Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Hak Waris


__ADS_3

Pria itu terdiam, dia memang seharusnya membahas masalah hak waris itu sendiri dengan Arthur. Tapi masalah waktu yang tidak dapat di hindari, membuat dia mau tidak mau harus bicara langsung dengan Elvano yang sudah lebih dulu pulang ketimbang Arthur.


Jika bukan karena penyakit yang di deritanya, mana mungkin dia akan memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menjemput paksa Elvano untuk pulang.


Lalu satu-satu nya orang yang bisa dia ajak bicara detik ini juga hanyalah Elvano.


"Apa yang Ayah ingin katakan?" sebenarnya Elvano agak sedih melihat Ayahnya yang sekarang sudah tidak mampu untuk bangkit dari tempat tidurnya, sehingga masalah pekerjaan perlahan di serahkan kepada Arthur.


Sedangkan Elvano sendiri, dia bekerja seadanya, dan memilih untuk hidup normal tanpa memikirkan banyak beban dari perusahaan maupun organisasi yang didirikan oleh sang Ayah tersebut.


"Denis~" panggil pria ini kepada salah satu anak buah kepercayaannya.


"Ya, Tuan. Saya masuk," lalu pria berseragam lengkap dengan setelah jas hitam sebagai pakaian formal nya dalam bekerja, dia pun masuk ke dalam kamar yang kini di huni oleh kedua majikannya tersebut.


"Kenapa Ayah memanggil dia segala?" lirih Elvano, merasa curiga dengan kehadiran dari Denis.


"Denis, serahkan itu kepada Elvano," perintahnya.


Denis pun membuka tas yang dia bawa dan berisi dengan dokumen. Begitu dia keluarkan sebuah amplop berwarna coklat, dia membuka amplop itu dan menyerahkan isinya kepada Elvano.


"Ayah tahu, kalau selama ini Arthur menjadi kandidat terkuat untuk meneruskan posisi Ayah dan menerima semua harta Ayah kepadanya, tapi di situ Ayah harap agar kau lah yang mengelola dan menggantikan posisi Ayah sebagai kepala keluarga Travers." jelas Ayahnya Elvano dengan nada yang cukup lirih, karena sekarang dia berbaring dalam kondisi banyak alat medis yang mendampingi hidupnya, dan dia tidak lama lagi akan mengakhiri kehidupan singkatnya.


"Apa alasan Ayah melakukannya? Ini sama sekali tidak benar, lagi pula kakak lah yang selama ini mendapatkan pelajaran untuk menjadi penerus keluarga, jadi kenapa harus aku? Pasti ada yang salah," protes Elvano sambil menyerahkan kembali dokumen itu kepada Denis.


Dengan tatapan sendu, Ayahnya Elvano menyahut dengan ucapan dari anak keduanya yang terkenal sangat berandal itu.


"Bukan masalah sudah di ajari atau tidak, ini masalah soal prinsip.


Meskipun kau selama ini tidak berhubungan dengan perusahaan Ayah dan organisasi milik Ayah, walaupun kau tahu soal semua itu, tapi saat melihatmu selama ini begitu perhatian dengan anak buah Ayah yang sama sekali tidak berhubungan denganmu, aku berpikir itulah masalah yang paling penting dalam menjalin interaksi dengan orang lain.


Kau menolong anak buah Ayah yang terluka, ataupun membalas dendam orang yang melukai anak buah Ayah, itu sudah jadi acuan kalau kau punya sisi peduli, di samping kau sangat berandal." penjelasannya itu pun membuat Elvano bingung sendiri.


"Tidak Ayah, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Aku hanya berpikir ketidak adilan harus di balas, hanya itu, jadi kenapa harus mengaitkannya dengan posisi hak waris? Itu sangat tidak sebanding. Apalagi Arthur itu, dia sudah sangat terobsesi dengan posisi itu, jika tiba-tiba aku yang menempatinya, sama saja kalau aku akan memecah sebuah perang di dalam keluarga Travers." penjelasan dari Elvano pun cukup masuk akal. "Aku tida cocok menempatinya, aku hanya ingin bebas, tidak mau terikat dengan banyak aturan," imbuhnya.


