
Setelah kejadian itu, sekarang Elvano akhirnya pindah rumah, dan letaknya cukup dekat, karena tidak sampai sepuluh meter saja bisa sampai di rumahnya Vina.
Makan dan tidur di rumah kosong, dan mandi di rumahnya Vina.
Dan ini adalah satu minggu setelah insiden di temukan nya Elvano di belakang rumah.
"Nananana..." Vina yang tidak bisa bernyanyi itu bersenandung ria dengan gaya joget miliknya sendiri yang tidak bisa di ganggu gugat. Saking asiknya karena mendengarkan lagu lewat headset bluetooth, dia jadi tidak sadar kalau dia sedang di pantau oleh Vano. "Yo..yo.., bagus euy."
Sambil menyapu, dia bergoyang sana dan goyang sini.
'Pfft, jadi dia perempuan yang seperti itu?' batin Vano.
"Oh ya? Kalau mau aku buatkan quilling, butuh satu minggu, jadi seharusnya pesan dari kemarin." kata Vina dengan tiba-tiba, sebab ada panggilan masuk dan ingin order jasa padanya. "Iya. Karena aku juga yang pesan juga bukan satu dua orang." jawabnya lagi. "Ok, kalau mau menunggu, akan aku buatkan, tapi di mohon DP lima puluh persen, karena aku juga harus beli bahannya."
Dan setelah selesai menyapu, Vina pergi menutup telepon, dan barulah dia sadar ada seorang pria di ambang pintu yang sedang bersandar di dinding sambil tersenyum ke arahnya.
"Apa yang kau senyum-senyumkan?"
"Kau bisa berjoget ya?" seringai Vano.
"Diamlah, memang apa masalahnya jika aku berjoget?" tanya Vina dengan ketus.
"Tidak ada yang salah, tapi hanya lucu saja jogetannya."
Vina jadi diam, dia pun berbalik dan menaikkan volumenya agar ia tidak terpengaruh dengan ucapan dari Vano itu.
"Oh ya, bagaimana dengan lukamu?" Tiba-tiba Vina merelakan dirinya yang tadi sempat di tertawakan oleh Vano itu dengan mengalihkan topik pembicaraannya itu.
"Sudah lebih baikan." Vano melirik ke bawah sambil memegang dadanya sendiri. Di sana memang ada luka tembak. Tapi entah kenapa rasanya memang sempat di lakukan operasi pengangkatan peluru, jadi ada bekas jahitan.
Namun karena dia sama sekali tidak ingat dengan permasalahan luka miliknya, jadi ia tidak bisa apa-apa selain mencoba merawatnya sampai sembuh.
Meskipun, dia merasa bersalah, karena masih numpang makan dan mandi serta memakai baju kepadanya dari keluarga Vina ini.
"Tapi aku belum mengganti perbannya."
'Oh iya ya, aku lupa untuk menggantinya, gara-gara aku terlalu sibuk dengan urusanku. Kasihan, dia jadi terlihat seperti anak kucing yang ingin di rawat pribadi olehku.
Kalau gambarnya bisa di buat chibi, pasti imut, ah.. bahkan lebih imut, kan ya?' merasa kasihan dengan Vano ini, Vina pun meletakkan sapu dan mengambil kotak obat.
Awalnya dia sama sekali tidak punya kotak obat, tapi berkat pria asing ini, dia pun jadi punya, dan sekarang isinya bahkan cukup lengkap, sampai perban saja punya satu kotak lebih, untuk cadangan, karena Vano masih memiliki luka yang harus di rawat dengan baik.
__ADS_1
"Sini masuk, biar aku ganti perbannya." ucap Vina.
Karena alasan Vano berdiri di samping dinding rumahnya ternyata untuk itu, Vina pun mengizinkannya masuk kedalam rumahnya.
Rumah yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil, karena rumahnya memanjang, Vano pun masuk kedalam rumah itu lagi, dan lagi-lagi aroma manis dari tubuh Vina yang baru saja mandi itu menarik perhatian dari pria ini untuk terus memperhatikannya.
