Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Godaan Nikmat


__ADS_3

NGUNGG.....


Salah satu penerbangan internasional dari paris ke indonesia, membutuhkan waktu kurang lebih 17 jam.


Dia lakukan demi menemukan seseorang yang kemungkinan besar ada di indonesia. Delvin, tangan kanan dari Alveno itu kini ada di dalam pesawat.


Dengan memilih bangku Business Class, pria ini tengah membaca novel yang dia bawa sendiri untuk menghabiskan sebagian waktunya di dalam pesawat.


'Aku harus lebih cepat menemukan Tuan sebelum anak buah dari Tuan muda pertama menemukannya,' pikir Delvin.


Sesaat, dia membuka penutup jendela, dan memperlihatkan ada awan tebal di area bawah sana.


Karena pesawat melintas di atas langit tersebut, jelas, pemandangan yang di perlihatkan adalah kumpulan awan yang di hiasi dengan bulan purnama tepat di atas sana.


Tidak ada yang bisa melampaui keindahan itu, dan membuat Delvin jadi terus memperhatikannya, sampai seorang pramugari datang dengan membawa nampan.


"Tuan, saatnya makan malam," beritahu wanita ini, kemudian Delvin akhirnya memutuskan menutup bukunya, meletakkannya kedalam tas tenteng yang dia bawa, lalu membiarkan pramugari ini menyiapkan meja dan menatap semua perlengkapan makanannya. "Apa, Tuan perlu sesuatu yang lain?" tanyanya, bermaksud agar si penumpang yang dia layani mendapatkan pelayanan terbaik darinya.


"Berikan air hangat juga, itu lebih baik," jawab Delvin, masih tidak bergerak dari tempatnya, bahkan pandangannya pun samasekali tidak teralihkan dari kotak makanan yang dia dapatkan.


"Baik Tuan," dengan senyuman ramah, pramugari ini pun pergi untuk mengambilkan yang di minta oleh Delvin.


Delvin yang penasaran dengan yang ada di dalam kotak makanan itu, dia pun membukanya.


Sesuai yang di pesan beberapa waktu lalu, nama dan tampilan dari rendang khas indonesia yang Delvin pesan, akhirnya ada di depan matanya.


Sungguh, itu adalah cita rasa yang belum pernah Delvin rasakan, karena ketika dia membuka tutup kotaknya, dia langsung mendapatkan hadiah berupa aroma sedap yang baru pertama kali dia rasakan.


Dengan raut muka penasaran, Delvin pun mengambil satu potong daging itu, dan memasukkannya ke dalam mulut.


Daging sapi, yang cukup empuk dengan rempah yang terasa kuat di lidah, menjadi pencapaian tertinggi saat dirinya untuk pertma kalinya pergi terbang jauh, mengambil misi, untuk menemukan sang majikannya.


'Ini, lumayan, empuk juga,' pikir Delvin dalam diam, menikmati satu demi satu di setiap giginya mengunyah.


____________


'E-empuk. Padahal kecil, tapi ternyata tetap saja empuk,' pikir Elvano dengan mata terpejam.


Tapi, terlepas dari perasaan Elvano yang mendapatkan berkah dari dirinya yang berhasil menyelamatkan Vina sebelum benar-benar terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri, justru Vina saat ini sedang di landa sebuah emosi yang saling tumpang tindih.


Dengan mata yang terbelalak, Vina langsung bergumam dalam hati, 'T-tangannya, orang ini, d-dia...dia benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan ya? Tapi ini..sangat geli!'


Sensasi perasaan dari rasa geli yang tidak karuan, akibat lengan tangan Vano berhasil menahan tubuh Vina yang hampir terjatuh tadi, membuat Vina melenguh.


Karena apa? Karena rupanya tangan Vano yang ternyata tidak mau tinggal diam, selian bergerak mere*as dari salah satu gunungan kembar milik Vina.


"Ahh..., V-vano, tanganmu! Tanganmu apa yang sedang kau lakukan di tempat itu!" tekan Vina dengan perasaan geram, sebab tingkah dari tangan kanannya Vano itu, benar-benar membuat tubuhnya jadi terangsang. Tapi, dia tentu saja berusaha untuk menyembunyikan kenyataan itu.


