
Flashback Off
Kembali ke masa sekarang, begitu Jo di panggil kembali, mangkuk yang berisi bakso itu pun sudah ludes semua, dan hanya menyisakan daun bawangnya saja.
"Tuan, apakah baksonya tidak sesuai dengan selera anda?" tanya Jo dengan wajah gugup.
Pasalnya, karena dia tidak butuh waktu untuk bereksperimen, dia pun langsung membuatnya dengan sistem kebut.
Lalu selain itu pula, meskipun di lidah Jo cukup enak, tapi dia seketika jadi tidak begitu percaya diri, jika dirinya tiba-tiba di panggil seperti itu.
"Baksonya? Hmm, apa kau satu-satunya orang yang membuat bagian baksonya?"
"I-iya, bahkan bumbunya juga. Tapi untuk isian, saya di bantu oleh tim saya," jawabnya dengan begitu lugas.
Layaknya seorang penjahat yang sedang di interogasi oleh pihak hukum, Jo pun benar-benar cukup takut untuk menghadapi fakta dia akan kalah.
Elvano terdiam, dia dengan seksama terus memperhatikan gerak gerik dari Jo yang tampak gelisah.
"Begini ya Jo, dari segi rasa, rasanya cukup berbeda dari bakso yang terakhir kali aku makan."
DEG ...
Dengan kata lain, Elvano memang pernah makan bakso sebelumnya, dan sayangnya dia masih mengingat rasanya dengan cukup jelas.
'Apa itu artinya aku gagal untuk menang dari taruhan ini?' pikir Jo, dia jadi semakin khawatir dengan nasibnya.
Sebagai Koki, dia sebenarnya sungguh terbebani dengan tekanan dimana dia harus berolahraga setiap hari, padahal dia sendiri punya pekerjaan yang menyangkut perut seseorang, tapi dia disini harus punya pekerjaan beratnya, terus bereksperimen dalam memasak, serta berolahraga, demi membentuk otot tubuh?
Jo bukan orang yang begitu suka dengan olahraga, maka dari itu dia pun menerima tawaran dalam taruhan kali ini.
Tapi, kira-kira hasilnya akan bagaimana?
"Jo, saat interview dulu, kau awalnya punya impian apa?" tanya Elvano dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa anda tiba-tiba bertanya soal impian saya?"
"Aku tidak menyuruhmu bertanya balik, Jo. Jawab saja kenapa sih? Selalu saja seperti itu, di tanya malah tanya balik," dumel Elvano, dan dia pun menghabiskan seluruh air minumnya itu, dan akhirnya dia berhasil menghabiskan makan siangnya dengan cukup puas.
"Ah, maaf. Saya akan menjawabnya, dulu saat saya baru masuk, saya ingin menjadi koki yang hebat. Karena dengan menjadi koki di suatu perusahaan, saya bisa lebih bebas untuk membuat lebih banyak hidangan."
"Tapi impianmu itu sudah terwujud kan?" tanyanya lagi.
"Iya,"
"Kalau begitu, impianmu selanjutnya apa?"
Sambil membuat wajah berpikir, dia merotasikan pandangannya terhadap interior dari ruang kantor milik Tuan muda nya itu, lalu menjawab, "Saya ngin ada lebih banyak orang yang bisa merasakan masakan saya,"
Mendengar jawabannya, Elvano menyeringai. Dia lantas melempar garpu ke arah Jo dengan cepat.
Tapi dengan lihai, Jo pun berhasil menangkap garpu tersebut dengan wajah seriusnya.
"Sebenarnya aku punya agenda panjang untuk setengah tahun ke depan kemudian. Apa kau mau mendengarnya?
Dengan mata berbinar, Jo mengangguk, "Saya ingin mendengarnya,"
"Sebenarnya sederhana, ini tawaranku yang selanjutnya setelah kau berhasil membuat bakso yang selama ini aku inginkan.
Kau boleh menolak, makannya dengarkan baik-baik, karena aku tidak akan pernah mengulanginya untuk yang kedua kalinya," kata Elvano, kali ini dia mencoba untuk memberikan Jo peringatan, bahwa kali ini dia juga menawarkan kepada Jo sebagai orang pertama yang ingin dia ajak dalam rencana rahasia yang Elvano miliki.
