
"'Dari tatapan matamu, aku yakin kalau kau pasti sering menganggapku bodoh." setelah sekian lama, ini kali pertamanya dia bicara dengan tegas dan penuh dengan keberanian terhadap Delvin.
Tentu saja, setelah bicara seperti itu, Delvin pun dengan cepat langsung berekpsresi datar dan membalas tatapan Vina dengan begitu dingin, sehingga di mata Vina sendiri, dia pun sangat yakin kalau Delvin sedang menatapnya dengan pikiran yang sedang merendahkannya.
"Hanya beberapa kali. Bahkan bisa di hitung dengan jarimu. Walaupun aku punya tebakanku sendiri, aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri, apa alasanmu ingin menjauhinya?" kali ini Delvin benar-benar menuntut jawaban dari Vina.
Dia hanya ingin mengkonfirmasi tebakannya itu benar atau tidak.
"Kenapa aku harus mengatakan alasanku, ketika kau bahkan sudah mendengar percakapan aku dengan Elvano?" penuturan Vina pun berhasil membungkam Delvin yang sudah ketahuan.
'Pasti hanya akal-akalan nya saja, agar aku menyerah dan mengakui kalau aku benar-benar menyadap pembicaraannya. Tanpa bukti, aku tidak bisa mengiyakannya secara langsung.' pikir Delvin, dia dengan berpikir keras, berusaha untuk tetap tenang dan bersikap santai, agar tidak di curigai oleh Vina.
Karena tanpa bukti, Delvin mampu untuk memberikan alasan sebuah sangkalan.
"Hanya berdasarkan ucapan, apa kau sedang menuduhku bahkan tanpa bukti apapun? Aku tidak tahu, ternyata wanita sepertimu bahkan punya nyali untuk menuduhku seperti itu, Vina."
Delvin bicara dengan begitu serius, sampai Vina sendiri sedikit terusik dengan setiap kata penuh penekanan itu.
'Seram. Tapi aku tidak boleh kalah dengan orang ini.' dengan nyalinya yang hanya separuh bagian dari hatinya, Vina pun mengeluarkan sebuah alat kecil berwarna hitam yang dia keluarkan dari saku rok nya. "Kalau kau butuh bukti, maka ini buktinya."
Delvin menatap alat penyadap suara yang begitu kecil itu, lalu detik berikutnya, dia menatap wajah Vina yang begitu canggung.
Benar, wanita di depannya itu sebenarnya takut kepadanya. Tapi dengan segenap kekuatan yang tersisa, Vina mampu untuk bicara dengan serius seakan mengancamnya.
"Jadi apa maumu?" tanya Delvin, dengan terpaksa dia pun mengakui kalau alat penyadap itu adalah miliknya.
Memang, dia bisa saja menuduh Tuan nya, tapi apa yang akan terjadi selanjutnya, jika dia melakukan hal tersebut?
"Aku pikir aku harus pulang. Sekarang juga," kata Vina dengan tegas.
Dia bahkan sampai menggertakkan giginya, karena saking geramnya.
"Apa kau bisa memberikan alasannya?" tanya Delvin.
Sepintar, Vina mendelik ke arah pria yang ada di sampingnya itu.
Namun, dia kembali menunduk dengan tangan kiri mengepal dengan begitu erat.
__ADS_1
"Alasannya sudah jelas. Aku tidak ingin terus berada di sini. Walaupun tempat ini bagus, maksudku tinggal di isni nyaman, tapi mengingat aku sudah berada di sini lebih dari satu setengah bulan, aku pikir lebih baik aku pulang." Jawab Vina dengan terus terang.
"Apa karena kau begitu ingin bisa bertemu dengan kedua orang tuamu?" tanyanya lagi.
"Itu bisa jadi salah satu alasannya," Vina berusaha sebisa mungkin untuk mengatur hatinya.
Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan, tapi dia tidak mampu bicara lama di tengah-tengah di dalam hatinya itu, dia merasa gundah.
'Salah satunya? Berarti dia pasti punya alasan lain? Apa dia mau diam saja? Itu mungkin, mengingat adalah tangan kanan dari Tuan muda Elvano, jelas kalau dia mewaspadaiku.
Tapi, tiba-tiba seperti ini. Pasti alasan kedua itulah yang menjadi penyebab dia ingin pulang.
Selama ini aku sudah memperhatikannya dengan seksama. Jelas kalau Vina memang punya perasaan dengan Tuan muda, tapi dengan begitu gigih dia terus menolak perasaan Tuan muda.
Hanya karena rendah diri, tidak kompeten, merasa menjadi seorang yang membebani orang lain, makanya dia bersikap seperti ini.' Delvin adalah pengamat yang cukup baik.
