Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Di Balik Alasan


__ADS_3

Setelah keheningan yang diciptakan oleh mereka berdua, Evan pun menceritakan soal elvano di mata Evan sendiri kepada lawan bicaranya itu.


"Elvano itu dia itu tipe orang yang tidak akan pernah menyerah meskipun masalah kali ini terlihat begitu besar. 


Tentu saja semua itu didukung karena dia memiliki rekan-rekan yang bisa dipercayainya,semua masalah yang disemua masalah yang dihadapi mereka bisa langsung tuntas karena evana juga turut ikut membantu.


Dengar, kita memang sudah berhasil memiliki cincin, segel lambang dari keluarga Travers, bahkan kita juga sudah memiliki anak itu sebagai jaminan kalau rencana kita gagal di tengah-tengah. 


Tapi mau bagaimanapun rencana kita berjalan mulus, di mata Elvano, dia tetap memiliki penglihatan yang cukup tajam di mana dia pasti akan menemukan celah dari rencana kita.


Makanya aku sedikit ragu dengan rencana yang sudah kau buat begitu lama."


"Oh, ayolah, jika kau begitu ragu, aku jadi ikutan ragu." tutur laki-laki ini dengan nada yang begitu santai.


Kecemasan di mata Evan masih terlihat begitu jelas, namun satu yang pasti untuk pria yang menjadi lawan bicaranya itu dia tetap memiliki prioritas untuk memenangkan rencana yang digunakan untuk menggulingkan kekuasaan Travers.


"Ada sebagian besar orang menganggap kalau kata-kata adalah doa jika kau mengatakan gagal, ada kemungkinan bisa gagal. jadi aku peringatkan kepadamu untuk hati-hati dalam bicara," kata pria ini memperingatkan kepada Evan.


Mendengar hal tersebut Evan pun terdiam sejenak, dan memikirkan kata-kata dari orang tersebut.


"Baiklah aku akan mencoba untuk terus mempercayaimu, oleh karena itu jangan buat aku kecewa. 


Kau tahu aku itu sudah memberimu tempat yang kau inginkan. Aku harap ini menjadi awal baru untuk kekuasaan kita berdua," sahut Evan.


________


Namun, dibalik perbincangan mereka berdua, di salah satu kamar ada satu orang yang kini tengah terbaring di atas tempat tidur. 


“Ehmm,” pelan-pelan kelopak matanya terbuka. Begitu sudah terbuka, cahaya yang begitu remang-remang itu, sekilas cukup menyulitkan matanya untuk mengetahui dimana dia sekarang berada. ‘Dimana ini? Kenapa kamarnya gelap? Bukan, lebih dari pada itu, kenapa kepalaku terus merasa pusing? Lalu tanganku, tunggu! Rasa sakit ini, ini seperti aku baru saja di suntik? Apa yang sudah terjadi?’


Karena dia bangun sendirian, dia pun jadi bingung dia sekarang ada di mana. 


‘Aku tidak tahu ini dimana, tapi aroma di dalam kamar ini, kenapa cukup memabukkan? Aroma ini seperti aroma ganja?!’ punya pikiran yang cukup sensitif, seketika pria yang tidak lain adalah Arthur, langsung membelalakkan matanya. ‘Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadaku? Ingatanku yang terakhir-’


Arthur mencoba untuk berpikir keras. Tapi mau bagaimanapun dia mencoba untuk menemukan jawabannya, dia seperti kehilangan ingatan terakhirnya. 


‘Yang jelas ini bukanlah kamarku, aku harus keluar dari sini!’ begitulah yang di inginkan oleh Arthur. 


Tapi saat dia hendak turun, tubuhnya langsung terjatuh. 


BRUK …


KLANG …


Dan suara rantai, menjadi pemicu keterkejutan Arthur untuk yang kedua kalinya. 


“Kenapa kakiku di rantai? Apa-apaan ini?! Hei! Siapapun yang ada di luar! Keluarkan aku!” teriak Arthur dengan cukup lantang.


Tentu saja, teriakannya itu sampai dua orang yang ada di ruang tamu itu pun langsung menghentikan perbincangan mereka berdua. 

__ADS_1


“Kelihatannya dia sudah bangun,” kata Evan, dia lebih dulu beranjak dari tempat duduknya, lalu teman bicaranya itu pun ikut pergi mengikuti Evan dari belakang. 