"Tapi Tuan, ini bukan masalah soal ketentuan yang sudah di sematkan dari dulu kalau Tuan Arthur adalah kandidat terpilih untuk menempati posisi Tuan besar, tapi ini ada satu alasan lain yang membuat anda harus menggantikan Tuan Arthur sebagai penerus yang sah,"


"Tapi apa? Jangan berbelit, aku ingin penjelasan singkat dan padat." tegas Elvano, dia sudah mulai muak jika harus mendengar cerita yang tidak kunjung selesai.


"Kau tahu, Arthur hanya punya segi kuantitas saja. Dia hanya menang banyak untuk menjadi orang yang pintar, dia hanya terobsesi dengan posisinya saja, kalau dia menjadi pengganti Ayah, Ayah pikir kalau posisi keluarga kita hanya akan bertahan sampai beberapa tahun saja.


Lalu, meskipun kau terlihat sebagai seorang berandal, apa kau pikir Ayah tidak tahu kalau kau diam-diam sebenarnya menyembunyikan banyak sisi yang tidak pernah kau perlihatkan kepada Arthur?


Kau hanya ingin menjadi orang yang tersisih dan tidak mau mencolok di depan kakakmu, tapi semua kualitas itu ada pada dirimu saja, Elvano." penjelasan yang cukup panjang dan lebar itu berhasil membuat Elvano tersentil sendiri, karena semua yang di katakan oleh sang Ayah sebenarnya benar.

__ADS_1


"Ayah~ Tapi aku sama sekali tidak ingin repot dengan semua urusan soal perusahaan dan apalagi organisasi gelap yang Ayah buat, itu membuatku pusing. Tahu pusing kan?"


Meskipun kedudukan Ayah cukup terlihat seperti seorang raja, tapi di balik layar, semua pekerjaan pasti akan di limpahkan kepadaku. Lembur ini dan itu, itu menjengkelkan. Aku tidak suka lembur." protes Elvano, dia pun jadi bertingkah seolah dia benar-benar membenci posisi itu, padahal dia hanya enggan saja.


"Denis, sebutkan semua kasus yang pernah diam-diam di selesaikan oleh Elvano."


"Baik. Pertama, soal penyelundupan narkoba. Alih-alih mabuk-mabukan di dalam bar dan bermain dengan banyak wanita, Tuan muda berhasil menggagalkan penyelundupan tersebut dengan bantuan para wanita yang menjadi penemannya malam itu."


JLEB....


"Kedua, Tuan muda balapan liar di jalan raya. Tapi berkat aksi bakat ekstrim dari Tuan muda sejak kecil, Tuan muda kemabli berhasil menggagalkan perdagangan manusia, terutama wanita yang hendak di kirim ke luar negeri." penjelasan dari denis kembali membuat satu anak panah langsung menusuk jati diri Elvano.


'Sebenarnya siapa orang yang berhasil memata-mataiku?' pikri Elvano, dia jadi curiga asal muasal informasi tersebut.


"Kasus ketiga, suatu malam Tuan muda iseng hadir di acara pernikahan seseorang, dan berhasil mengacaukan pesta pernikahan itu dengan keberadaan Tuan muda yang sukses menggagalkan Bom masal." merasakan kacamatanya melorot saat bicara, Denis segera memperbaiki posisi kacamatanya itu dan kembali bicara.


"Ke empat, alih-alih bercinta dengan seorang wanita di dalam hotel karena obat perangsang, Tuan muda kembali mendapatkan prestasi dengan mengorek informasi dari wanita tersebut untuk memberitahu lokasi penyanderaan anak buah Tuan besar, sekaligus menggagalkan aksi penyerangan, dengan menghancurkan gudang senjata milik pihak musuh dengan cara bermain kembang api.


Dari sekian banyak yang masih ingin saya jelaskan, Tuan muda kedua termasuk tipe Tuan muda yang bebas tapi tetap bisa menikmati masa muda nya dengan menjadi seorang berandal kelas kakap.