Vano yang akhirnya tersadar kembali dari sensasi barusan, dengan kelabakan langsung melepaskan tubuh Vina yang tadi sempat dia tahan dengan lengan tangan kanannya itu.

__ADS_1


"M-maaf,"


"Maaf-maaf apanya! Kau itu!" Vina yang masih marah dengan Vano itu, tanpa segan memukul lengan kekar milik Vano tanpa sungkan sama sekali.


PLAK...PLAk


"Aduh..duh..duh..!" Vano yang merasa kesakitan, jadi merintih, sebab pukulan dari perempuan yang barusan di tolongnya itu benar-benar keras.


PLAKK...


"V-vina, aduh..ini sakit," merintih sakit terus, karena benar-benar mendapatkan pukulan yang cukup membuatnya meringis, saking kerasnya.


"Hiks, biarin! Kau pikir yang kau lakukan tadi itu tidak sakit apa? Seenaknya saja," sahut Vina dengan mata sudah berderai air mata, karena baru saja mendapatkan pelecehan dari Vano.


'Haduh, bagaimana ini? Pukulannya juga keras,' pikir Vano. "Tapi aku benar-benar tidak sengaja, awh..., Vin, berhenti." pinta Vano, berharap kalau Vina berhenti.


"Tidak, tidak mau!" Vina yang saat ini berada di dalam rumah yang Vano tinggali, terus menyerang Vano dengan perasaannya yang sungguh tidak puas hati. "Ini sakit, kau melakukannya dengan sengaja kan? Aku tahu punya ku kecil, tapi tidak harus di seperti itukan juga kali, hiks. Vano, kau jahat, jahat!" terus meracau karena tidak terima dengan apa yang sudah di lakukan oleh Vano kepadanya, Vina benar-benar tidak mau berhenti untuk memukulnya, dan mendorong tubuh Vano.


Tapi, karena tubuh Vano yang tinggi, besar macam beruang, Vina yang berusaha mendorong tubuh pria ini, justru hasilnya tubuhnya sendiri yang terdorong ke belakang.


"Nanti aku laporkan pada mama dan papaku, baru ka-" karena Vina mendorong tubuh Vano dengan keras sampai tubuhnya terhuyung ke belakang, Vano pun dengan cepat-cepat langsung melingkarkan tangannya di belakang pinggangnya Vina.


GREPP...


Alhasil Vina pun langsung melotot, begitu Vano berhasil menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.


"T-tapi, tapi...ka-kau..hiks. Kau pria mesum, hiks...padahal-" menangis sesenggukan seperti itu, Vina pun jadi bingung harus bagaimana.


Di satu sisi, dirinya merasa baru saja di lecehkan oleh Vano, tapi di satu sisi lagi, ketika dia memeluk tubuh Vano seperti itu, dia jadi merasakan apa yang belum pernah Vina rasakan sepanjang hidupnya itu.


Vano lantas bingung, perempuan yang dia hadapi ini ternyata sungguh masih sangat labil, seperti anak kecil yang merengek minta permen atau jajan tapi tidak di kasih.


'Bagaimana ini? Jangan sampai kedua orang tuanya tahu. Padahal aku juga refleks juga, tanganku entah kenapa jadi suka, tapi hasilnya malah seperti ini,' benak hati Vano, dia yang merasa gelisah kalau akan terjadi keributan lebih besar, tiba-tiba saja Vano pun angkat bicara lagi : "Kalau kau mau, kau juga bisa menyentuh punyaku, jaid biar impas,"


"Hiks, bicara apa kau ini?! Kau-" sambil mendorong tubuh Vano agar melepaskan pelukannya, Vina menambahkan, "Kenapa ma-"


Belum sempat bicara sampai selesai, ucapannya langsung di sela oleh Vano, "Memangnya aku mengatakan apa? Aku hanya menawarimu perutku, biasanya mereka suka dengan perut sixpack kan? Aku punya, jadi kau bisa menyentuhnya sesuka hatimu, sebagai ganti yang tadi," jawabnya, sambil menundukkan kepalanya ke bawah.


