalam bentuk yang setidaknya bisa membuat Vina kagum dengan hasil karyanya.


"Tentu saja Tuan, seperti yang anda lihat ini-" Delvin mengeluarkan handphone lipatnya, dan membukanya sampai berubah menjadi sebuah tab, lalu dia pun memperlihatkan file dokumen mengenai perempuan yang di jadikan sebagai bodyguard untuk kedua orang tuanya Vina. "Dia sebelumnya pernah menjadi seorang atlet taekwondo. Kerja sebagai guru taekwondo selama setengah tahun, selain itu pernah ikut dalam pelatihan militer, walaupun dalam tes dia gagal karena tes fisik, selain itu dia adalah seorang penembak jitu yang cukup handal, dari 20 orang, dia berada di peringat ketiga. 

__ADS_1


Jadi dengan jelas, orang ini sesuai dengan kriteria untuk jadi bodyguard kan? Menggantikan posisi dari Nona Vina?” 


Dari segi sisi, semua penjelasan yang di jelaskan oleh Delvin kepadanya termasuk cukup jelas. Akan tetapi ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya, “Kenapa dia di posisi nomor tiga?” toleh Elvano kearah Delvin. “Bukan nomor dua atau satu?”


Delvin yang baru saja menyimpan kembali handphone nya ke dalam saku dari jaket hoodie nya, langsung menjawabnya dengan cukup enteng. “Karena posisi nomor satu kan ada di tangan anda, dan nomor dua ada pada saya,”


“O-oh, benar, akulah yang seharusnya nomor satu, bukan kalian,” sindir Elvano, dia tadinya bingung, kenapa yang jadi penjaga kedua orang tuanya Vina malah adalah seorang yang berada di peringkat nomor tiga? 


Tapi begitu Delvin memberitahu kebenaran yang begitu masuk akal, dan ada di dalam nalarnya, Elvano pun tersenyum sendiri, dia tidak habis pikir jadi seorang yang cukup bodoh, kalau dirinya jelas berada di posisi tingkat nomor satu, dan tentu saja kalau posisi Delvin, selaku asisten pribadinya yang menjabat sebagai tangan kanannya Elvano, berada di urutan kedua. 


Jadi dengan begitu Elavano pun merasa puas-puas saja dengan keputusan itu, kalau setidaknya anak buangan bernama Inella, yang di tunjuk untuk menggantikan sebagai Vina di kampung halamannya Vina sebenarnya, adalah seorang yang cukup cocok, dan cukup bagus untuk menggantikan posisi Vina itu sendiri. 


Dan Delvin sendiri hanya menatap tingkah dari Bos nya itu yang terkadang memang bisa di anggap punya tingkah aneh yang jelas pastinya jarang di ketahui oleh orang lain selain Delvin dan Elvano sendiri. 


“Kalau begitu sekarang, laporan soal Arthur.” pinta Elvano, dia sedang melakukan plating pada makanannya yang lain. 


“Tuan muda Arthur, sekarang beliau berada di luar negeri. Masih bisa di lacak, karena beliau kelihatannya benar-benar ingin hidup seperti orang tidak bersalah. 


Begitu Delvin menekan tombol merah dari remot kecil yang dia pegang, tiba-tiba saja ada satu mesin proyektor yang muncul dari dalam plafon, dan cahaya yang keluar dari mesin tersebut mengarah pada satu dinding berwarna putih yang ada di depan mereka berdua. 


-“Bagaimana? Apakah wanitamu yang waktu itu pada akhirnya mati karena berhasil melindungimu?”-


Lewat siaran langsung, Delvin dan Elvano pun benar-benar di perlihatkan dari sosok Arthur yang sedang duduk santai di kursi santai yang menghadap ke arah laut, dan lebih dari pada itu, Arthur sedang duduk dengan di temani salah satu wanita bayaran untuk menemaninya. 


Jadi betapa santainya Arthur dalam menghadapi Elvano?


“Entahlah, tapi setidaknya berkatmu itu, aku jadi semakin punya ambisi untuk membuatmu sadar dengan posisimu, kalau akulah yang lebih pantas dari pada kau. 


Lihatlah dirimu saat ini, bermain dengan wanita? Apa kau hanya punya pekerjaan seperti itu tapi kau bahkan sangat ingin menyingkirkanku?”


-“Perhatian sekali ya, mau memberiku nasehat kepadaku seperti itu.”- sahut Arthur. -“Tapi ngomong-ngomong, jika kalian berdua ada di situ, apa itu artinya wanita yang sudah kau bawa ke rumah sakit itu sedang sendirian?

__ADS_1


Hati-hati, banyak anak buahku yang sedang mengawasinya, jika kalian berdua lengah, dialah yang akan jadi korbannya lagi, lagi dan lagi. 


Sangat menyenangkan sekali ya, bisa membuat pemainan diantara kita berdua semaiin menarik, berkat wanita yng kau miliki itu.”- oceh Arthur. 


Delvin dan Elvano sendiri yang mendengarnya, merasa tidak puas hati dengan ucapannya Arthur ini. 


“Jika itu betulan terjadi, maka kaulah yang akan jadi targetku sampai kau benar-benar aku mati.” tekan Elvano atas ucapannya Arthur yang memang cukup memprovokasinya. 


Tapi bukan berarti Elvano jadi kehilangan kesabarannya, sebab semua ucapan yang keluar dari mulut kakaknya itu tidak lain adalah hal yang tidak akan mungkin terjadi, sebab Elvano adalah orang yang berhasil mengantisipasinya lebih dulu.


Ya, tepatnya sebelum Arthur mengatakan itu, sebenarnya Elvano sudah lebih dulu menyingkirkan segala kemungkinan itu dari tempatnya secara langsung. Dan benar saja, kalau anak buahnya Arthur yang sempat menyamar dan menyusup masuk ke rumah sakit, berhasil di tangkap oleh anak buahnya Elvano berkat arahan yang di berikan oleh Delvin, tentunya. 


Maka dari itulah, Vano merasa tidak begitu panik, dan hanya menunjukkan akting nya belaka.


-“Heh, entahlah, memangnya kau bisa melakukannya?”- cibir Arthur. 


Dan setelah berkata demikian, Arthur pun mendapatkan kecupan tepat di bibirnya. 


CUP….


-”Kau tidak sopan, aku sedang bicara dengan adikku itu tahu.”- kata Arthur kepada seorang wanita yang memakai bikini itu, yang saat ini sedang berbaring sambil memeluk tubuhnya Arthur. 


-”Tapi sepertinya adik anda sedang terlihat kesal dengan anda.”- lirik wanita ini, mencoba untuk melihat ke arah dimana Elvano berada. 


Tapi sebelum itu terjadi, Delvin dengan sengaja, lebih dulu mematikan proyektor itu, sehingga sambungan dari panggilan VC mereka berdua pun pada akhirnya terputus. 


“Hahhh~ Kenapa aku punya kakak yang begitu meropotkan?” tanya Elvano selepas menghembuskan nafasnya dengan kasar. 


Dia berkacak pinggang sambil melihat ke arah tiga piring berisi makanan dari hasil masakannya yang sudah siap untuk di hidangkan kepada Vina. 


Tapi, di satu sisi dirinya sedang menatap ke tiga makanan itu, Elvano pun punya pikiran mengenai Arthur, sang kakak. 

__ADS_1



__ADS_2