
"Kenapa aku bisa bicara seperti itu kepada Elvano? Ini sangat memalukan. Bagaimana bisa aku mengatakan hal yang tidak pernah aku katakan kepada orang lain?" gerutu Vina, dia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, dan dari situlah dia pun perlahan menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. "Hah, tidak usah di pikirkan lagi. Lagi pula orang sepertinya bukanlah orang yang bisa aku gapai dengan mudah."
Vina pun jadinya terdiam, gara-gara dia jomblo ngenes, dia pun jadi kepikiran soal nasib dari masa depannya sendiri.
"Kenapa aku tiba-tiba jadi memikirkan nasib percintaanku ya? Gara-gara tampangnya Elvano dan Delvin yang seperti itu, mataku benar-benar jadi ternodai.
Ahhh! Kenapa seperti ini!" pekik Vina dengan begitu lantang.
BRAK....
Tentu saja, berkat teriakan yang di lakukan oleh Vina, berhasil membuat Vano panik dan langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya Vina.
Ya, sesuai dengan dugaan, Elvano sama sekali tidak punya tauran untuk minta izin masuk lebih dulu.
Seakan kalau antara ucapannya kalah cepat dengan tindakannya.
"Vin, apa ada orang yang menyerangmu?!" tanya Elvano di ikuti oleh beberapa anak buahnya.
"Nona, apa anda baik-baik saja? Saya mendengar teriakan anda,"
"Iya Non, apa ada yang membuat anda ketakutan?"
Satu per satu dari mereka bertanya secara bergantian satu sama lain, membuat Vina sendiri juga terkejut, karena reaksi dari mereka semua benar-benar sangat cepat untuk mencari tahu penyebab kerusuhan yang baru saja Vina buat itu.
"Tidak ada," tukas Vina.
"Kalau tidak ada, kenapa kau tadi berteriak?" seperti orang yang akan menangis karena akan kehilangan seseorang, Elvano benar-benar mengkhawatirkan Vina sendiri.
"I-itu, hanya iseng. Aku perlu berteriak untuk mengurangi stress aku," jawab Vina dengan malu-malu.
Beberapa anak buah Elvano pun saling pandang satu sama lain, dan akhirnya sama-sama menghela nafas.
"Hah, saya pikir ada penyusup yang membuat anda ketakutan," ucap salah satu dari mereka.
"Kalau tidak ada yang di perlukan lagi, kami pergi berjaga lagi, silahkan bicara berdua dengan Bos," tutur penjaga yang lainnya.
__ADS_1
"Maaf ya, aku jadi membuat kalian kaget," kata Vina, dia sudah terbangun sambil menundukkan kepalanya ke pada mereka semua sebagai tanda minta maaf.
"Kau tidak perlu minta maaf, mereka kadang kala kan memang harus di berikan sedikit ujian," timpal Vano, menarik Vina untuk duduk kembali di atas tempat tidur. "Kalau kau merasa stress, akan lebih baik jika kita keluar jalan-jalan sekitar sini,"
Mendengar Elvano memberikan tawaran seperti itu, hati Vina pun jadi bergetar. Dia sama sekali belum pernah tawaran seperti itu dari seorang pria.
Alih-alih tawaran untuk sekedar jalan-jalan biasa, sayangnya di sudut pandang Vina sendiri dia justru merasa kalau dirinya sedang menerima sebuah rayuan dari pria tersebut.
Sungguh ironis, Vina yang tahu diri dengan posisinya, dia sama sekali tidak akan pernah mendapatkan pria ini, karena menurut Vina sendiri, jelas wanita yang cocok dengan Elvano adalah yang cantik jelita dan punya value, tidak seperti dirinya.
"Tidak mau," tolak Vina, dia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil meringkuk, dan menolak uluran tangannya Elvano.
"Kenapa kau menolak tawaranku terus?" kernyit Elvano, dia sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya Vina. 'Padahal jika itu wanita lain, mereka jelas sangat ingin berjalan berdua denganku, tapi dia malah dari tadi terus saja menolak ajakanku.'
"JIka kau terus melakukan hal seperti itu kepadaku, apakah kau tahu? Secara tidak langsung kau sama saja dengan memberikan satu hal yang membuat aku jadi berharap lebih kepadamu, dan aku benci perasaan ini," timpal Vina.
Elvano membelalakkan matanya. "Vin, apa maksudmu sikapku ini jadi membuatmu menaruh perasaan terhadapku?" tanyanya.
"Aku tidak mau menjawabnya,' pungkas Vina, dia malu untuk bicara lebih panjang kepada Elvano. "Dari pada kau bicara denganku, lebih baik kau kembali bekerja. Nanti kalau tanganku sembuh, aku akan menebus semua jasa yang sudah kau lakukan untuk melindungiku.
Jawaban Vina secara tidak langsung sebenarnya cukup mengusik hatinya Elvano, sebab dia merasa seperti baru saja mendapatkan penolakan secara terang-terangan, padahal Elvano sendri belum mengatakan rasa dalam hatinya secara resmi.
Tapi, sebagai pria, dia sama sekali tidak suka jika harus menggantungkan pembicaraan diantara mereka berdua.