Vina yang terkejut dengan maksud Vano adalah itu, jadi langsung diam dan tersipu. 'Aku pikir dia memberiku izin untuk menyentuh itu-'


Vina terdiam, dia sempat melirik ke bagian bawah Vano, cukup besar, dan wah, apalagi kalau jadi menara tinggi, Vina jadi mulai punya imajinasi yang cukup ekstrim.


"B-bener nih?" Vina melirik ke arah Vano, sekaligus melirik ke arah perut milik Vano yang sengaja pakaiannya di tarik ke atas, sehingga terlihat jelas kalai perutnya memang terbentuk dengan cukup sempurna. 'Apa-apaan ini, masa timbal baliknya juga seperti ini? Kalau begitu, bukannya aku sama saja seperti orang mesum juga?'


Mendapatkan pertengkaran di dalam hati dan pikirannya, iya atau tidak untuk menerima tawaran dari Vano itu, membuat Vina jadi menghela nafas panjang.


Dia punya keputusan sendiri yang sudah dia pilih dengan berat hati. Sebagai perempuan baik-baik, dia tidak akan menerima tawarannya itu.


"Benar, kau bisa menyentuhnya sesuka hatimu," Vano yang dalam diam sedang tersenyum dalam kekuatan menggoda yang cukup licik, dengan sengaja, Vano pun menarik tangan Vina ke arahnya, dan setelah itu menuntun tangan Vina itu untuk menyentuh perutnya.

__ADS_1


"Tidak us-"


Tapi, semua ucapannya langsung Vina telan kembali, saat telapak tangannya itu akhirnya menyentuh permukaan kulit dari perut Vano yang rupanya cukup keras.


Walaupun bukan keras seperti batu, tapi Vina merasa itu perut ada kehidupan seperti kenyal lembut, dan membuat Vina merasa gemas.


''Apa ini, kenapa rasanya menggemaskan sekali?' matanya mengernyit begitu di dalam hati Vina, dia benar-benar merasakan produk dari Tuhan yang belum pernah Vina rasakan itu. 'T-tidak! Tahan, jangan sampai aku tergoda! Tidak mau-'


Mencoba untuk berjuang menghindari godaan yang ada di depan matanya itu, melihat ekspresi menggemaskan Vina itu, Vano pun jadi semakin terhanyut untuk membuat Vina semakin larut dalam godaannya itu.


"Tidak, uh~ Kah, Vano~ Jangan," racau Vina.


'Hahaha, dia lucu sekali, padahal tangannya saja yang aku pegang untuk memegang perutku, tapi ekspresinya, dia-' karena tiba-tiba di dalam kepalanya memikirkan soal Vina, seandainya diri Vano menyentuhnya perempuan itu dan berada di bawah tubuhnya, Vano pun jadi tersenyum penuh kemenangan. 'Pasti lebih bagus, huh..aneh, padahal Vina ini memang tidak secantik semua perempuan yang sempat aku lihat, tapi kenapa justru aku merasa nyaman?'


'Apa-apaan ini?! Kenapa tanganku akhirnya ternodai oleh perutnya Vano?' teriak Vina dalam hatinya yang paling dalam. Dia sangat gelisah, jantungnya bahkan sudah tidak karuan untuk berdegup cepat, sampai dia khawatir sekali kalau detak jantungnya itu akan terdengar oleh Vano. 'Tapi ini sangat menakjubkan, bagaimana bisa aku bisa menyentuh perut sixpack seperti ini? Padahal selama ini aku kan hanya melihatnya di tv atau di handphone saja,' batin Vina lagi.


Dia, sekarang akhirnya sudah tidak mampu untuk menahan godaan lagi, karena nikmat dari meraba perut dengan bentuk seperti roti sobek itu berhasil membuat Vina sudah tidak mampu di tolong, apalagi ketika Vano sudah tidak mencengkram pergelangan tangannya Vina lagi, di saat itulah Vano jadi melihat Vina akhirnya bisa merasakan sensasi itu dengan ekspresi paling jujurnya itu.