"Baik! Saya akan mendengarkannya dengan seksama, jadi katakan saja!" terpancing dengan perkataan dari sang Tuan muda, Jo pun dengan begitu antusias memperlihatkan wajah yang begitu berseri.
Tentu saja, melihat tingkah Jo yang tampak tidak sabaran, hal tersebut jadi membuat Elvano tersenyum miring.
Dia beranjak dari tempat dia duduk dan berjalan menghampiri sebuah lukisan yang terpajang di belakangnya persis.
Lukisan yang itu adalah lukisan keluarga yang memperlihatkan sosok dirinya bersama dengan kedua orang tuanya, serta kakaknya.
__ADS_1
Sebuah keluarga yang tampak harmonis itu, kini sudah tidak ada lagi.
'Kenapa Tuan tiba-tiba memandangi lukisan itu?'
Begitu Elvano tampak menghayati setiap goresan lukisan tangan yang di lukis oleh salah satu pelukis ternama, Elvano pun angkat bicara, "Dalam setengah tahun yang akan mendatang-"
Elvano pun akhirnya memberitahu satu-satunya rencana besar yang akan dia kerjakan di setengah tahun kemudian kepada Jo.
"Ya? Memangnya apa yang akan terjadi pada setengah tahun yang akan datang?"
Elvano yang tampak begitu antusias untuk memberitahu rencana besarnya setelah menyelesaikan kewajibannya menjadi seorang pemimpin, dia pun berkata lagi, "Kau dan aku, kita akan pergi ke Indonesia,"
Melihat sang tuan muda begitu percaya diri dalam bicara, Jo pun langsung membelalakkan matanya dan bertanya balik, "Untuk apa kita ke Indonesia? Lalu apa sangkut pautnya dengan saya yang hanya bekerja sebagai seorang Koki?"
"Memulai langkah bisnis baru, aku akan mengabulkan keinginan terbesarmu yang ingin memiliki sebuah usaha. Jo, setelah setengah tahun ini berlalu, aku perintahkan kepadamu-"
Dengan ekspresi wajah dan nadanya yang begitu tegas, Elvano lantas mengangkat tangan kanannya ke depan, menunjuk wajah Jo sebagai objek yang akan dia gunakan dalam rencananya.
"Ikut aku ke Indonesia, dan kembangkan usaha yang diam-diam aku jalankan. Atas namamu, kau harus membuat usaha itu sukses.
Dengan kemampuan memasakmu, aku yakin kalau bisnis di bidang restoran ini akan menciptakan peluang agar aku bisa mendapatkan penghasilan yang lebih halal! Ini perintah, dan kau tidak punya hak untuk menolak,"
Jo yang akhirnya mendengar sebuah pernyataan paling jelas, sontak diam dengan wajah tercengang.
"K-kalau begitu, jika saya di tempatkan untuk membuka usaha restoran di Indonesa, lantas apa yang akan anda lakukan di sana?
Saya bisa saja menerima perintah ini dengan senang hati, tapi yang tidak saya pahami itu adalah, anda, anda kan tidak perlu repot-repot untuk turun tangan langsung dengan pergi ke Indonesia juga," ungkap Jo dengan ketertarikan dari jawaban sang tuan muda yang selanjutnya.
Elvano menunduk, dengan senyumannya yang semakin mengembang, siapa yang tidak akan merinding dengan senyuman yang tampak menggoda, tapi penuh dengan niat lain yang tampak mengancam?
Jo sangat peka dengan senyuman khas itu.
Sekilas itu terlihat senyuman biasa, tapi itu jauh lebih seram dari pada yang terlihat.
__ADS_1
Benar, di mata Jo, begitu melihat senyuman milik sang tuan muda tersungging dengan sebegitu lebarnya, dia pun tahu kalau di balik itu semua, tuan muda memiliki rencana besar yang tidak akan pernah di pikirkan oleh semua orang di sekitarnya.
Tapi apa?