Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
64 : Berdua Di Ruftoop


__ADS_3

“Hmm..?” mata yang semula terpejam, pada akhirnya secara perlahan terbuka. Dan langit-langit dari kamar yang begitu gelap itu, menjadi pemandangan pertamanya. ‘Sakit-’ Vina, dia yang belum laa ini mendapatkan perawatan dari luka di punggungnya, langsung merasakan sakit.


Tapi rasa sakit itu tidak membuat Vina harus menangis. Karena sudah mulai terbiasa, dia pun mencoba untuk bangkit dari tempat dia berbaring dan begitu dia menoleh ke samping kirinya, Vina pun di perlihatkan sosok pria yang sedang meringkuk tidur di atas tempat tidur pasien yang tidak jauh dari sana. 


‘Kenapa Vano tidur di sini?’ pikirnya. Vina awalnya dia terus tertidur sendirian di kamar yang nampak begitu mewah itu. Tapi ternyata dia tidak sendirian, dan buktinya tempat tidur yang dari awal Vina anggap selalu kosong, ternyata itu di khususkan untuk tempat Elvano tidur. ‘Masih jam setengah dua, ini terlalu pagi, tapi aku bahkan sudah tidak bisa tidur lagi. Sebaiknya aku coba jalan-jalan deh, aku kan penasaran dengan rumah sakit ini.’ 


Dengan begitu, Vina pun keluar dari kamar dalam diam, tanpa memberitahu Vano yang tidur cukup lelap. Apalagi karena headset nya masih terpakai di telinganya, Vano pun tidak menyadari kepergian Vina. 


_________


Dan kembali ke posisi Vina, dia berhasil pergi ke sebuah balkon dari salah satu taman yang ternyata letaknya ada di ruftoop. 


TIdak seperti bayangannya, begitu dia nak ke atas, dia melihat betapa indahnya kota paris, kota dengan sejuta pesona yang tidak bisa di ungkapkanlagi dengan kata-kata selain kata wah. 


“Wahh, jadi ini paris ya? Tapi bagaimana aku bisa di culik sampai ke negara ini?” ucap Vina pada dirinya sendiri. 


Karena dia sempat demam tinggi, Vina pun jadinya kehilangan beberapa ingatannya, dan salah satunya adalah kejadian dimana dia bisa di culik dan di bawa ke negara lain, dan yang lainnya, dia tidak ingat soal Vano yang sudah kembali ke negaranya. 


Maka dari itu, ketika Vano menjelaskan dia adalah tetangganya, maka Vina pun percaya saja kalau Elvano adalah tetangganya, karena Vina masih ingat soal kejadian sebelum Elvano pergi. Maka dari itu, Vina pun masih ingta Elvano, dan alasan pria itu jadi tetangganya. 


Namun, yang paling Vina heran adalah karena dia tidak memiliki ingatan kenapa bisa di culik. 


‘Memangnya apa yang menarik dariku? Sampai di culik segala? Lalu sebelum aku ketiduran, sepertinya bibirku masih merasakan sisa dari ciumannya Vano?’ memikirkan itu, Vina langsung berjalan mundur, menjauhi pagar pembatas yang ada di ruftoop itu, sampai menemukan kilatan memorinya soal Elvano yang mengatakan akan berada di sisinya?


Vina menggelengkan kepalanya dengan kuat, agar semua pikiran itu segera pergi dari dalam kepalanya. 


“Kenapa dia melakukan itu kepadaku?! Kenapa? Kan jadinya aku punya perasaan aneh.” ucap Vina pada dirinya sendiri, mengeluh soal pria asing bernama Elvano yang sempat mencium bibirnya. “Jangan sampai aku jatuh cinta pada orang sepertinya. Walaupun aku tidak tahu dia itu siapa, yang pasti jelas kalau Elvano pasti sudah punya pacar. Aku yakin itu, jadi jangan memperkeruh hubungan dengan perasaan, atau akulah yang akan hancur sendiri,” ucap Vina, terus meracau dengan mulutnya sendiri, kalau dia tidak berhak mengharapkan hal lain dari Elvano. 


Tapi, sedang asik-asiknya Vina berdiri sambil bicara sendiri, tepat di dalam kegelapan yang ada di belakangnya persis Vina, terdapat seseorang yang sedang berjalan mendekatinya. 

__ADS_1


“T-tapi begitu ya? Rasanya di cium? Aku belum gosok gigi sih, tapi rasa lembut itu kenapa masih tersisa sih? Ini membuat kepalaku sangat kacau.” ucap Vina sembari menyentuh bibirnya sendiri. 


Vina pun senyum-senyum sendiri, karena pada akhirnya pikirannya kembali diterobos oleh kilatan memory miliknya soal apa yang terjadi sore tadi. 


“Hehehe, aku bisa memasukkannya ke dalam novelku, ternyata rasanya cukup lembut. Tapi gara-gara ini juga, aku jadi tidak bisa tidur lagi, apalagi di dalam kamar, ada dia. Kenapa dia malah tidur sekamar denganku? 