Pria bersurai aram temaram ini tampak senang dengan apa yang barusan dia dengar itu.  “Ya. Walaupun dia cukup naif, tapi mau bagaimanapun kita tidak bisa meremehkan kekuatannya. Belum dua jam setelah kita memberikannya obat, tapi dia sudah bangun. 


Jika memikirkan anak itu bisa bangun secepat ini, bukannya akan lebih menarik lagi jika Elvano yang aku berikan obat?


Aku jadi penasaran, kira-kira jika adiknya itu aku berikan obat dan dosis yang sama, apakah dia akan bangun lebih cepat dari kakaknya itu?” ucap pria ini dengan senyuman konyolnya. 


‘Aku benci senyuman konyolnya itu. Tapi jika bukan karena dia, aku juga tidak akan pernah berada di titik ini. Titik dimana aku akhirnya bisa menculik Arthur untuk aku jadikan sandera. 


Dengan begini, Travers akan runtuh. Tentu saja, jika aku membunuh anak ini sekarang, maka hanya tinggal Elvano saja yang menjadi darah terakhir di keluarga Travers. 


Jika bukan karena Ayah breng*knya itu, kedua orang tuaku tidak mungkin mati terbunuh. 


Bukan itu sih yang penting. Yang paling penting saat ini adalah, aku ingin membuat Travers menghilang dan di cap sebagai pemberontak, di satu sisi aku ingin tidak ada lagi keturunan Travers yang tersisa, dengan begitu, aku bisa merebut kekuasaanku di negeri ini.’ setelah berpikir seperti itu, Evan pun membuka pintu kamar yang dia kunci itu. 


KLEK …


“Hallo, Tuan muda Arthur, apa tidurmu nyenyak?” tanya Evan, sebagai salam sapa diantara mereka berdua untuk yang pertama. 


Begitu Evan dan temannya masuk, wajah Arthur pun benar-benar jadi pucat pasi, karena dia melihat orang yang cukup Arthur kenal.


“B-bagaimana bisa kau! Apa yang kau lakukan kali ini kepadaku?” ucap Arthur dengan wajah marah. 


Evan dan temannya hanya tersenyum, tapa sepatah kata dari Evan, temannya itu justru berjalan menghampiri Arthur dan berjongkok, “Kau tanya apa yang kita lakukan kan? Kita hanya menginginkan kalian berdua, tentunya. 


Arthur yang merasa jijik, langsung menepis tangan itu dengan kasar. 


PLAK …


“Jadi kalian berdua menculikku karena adikku? Silahkan saja, memangnya dia peduli denganku?” sahut Arthur, dia tampak tidak begitu memperdulikan soal adiknya yang sedang di jadikan target juga. 


“Ho~ Kau begitu putus asa. Tapi apa kau yakin, benar-benar tidak peduli soal adikmu? 


Yah, jika kau tidak peduli dengan Elvano itu, coba aku tanya, apakah kau peduli soal ini?” kali ini Evan bicara menyela mereka berdua, dan memperlihatkan sebuah cincin dengan lambang Travers sebagai simbol kalau itu adalah barang yang seharusnya dimiliki oleh kepala keluarga Travers. 


‘Bukannya itu ada di tangannya Elvano? Kenapa itu ada di tangan baj*ingan ini?’ akhirnya raut wajah Arthur yang tampak terkejut, berhasil memancing Evan untuk bicara lebih banyak lagi. 


“Bukan hanya soal kau yang ada di sini, dan cincin ini ada di tanganku, tapi nasib dari keluargamu itu, ah~ Aku lupa kalau kedua orang tua kalian sudah tiada, tapi apa jadinya jika nama keluarga yang sudah dijunjung tinggi dan dipertahankan selama puluhan tahun itu tiba-tiba runtuh dan hanya tinggal kenangan buruk?” Evan bicara dengan tujuan untuk memancing amarahnya Arthur. 


Tepat sekali, Arthur semakin kehilangan kata-katanya. 


‘Padahal aku dan dia sedang dalam posisi saling berebut tapi, jika nama keluargaku hancur, apakah itu artinya aku-’


“Nama keluargamu itu akan di cap buruk sampai seumur hidup,” imbuh Evan. 


Nama yang begitu di banggakan oleh Arthur dan Elvano, ingin dirusak oleh orang lain?


‘Jika aku ada disini, bagaimana dengan Elvano? Apa yang sedang dia lakukan?’ tanya Arthur dalam hati, pada akhirnya dia pun terpancing untuk memikirkan soal adiknya lagi. 