Dengan kata lain, sekalipun Tuan muda berkata ingin bebas, anda masih bisa menikmati kebebasan anda itu dengan tangan terbuka. Karena jika Tuan muda kedua mau menerima posisi ini, anda akan mendapatkan banyak dukungan dari kami semua, sebab semua orang yang anda tolong secara tidak langsung berhasil menjadi bagian dari anak buah anda yang setia.


Tuan, anda berhasil mencuci otak mereka semua untuk lebih aktif dan setia dengan anda, apakah yang seperti ini saja membuat anda ingin menolak posisi yang benar-benar ingin Tuan besar berikan kepada anda?"


Menjadi seorang kepala keluarga bukanlah beban yang di anggap enteng. Dengan menempati posisi takhta tersebut, bukan berarti bisa berbuat seenaknya main suruh perintah sana dan sini. Semua itu harus memiliki banyak pertimbangan yang harus Elvano pikirkan.


"Ini bukan omong kosong, apa yang di katakan oleh Denis itu benar, dan- ini juga demi kakakmu, Elvano. Kau tidak punya pilihan lain, kau harus menggantikan kakakmu itu untuk melindunginya juga. Jadi bukan semata-mata hanya menggantikannya saja."


"Melindunginya dari apa? Dia itu bukan anak lemah, lagian dia lebih tua dariku, kenapa aku harus melindungi anak sombong seperti kakak itu?" timpal Vano dengan tegas.


Mendapatkan pertanyaan itu, membuat suasana di sana jadi hening, Denis ingin menjawab pertanyaan dari Tuan muda, karena dia tahu kalau Tuan besar sendiri, untuk bicara saja harus memerlukan banyak persiapan.


"Mendekatlah-" membujuk Elvano untuk membungkukkan tubuhnya ke arahnya.


Elvano yang pada akhirnya memiliki rasa penasaran yang cukup besar, mau tidak mau harus menuruti permintaan dari Ayahnya itu.


Setelah wajah mereka berdua berada di jarak yang dekat, ayahnya Elvano pun melepaskan masker oksigennya dan akhirnya membisikkan jawaban yang di inginkan oleh Elvano, sampai Elvano membelalakkan matanya.


"Apa? Konyol, aturan macam apa itu?" Elvano jadi tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Ayahnya itu.


"Ini bukan masalah ****** atau tidak, dari pada itu, ini demi keberlangsungan keluarga Travers. Apa kau ingin keluarga ini hancur jika kau tidak mau menggantikannya?


Sebagai gantinya kau bisa memilih siapapun yang akan menjadi pendampingmu nanti tanpa membedakan kasta, itu jauh lebih baik, asal kau percaya saja dengan kata hatimu itu.

__ADS_1


Jadi terimalah ini-" setelah berbicara begitu, sebuah cincin yang tadinya tersemat di jarinya, tiba-tiba saja dia lepas dan dia masukkan ke tengah jarinya salah satu tangannya Elvano.


Elvano membelalakkan kembali matanya dengan sangat sempurna, ketika cincin dari lambang keluarganya itu, tiba-tiba saja sekarang sudah berada di jari tengahnya, yang artinya sesi menerimaan takhta, sudah berhasil di pindahkan ke tangan Elvano.


KLEK...


"Ayah! Sekarang kondisi Ayah bag-" sedangkan Arthur yang baru saja masuk ke dalam kamar, ucapannya jadi terpotong, ketika sudut matanya melihat cincin dengan simbol dari lambang keluarga Travers, tiba-tiba saja sudah ada di tangan adiknya. "Elvano, bukankah itu cincin kepala keluarga Travers milik Ayah? kenapa bisa ada di tanganmu?"


Lalu pertanyaan paling menentukan itu akhirnya keluar juga dari mulut Arthur, sebagai kakakknya Elvano.


"Bukannya itu seharusnya masih di tangan Ayah! Kenapa kau mengambilnya?! Kau mau merebut hak waris itu ke tangamu?! Iya?!" marah Arthur. Dengan langkahnya yang panjang dan lebar, Arthur langsung menghampiri Elvano untuk merebut cincin itu.