'Ini enak, halus, lembut, dan saat di tekan seperti ini, rasanya memang sedikit keras. Aku benar-benar baru pertama kali merasakannya, ternyata menyenangkan juga.' pikir Vina, menata hati dan pikirannya itu untuk menuai kontroversi kalau antara ucapan dan tubuhnya benar-benar bertolak belakang.


Sampai Vano akhirnya angkat bicara, "Pfft, bukannya ini artinya kau menerima tawaran dari permintaan maafku tadi?" tanyanya, sontak membuat Vina langsung menarik semua pikiran dan tindakannya itu dari menyentuh perutnya Vano.


"A-apa?!" terkejut Vina.


Akan tetapi, sebelum tangan kanan Vina pergi menjauh dari perutnya Vano, Vano berhasil mencegatnya, mengambil satu langkah ke depan, dengan tatapan matanya yang terkulai lemah, Vano pun kembali menuntun tangannya Vina untuk tetap menempel di perutnya Vano sambil berkata : "Kau, sudah menyentuh perutku, berarti kau sudah mau menerima permintaan maafku, ya kan?"


'K-kenapa dia tiba-tiba mendekatiku seperti ini? Tidak- jangan terlalu berharap, dia itu pria yang pintar menggoda. Meskipun dia berdiri saja, dia bisa merusak akal sehat manusia, jangan- aku tidak boleh salah paham dengan tindakannya yang bisa saja sedang main-main denganku.' pikir Vina.


Dia yang tidak mau terhasut dengan segala kalimat yang keluar dari mulut penuh racun itu, dengan buru-buru segera menarik tangannya itu dari cengkraman tangannya Vano dan menjawab : "Tapi kalau ada yang kedua kalinya, awas saja, aku usir dari sini," peringatnya.


Vano pun tersenyum. Meskipun, Vina terlihat begitu marah, cuek dan bahkan sampai memberikannya peringatan seperti itu, akan tetapi Vano jelas, kalau Vina itu sudah mau memaafkannya.


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi jika kau bisa berhati-hati, maksudku tidak ceroboh," jawab Vano, buru-buru langsung merevisi ucapannya dengan tambahan makna yang lebih jelas, sampai Vina yang hampir salah paham lagi, hanya mengatupkan mulutnya saja.


"..." Vina terdiam, dia tidak mampu berkata-kata karena pria di hadapannya ini sangat pintar sekali bicara.


Sebenarnya agak menyesal, karena sikapnya tadi, yang mana tangannya tidak mampu mengontrol untuk menahan diri dari godaan Iblis ini, membuat Vina secara tidak langsung memang memaafkan kelakuan tak senonoh dari Vano ini terhadapnya.


Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya pun sudah terlanjur, dan dirinya tidak bisa menarik diri dari jawaban dengan alasan lain, karena Vina memang sudah kehabisan kata-katanya.


Namun, sampai di tengah lamunannya Vina itu, Vano yang tiba-tiba saja membungkukkan tubuhnya ke arahnya, tiba-tiba saja membisikkan kata-kata penuh maksiat, "Dan dengar ya, apa yang kau katakan barusan, soal punyamu kecil, itu lebih bagus dan nampak imut, jadi kau tidak perlu mempermasalahkan bentuk dan ukurannya, karena itu lebih baik dari pada mereka yang besar,"


BLUSHH....


Seketika itu juga, wajah Vina langsung merah padam selepas mendengar kata-kata yang begitu menyanjung hati, serta pujian yang sayangnya jadi terdengar cukup vulgar itu.


'A-apa yang dia katakan?! Ahh! Vano! Kau membuat otakku teracuni!' teriakan milik Vina yang tidak bisa di dengar oleh orang lain selain dirinya itu, sukses membuat Vina segera pergi dengan lari terbirit-birit keluar dari rumah yang di tinggali oleh Vano ini.


BRAK.....

__ADS_1


__ADS_2