Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Perhatian


__ADS_3

"Delvin, apa tidak masalah jika aku pakai pakaian orang itu?" tanya Vina, dia sedikit ragu karena dia saat ini jadinya memakai pakaian milik orang lain tanpa izin sama sekali.


Ini baru pertama kalinya untuk Vina, mencuri pakaian, tapi jika tidak seperti itu, ke depannya akan jauh lebih susah lagi, karena dia saat ini saja hanya memakai daster dengan tali yang sudah putus.


Dia tidak mungkin akan pergi keluar dengan pakaian seperti itu, karena sama saja dengan membuka auratnya sendiri depan banyak orang.


"Dia tidak akan protes, selagi dia tidak tahu kau memakai pakaiannya," jawab Delvin dengan begitu lugas.


Delvin benar-benar mengatakannya dengan enteng, seakan mencuri adalah sesuatu yang sudah menjadi kesehariannya.


"Kalau begitu, sekarang apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Vina sekali lagi, dia sekarang sedang berganti pakaian sesuai pilihan yang Delvin pilih untuknya.


Delvin sebenarnya sedang mencoba untuk mencari cara untuk menghubungi Tuan nya itu sebab handphone nya sudah rusak, akibat tadi terjatuh.


"Intinya aku akan membawamu pergi," jawabnya tanpa rincian apapun.


"Bagaimana dengan Elvano?" tanya Vina sekali lagi dengan wajah polosnya.


Delvin sejujurnya aga kurang suka, karena dia di tugaskan untuk menjaga seorang wanita, yang bukan bagian dari pekerjaannya selama ini dalam melayani Tuan muda nya itu.


Tapi dikarenakan Delvin adalah orang yang di peruntukan untuk menuruti semua perintahnya, Delvin pun jadinya tidak punya cara lain selain menerima titah yang menjengkelkan itu.


"Kenapa tidak menjawabku?" tanyanya lagi.


Delvin yang sudah cukup muak dengan segala pertanyaan yang keluar dari mulutnya Vina, akhirnya membuat Delvin diam sejenak.


"Memangnya apa gunanya jika aku menjawab pertanyaanmu? Apakah akan ada yang berubah, jika aku menjawab rasa penasaranmu?" balas Delvin dengan dingin.

__ADS_1


'Apa aku melakukan kesalahan yang membuatnya terlihat marah seperti itu?' pikir Vina, merasa terbebani sendiri begitu Delvin bicara demikian kepadanya.


'Sebenarnya dengan aku melindungi wanita ini, pekerjaanku jadi kurang efsien. Akan lebih baik kalau bisa melindunginya secara terpisah, jadi aku bisa bergerak bebas. Tapi sayangnya sekarang saja, tidak ada satu bantuan pun yang datang kesini.


Hah, seharusnya aku sudah memburu Abel itu, tapi aku jadi harus terjebak di sini dengannya.


Kalau seperti ini, kapan aku bisa menyelesaikan urusan internal milik Tuan muda?' banyak sekali yang harus Delvin pertimbangkan, dan salah satunya adalah efisiensi waktu miliknya.


Tapi, berkat dirinya harus melindungi satu orang yang ada di dalam kamar itu, Delvin mau tidak mau harus lebih bersabar dalam menghadapi wanita.


Atau lebih tepatnya, dia harus sedikit mengulur waktu untuk menyesuaikan dengan Vina.


'Dia benar, memang tdiak ada yang akan berubah jika aku tahu bagaimana dengan Elvano.


Dia pasti sedang punya pekerjaannya sendiri. Jangan terlalu berharap besar dengannya, aku harus berusaha untuk tidak merepotkan orang ini.' kata hati Vina, berusaha semaksimal mungkin untuk tidak lagi membuat Delvin kesusahan dengan cara tidak banyak bertanya.


"Sudah," jawab Vina dengan lirih.


Dia sedikit kurang pede dengan penampilannya, apalagi ketika Delvin terus menatapnya. "Sekarang pakai ini, tadi kau bilang terluka kan?" menyodorkan plester kepada Vina.