'Padahal dia mandi pakai sabun yang sama denganku, tapi kenapa rasanya manis dari pada yang aku pakai?' sebagai pria yang tidak mengerti arti dari kata penarik hati itu, Vano pun hanya diam sambil memandangi tubuh dari Vina yang lebih pendek sampai dua puluh lima sentimeter itu. Cukup pendek, sampai tinggi dari Vina saja hanya sebatas ketiaknya Vano.
Perbandingan yang cukup luar biasa, sebagai keturunan negara eropa yang punya tinggi tubuh sampai seratus sembilan puluh bahkan lebih, jadi setiap kali Vano berdiri saja, jelas dia sudah seperti tiang listrik berjalan.
Begitu Vina mengambil kotak obat, Vano pun melepaskan pakaian yang tidak lain adalah pakaian berkancing, karena itulah yang paling nyaman, mengingat luka di tubuhnya sama sekali tidak boleh di gerakkan lebih dari pada seharusnya.
'Wah, tetap saja dia punya daya pesona yang bagus. Ternyata! Pakaian bekas pun jadi terlihat seperti pakaian mahal, jika yang memakai dia! Gila, dia memang punya feromon yang begitu tinggi. Bisa-bisanya seorang bule kesasar sampai ke rumahku.
Rezeki macam apa yang langit berikan kepadaku?' pikir Vina, masih menahan diri untuk bersikap normal alias biasa.
Tapi sayang sekali, sikapnya untuk biasa-biasa saja itu justru ketahuan oleh Vano, gara-gara ada sipu merah di kedua telinganya Vina.
"Suka ya? Sentuh semaumu saja jika mau." goda Vano secara tiba-tiba.
"Mana mungkin. Jangan membuat otakku jadi tidak waras." celetuk Vina.
"Hahaha, masa sih, tapi bahkan mulutmu masih bicara waras denganku." sahut Vano.
Vano hanya tersenyum saja sambil memperhatikan wanita ini tengah melakukan pekerjaannya sebagai seorang perawat dadakan.
"Silahkan saja kalau berani." jawab Vano dengan senyuman remehnya.
"Kau-" karena geram sendiri dengan tingkah pria ini, dia pun dengan sengaja menekan luka jahitannya Vano.
"A-akkh.." tapi akhirnya Elvano jadi mengaduh sakit dengan rintihannya. "Tunggu, tunggu, ini sakit."
Vina yang tadinya hanya iseng-iseng saja menekan luka milik Vano, melihatnya sampai kesakitan sampai seperti itu, Vina pun jadi merasa bersalah dan membuat alasan. "Makannya, jangan menantangku." kata Vina, dia berbicara dengan sok berani, padahal jantungnya sempat berdebar kalau luka itu semakin parah. 'Aku kan hanya menekannya sedikit, tapi melihatnya sampai kesakitan seperti itu, aku kan jadinya merasa bersalah!'
'Hahaha, lihat ekspresi wajah yang kelihatan sekali merasa bersalah. Lucu sekali wanita ini. Padahal lukanya saat di tekan oleh tangannya dia, memang rasanya cukup sakit, tapi aku kan masih bisa menahannya dengan baik. Tapi melihat dia sampai berekspresi wajah serius seperti itu, aku jadi tidak tahan ingin tertawa.' pikir Vano, benar-benar merasa terhibur dengan reaksi dari wanita yang ada di depannya itu sebab terlihat lucu.
Sok berani, padahal di dalam hatinya sangat lembek.
Begitu dia membuka lembaran terakhir dari luka yang sempat di jahit kembali oleh bu Bidan, Vina melongo.
"Ini sudah hampir kering, kenapa kau tidak bilang sih?"
__ADS_1
"Ya, mana aku tahu? Perbannya juga baru di buka kan? Jadi apa kau bahkan mau menyalahkanku yang bahkan masih tidak bisa membuka perban sendiri?" pertanyaan yang kembali di lempar ke Vina, sontak membuat Vina jadi terdiam kehabisan kata-kata.