Maka dari itu, Elvano pun tetap berada di sana dan terus memperhatikan Vina yang mencoba untuk memejamkan matanya.
"Kenapa kau masih berdiri di sana?!" nadanya yang sedikit tinggi, menyiratkan rasa kesal yang mulai mencuat.
"Aku ingin menunggumu sampai tidur, apakah itu tidak boleh?" goda Elvano, dia menempatkan pant*atnya ke atas tepi tempat tidurnya Vina, dan terus memperhatikan Vina tanpa jeda sedikitpun.
"Yang ada, aku justru tidak bisa tidur," gerutu Vina, dia cemberut karena ada satu orang yang benar-benar akan menghalangi tidurnya, jika pria yang ada di sampingnya itu benar-benar akan terus menatap dan memperhatikannya seperti itu.
Tersenyum tipis, Elvano mengangkat tangannya dan tiba-tiba saja secara mengejutkan, Elvano meraih kepalanya Vina dan berkata, "Atau kau mau aku tiduri?"
"Ha?! Apa?! Tidak, tidak mau,! Walaupun kau ingin tampan, bukan berarti aku akan ditid-" kelabakan sendiri karena salah persepsi, gara-gara menggunakan kalimat yang sangat ambigu, Vina pun jadi terjebak dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1
Hal tersebut membuat Vano terkekeh, "Ternyata pikiranmu seperti itu ya? Padahal yang aku maksud kan aku hanya menina bobokan kamu, bukan meniduri dengan arti yang lebih intim,"
BLUSHH....
'Sial, dia seperti Iblis. Apakah aku harus berhadapan dengannya seperti ini setiap hari? Kalau seperti ini, ini sama saja membuatku menuntun pada jalanku ke pusat kehancuran.' Vina pun jadi semakin gelisah, sekaligus khawatir dengan akal sehatnya, karena jujur saja, Vina sendiri adalah wanita normal, tapi dia setiap harinya harus berhadapan dengan muka seseorang yang tampak sangat antusias untuk terus mempermainkannya dalam godaannya. "Apa kau tidak bisa berhenti melakukan itu kepadaku?" pinta Vina.
"Melakukan apa?" tanya Elvano, dia bertanya seakan tidak paham apa yang di maksud oleh Vina sendiri.
"Jangan bicara yang membuat orang lain salah paham seperti itu, aku tidak suka," rungut Vina, dia menjauhkan tangan yang terus mengusik rambutnya.
"Tapi sayangnya aku suka tuh, bagaimana ini?" sahut balik Elvano seraya mencium ujung jari jemarinya yang sempat dia gunakan untuk menyentuh rambutnya Vina.
PLAK ...
Vina tiba-tiba saja menampar tangannya Vano, "Aku tidak suka ya tidak suka! Apalagi melihatmu yang menyentuh rambutku dan kau mencium aroma tanganmu itu, kau- kau tiba-tiba kenapa jadi seperti itu? AKu tidak menyukainya sama sekali,"
Baru pertama kali melihat reaksi wajah Vina yang benar-benar tampak tidak begitu menyukai tindakannya Elvano itu, Vano pun diam juga.
Tapi, dia yang tidak menyerah dengan keinginannya, membuatnya tidak bisa berhenti untuk terus mengusik emosinya Vina lebih dari pada ini.
Emosi yang bercampur, antara malu, marah, khawatir akan tersakiti, semuanya menjadi satu kesatuan yang cukup harmoni.
"Apa kau masih belum mengerti?" Vano yang tadinya hanya sekedar duduk, tiba-tiba saja membungkukkan tubuhnya ke arah Vina, sehingga jarak tubuh diantara mereka berdua pun jadi semakin menghilang, sampai akhirnya Vina yang memiliki keterbatasan untuk bergerak mundur ke belakang, sebab tangannya sendiri yang tidak memungkinkan untuk menopang tubuhnya sendiri, hanya pasrah, apalagi ketika tangan kirinya tiba-tiba saja di cengkram oleh Vano.
"M-mengerti soal apa?" tanyanya.
"Soal, anggap saja seperti yang kau rasakan itu. Di sini-" Elvano secara gamblang, tangan kirinya sempat menyentuh dada sebelah kirinya Vina yang berisikan jantung.
"V-vano, tanganmu itu," tegur Vina, matanya mengkilat dengan tangannya Vano yang berkeliaran.
"Aku hanya menyentuhnya sedikit kok, kenapa kau begitu sensitif?" melihat Vina terdiam, Vano melanjutkan ucapannya, "Padahal kau sendiri sekarang sedang merasakan jantungmu berdebar dengan cepat, apa kau masih saja belum mengerti soal ini?"
"Mengerti soal apalagi? Sana minggir dari hadapanku," perintah Vina, dia sama sekali tidak peduli dengan ucapannya Vano tadi.
"Kau menyukaiku, tapi kenapa kau terus mencoba untuk menjaga jarak denganku?" tegas Vano, pada akhirnya dia yang sama sekali tidak punya kesabaran yang tebal, membuat dirinya jadi mengaku juga kepada Vina.
__ADS_1