'Dia ini sebenarnya baik atau gimana ya? Dari raut wajahnya, dia seperti marah kepadaku, tapi perkataannya, seolah sedang mengkhawatirkanku?' Vina pun jadi di buat bingung sendiri dengan sikapnya Delvin ini.


"Apa kau mau aku yang memakaikannya?" lirik Delvin, dan sudut matanya itu pun benar-benar menatap bahu yang sudah terekspose itu.


Sebuah bahu yang memperlihatkan penampilan dari tulang itu sendiri.


'Padahal aku pikir aku sudah memberikannya makan yang banyak, kenapa tubuhnya seperti hanya berisi tulang belulang saja?' Delvin pun sama sekali tidak mengerti dengan tubuhnya Vina yang begitu kurus, tapi meskipun begitu Vina punya segudang kekuatan yang mampu membuat Delvin meringis, saat berjabat tangan dengannya, ketika waktu sebelum Vina kena culik, atau tepatnya saat Delvin datang ke rumah dan menemui Vina untuk menjemput kembali Tuan muda nya.

__ADS_1


Vira langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat, dan langsung membuat Vira menyambar plester itu dari tangannya Delvin dan segera memakainya.


Tapi pertama-tama dulu, dia harus sedikit menurunkan kerah kaosnya ke lengan, barulah dia bisa menempelkan plesternya.


'Yah, bahkan lukanya saja sedikit lebih dalam dan panjang. Plester ukuran jari seperti ini, tidak ada gunanya juga. Ini harus aku pakaikan kain kasa dulu.' Vina yang sedikit kesusahan itu langsung berbalik dan meminta kain kasa. "Minta kain kasanya."


Tapi apa yang di sodorkan oleh Delvin selanjutnya, justru bukan kain kasa, melainkan plester yang sedikit lebih lebar.


"Kau ini memang apa-apanya tidak bisa melakukannya sendiri ya? Kalau luka seperti ini, lebih baik kau gunakan yang lebih besar dan lebar," tanyanya, tapi tatapan matanya tertuju pada luka serempet yang ada di bahu kanannya Vina.


Meskipun sudah sempat di bersihkan, tapi darahnya masih tetap keluar.


Memang, darah yang keluar dari luka yang baru saja di dapatinya sama sekali tidak bisa di hentikan dengan cepat, tapi setidaknya pertolongan pertama ini akan jadi waktu yang tepat untuk mengatasi lukanya Vina ini.


"Jika maksudmu aku itu menyusahkanmu, aku minta maaf. Tapi karena aku menyelamatkan Tuan mu itu, aku jadinya seperti ini kan?


Aku ini pada dasarnya belum pernah mendapatkan kejadian seperti ini, jadi maaf saja, jika aku memang menyusahkan, dan menghalangimu melakukan pekerjaanmu yang bisanya itu. Kalau kau ma-"


"Shht~ Kau terlalu banyak bicara, Vina." sela Delvin dengan cepat, membuat sebagian besar nyali Vina dalam bicara, langsung di rantai lagi. "Simpan saja energimu untuk bicara panjang lebar denganku, ini bukan waktu yang tepat untukmu mengeluh padaku. Sini bahumu, kau ini memang sedang cari perhatianku dengan bahu kurus kering ini ya?"


JLEB...


"Kau-" Vina seketika jadi tercengang dengan kata-katanya Delvin yang seolah dirinya itu sedang caper di depannya Delvin.


Delvin pun meletakkan plester yang sedikit lebih besar di bahu kananya Vina, dan sentuhan yang sedikit panas itu pun langsung menciptakan sengatan statis yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata lagi.


Delvin jadi terdiam, sebenarnya ini baru pertama kalinya dia menyentuh kulit perempuan secara langsung, karena biasanya dia selalu menggunakan sarung tangan hitam untuk menyembunyikan bekas luka di tangannya.

__ADS_1


'Kira-kira itu bekas luka karena apa ya? Dia kelihatannya punya kehidupan yang lebih sulit dari pada apa yang terlihat dari luar.' pikir Vina, merasa tersentuh dengan kebaikan yang di lakukan oleh Delvin kepadanya.


__ADS_2