'Iya juga sih. Aku jadi keceplosan sendiri gara-gara aku terkejut karena luka yang sudah mulai mengering ini.' batin Vina, dia pun mencoba untuk kembali tenang, dan menelepon bu Bidan untuk menangani jahitan ini.
_____________
"Nah." di pagi hari itu, Vina yang baru saja keramas pagi, sudah membawa nampan berisi sarapan ke rumah sebelah.
Dan Vano yang baru saja bangun itu, langsung membuka pintu rumah dan di depan rumahnya pun tiba-tiba jadi sudah ada Vina. 'Apa dia tidak bisa mengkondisikan penampilannya? Dia bahkan kelihatannya memang terburu-buru membawakan sarapan pagi untukku, sampai pakai baju saja, terbalik.'
Melihat hal itu, Vano langsung membuang muka sambil terkekeh.
"Pfftt..."
"Ini, kenapa malah tertawa?" tanya Vina, masih tidak mengerti alasan dari pria ini tiba-tiba kembali tertawa.
"Lagian, apa kau sebegitu buru-burunya ingin menemuiku, sampai tidak sadar pakaianmu itu terbalik?" jawab Vano, dan tawanya pun jadi pecah.
BLUSSHH...
Vina seketika langsung tersipu, "T-terserah! Cepat ambil nampan ini, tanganku pegal!" kata Vina dengan nada sedikit lebih tinggi, gara-gara saking menahan malunya.
"Hahaha, Vina-vina, kau itu lucu juga. Banyakin cerobohnya, biar aku bisa tertawa lagi, ok?" ungkap Vano, seraya mengangkat tangan kanannya yang hendak dia gunakan untuk mengusap ujung kepalanya Vina.
Tapi karena Vina langsung menghindar seolah sedang memberikan sikap waspada, Vano sedikit tersenyum kecut, makannya dia segera menarik tangannya yang hanya menangkap angin kosong saja.
"Kau mau apa dengan tanganmu itu?"
"Yah~ Tanpa sadar tanganku ini ingin mendarat di atas kepalamu. Tapi karena kau menghindar, tidak jadi." jawab Vano. Dia pun akhirnya menggunakan tangan kanannya untuk memegang nampan itu dan berbalik. "Terima kasih ya, selama ini kalian terus merawatku, padahal mau bagaimanapun aku tetap orang asing untuk kalian."
"Sesama manusia kan harus saling tolong menolong. Jadi apa salahnya merawat orang sakit sepertimu, apalagi kau kan amnesia, siapa yang bisa kau andalkan selain orang yang baik seperti k- bukan...maksudku karena kau baik, dan kelihatannya jadi korban orang lain yang berbuat jahat, kami tidak tega membiarkanmu mati begitu saja. Apalagi kan kau di temukan di belakang rumahku, jadi tentu saja ini seperti tanggung jawab kami juga." jelas Vina dengan panjang lebar.
"Tapi sampai sekarang aku masih belum bisa mengingat latar belakangku, apa kau tidak mempermasalahkan terus seperti ini kepadaku?" tanya Vano, dia duduk di atas tempat tidur dan meletakkan makanannya di atas meja lipat yang ada di depannya itu.
Vina yang sebenarnya ingin masuk itu, tetap berdiri di ambang pintu.
"Lagi pula ini sudah keputusanku, hanya memberimu makan saja tidak masalah juga." ucap Vina dengan cukup terus terang.
"Hah~" tiba-tiba saja Vano menghela nafas kasar.
Kelihatan sekali, Vano sedang frustasi sendiri karena dirinya merasa menyusahkan tiga orang yang sudah baik kepadanya selama lebih dari satu minggu ini.
__ADS_1
'K-kenapa dia menghela nafas kasar? Ah sudahlah, lama-lama aku bisa masuk ke rumah kematian ini.' pikir Vina. "Aku pulang dulu." lalu Vano tinggal pergi sendirian di rumah sempit itu, rumah kosong yang tiba-tiba di huni oleh pria yang sesaat tadi nampak mengeluarkan aura-aura hitam yang cukup mengerikan.