"Arthur, jangan seperti itu. Kendalikan amar uhukk...," sudah mencapai batasnya, batuk itu pun membuat tanda sebagai peringatan untuk mereka berdua, kalau waktu yang di miliknya tidak akan bertahan lama lagi.


"Tuan muda, tolong jangan berkelahi, Tuan besar sedang di posisi untuk tidak bisa banyak bicara lagi, jadi mohon tenangkan dulu hati kalian berdua," urai Denis, dia mencoba untuk menjadi penengah diantara dua anak tersebut yang hendak melakukan perkelahian di dalam kamar Tuan besar.


"Tapi apa-apaan dengan cincin itu! Vano! Kau harus melepaskannya, kau itu tidak pantas untuk mendapatkan itu, apalagi memakainya!" protes Arthur.


"Tapi Ayah lah yang memberikan ini kepadaku, Kakak." seperti di tebas dengan pedang, hatinya tiba-tiba saja jadi semakin panas dengan ucapannya Elvano tersebut.


Arthur langsung menoleh ke belakang, dan melihat sang Ayah sedang di pakaikan masker oksigen lagi oleh seorang perawat yang langsung datang untuk menangani kondisi sang Tuan besar yang kondisinya semakin tidak baik.


"Ayah, apakah ayang di katakan oleh baj*ngan ini benar?" Arthur akhirnya pun bertanya kepada Ayahnya secara langsung.


"Iya, maafkan Ayah, tapi Ayah pikir adikmu lah yang uhukkk... pantas mendapatkannya. Karena kau- uhuk... uhuk... uhuk..." tidak bisa bicara lebih banyak lagi, dadanya pun semakin merasakan sesak. "A- akh-"


"Tuan besar! Anda jangan banyak bicara lagi. Suster, dokternya dimana?!" ucap Denis.


"Beliau sedang ada di kamar mandi Tuan, dia sedang perjalanan ke sini," jawab wanita ini.


"A-arthur, e uhukk.. Elvan, ja- jangan berte... ngkar karena ...mas posisi. Ini- akuhk..hah...hah, akh~" tidak mampu untuk bertahan lagi, ucapannya yang sangat menggantung itu pun pada akhirnya berakhir, tepat di saat dokter pribadinya baru saja datang.


"Ayah! Kau harus menjelaskannya! Ayah!" Arthur yang tidak terima dengan perkataan dari Ayahnya yang sangat tidak jelas, dan membuatnya benar-benar tidak begitu menerima posisi dimana ternyata adiknya yang mendapatkan hak waris itu, jadi marah sendirian dengan berteriak keras. "Ayah! Aku itu sudah bekerja keras untuk ini, tapi apa ini hasilnya! Ayah?! Ayah!"


Ketika Arthur merasa tidak adil dengan semua ini, Elvano justru terdiam tanpa adanya tangisan yang membuatnya merasa sedih atau apa, karena pada dasarnya dia dari kecil tidak begitu di perhatikan oleh Ayahnya secara langsung, maka dari itu dia pun sama sekali tidak memiliki perasaan apapun, selain rasa pusing karena alkoholnya mulai kembali naik, dan membuat kepalanya pingsan.


"Ayah! Kau harusnya itu menungguku! Tapi kenapa kau seperti ini!"


'Sudah tua, tapi dia berisik seperti anak kecil. Kakak yang emosian, kalau kau yang mendapatkan posisi ini, sepertinya kau memang akan menghancurkan keluarga ini dengan pelan-pelan, karena sikapmu itu. Aku tidak senang, dengan posisiku yang tiba-tiba jadi seorang kepala keluarga, tapi aku tidak akan senang jika semuanya lenyap di tangan orang yang tidak pengertian sepertimu, kakak.' setelah berpikir seperti itu, disebabkan Elvano minum alkohol dengan kada tinggi, dia pun ambruk.


BRUK....


"Tuan muda kedua!" Denis yang terkejut dengan Tuan muda kedua yang tiba-tiba pingsan, bergegas menyuruh anak buahnya yang ada di luar untuk masuk ke dalam kamar milik Tuan besar.

__ADS_1


__ADS_2