Jadi meskipun dia hanya melihatnya sekilas, dia pun tahu apa kemungkinan dari permasalahan yang di alami orang lain, dan sekarang ini adalah si Vina itu sendiri.
"Tapi tanganmu-"
'Dia sangat serius.' detik hati Delvin, begitu dia melihat tatapan mata Vina yang begitu garang. "Meskipun kau pulang, pada akhir-"
"Aku tahu. Tapi bagiku bisa tinggal dirumah, itu jauh lebih baik ketimbang aku terus menumpang disini," penjelasan dari Vina pun menangkap satu kehendak yang harus dia dapatkan, dan itu adalah dengan membujuk Delvin untuk segera memulangkannya.
'Vina, dia bukan tipe orang yang akan berani membawa kedua orang tuanya pindah ke tempat lain.
Menurut pengamatanku, dia tidak suka hal yang merepotkan.
Jadi, meskipun dia tahu kalau nantinya dia bisa pulang dengan lancar, tapi ujung-ujungnya Tuan muda kedua akan mendatanginya, dia tetap sudah punya pilihannya yang tidak bisa di ganggu gugat itu.
Hmm ..., sepertinya dia memang tidak mau menceritakan hal yang paling penting dari pada alasan karena kangen kepada kedua orang tuanya.' pikir Delvin, dia pun pad akhirnya mau membuat sebuah keputusan.
"Sebenarnya, aku ingin pulang karena merasa kalau waktuku terus di tunda-tunda. Jadi aku merasa jengkel saja, dia seperti tetap tidak mau menepati janjinya, walaupun itu hanya pandangan sepihak dari aku saja,"
"Hah, padahal ini akhir pekan, dan aaku baru pulang, tapi pekerjaanku ternyata bahkan sama sekali tidak bisa aku selesaikan." frustasi dalam posisinya yang sama sekali tidak begitu menguntungkan, Delvin pun mengacak rambutnya sendiri dengan kasar, "Ok, aku akan mengirimmu pulang,"
"S-sungguh?!" tanya Vina, dia masih ragu dengan apa ayang dia dengar itu.
__ADS_1
"Walaupun tampangku seperti ini, tapi aku ini bukan orang yang suka bercanda," timpal Delvin.
Vina pun jadi kagum, karena Delvin yang terlihat seperti punya sikap yang keras serta tidak bisa di ajak bernegosiasi, akhirnya bisa menemukan secercah harapan.
Harapan untuk pulang.
'Vano, aku sama sekali tidak menyangka, kalau kau benar-benar suka, jika aku terjebak di rumah ini selamanya.
Elvano, jika aku tidak segera pergi dari sini, yang ada aku akan di kurung.
Aku tidak mau, dia benar-benar pria dengan sifat yang begitu buruk.' Vina awalnya cukup bangga, karena dia merasa punya kesempatan.
Tapi, sayang sekali ...
___________
Di dalam sebuah mobil sport berwarna hitam, pria berkacamata hitam itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tangannya mengepal, dan bahkan sesekali dia pun memukul stir mobilnya sendiri sebagai bahan pelampiasan dari kemarahannya.
Ya, dia adalah Elvano. Dengan rahang yang kian mengeras, sorotan matanya pun jadi memerah karena saking marahnya, namun tetap dia tahan sendiri agar tidak menimbulkan kekacauan di kediamannya.
"Vina, ternyata dia sudah mendengar apa yang aku katakan ya?
Lalu Delvin, dia bahkan ingin membantu Vina lang? Hah, memangnya siapa mereka? Apakah mereka berdua pikir bisa keluar dari rumahku?" punya pikiran untuk tidak bisa membiarkan kedua orang tersebut keluar, dia pun memerintahkan semua anak buahnya untuk bersiaga. "Vina, meskipun kau bahkan sudah tahu apa yang sebenarnya aku lakukan kepadamu, lebih baik kau tidak bisa pulang saja, kan?
Lagi pula Arthur juga masih tidak bisa di percaya, jadi aku harus melindunginya dengan caraku sendiri.
Ya~ cara yang akan membuatnya terus mengandalkanku."
Sebuah obsesi kian menyelimuti diri Vano.
Di tengah jalan raya, dia pun tersenyum lebar, bahkan sampai terkekeh sendiri, sebab dia begitu bangga dengan pikiran yang dia miliki untuk mengahadapi Vina.
"Hahaha, Vina. Padahal aku sudah memperingatkanmu, di luar sana itu adalah dunia yang keras, kau bahkan sudah mengalami banyak hal dalam beberapa minggu ini.
Jadi, sebagai orang yang punya tanggung jawab untuk menjagamu, tentu saja aku tidak akan membiarkanmu pergi sejengkal pun dari rumahku."
__ADS_1