__ADS_1


“Hahaha, kau dengar itu Arthur? Nama keluargamu yang begitu kau banggakan dari kecil akan hancur di masa jabatan kalian berdua! Sungguh konyol bukan? 


Anak muda yang begitu di percaya oleh Ayahnya sendiri untuk meneruskan nasib keluarga yang sudah di bangun sejak lama, justru akan berakhir di tahun kalian berada,” temannya Evan. 


“Apakah aku punya masalah denganmu?” tanya Arthur kepada temannya Evan itu. “Aku kenal dengan orang yang ada di belakangmu, tapi lain hal jika itu kau,”


Dengan tatapan mata jenaka, orang ini pun menjawab dengan sedikit helaan nafasnya, “Hah~ Apakah kau tidak ingat, jika kau pernah membuat satu keluargaku hancur karena ulahmu? 


Saat kau mengendarai mobil untuk pertama kalinya di jalan raya, kau sempat menabrak mobil yang aku naiki dengan keluargaku!


Kau tahu? Mereka semua meninggal karena terluka parah dan tercebur ke laut, sampai mayatnya tidak di temukan. 


Tapi kau, kau bahkan tidak dihukum sama sekali, dan Ayahmu itu malah dengan entengnya menutup kasus itu hanya dengan uang, dan uang!” marah pria ini, pada akhirnya dia pun bicara dengan gamblang kepada Arthur, soal alasan dibalik dirinya ikut dalam rencananya Evan juga. “Nyawa dibalas dengan nyawa, nama keluarga kalian itu sama sekali tidak layak ada di dunia ini lagi, Arthur!”


Setelah bicara banyak seperti itu, pria tersebut pun langsung melepaskan cengkraman tangannya dari kerah bajunya Arthur dan kembali berdiri. 


‘Jadi kalian berdua, berkumpul untuk membalaskan dendam kalian?’ hanya dengan memikirkan hal itu, Arthur jadi tertawa. “Hahaha, iya, iya, iya. Aku tahu, aku masih ingat dengan hari itu. 


Padahal aku tidak sempat ingat apapun karena waktu itu aku juga kecelakaan dan hilang ingtaan. 


Ayahku hanya memberitahu kalau keluarga yang aku tabrak itu selamat, jadi aku tidak menyelidikinya lebih lanjut. 


Tapi kenapa aku juga yang harus disalahkan?


Kenapa?” jawab Arthur .


Tiba-tiba emosinya jadi tidak stabil. Akibat dari obat halusinogen yang sudah menyebar di dalam darahnya, Arthur pun jadi bicara sesuai apa yang dia rasakan, sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang tadinya tampak angkuh itu. 


Arthur pun menunduk, lalu dia mengapitkan kedua kakinya untuk dia peluk, dan dia pun menyembunyikan wajahnya di atas tumpukan kedua tangannya. 


“Kalau aku tahu, kalau saja Ayah memberitahu yang sebenarnya, aku tidak mungkin jadi merasa bersalah seperti ini. 


Tidak mungkin, jadi semua ini karena aku? Hahaha, jadi ini masalah yang terjadi gara-gara aku, sampai aku di culik dan nama keluargaku akan dihancurkan?


Apa ini sebabnya Ayah mempercayakan semua hak waris ke tangan Elvano?” ada tawa, ada sedikit tangisan yang tidak membuat air matanya menggenang. 


Evan dan temannya itu pun jadi saling pandang satu sama lain, karena bingung sendiri kenapa Arthur yang punya sifat tampak seperti orang yang begitu angkuh, tiba-tiba jadi seperti anak kecil yang kehilangan induknya. 


“Hei, apa ini efek dari obat halusinogen?” tanya Evan. 


“Itu termasuk salah satunya, tapi aku juga tidak yakin kalau ini sekedar efel saja. 


Kayanya ada yang salah dengan anak ini,” kata temannya Evan. 


Mereka berdua pun jadi memilih untuk diam, dan akhirnya pergi meninggalkan Arthur di sana. 


“Elvano, Elvano, jadi itu alasan Ayah memberikan cincin untuk Elvano ketimbang aku? 


Ayah ingin mencari orang yang lebih sempurna ketimbang aku? Hahaha, jadi begitu ya? Pantas saja, pantas saja  Elvano begitu bersikukuh dengan keinginannya untuk mempertahankan posisinya ketimbang memberikannya kepada aku,” gerutu Arthur, dan dia pun terus bicara sendirian di dalam kamar seperti orang yang kena trauma berat.

__ADS_1


__ADS_2