Ah…, mungkin saja karena biayanya mahal, ya rumah sakit ini saja besar, pasti harganya besar juga jika menyewa kamar lain. Tapi, bagaimana aku akan menggantikan uangnya ya?”


Tanpa menyadari keberadaan dari orang yang sedang berjalan mendekati Vina yang ada di samping persis pagar pembatas, orang ini pun mulai mengangkat tangannya ke depan, dan sudah bersiap untuk menangkap Vina. 


“Disini dingin sekali, padahal di rumahku saja tidak akan sedingin ini. Apakah ini yang namanya negara empat musim? Bahkan di musim semi saja, saat malam hari, bisa sedingin ini” gerutu Vina. Setiap dia mengambil nafas dan mengeluarkan nafasnya, mulut dan hidungnya pun mengeluarkan uap, layaknya asap. “Hahh…., ini terlalu dingin, aku bahkan lupa untuk membawa selimut,” imbuh Vina lagi, mengeluh soal tubuhnya yang sudah menggigil. 


Dia tidak bisa bertahan lama, itulah yang terlihat pada diri Vina. 


Namun, di samping Vina hendak berbalik, di saat itulah sebuah tangan tiba-tiba saja langsung muncul. 


Akan tetapi, dikarenakan kedua kakinya tidak sinkron dengan tubuhnya, Vina pun langsung terhuyung ke belakang. 


‘A-apa aku akan mati jatuh dari gedung?’ pikir Vina, seketika langsung panik dengan situasi yang ada di belakangnya itu. 


“Kenapa kau sangat terkejut?”


GREP….


Suara berat milik seseorang yang Vina kenal itu seketika menyeruak masuk ke dalam indera pendengarannya di sertai dengan tangan yang tiba-tiba sudah melingkar di belakang pinggangnya. 


Begitu penasaran dengan ekspektasi yang sedang Vina buat di dalam kepalanya, dia pun membuka matanya. 


‘Elvano?’ panggil Vina dalam hatinya. Dia terkejut dengan sosok dari Elvano yang ternyata adalah orang yang berhasil mengejutkannya dengan cara diam-diam seperti seorang penjahat itu. 

__ADS_1


“Kau ini benar-benar-” mulutnya sejenak terdiam, menatap netra milik Vina yang nampak ketakutan tapi jika ada perasaan terkejutnya. “Selalu saja membuat orang lain khawatir. Kau paling jagonya,”


“Vano, kenapa kau bisa tahu aku ada di sini?” tanya Vina, dia tidak bisa merubah ekspresi wajahnya yang tetap saja cukup terkejut itu. 


“Apa kau sedang bertanya?”


“Ya iyalah, aku sedang bertanya, kan aku keluar sendirian, dan bahkan tidak mengatakannya kepadamu, tapi- tapi kau bahkan bisa ada di sini. Sampai mengagetkanku, itu- cukup mengejutkan.” omel Vina dengan kalimat terakhir, dia bicara dengan nada yang cukup lirih. “Aku pikir, ada orang yang mau mendorongku dari sini,” ucapnya lagi. 


Vano pun terdiam, sebenarnya di belakang pintu sana, ada seseorang yang berhasil Vano lumpuhkan. 


Dan insting milik Vina, ternyata memang cukup sensitif. 


“Memangnya siapa yang berani mendorong orangku?”


“Hmm?” Vina membulatkan matanya, karena tercengang, kalau Vina adalah orangnya Vano? “M-maksudmu tetanggaan kan?”


Vano menyipitkan matanya. Padahal ada makna lebih dari itu, tetapi karena Vina punya pikiran lain, Vano pun hanya mengulas senyum simpul. “Ya, karena kau tetanggaku, jadi siapa yang berani mencelakaimu, akulah orang yang harus mereka hadapi. Itulah maksudku.” 


‘Kan, jadi jangan sampai kau salah sangka, jangan terlalu berharap, semua ucapannya selalu saja menimbulkan kesalahpahaman. Jadi aku harus hati-hati dengan perasaanku, jangan sampai aku tergoda dengan ucapannya. Dia tetap orang asing, dan orang sepertinya, jelas sudah punya kekasih, itulah yang aku yakini.


Lagi pula, aku ini kan perempuan biasa-biasa saja, jangan terlalu berekspektasi tinggi, Vin, dia bukan orang yang bisa kau jangkau.’ kata hati Vina, sembari mencoba berdiri lagi dengan dibantu oleh Vano. 


“Jadi, apa kau masih ingat dengan apa yang terjadi tadi sore?” tanya Vano secara tiba-tiba.


Vina seketika mematung, ‘Jangan-jangan, dia…, dia mendengar semua ocehanku tadi?’ panik Vina, dia pun jadi malu sendiri dengan sikapnya tadi yang terus bicara sendiri, tapi ternyata Vano mendengar semuanya. “Apa- kau, mendengar semuanya?” tanya Vina, mencoba mengkonfirmasi. 


Dan dengan senyuman Vano yang begitu lebar itu, Vina pun langsung memunggungi Vano dan segera berjongkok sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. 


‘Aduuh, kenapa dia pakai mendengar semua perkataanku?’ batin Vina, sudah merasa malu setengah mati. 

__ADS_1


__ADS_2